Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Wujud pohon suci


__ADS_3

Aku terkejut bisa mendengar suara pohon sedang berbicara denganku. Suara terdengar seperti suara perempuan, suaranya terasa lembut dan hangat.


"Ada apa, Zen?"


Mereka terlihat bingung dengan responku saat mendengar suara dari pohon suci.


"Tidak, aku hanya sedang mencoba berkomunikasi dengan pohon suci."


Saat aku mengatakan itu para elf terkejut hingga membeku, bahkan Karen pun mengeluarkan keringat dingin dan menunjukkan senyum pahit.


"K-Kau bicara apa?"


"B-Benar, bahkan kami para elf hanya bisa mendengar pesan darinya saja."


Sepertinya mereka tidak percaya dengan ucapanku, tapi biarlah. Lagipula sekarang bukan saatnya menjelaskan.


"Ya, aku bisa mendengar suaramu, maaf kalau tadi aku tidak mendengarnya."


"Tidak apa-apa, aku senang kau baik-baik saja. Apa masih ada yang sakit?"


"Tidak ada, terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku."


"Kau tidak perlu bicara sopan, santai saja."


Di khawatirkan oleh pohon rasanya sangat aneh tapi aku senang ada yang khawatir padaku.


"Aku dengar, kau menyuruh para elf untuk bertemu denganmu, apa kau butuh sesuatu dariku?"


"Bukan kau-, namaku Livera jadi panggil namaku dengan benar."


Nada bicaranya terasa agak sombong, aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Aku tidak bisa terlalu lama bicara karena manaku saat ini tinggal sedikit."


Aku diam dan berpikir, mungkin jika aku membagi manaku kepada Livera, aku bisa mendapatkan beberapa informasi.


Itulah yang kupikirkan. Namun, masalahnya bagaimana caraku untuk membaginya?


"Apakah ada cara untuk membagi manaku padamu dengan begitu masalah manamu hampir kosong akan selesai."


"Memang, tapi kau tidak bisa membagikan mana bukan? Satu-satunya cara saat ini adalah aku memakan mana milikmu jika kau sangat bersikeras."


Memakan manaku, ya. Kalau dia memakan manaku apakah itu akan menjadi masalah atau tidak, ya?


{Apa yang kau tunggu, biarkan dia memakan manamu."} (Lucifer)


"Apakah itu tidak akan menjadi masalah?"


{"Masalah? Manamu sangat melimpah jadi tenang saja.} (Lucifer)


Dengan sedikit keraguan aku menyentuh pohon suci dan seketika pohon menjadi bercahaya saat dia mulai menyedot manaku.

__ADS_1


Kepalaku terasa sedikit pusing karena hampir setengahnya manaku mulai menghilang secara berangsur.


Manaku mulai berhenti tersedot, aku menarik tanganku dan seketika cahaya berkumpul di hadapanku dan cahaya itu mulai berubah bentuk menjadi seorang gadis berumur 20-an.


Kulit putih, rambut hijau yang mencapai pinggang. Dia terlihat seperti pohon, senyumnya yang manis terlihat di wajahnya yang cantik.


Para elf sangat terkejut hingga mereka semua berlutut di hadapan Livera yang berubah menjadi seorang gadis.


"Fufu, tidak kusangka manamu sangat segar dan juga banyak. Ah, aku jadi menginginkan lebih banyak."


Dia menjilat bibirnya diakhir kalimatnya, melihatnya melakukan itu, dia terlihat seperti karakter kakak perempuan yang suka menggoda.


"Jangan mengatakan sesuatu yang membuat salah paham. Jadi, apa kita bisa bicara sekarang?"


Aku menyentil jidatnya untuk menghentikan tingkahnya. Namun, dia mengatakan 'Tehe' sambil menjulurkan lidahnya.


"Sebelum itu, bisa angkat kepala kalian terlebih dahulu?"


Livera menyuruh para elf mengangkat kepala mereka, mungkin bagi para elf, Livera adalah sosok yang sangat di hormati tapi melihat sikapnya seperti ini mengingatkan pada Zifrit.


"Anu ... A-apakah anda pohon suci?"


Karen agak kebingungan dan sedikit panik melihat Livera. Livera yang melihat itu tersenyum dan melipat tangannya.


"Benar, apa sekarang kalian terkejut."


Livera dengan sombongnya mengatakan itu sambil membusungkan dadanya. Para elf hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Ya ampun, kau ini tidak sabaran ya? Apakah kau sangat ingin berduaan denganku?"


"Benar, jadi cepatlah sedikit."


"Baik, baik."


Setelah selesai berbicara, aku di bawa ke sebuah ruangan yang cukup besar. Apakah ini ruang rapat? Di ruangan ini hanya ada kursi yang terbuat dari kayu dan di tengahnya terdapat meja panjang.


Karen dan Rena ikut bersama kami, saat aku duduk. Livera terus menggandeng tanganku sambil tersenyum ceria.


"Baiklah, aku akan langsung ke intinya. Kenapa kau ingin bertemu denganku, Livera?"


Livera melepaskan tangannya lalu wajah cerianya dalam sekejap menghilang.


"....Belum lama ini, ada sebuah kelompok bernama 'dark spirit' diam-diam datang dan mencuri mana milikku. Namun, aku mendengar cerita bahwa ada sekelompok petualang yang menggagalkan rencana mereka.


Saat itu, aku berpikir untuk meminta bantuan pada mereka. Tapi, aku tidak tahu bagaimana cara meminta bantuan pada mereka. Namun, aku mendengar cerita kalau kelompok itu menggagalkan lagi rencana mereka dan pemimpin kelompok itu jatuh sakit...., dengan sisa mana yang kumiliki, aku menyuruh para elf untuk membawa mereka ke sini."


"Jadi, itu alasan kenapa aku disini."


Mendengar ceritanya, aku bisa menebak kalau kakek tua mesum itu adalah salah satu dari kelompok 'Dark spirit'. Kalau saja aku tahu dia dari kelompok itu, aku harusnya membunuhnya daripada membiarkannya.


Lain kali, aku sebaiknya langsung membunuh orang seperti itu. Tapi sekarang mungkin mereka sedang di siksa atau semacamnya jadi yang berlalu biar saja berlalu.

__ADS_1


"Jadi, kau ingin aku melawan kelompok 'dark spirit' ini?"


Livera menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. Meskipun dia memintaku untuk melakukan itu,


"Tanpa diminta pun, aku akan melawan mereka. Tidak, lebih tepatnya membunuh mereka."


Senyuman Livera kembali dan mengatakan "Ya." Namun, meskipun aku mengatakan akan melawan mereka, dengan diriku yang sekarang akan sulit untuk melawan mereka.


Aku harus mengetahui kenapa aku selalu tumbang setelah menggunakan sihir dan juga, bagaimana cara menggunakan api putih milikku dengan benar.


Namun, sekarang mataku teralihkan ke Rena yang sedang duduk di sebrang ku. Meskipun aku pertama kali bertemu dengannya tapi entah kenapa rasanya sangat rindu.


"A-Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"


Rena menyadari aku menatapnya dan ia membuang mukanya dan wajahnya memerah, aku hanya tersenyum dan bertanya.


"Apakah, kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Entahlah, rasanya aku sangat senang melihatmu."


"A-Apa?! J-jangan mengatakan hal yang memalukan!"


Memalukan? Apa yang membuatnya mal-, aduh! Apa ini?


Saat aku menoleh ke sebelahku, Livera mencubit pahaku dengan kuat dan itu sangat sakit hingga meninggalkan bekas.


Kenapa dia tiba-tiba mencubitku?


"Sakit tahu, kenapa kau mencubitku?"


"Padahal ada aku di sampingmu tapi kau melihat gadis lain, Hmph.


Aku menghela nafas dengan tingkahnya namun setelah membuang mukanya, dia tertawa.


"Apa yang lucu?"


"Tidak ada, maaf ya. Tapi sepertinya kau mencoba mengingat sesuatu bukan?"


"Bagaimana kau tahu?"


"Fufu, bagaimana apa kau sekarang mengingat sesuatu?"


Aku melihat kembali ke Rena dan mencoba mengingat wajahnya dan sesuatu melintas di pikiranku.


"Ah, aku ingat. Pahlawan Rena!"


Saat aku berteriak begitu, mereka bertiga tersenyum dan tertawa. Aku tidak tahu apa arti senyum itu namun saat melihat Rena, air mata mulai mengalir dari matanya.


"Eh? Apa aku mengatakan sesuatu yang buruk?"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya senang kau bisa mengingatku."


__ADS_2