Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Raja Akira dan Raja Azura


__ADS_3

Setelah Brull memenangkan pertandingan sebelumnya, kami maju ke babak selanjutnya. Setelah empat pertandingan akhirnya giliran kami lagi untuk bertanding.


Karena Brull sudah bertanding ia tidak diizinkan bertanding lagi di pertandingan selanjutnya. Kali ini dengan sukarela Lilith yang menjadi perwakilan dari Valmas.


"Apa kau yakin dengan itu?"


"Ya, karena sudah berhasil mengendalikan busur ini, aku akan melakukan yang terbaik."


Dengan penuh percaya diri Lilith merasa ia akan memenangkan pertandingan.


"Kalau begitu, menangkan ini untuk Zen."


"Tentu saja!"


Ia menjawab dengan mengedipkan satu mata dan mengacungkan jempol.


"Baik pertandingan selanjutnya perwakilan dari kerajaan Welford, Chika!"


Seorang gadis keluar dari lorong, suara penonton dari kerajaan Welford bersorak sangat keras dan menyebut namanya berulang-ulang!


"Lalu dari kota Valmas kita ada siswi baru, yaitu Lilith Miyazaki!"


Sorakan laki-laki di sebelahku sangat keras dan yang membuatku terkejut adalah sebuah poster yang bertuliskan 'Lilith, kau yang terbaik!' dan ada juga yang bertuliskan 'Aku mencintaimu selamanya, Lilith.'


Brull menatap poster mereka dengan penuh keterkejutan dan kecewa.


"Ada apa Brull?"


"Aku tidak percaya, dia sudah memiliki fans sebanyak ini?"


"Aku juga terkejut tapi untuk sekarang kita lihat pertandingannya. Kuharap busur buatanku tidak di curi lagi."


Pertandingan pun dimulai.


Musuh yang bernama Chika mulai membaca mantra sihir.


"Wahai angin,-"


Namun sebelum mantra sihirnya selesai, Lilith langsung melesatkan panahnya.


Duar...


Panahnya meleset namun orang-orang yang melihat tembok yang hancur karena panah Lilith yang meleset. Chika yang melihat dan berpikir kalau ia bisa saja akan mati kalau tadi mengenainya. Chika yang gemetaran dengan suara yang bergetar menyerah.


"... A-aku ... menyerah."


Meskipun suaranya kecil namun dapat di dengar oleh orang-orang.


"Yah, karena Chika menyerah. Pemenangnya adalah Lilith Miyazaki!"


Sorakan gembira para fansnya Lilith semakin keras dan terus menyebut Lilith dengan kilat kuning.


["Yaa ... Aku mencintaimu kilat kuning!"]


"Hei Zen, aku tahu sangat senang melihatnya kembali tapi ingat kau harus berpura-pura."


"Ya."


Brull mendengar percakapanku dengan Riska penuh tanda tanya diwajahnya, ia bertanya untuk rasa penasarannya.

__ADS_1


"Apa yang kalian maksud?"


"Tidak ada."


Riska tahu kalau aku tidak ingin membicarakan hal itu dan tidak memberitahu pada Brull.


"Ok, baiklah."


Pertandingan terus berlangsung dan setelah dua pertandingan mereka memberikan waktu istirahat selama 1 jam.


"Baik, untuk sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 kita akan istirahat sebentar dan akan dilanjutkan pukul 13:00."


Semua penonton pergi ke kantin sekolah untuk makan siang dan lainnya.


Karena lelah setelah pertandingan kami juga memutuskan untuk pergi ke kantin, untuk makan siang.


Saat di lorong menuju kantin kami bertemu Altson dan yang lainnya.


"Oh, kau ada disini ternyata."


"Lama tak jumpa."


Altson menatap Lilith dan Brull yang berdiri di belakangku.


"Tapi kalian berdua sungguh hebat, kemampuan kalian berdua lebih dari yang kami bayangkan."


"Terima kasih."


"Kau terlalu memuji, aku jadi malu."


Namun saat sedang berbincang dua orang laki-laki yang terlihat seperti om-om beserta empat orang dibelakang mereka datang menghampiri kami.


"Sebuah kebetulan."


Yang pertama dengan wajah yang segar adalah Akira dan satunya dengan ekspresi datar adalah Azura.


"Oh, kalian berdua rupanya. Ada apa? Sampai datang bersamaan seperti ini."


"Tidak ada kami hanya penasaran dengan sekolah ini jadi kami berkeliling. Siapa mereka?"


Mereka berdua langsung melihatku sambil memegang dagu mereka. Lalu mengatakan sesuatu bersamaan.


""Alfred.""


Kata yang mereka ucapkan membuat amarahku meningkat dalam sekejap namun Brull memegang pundakku dan aku mencoba menahan amarahku.


"Apa yang kalian berdua katakan?"


"Yah, kalau diperhatikan dia sangat mirip dengan Alfred saat masih muda."


"Benar."


Dari mananya? Jelas-jelas aku tidak memiliki hubungan darah dengannya. Aku paling tidak suka di samakan dengan bajingan itu.


Namun Altson membantah pernyataan mereka.


"Tidak, tidak. Bukankah dia ini anaknya pengawal William, ingat."


"Memang sih tapi entah kenapa rasanya sangat janggal."

__ADS_1


Apa mereka memberitahu Altson dan yang lainnya kalau aku anaknya Roy? Kalau itu benar, sepertinya mereka melakukannya sesuai dengan rencana.


"Lupakan itu, jadi kau yang menyembuhkan istrinya Altson dan menyelamatkan kerajaannya ya. Kulihat kau cukup percaya diri dengan kekuatanmu."


Mereka sudah tahu kalau aku membantu Altson tapi bagaimana ia tahu, memang benar aku percaya diri dengan kekuatanku bahkan aku juga tahu akan batasanku.


"Aku punya putri yang cantik apa kau menginginkannya."


Dengan wajahnya datar, Azura melihatku dan menawarkan anaknya seperti hadiah. Tanpa berpikir panjang aku menolaknya dengan cepat.


"Tidak, terima kasih."


"Haha. Kau hebat juga menolak tawaran Azura, haha. Seperti yang ku pikirkan kau sangat hebat."


Akira hanya tertawa setelah mendengar jawaban cepatku, aku juga bisa melihat Altson dan Adelino sedang menahan tawa mereka.


"Kami permisi, terima kasih atas kedatangan kalian. Karena sangat melelahkan di bawah terik matahari jadi kami akan pergi makan."


"Kalau begitu kita pergi bersama saja bagaimana? Lagipula aku ingin tahu kau ingin itu seperti apa."


Akira tidak membiarkan kami pergi justru ia malah mengajak kami makan bersama. Altson dan Azura juga sepertinya sependapat dengan Akira. Sungguh aku bingung sebenarnya mereka ini raja atau bukan?


Melihat perilaku mereka terhadapku seperti seorang teman. Namun karena akan merepotkan jika aku terus menolaknya jadi kami pergi ke kantin bersama.


Saat sampai di sana seperti biasa tempatnya sangat ramai, namun sepertinya ini lebih ramai dari biasanya. Kemanapun tidak ada tempat kosong bahkan Brull melihat kursi yang kami duduki sebelumnya sudah di tempati.


Ada kelompok yang memakan banyak tempat, setelah melihat Azura, Akira dan Altson mereka langsung berdiri dan pindah tempat. Kami duduk di sana bersama.


Namun semua pandangan langsung tertuju pada kami, tatapan takjub dan hormat bisa kami rasakan.


"Kalian mau pesan apa? Aku akan memesankan makanan untuk kalian."


Adelino berdiri dan ingin pergi memesan namun saat itu juga dicegah oleh salah satu wanita yang merupakan salah satu pengawal Azura.


"Tidak, biar aku saja. Tuan sebaiknya duduk saja."


Aku mengerti mereka adalah pengawal raja tapi apakah tidak lelah kalian berdiri terus. Melihat mereka aku berbicara.


"Kalian tidak perlu berdebat, Brull pesankan makanan."


"Baik."


Setelah menyuruh Brull aku melanjutkan berbicara.


"Lalu aku tahu kalian adalah pengawal raja tapi apakah kalian tidak lelah? Duduklah, masih ada tempat untuk kalian."


Mereka berlima termasuk dengan Leorg menjawab dengan bersamaan.


"""""Tidak, kami tidak berhak duduk dengan raja."""""


Hah, loyalitas menyebalkan. Tapi aku tidak suka ada orang yang berdiri saat yang lainnya duduk.


Akira yang mengetahui apa yang kukatakan, dia mulai berbicara.


"Tidak apa, kalian pasti lelah. Aku tidak keberatan kalian duduk di sebelahku."


"Benar, duduk saja."


Setelah mendengar itu dari Akira dan Azura, mereka duduk di sebelah raja mereka.

__ADS_1


Setelah menunjukkan makanan yang terdaftar di menu, Brull beranjak dari kursinya dan pergi memesan.


__ADS_2