Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Kota Kawa


__ADS_3

Aku bangun dan membuka mataku untuk melihat kebisingan saat aku melihat ada dua orang ksatria yang sedang membentak Brull dan suara mereka membuatku kesal karena sangat berisik.


"Berlutut."


Dalam satu kata mereka langsung jatuh ke tanah dan tidak dapat bergerak.


"Kalian berdua sangat berisik."


Kedua ksatria itu terus mencoba bergerak dan berdiri namun tidak bisa dan seperti ada sesuatu yang berat sedang menimpa mereka.


Banyak kerumunan yang melihat dan ada beberapa yang ketakutan.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi disini, tapi bisakah kalian bersikap sopan?"


Meskipun mereka tidak menjawab, aku segera menoleh dan melihat seorang pria terkurung dalam es dan aku sangat yakin kalau itu sihir milik Laura.


Aku turun dari punggung Brull dan melepaskan sihir pada kedua ksatria itu sehingga mereka bisa bergerak kembali.


Aku berjalan mendekati pria yang terkurung dalam es dan melelehkannya dengan api putih milikku.


"Hah... hah... hah..."


Pria itu mengatur nafasnya yang tidak normal. Namun aku segera mencekik pria itu dan mengangkatnya ke atas.


"Aku sangat yakin kau adalah pembuat masalah disini. Jadi, kau ingin mati atau meminta maaf!"


"A...Ku maaf..."


"Hah?! Apa yang kau katakan? Bisakah kau berbicara dengan jelas?"


Aura mengintimidasi yang keluar dariku untuk membuat orang-orang tidak berani mendekat, namun.


"Maafkan kami tuan... Apakah nama tuan adalah Zen Ignatius?" Ucap salah satu ksatria dengan sopan.


Meskipun barusan aku membuatnya berlutut tapi dia bisa berdiri meskipun dibantu oleh tombaknya, sepertinya dia ksatria yang cukup tangguh.


"Benar, dan berani sekali kau menyebut namaku?"


"Hiii! Maafkan saya tuan. Mohon maaf atas kebodohan kami nona."


"Kalau kalian sadar diri itu sudah cukup." Jawab Laura.


Dengan cepat mereka mengubah sikap mereka dan membiarkan kami masuk tanpa harus diperiksa atau yang lainnya.


Aku sedikit penasaran, apakah namaku sangat terkenal? Melihat reaksi mereka saat mendengar namaku rasanya aku ini cukup populer.


Saat kami berjalan hampir semua orang yang ada memperhatikanku dengan tatapan kesal.


Aku merasa seperti seorang penjahat disini, tapi yah biarlah. Lagipula mereka tidak menggangguku sama sekali.


"Hoam..."


Aku penasaran apakah ada tempat tinggal yang nyaman disini? Aku merasa sangat ngantuk hari ini.


Padahal yang kulakukan hanya berjalan tapi rasanya sangat lelah.


"Apa kau lelah Zen?"


Brull bertanya padaku yang sesaat setelah aku menguap.


"Ya, entah kenapa aku merasa ngantuk."

__ADS_1


"Kami juga lelah, kurasa kita harus mencari penginapan di sekitar sini."


Aku menyetujui saran Brull namun kurasa yang lainnya juga lapar. Mungkin kita harus mencari makan terlebih dahulu.


"Mungkin kita harus ke guild petualang terlebih dahulu untuk membuat kartu pengenal."


Saat aku sedang melihat sekeliling untuk mencari penginapan, Rena langsung mengajukan saran pada kami.


Memang benar, kita mungkin akan kesulitan jika ingin pergi ke kota Rewa tanpa kartu pengenal dan status plate hanya berfungsi sebagai bukti kenaikan level seseorang saja.


"Kau benar, ayo pergi."


Meskipun kami tidak tahu dimana guild petualang berada kami berjalan sambil melihat sekitar.


Kota ini tidak seperti kota Valmas, kota terlihat agak sepi dibandingkan kota Valmas.


...*****...


"Hah... hah..."


Seorang anak kecil berusia 6 tahun berlari kencang dengan nafas yang terengah-engah.


"Hei, jangan lari kau!"


Beberapa pria kasar dengan otot dan tato di tubuh mereka sedang mengejar anak kecil itu.


Anak itu terus berlari dengan kedua kaki kecilnya yang lemah hingga akhirnya ia menabrak seseorang di depannya.


Orang yang ditabraknya adalah laki-laki kurus yang memakai mantel hitam dengan lapisan merah serta blazer abu-abu dan kemeja putih di bawahnya dengan dasi diikat di lehernya dan celana hitam panjang serta sepatu bot yang terbuat dari besi.


Tatapan matanya sangat tajam membuat gadis itu semakin ketakutan. Dia gemetaran dan berhasil lepas dari intimidasi yang keluar dari pria di depannya dan segera berlari lagi.


"Berhenti."


"Dia disana! Bos, aku menemukannya!"


Seseorang melihat gadis tersebut tidak bergerak dan segera memanggil teman-temannya.


"Hiii!"


Gadis itu semakin ketakutan setelah menengok ke belakang, ia terus menggerakkan kakinya namun tetap tidak bisa.


"Diam."


Dalam satu kata, suara gadis tersebut hilang atau lebih tepatnya mulutnya terkunci rapat.


"Haha, kau tidak akan bisa lari kemanapun."


Kelompok itu berjalan mendekat dengan pelan namun saat mereka menyentuh anak kecil itu tangan mereka kesakitan karena seperti ada petir yang sedang melindungi anak kecil itu.


"""Aduh!"""


ketiga orang kasar itu bingung dengan apa yang terjadi dan segera menatap orang-orang yang berdiri di depan anak tersebut.


"Siapa kalian!?"


Salah satu pria berteriak sambil menunjuk ke arah laki-laki kurus yang berdiri di depan mereka.


Laki-laki kekar yang berdiri di sebelah laki-laki kurus segera menyentuh jari telunjuk pria tersebut.


"Ah..."

__ADS_1


Pria itu berteriak kesakitan dan dua orang pria di belakangnya hanya ketakutan.


"Berani sekali kau menunjuk sahabatku dengan jarimu yang kotor."


Laki-laki kekar itu meremukkan jari pria itu. Namun berhasil dihentikan oleh laki-laki kurus dibelakangnya.


"Hentikan Brull, orang-orang memperhatikan kita."


Mendengar itu laki-laki kekar itu melepaskan jari pria itu.


Laki-laki kurus berjalan dan mendekati mereka bertiga.


"Sepertinya kalian adalah pedagang budak ya?"


"I...Iya!"


"Jadi begitu. Kau mengejar gadis yang lari dari kurungannya ya."


Pria itu menelan ludahnya karena sangat ketakutan.


"Sepertinya tebakanku benar."


Laki-laki kurus itu kembali dan menyuruh laki-laki kekar mengikatnya. Dengan sihir petir laki-laki kekar itu mengikat ketiga pria itu.


Laki-laki kurus itu melepaskan sihir kata-kata dari anak kecil itu dan bertanya.


"Sekarang kau aman. Lain kali perhatikan jalanmu saat berlari."


Anak kecil itu bukannya berterima kasih namun ia sangat ketakutan dan memeluk gadis berambut merah di belakangnya.


"Cup, cup. Sudah, jangan menangis. Kakak itu bukan orang jahat."


"Zen, kau ini tidak bisakah lebih lembut kepada anak kecil."


"Kau penjahat."


"Sepertinya kau suka sekali membuat anak kecil menangis."


"Kau yang terburuk."


"Zen, kau payah."


"Ugh...!"


Setelah dikeroyok oleh para wanita, laki-laki kurus, Zen. Terdiam karena ucapan para gadis seperti pisau tajam yang menusuk ke dada.


"Ayolah, kalian tidak boleh seperti itu pada Zen yang sudah menolong gadis itu."


Setelah di tegur oleh Brull, para gadis menunduk dan meminta maaf.


"hahaha."


Zen yang sedang kelelahan secara mental langsung kembali segar setelah mendengar suara tawa yang lucu dari depannya. Itu adalah tawa dari anak kecil tersebut.


Zen tersenyum kecil sambil melihat anak kecil itu dan berdiri.


"Baiklah, waktu bercanda sudah habis."


Wajah Zen langsung serius dan menyeret ketiga pria itu.


"Kita akan membawanya bersama kita. Untuk sekarang kita pergi ke Guild petualang baru memikirkan selanjutnya."

__ADS_1


Zen menyeret ketiga pria itu bersama mereka ke guild petualang.


__ADS_2