Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Penguasa hutan kematian


__ADS_3

Pintunya terbuka dan ada sebuah singgasana yang di duduki oleh seseorang, ia terlihat seperti manusia, ia mengenakan jubah berwarna hitam dan mata merahnya terlihat sangat jahat bahkan aku bisa merasakan aura membunuhnya sangat terasa.


"Kalian boleh juga, bisa menemukan tempat ini."


Tatapannya membuat orang diam membeku tapi tidak untuk kami.


"Siapa kau?"


"Maafkan aku, aku lupa mengenalkan diriku. Namaku Zifrit penjaga hutan ini sekaligus penguasa."


Ia berdiri dari duduknya dan memperkenalkan diri dengan membuat gaya yang aneh. Meskipun aura membunuhnya terasa kuat tapi setelah melihatnya cara memperkenalkan diri membuatku menganggapnya orang aneh.


"Aku sudah memperkenalkan diri kalau begitu sebutkan siapa kalian dan apa tujuan kalian."


Ia mengatakan itu dengan tatapan tajam membuat kami merasa merinding.


"Ak-"


"Aku Riska, ini Ignis dan dia Zen. Kami kesini ingin keluar dari hutan ini."


Riska tiba - tiba menyela dan memperkenalkan kami dengan nada yang semangat, ekspresi Zifrit seketika berubah dari tersenyum menjadi ekspresi serius.


"Kalau begitu, kalahkan aku jika kalian ingin keluar dari sini, apa kalian yakin?"


"Ya!"


"Yakin!"


"Tentu!"


Kami bertiga mengatakannya dengan bersamaan.


"Baiklah, kalian bersiaplah, Dimensi Ilusi!"


Ia mengatakan sebuah sihir lalu seketika ruangan itu berubah menjadi sebuah arena pertarungan yang sangat besar, di sekeliling banyak orang di kursi penonton semuanya terlihat bersemangat seperti menonton bola di televisi, dan saat ini langit terlihat sangat gelap.


"Peraturannya tidak ada, yang harus kalian lakukan hanya harus mengalahkanku."


Kami bersiap dalam posisi menyerang, lalu seekor kelelawar berbicara di atas langit.


"Pertarungan antara Tuan Zifrit melawan tim Zen, Dimulai!"


Kami berkumpul untuk mendiskusikannya rencana.


"Aku mengerti."


"Sesuai perintahmu."


Kami selesai berdiskusi dan mulai menjalankan rencana.


"[Fire Cyclone!]"


Riska berlari ke depan lalu melompat sambil mengeluarkan skillnya, sebuah topan api besar menyerang Zifrit. Zifrit tiba bisa apa - apa kecuali bertahan.


"[Dark Shield!]"


Sebuah pelindung menutupi tubuhnya, ia mencoba menahan topan api itu dengan pelindungnya, Ignis langsung menggunakan nafas apinya ke topan itu dan topan itu mulai membesar.


Krek...


Sedikit demi sedikit suara retakan terdengar dari pelindungnya, aku yang berada di belakang mereka sudah bersiap dengan sihirku.


Trang...

__ADS_1


Pelindungnya hancur bersamaan dengan topannya yang menghilang, karena aku merasa tubuhku ringan, aku melompat dan langsung berada di hadapan Zifrit.


"[Dark Thunder!]"


"Mus-mustahil!"


Petir hitam yang ada di tanganku adalah dark thunder, sebuah petir yang dapat menghancurkan jantung dalam sekali serang.


Aku menyerang bagian jantungnya dan berhasil mengenainya, Ia terjatuh ke lantai sambil memegang dadanya.


"Kita berhasil!"


Riska sangat senang sambil memelukku dengan erat. Namun, aku merasa ada yang salah tapi aku tidak tahu apa itu.


Seketika semua terlihat berhenti, dan seseorang berjalan ke arah kami.


"Selamat, kalian berhasil."


Dia adalah Zifrit, dia terlihat baik - baik saja dan lubang yang aku sebabkan pun tidak ada.


"Kalian membuatku bertahan lalu saat pertahananku hilang kalian dengan cepat menyerangku. Kalian berpikir untuk mengalahkan dengan cara yang cepat, boleh juga."


Ia melanjutkan perkataannya sambil memegangi dagunya.


"Apa kita bisa keluar dari sini sekarang?"


Riska tiba - tiba mengajukan pertanyaan dan matanya bersinar terlihat sangat senang.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Zen."


Dia duduk kembali ke singgasananya dan mengatakan itu.


"Apa kau ingat siapa kau sebenarnya?"


Ignis dan Riska menatapku dengan bingung, aku sendiri pun bingung kenapa banyak orang yang menanyakan itu padaku, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.


Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya, itu adalah sebuah crystal. Bentuknya segi lima dan berwarna merah terang.


"Ini adalah crystal api, pedang yang dibawamu adalah pedang penghancur iblis milik devil slayer, Azazel. Kau bisa membawanya artinya dia ada didalam dirimu ya."


Aku terkejut kalau Azazel terkenal, tapi yang membuatku terkejut adalah ia tahu diriku padahal aku tidak tahu apapun.


"Ya"


Aku mengatakan itu sambil menganggukkan kepala, tapi Zifrit masih menatapku dengan serius.


"Ada apa?"


"Ini aneh, aku merasa di dalam dirimu ada sesuatu yang lain."


Wajah Zifrit terlihat agak ketakutan dan waspada.


"Sesuatu yang lain?"


Kami bertiga mengatakannya secara bersamaan.


"Sesuatu yang sangat berbahaya ada di dalam tubuhmu, kau bisa tanyakan pada Azazel, mungkin dia tahu sesuatu."


"Baik, aku akan menanyakan padanya nanti."


Dibelakang singgasananya ada sebuah tembok besar, tembok bergeser seperti pintu lift, kami berjalan kesana Riska dan dan Ignis sudah keluar duluan tetapi aku masih disana karena di tahan oleh Zifrit.


"Tunggu Zen, kau melupakan ini."

__ADS_1


Ia memberikan crystal merah itu padaku, aku mengambilnya dan langsung berbalik tapi...


"Zen, ingat ini gunakan kekuatanmu dengan benar, dan masalah dunia ini ada hubungannya denganmu."


"Ya, aku akan mengingatnya."


Setelah itu aku langsung berjalan keluar dari sana, saat sudah sampai luar tembok itu kembali bergeser ke bentuk semula.


"[Fire Cyclone!]"


Aku sedikit terkejut karena Riska tiba - tiba mengeluarkan sihirnya, karena aku tidak tahu apa yang terjadi aku melihat ke arah topan itu dan banyak monster sudah mengepung kita, sekitar 100 monster tapi sudah dikalahkan hanya dengan serangan topan dari Riska.


"Tuan, lihat di atas sana."


Sebuah portal melayang di udara dan banyak Monster keluar dari sana, setelah melihat kekuatan Riska aku juga jadi ingin mencobanya.


"[Black Hole!]"


Aku mengarahkan tanganku ke arah portal itu dan sebuah lubang hitam muncul dan menyedot portal itu lalu menghilang, aku terkejut karena itu berhasil.


Karena terlalu fokus dengan monster dan portal tadi, aku mulai menyadari bahwa kami berada di atas sebuah gunung, di sebelah barat ada sebuah kota yang lumayan besar.


"Sepertinya disana ada kota, kita beristirahat disana."


Aku mengatakan itu sambil menunjuk ke kota itu.


"Kota? Dimana?"


"Tuan, nona, ada yang datang."


Ignis dengan posisi waspada ke arah berlawanan kami, sekitar 5 orang diantaranya 2 wanita dan 3 orang pria, 2 pria diantaranya memakai pakaian yang sama, memakai mantel berwarna merah dan pria satunya hanya memakai zirah lengkap sedangkan 2 wanita itu memakai pakaian seperti penyihir berwarna biru dan hijau.


"Anak kecil dan Flame Wolf?"


Pria yang memakai zirah sepertinya terkejut melihat kami berada di atas gunung.


"Wah! anak kecil yang lucu."


Seorang wanita yang memakai pakaian penyihir berwarna hijau tiba - tiba berlari dan langsung memeluk kami.


"Hei, lepaskan kami, siapa sih tiba - tiba memeluk kami."


Riska terlihat marah karena tiba - tiba dipeluk, tapi pria yang memakai zirah tiba - tiba menodongkan pedangnya ke Ignis yang sedang mewaspadai mereka.


"Mila, bawa dua anak itu pergi aku akan mengalahkan flame wolf ini."


Sepertinya mereka mencoba membunuh Ignis, dengan cepat aku menyerang pria itu.


"[Wind bullet]"


Sebuah angin berbentuk bola seperti bola tenis terlempar ke arah pria itu hingga terhempas jatuh.


"Roy!"


"Kakak!"


"Darling!"


Yang lain membantunya berdiri sedangkan wanita yang memeluk kami hanya diam melihat saja.


"Apa yang kau lakukan? aku mencoba menolongmu tahu."


Pria berzirah itu sepertinya namanya Roy, ia berteriak padaku dengan berdiri yang masih dibantu oleh temannya.

__ADS_1


"Jangan sentuh Ignis!"


Aku menatapnya dengan tatapan dingin membuatnya takut bahkan wanita yang memeluk kami melepaskan pelukannya dan mundur pelan pelan ke arah temannya.


__ADS_2