
Di langit sebuah gambar terlihat, setelah Zen melakukan kontak mata dengan pangeran. Dia bisa mencuri ingatan dan mulai memproyeksikan ingatannya di langit.
Di sana setelah pertemuannya dengan pria bertopeng, dia pergi ke kota Valmas sambil mengenakan jubah hitam sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya.
Dia masuk ke guild petualang dan menghancurkan guild dengan satu bola api yang besar.
Ledakan begitu besar sehingga suaranya terdengar cukup keras.
"Rupanya sang raja iblis tidak ada di sini." Kata pria berjubah hitam.
"Si ... apa kau ... ?" Ucap Roy yang terluka.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, katakan dimana raja iblis berada?" Tanya pangeran.
"Aku ... tidak ... tahu." Jawab Kana yang berdiri dengan sempoyongan.
pangeran mengarahkan bola api pada Kana dan meledak.
Setelah Asap hilang, terlihat Roy melindungi Kana dan punggungnya penuh luka bakar. Roy yang sudah mencapai batasnya terjatuh ke tanah.
"Orang lemah sepertimu seharusnya diam saja tapi biarlah, lagipula tanpa kau lindungi juga dia akan tetap mati."
Di tangannya terkumpul banyak mana dan saat melepaskannya, sinar seperti laser mengarah pada Kana dan bangunan mulai hancur. Dia berbicara dengan seseorang lewat telepati.
__ADS_1
"Misi gagal tidak ada tanda-tanda raja iblis." Ucap pangeran.
"Baiklah, kau bisa kembali sekarang."
"Baik, berapa monster yang menuju kota Gin?"
"Kau tidak perlu memikirkan itu, ada Seseorang yang sudah mengurus hal itu."
Layar di langit menghilang, Zen memberhentikan skillnya. Namun, raja dan semua yang telah melihat itu menatap ke arah sang pangeran.
Ayahnya yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan anaknya, ia bertanya dengan nada dingin.
"Nak, apakah benar orang yang disana itu kau?"
"Dengar ayah, itu bohong. Aku tidak melakukannya, itu... itu hanya cerita yang ia buat buat!"
Ayahnya tidak mempercayai ucapannya. Dia sangat tahu sifat anaknya, dia adalah orang tua yang sudah membesarkan anaknya dari kecil.
Mata yang selalu melihat sekeliling, wajah pucat dan berkeringat serta cara bicara yang terbata-bata dengan nada yang tinggi. Ia tahu bahwa anaknya berbohong.
Itu adalah kenyataan yang sangat menyakitkan. Mengetahui anaknya telah membunuh seseorang demi menguji kekuatan yang ia dapat dari orang mencurigakan.
Brull melepas sang count yang tidak berdaya, matanya terlihat kosong dan tidak bercahaya.
__ADS_1
Sang count maju dan bersujud ke arah Zen.
"Untuk segalanya aku minta maaf. Aku tahu kau pasti tidak akan menerima permintaan maafku tapi..."
Raja dan keluarganya serta bangsawan lain yang hadir terkejut dengan perubahan sifat count yang tiba-tiba namun mereka tahu kalau itu bukan kesalahannya. Itu adalah ulah anaknya.
"Ayah?! Kenapa kau meminta maaf?! Aku tidak melakukan kesalahan apapun, dia sedang menipu ayah!"
Semua mengabaikan ocehan sang pangeran. Para tamu yang hadir mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Diam kau! Apa kau pikir aku akan percaya pada pembohong sepertimu?!"
Sang pangeran terkejut dengan bentakan ayahnya. Dia menggertakan giginya lalu dengan cepat merangkul putri di sebelahnya sambil menodongkan pedang di lehernya.
"Siapa yang peduli dengan orang-orang lemah itu?! Mereka hanya jelata yang menjijikkan!"
Raja dan keluarganya menjadi panik melihat anaknya akan dibunuh. Meskipun putri ingin di bunuh wajahnya tetap biasa dan tidak berteriak.
Zen sadar bahwa putri sedang dalam pengaruh sihir yang membuatnya seperti itu.
"Apa yang coba kau lakukan?! Dasar bodoh!"
Para ksatria yang mengawal mereka sebelumnya segera menodongkan pedang mereka ke pangeran.
__ADS_1