Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Perang di kota Gin


__ADS_3

"Apa ini?"


Semua kebingungan setelah melihat surat yang aku letakkan kecuali aku, Lucy dan para murid perempuan.


"Ini adalah surat yang di temukan Yumi di depan pintu. Isinya sangat aneh dan itu membuatku kesal."


Brull mengambil surat itu dan membacanya, para gadis mendekat dan melihat isi surat. Siswa laki-laki dan para ksatria ingin ikut melihat namun mereka tidak berani karena mereka adalah teman-temanku.


"Ini?!"


Ekspresi mereka berenam langsung terkejut, namun mereka berdehem lalu menyimpan kembali suratnya ke atas meja.


"Kita sekarang tahu, kalau tujuan mereka adalah membangkitkan Gerheim."


"Zen, kurasa kita tidak punya banyak waktu. Mungkin ini masih pagi tapi mereka sudah dekat."


Saat dalam pembicaraan serius, Brull menyadari sesuatu. Aku memfokuskan manaku keluar dan segerombolan monster itu semakin dekat namun yang ada aneh, aku merasakan ada satu orang yang memiliki mana yang tidak normal.


Mananya terasa mengerikan. Meskipun Brull tahu itu dia tetap berekspresi seperti biasa agar yang lainnya tidak khawatir.


"Baiklah, waktunya menyerang."


Saat aku berdiri mengatakan itu, Brull menahanku dan mengatakan.


"Tidak, kau tidak boleh ikut. Biarkan kami yang mengurus mereka, kau dan Riska lebih baik diam dan menonton saja."


Aku menghela nafas dan tersenyum kecil.


"Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah."


Brull, Rina, Lilith,Laura, Misaki dan Rina berdiri dan berjalan keluar. Lucy dan para murid menatapku. Dave dan para ksatria segera mengikuti Brull dan yang lainnya dari belakang.


"Tenang saja, mereka itu kuat."


Wajah Lucy dan murid-muridnya tahu kalau khawatir pada mereka jadi aku membuat alasan untuk tidak khawatir.


...Sudut pandang Bruce Will...


Aku keluar dari penginapan menuju ke lapangan luas yang berada di depan penginapan. Untuk beberapa alasan aku harus melindungi kawanku, Zen.


Karena kehilangan seseorang yang sangat penting baginya membuatnya sedih, tapi kurasa sekarang dia baik-baik saja.


Meskipun begitu, aku tidak bisa membiarkannya bertarung, meskipun kekuatan Zen sangatlah kuat tapi aku ingin berguna baginya.

__ADS_1


Pendeteksi manaku mengatakan para monster sudah dekat, aku melihat ke depan dan memfokuskan pandanganku ke depan.


Sekitar ratusan, tidak. Mungkin jumlah mereka ribuan. Berkat Zen yang sering bertarung aku merasa kalau aku harus lebih kuat darinya.


"Brull, mereka sudah dekat. Apakah aku harus memulainya?"


Kemarin malam, aku sudah menyiapkan rencana dan membuat jebakan. Lilith sudah siap dengan panahnya dan tinggal menembak.


"Belum, ini belum saatnya."


Duar...


Sepertinya mereka sudah mengenai jebakan yang aku siapkan. Asap menghalangi pandangan kami sehingga segerombolan monster tidak terlihat namun sesaat setelah ledakan dengan cepat sebuah panah meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah para monster.


Meskipun hanya satu panah, itu sudah menumbangkan beberapa monster. Seperti yang diharapkan dari panah buatan Zen dan kemampuan pemanah Lilith.


Namun setelah beberapa penyerangan itu, para monster tidak berhenti dan terus berjalan ke sini. Rina mulai membaca mantra sihir.


Lingkaran sihir muncul di depannya dan cahaya putih mulai menyelimuti tubuh Yukki.


"[Power up]"


Aku bisa merasakan kekuatan Yukki meningkat begitu cepat, dia mengangkat pedangnya setinggi mungkin lalu mengayunkan pedangnya ke depan.


Dari belakang Yukki, Laura maju dan mana mulai terkumpul di tangannya dan membentuk beberapa tombak es.


"Wahai es, berkumpul dan serang musuhmu. [Ice Spear]"


Beberapa tombak es itu melayang dan menyerang monster di sisi kiri, monster yang berpencar di sisi kanan mulai mundur ke belakang. Namun, aku mengumpulkan mana dan menyerang mereka.


"[Thunder dragon]"


Naga petir muncul di depan tanganku dan menerjang monster di sisi kanan. Kami terus menyerang mereka dan pendeteksi manaku mengatakan kalau monster sudah berkurang namun ada satu orang dengan mana yang besar di belakang para monster itu.


"Bersiaplah, akan ada ledakan besar!"


Aku tahu kalau orang diantara monster itu ada yamg membesar dan ingin meledakkan diri, setelah mendengar peringatanku, Laura dan Lilith melakukan sihir kombinasi.


Mana mereka berdua berkumpul di busurnya Lilith.


""[Sihir gabungan: Panah es.]""


Panah es meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi, mereka menciptakan panah dari es lalu mendorongnya dengan elemen angin untuk meluncur sangat cepat.

__ADS_1


Panah itu mengenai monster yang ingin meledakkan diri dan membeku, berkat itu ledakannya berhasil di hentikan. Melihat mereka itu mengingatkanku pada serangan Zen.


Aku menggunakan pendeteksi manaku dan monster yang tersisa tinggal 100. Mengingat saat latihan di sekolah petualang yang mengharuskan menghancurkan 100 robot.


Aku menyeringai dan mengumpulkan mana lebih banyak ke tangan kananku. Mana yang berkumpul sangat banyak dan petir mulai muncul dari telapak tanganku, sebuah bola petir terbentuk dari tanganku, itu terus membesar saat aku terus memfokuskan mana.


Bola petirku membentuk sangat besar dan ini sangat berat namun aku mencoba menahannya lalu dengan sekuat tenaga aku melemparnya ke depan.


"[Thunder blast]"


Bola itu mengenai mereka dan sebuah ledakan besar menghancurkan mereka dalam sekejap, manaku tinggal sedikit dan aku sangat lelah telah menggunakan begitu banyak mana.


"Kerja bagus, tapi apa ini tidak berlebihan?"


Yukki membantuku saat aku akan roboh, dia menahan tubuhku yang besar dengan tangannya, kekuatannya cukup besar juga untuk menahanku.


"Terima kasih, dengan begini sudah selesai."


Kami menatap ke lapangan luas yang hanya ada darah dan asap sambil tersenyum senang, namun dari sana datang sesuatu muncul dengan cepat ke arah kami.


Lilith dengan cepat menarik busurnya dan melepaskan anak panah, panah Lilith beradu dengan serangan itu dan meledak saat panah Lilith mengenainya.


"Fiuh..., itu hampir saja. Kalau sampai mengenaimu tadi, pasti Zen akan sedih lagi."


"Haha, maaf."


Dari arah serangan yang datang, bayangan hitam dari balik asap sedang mendekati kami, mana pendeteksi mengatakan kalau dia adalah orang yang berbahaya. Aku bisa merasakan mana yang besar walaupun tidak semenakutkan milik Zen.


"Aku tidak tahu siapa kalian, tapi kalian sudah mengganggu rencana ku maka aku akan ... Membunuh kalian!"


Dari suaranya dia mungkin seorang pria, tubuhnya kecil dan kurus. Wajahnya tertutup oleh tudung kepala.


Dia melepaskan bola api ke arah kami, dia juga tidak membaca mantra sihir. Kurasa dia lawan yang merepotkan.


Namun saat bola api itu mendekat, Yukki dengan cepat mengayunkan pedangnya dan bola apinya menghilang begitu saja.


"Boleh juga, bagaimana dengan yang ini!"


Kali ini dia melempar bola api yang agak besar dari sebelumnya, namun itu lagi-lagi di hancurkan oleh pedangnya Yukki.


Sepertinya pria itu sangat kesal, Laura langsung menggunakan sihirnya dan membuat rantai lalu mengikat pria itu.


"Sialan!"

__ADS_1


__ADS_2