Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Skill Growth


__ADS_3

Riska dan Kana saat ini berada di toko pakaian sementara aku dan Roy berada di luar toko.


Kami berada di sebuah jembatan, di bawahnya terdapat sungai yang mengalir.


Kami berdua menatap sungai itu sambil memakan roti yang berisi daging.


Sama seperti sebelumnya, aku tidak merasakan kenyang sama sekali tapi roti ini enak juga.


"Jadi setelah membunuh Maria, apa tujuanmu selanjutnya?"


"Kami tidak membunuhnya hanya membakarnya."


Roy menghela nafas.


"Kau ini! lalu?"


Aku memilih memberitahu tentang diriku mungkin ia tahu sesuatu tentang sihir growth.


"Kau tahu, aku ini berumur 15 tahun bukan anak 6 tahun."


"Uhuk-Uhuk."


Roy tersedak oleh rotinya sambil memukul-mukul dadanya.


"Yah, mungkin ini terdengar seperti lelucon tapi begitulah faktanya."


Roy sudah kembali sedakkannya sudah menghilang dan melanjutkan pembicaraan.


"Kenapa tiba-tiba!"


"Maaf maaf."


Roy memakan roti gigitan terakhirnya lalu melempar sampahnya ke sungai. Setelah menelan gigitan terakhirnya ia mulai berbicara sambil melihat sampahnya yang mengalir di sungai.


"Aku tidak tahu masalahmu dan aku juga sebenarnya tidak mau tahu, tapi yang pasti aku membantumu karena teman-temanku. Lagipula sejak awal aku tahu kau bukan anak kecil tapi aku tidak memiliki bukti. Jadi, apa yang ingin kau katakan?"


Aku tidak tahu sifatnya tidak suka basa-basi tapi ini mempermudah aku untuk mencari sihir growth.


"Aku ingin kembali ke wujud asliku dan sebelumya aku mengetahui dari seseorang kalau sihir growth adalah kuncinya."


Roy memegang dagunya sambil menatap ke langit. Dan sepertinya ia tahu sesuatu.


"Growth, ya? aku tidak tahu tapi kalau kau ingin mencari informasi tentang sihir kau bisa menemukannya di perpustakaan kota."


Perpustakaan kota, ya? mungkin aku akan kesana bersama Riska.


Aku menghabiskan rotiku dan membakar sampahku dengan sihir api.


Tidak lama setelah itu, Riska dan Kana datang sambil membawa banyak plastik yang berisi pakaian yang baru saja mereka beli.


Karena aku berniat memberikan kejutan kalau bisa kembali jadi anak 15 tahun lagi dan juga sepertinya kalau ia baru saja membeli pakaian anak.


"Kalian sedang apa berdiam disini."


Roy mendekat pada kana dan memberitahu kebenarannya.


"Kana, kita seharusnya memberikan pakaian untuk 15 tahun bukan 6 tahun."


Kana agak bingung dengan yang dikatakan Roy. Tiba-tiba udara terasa panas seperti api, saat itu Riska terlihat marah, matanya merah membara seperti api lalu rambutnya ke naik ke atas seperti ular yang siap menggigit kapan saja.


"Riska? kau kenapa?"


Aku bingung dengannya yang tiba-tiba marah.


"Zen. Ikut denganku."


Riska tiba-tiba menarik telingaku dan membawaku ke dekat sungai jauh dari Roy dan Kana. Sementara itu sepertinya Roy sepertinya memberitahukan kebenaran kami ke Kana.


Setelah sampai di dekat sungai di bawah jembatan,Riska melepaskan tangannya dari telingaku dan mulai berbicara sambil menyilangkan tangannya.


"Zen, apa yang kau bicarakan dengan Roy."


Melihatnya saja membuatku tidak bisa berbicara dengan benar, aku bahkan takut menatap matanya yang menyeramkan.


"Aku... aku..."


Aku menjadi gagap dan sulit berkata-kata, bahkan seluruh tubuhku terasa merinding.


"Zen, aku apa? katakan dengan jelas dan tatap mataku."


Aku pelan-pelan mencoba menatapnya dan berusaha berbicara dengan seluruh keberanianku.


"Aku... memberitahunya tentang kita bukan... anak kecil."


"Kenapa?"


Ia langsung bertanya lagi dan rambutnya terasa akan memakanku kapan saja.


"Karena aku dapat informasi kalau kita bisa kembali seperti dulu dengan sihir growth, dan... aku menanyakan sihir itu pada Roy."


"Untuk apa?"


Aku benar-benar ketakutan ia terus mencoba membuatku bicara.


"Untuk..."

__ADS_1


"Untuk apa?"


Riska memelototiku dengan seram seakan yang di hadapanku itu adalah iblis, tapi Azazel saja yang seorang iblis tidak semenakutkan ini.


"Dasar tidak tidak normal."


Azazel tiba-tiba berbicara di kepalaku.


"Apa maksudmu aku tidak normal?"


"Kau ketakutan melihat gadis ini marah tapi tidak takut denganku yang seorang iblis."


Benar juga tapi apa yang harus kukatakan untuk membuatnya tenang. Aku bertanya pada Azazel.


"Azazel, bantu aku."


"Tidak mau, membosankan."


Azazel menolak dengan nada yang sangat malas.


Aku benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus kukatakan.


Aku menghela nafas panjang, aku terpaksa harus memberitahunya kalau aku melakukannya demi Riska.


"Aku... melakukan ini untukmu. Karena... saat kau menjadi anak kecil kau terlihat kesal meskipun kau menutupinya dengan senyummu."


Amarah Riska mereda dan ia membuang muka dan wajahnya terlihat merah, asap mengepul diatas kepalanya.


"Ja-jadi... kau... melakukan ini... untukku...?"


Aku menarik nafas lega kalau amarah sudah hilang.


"Sekarang aku ingin ke perpustakaan untuk mencari sihir itu dan menirunya."


Riska melihat wajahku seperti biasanya.


"Baiklah, ayo kembali. Aku akan membeli pakaian lagi."


Riska menarik tanganku dan berlari ke jembatan dimana Roy dan Kana berada.


Saat bertemu mereka di jembatan suasananya terlihat canggung.


"Maaf... ya, aku tidak memberitahumu."


Riska menunduk dan mulai meminta maaf pada Kana.


"Tidak perlu, aku sudah dengar dari Roy kalau kalian sudah melewati hal sulit, aku senang saat bersama kalian."


Selesai berbicara suasananya masih canggung dan Roy mulai berbicara untuk menghilangkan suasana yang canggung ini.


Nice Roy.


"Kau benar, mereka juga sebaiknya di beritahu."


Suasana sudah kembali seperti semula, dan kami berempat pergi ke penginapan.


Penginapannya berada dilantai dua guild. Kami berjalan masuk ke dalam guild dan disana banyak petualang yang sedang makan dan duduk.


Suasananya terlihat meriah, resepsionis berlari ke arah kami dan menanyakan hasil tes kami, di belakangnya ada seorang lelaki yang belum pernah kulihat.


Ia tidak kurus dan tidak gendut, pakaiannya terlihat sederhana, dengan kemeja putih dengan dasi hijau dan celana panjang hitam. Kumisnya hitam panjang menjulang di kiri dan kanan, rambutnya hitam pendek dengan disisir ke kanan.


Siapa orang ini? ia terlihat berbahaya.


"Bagaimana tes kalian?"


"Kami lolos."


Resepsionis itu sangat senang dan memeluk Riska seperti memeluk anaknya sendiri.


"Siapa dia?"


Aku bertanya pada resepsionis tentang orang di belakangnya.


"Perkenalkan dia William, dia master guild ini."


Aku sangat terkejut kalau dia master guild, dan aura yang yang keluar dari tubuhnya seperti ia berada di alam yang berbeda.


Ia mendekat padaku dan menatapku.


"Sungguh mengerikan."


Ia mengatakan itu setelah menatapku dan itu membuatku kesal.


"Apa maksudmu?"


Suasana guild seketika hening dan semua melihat ke arahku tapi aku mengabaikannya.


Ia berbalik dan berbicara.


"Maksudku, kapasitas sihir yang kau punya sungguh mengerikan. Apa kau tidak pernah mencoba menahannya."


Awalnya aku bingung dengan apa yang dikatakannya namun aku akhirnya aku mengerti.


Kapasitas sihirku saat di hitung sebelumnya memang tidak masuk akal namun aku tidak tahu kalau ia bisa mengetahuinya hanya dengan melihatnya.

__ADS_1


"Tidak."


Aku menjawab pertanyaannya. Semua orang yang melihat terlihat kebingungan dengan pembicaraan kami berdua.


Ia memasukan lengannya ke dalam saku celana dan ia mengeluarkan sebuah cincin emas, itu sangat berkilau.


"Ini."


Ia memberikan cincin itu padaku.


"Untuk apa ini?"


Aku sangat bingung ia tiba-tiba memberikan cincin itu padaku.


"Ini untuk menahan sihirmu, kau tidak bisa berkeliaran dengan sihirmu yang besar itu."


Aku menerimanya dan memakainya tanpa ragu.


Namun tiba-tiba Riska menunduk dan berteriak meminta maaf.


"Semuanya, maafkan kami."


Semua terlihat bingung namun master guild hanya tersenyum dan berkata.


"Kau tidak perlu meminta maaf, aku tahu apa yang ingin kau katakan dan semuanya juga sudah tahu."


Wow, aku sungguh terkejut dan takjub dengan master guild, ia sungguh berada di alam yang berbeda dengan kami.


"Itu benar, meskipun anak kecil atau bukan. Kami menerima kalian dengan senang hati."


"Itu benar."


"Ya, benar."


Suasana kembali meriah dan semua terlihat sudah tahu kalau kami bukan anak kecil. Kami diajak makan dan berpesta untuk merayakan kami lolos dari sekolah petualang. Kami bersenang-senang, semua terlihat bahagia, dari bernyanyi besama, menari bersama dan makan bersama.


Matahari pun terbenam, semua terlihat kelelahan hingga tidur dilantai. Yang masih terbangun adalah William, aku dan Riska.


William berjalan ke arah kami dan mengajak kami ke ruangannya.


"Kalian berdua, ikut denganku."


Kami masuk ke dalam pintu yang ada di dekat tempat resepsionis, ruangannya begitu luas dan... berantakan.


Kertas dan buku dimana-mana seperti kapal pecah.


"Duduklah."


Kami duduk di kursi yang ada di depan mejanya. Aku merasa seperti berada di kamar Rina, semuanya berantakan dan tempat ini terlihat baru berantakan, karena aku tidak melihat debu hanya buku dan kertas yang berantakan.


Ia membuka laci dan mengambil sebuah buku, buku itu terlihat berdebu dan kotor.


"Ini adalah buku yang kau butuhkan."


Aku agak bingung ia tiba-tiba bingung, namun saat mendengar ia mengatakan itu. Itu terdengar seperti ia sudah tahu banyak tentang kami.


"Aku tahu kalian mungkin bingung, tapi inilah kemampuanku. Aku bisa mengetahui sesuatu dengan mudah hanya dengan melihatnya."


"Jadi maksudmu, di buku ini ada sihir yang sedang kami cari."


Riska mengatakan seolah ia sudah paham.


"Ya."


Riska terlihat senang dan menyuruhku untuk menggunakannya.


"Zen, cepat buka dan gunakan."


Aku menghela nafas dan mulai membukanya. Di bagian daftar isi aku menemukannya, itu berada di halaman 120.


Aku membuka halaman 120 lalu melihatnya, aku menggunakan skill meniruku hanya dengan melihat cara kerjanya saja aku bisa menirunya dengan mudah. Namun aku menggunakan skill meniru dan membaca cara kerjanya.


Setelah selesai membacanya, aku pun mencobanya.


"[Growth]"


Aku mengarahkan tanganku ke diriku dan cahaya berwarna hijau keluar dari tanganku, aku pun mulai membesar dan kembali ke bentuk asliku. Namun baju yang aku kenakan tidak rusak.


Dan sepertinya aku bertambah sepuluh tahun lalu aku mencobanya ke Riska.


Riska kembali seperti sebelumnya, saat kami masih di hutan kematian, tapi mungkin ini hanya perasaanku saja atau bukan tapi ia terlihat lebih cantik.


"Hmm, aku tidak percaya bisa melihat skill growth dan copy."


William terlihat senang hingga air matanya sedikit keluar, apa dia masih waras? tapi sepertinya ia hanya senang bisa melihat sihir tingkat tinggi.


Aku membalik halaman ke daftar isi.


"Zen, kali kau mau apa?"


Riska penasaran dengan yang akan kulakukan dan William menghapus air matanya dan ia sudah tahu apa yang akan kulakukan.


"Kau mau mencari skill apa lagi? Skill Kreasi ya?"


Hmm, sungguh kemampuan yang aneh tapi menakjubkan karena bukan skill aku tidak bisa menirunya padahal kupikir akan sangat berguna jika memilikinya.

__ADS_1


__ADS_2