
Sesampainya di kota Valmas, kota menjadi sedikit lebih ramai dari biasanya, aku melihat ke sekeliling untuk mencari tahu.
"Apakah ada festival?" Tanya Rina.
Kami segera turun dari mobil dan berjalan ke arah guild, namun disana sangat ramai dan dikerumuni banyak orang.
Ada apa ini?
Karena penasaran kami menerobos masuk dan kami sangat terkejut saat melihat sebuah tumpukan kayu berserakan dan bercak darah di mana-mana.
Bukankah tempat ini...
Saat aku melihat sekeliling, aku melihat tangan berlumuran darah, aku langsung mengenali tangan itu dan segera berlari ke sana.
"Hei, Zen. Itu berbahaya." Teriak Brull.
Aku merasa sangat sedih, dadaku terasa sangat sakit. Saat aku menyingkirkan puing-puing bangunan, aku melihat Kana yang masih sedikit bernafas.
"Kana?"
Aku sangat terkejut melihat Kana yang terluka sedang menarik nafas untuk terus bertahan.
Riska yang melihat Kana terluka langsung menghampiriku bersama Rina.
"Kana, kau kenapa?" Suara Riska bergetar.
Aku mencoba menenangkan diriku sendiri dan menyembuhkannya luka tusuk di perut Kana.
"[Ex Mega Heall], kenapa! Kenapa tidak tertutup."
Skillku penyembuhku tidak bekerja pada Kana. Aku terus menerus menggunakan skillku namun lukanya tidak tertutup bahkan pendarahannya tidak berhenti.
"Z-Zen ... R-Riska ..."
"Berhenti bicara, Zen sedang menyembuhkanmu, bertahanlah!"
Tubuh Kana mulai dingin, Riska terus memegangi tangan Kana dan menggosoknya untuk membuatnya tetap hangat.
"Sudah ... cukup ..." Ucap Kana dengan nafas agak terengah-engah.
"Tidak, bertahan!" Teriakku.
Air mataku jatuh, Riska terus menangis sambil menggosok tangannya.
Rina langsung membaca mantra sihirnya.
"Wahai, Cahaya. Sembuhkan mereka dengan berkahmu. [Recovery]"
Cahaya hijau yang lebih besar dan hangat mulai menyelimuti tubuh Kana. Namun lukanya tidak tertutup sama sekali.
"Eh, kenapa. Mustahil."
Rina terkejut karena sihirnya tidak bekerja sama sekali.
"Kalian ... harus berhati-hati ... terutama kau ... Zen."
__ADS_1
Sedetik setelah Kana bicara, ia sudah tiada. Aku merasa frustasi, dadaku yang sakit pun menghilang namun dada dan kepalaku terasa panas seperti terbakar.
Tubuhku gemetaran seperti tersetrum listrik. Aku memegang dadaku dan aku tidak merasakan detak jantungku.
Rasanya detak jantungku berhenti berdetak, sedetik kemudian detak jantungku berdegup dan suara yang hangat dan jahat terdengar di kepalaku.
"Kenapa kau menangis? Menangis tidak akan mengembalikan mereka yang sudah tidak ada."
Suara siapa ini?
"Bakar semua yang menghalangi jalanmu, hancurkan semuanya. Aku akan membantumu menghancurkan segalanya."
Siapa ini? Bakar? Hancurkan? Apa maksudnya aku tidak mengerti.
"Zen ... Zen!"
Aku langsung tersadar, aku melihat ke Riska yang terus-menerus memanggilku, dia menangis hingga matanya membengkak.
Hujan turun dan membasahi kami, saat aku melihat sekeliling. Api putih berkobar dan membakar puing-puing.
"Apa yang ... terjadi?"
Aku merasa pusing dan aku tertidur.
Setelah membaik, aku membuka mataku secara perlahan, hal pertama yang kulihat adalah wajah Laura yang diantara dua gunung kembarnya.
"Ah, Akhirnya kau bangun." Ucap Laura.
"Dimana ini?"
"Saat ini kita sedang menuju kota Gin." Jawab Brull sambil menyetir mobil.
"Dimana Riska?"
Saat aku bertanya, Laura hanya menunjuk ke depan, tepat Rina dan Lilith duduk.
Aku melihat ke kursi depan dan saat ini aku melihat Riska sedang tertidur pulas di pangkuan Rina dan Lilith yang sedang tertidur juga.
Aku hanya tersenyum melihat mereka tertidur.
Namun, kenapa kita ke kota Gin.
Kalau tidak salah, kota Gin merupakan kota kecil yang berada di daerah gunung utara. Juga merupakan kota pertanian yang biasa digunakan kerajaan Fredrosse.
"Bisa jelaskan, kenapa kita pergi ke kota Gin?" Tanyaku.
"Maaf Zen. Sesudah kau pingsan, aku menemukan ini."
Brull melempar sebuah bola kecil kepadaku, dengan reflek aku langsung menangkap bola itu.
"Apa ini, Kelereng?" Jawabku dengan bingung.
"Itu bukan kelereng, itu adalah kristal perekam, atau mungkin kau bisa menyebutnya cctv mini." Sambung Misaki.
Cctv? Bagaimana cara melihatnya.
__ADS_1
Aku menyentuh dan mengalirkan sedikit mana ke dalamnya tiba-tiba kristal itu bercahaya dan memunculkan layar.
["Hah, aku khawatir dengan mereka berdua?"] Ucap Kana.
["Tenang saja, mereka itu sudah seperti anak kita apalagi Zen itu kuat."] Jawab Roy dengan senyum.
[Kalian sungguh baik pada mereka berdua ya."] Kata William yang sedang duduk dan melihat kertas.
[Tentu saja, mereka itu-"]
Boom...
Sebuah ledakan muncul sebelum Roy selesai bicara.
Apa yang terjadi?
Seseorang pria misterius berjubah hitam muncul di hadapan mereka sambil mengaktifkan sihirnya.
["Rupanya sang raja iblis tidak ada di sini."] Kata pria misterius itu.
["Si ... apa kau ... ?"] Ucap Roy yang sudah terluka.
["Kau tidak perlu tau siapa aku, katakan dimana raja iblis berada?"] Tanya pria itu.
["Aku ... tidak ... tahu."] Jawab Kana yang berdiri dengan sempoyongan.
Pria itu mengarahkan bola api pada Kana dan meledak.
Setelah Asap hilang, terlihat Roy melindungi Kana dan punggungnya penuh luka bakar. Roy yang sudah mencapai batasnya terjatuh ke tanah.
["Orang lemah sepertimu seharusnya diam saja tapi biarlah, lagipula tanpa kau lindungi juga dia akan tetap mati."]
Di tangannya terkumpul banyak mana dan saat melepaskannya, sinar seperti laser mengarah pada Kana dan bangunan mulai hancur. Layar pun menjadi hitam. Tidak lama setelah itu, suara mulai terdengar walaupun agak samar.
["Misi ... gagal ... tidak ada ... tanda-tanda ... raja iblis."]
Dengan siapa dia bicara?
["Baik, berapa ... monster ... yang ... menuju kota ... Gin?"]
Setelah mendengar itu, aku segera mematikan kristal dengan berhenti mengalirkan mana.
Sekarang aku tahu kenapa kita pergi ke kota Gin namun kenapa monster menuju kota Gin?
Saat aku tengah berpikir, Riska, Lilith dan Rina sudah terbangun.
"Zen, kau tidak perlu menyalakan dirimu."
"Benar, ini bukan salahmu."
Jawab Rina dan Riska yang melihatku murung setelah melihat rekaman tadi.
"Aku akan memberikan dadaku agar kau bisa menangis sepuasnya." Jawab Lilith sambil mengangkat dadanya.
"Terima kasih, kalian semua. Sekarang aku lebih baik."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum pada mereka agar mereka tidak khawatir lagi padaku.