
Suara keras bergema di dalam penginapan moon wind. Pada saat yang sama, Dave, yang akan menerkam kapan saja, dipukul di kepala dan terlempar. Seolah-olah, bagian belakang kepala Dave membentur dinding di belakangnya, keras, dan suara yang dahsyat bergema. Matanya menjadi putih saat dia pingsan. Pedang itu terlepas dari tangan Dave dan gashan!, jatuh ke lantai.
Tidak ada yang bisa memahami apa yang baru saja terjadi, dan semuanya tercengang. Tatapan mereka beralih ke Dave yang pingsan dengan bagian putih matanya yang terlihat. Lalu ada yang penasaran dengan apa yang terjadi hingga mengeluarkan suara yang begitu besar, Fros yang menarik tirainya. Setelah itu, dia menjadi terbelalak saat dia terpana oleh pemandangan bencana di depannya.
Di sisi lain, Lucy dan yang lainnya akhirnya bisa sadar kembali ketika Fros masuk. Tatapan mereka yang kemudian diarahkan ke Dave, secara alami tertarik ke sumber suara ledakan.
Aku menaruh pedangku yang berasap ke atas meja dan kembali menyantap makananku.
Hm, rupanya pedang ini bisa menyalurkan sihirku.
Brull kembali dari keterkejutan yang tiba-tiba dan berbicara denganku sambil mencoba tetap tenang.
"Zen, kau tidak boleh membunuhnya."
"Tenang saja, aku hanya melemparnya dengan sihir angin jadi dia belum mati."
Riska, Laura dan Lilith tidak terlihat terkejut. Mereka tetap tenang dan memperhatikan kejadian ini.
Para ksatria lainnya yang sudah siap menyerangku dengan tubuh yang gemetaran. Aku yakin mereka ketakutan.
Saat Dave mulai sadar, aku melirik mereka sambil mengeluarkan sedikit aura sihir untuk mengintimidasi mereka.
“Aku tidak terlalu tertarik padamu. Aku tidak pernah berpikir ingin menjalin hubungan dengan kalian. Selain itu, aku tidak akan mengatakan apa pun tentang apa yang telah terjadi pada saya atau apa yang ingin saya lakukan. Aku di sini hanya untuk bekerja, jadi aku akan melanjutkan perjalanan saya setelah selesai. Di situlah kami mengucapkan selamat tinggal. Juga, jika kau mengatakan tentang hal itu. Maka, sama seperti sekarang, aku akan membunuhmu."
Mengerti? Itulah yang ditanyakan oleh mataku, tapi tidak ada yang mengatakan apa-apa. Segera, aku mengalihkan pandanganku ke ksatria lainnya yang mati-matian menahan tekananku dan yang bisa mereka lakukan hanya mengangguk kecil.
Selanjutnya, aku mengalihkan pandangan ke arah Lucy dan murid-muridnya. Lucy tidak mengatakan apa-apa. Tidak, lebih seperti dia tidak bisa. Bukan hanya karena perasaan tertekan yang menyembur keluar, tetapi juga karena kata-kata yang aku ucapkan, dan bagaimana muridnya berubah tanpa sepengetahuannya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan oleh harga diri Lucy.
Aku menghela nafas saat aku mengangkat bahu dan menghentikan aura sihirku. Meskipun tidak ada jawaban dari Lucy, Aku entah bagaimana bisa bersimpati dengan perasaannya, jadi aku tidak memaksanya untuk menjawab. Murid-murid lain jelas ketakutan, jadi aku menduga mereka tidak akan berani menantangku.
Dengan perasaan penindasan yang luar biasa menghilang, para Ksatria pingsan dan menghela nafas dalam-dalam. Lucy dan murid-muridnya juga kelelahan dan duduk dalam-dalam di kursi. Seolah-olah tidak ada yang terjadi, aku melanjutkan makan, dan Abbadon mengajakku bicara.
{"Zen, aku merasakan ada banyak sekali mana yang sedang menuju kemari."} (Abbadon)
"Tidak."
{"Kalau begitu, fokuskan manamu keluar."} (Abbadon)
Aku mengikuti yang dikatakan Abbadon, aku menutup mata dan mulai memfokuskan mana ke sekitar.
__ADS_1
Saat aku membuka mata, aku bisa melihat segerombolan monster sekitar 1000 monster sedang berjalan kemari, di depannya ada seseorang berjubah hitam memimpin para monster.
"Ada apa Zen?"
Brull menjadi penasaran dengan ekspresiku yang menjadi serius. Aku membatalkan pemfokusan mana dan menanggapi Brull.
"Besok siang mereka akan ada di sini."
Brull terlihat bingung dan memiringkan kepalanya, namun ia langsung terkejut setelah mengerti maksudnya.
"Apa secepat itu? Tapi mana pendeteksi manaku tidak bereaksi sama sekali."
Tentu saja, pendeteksi mana memiliki area jangkauan nya sendiri.
"Mereka masih belum sampai area manamu jadi wajar saja."
Para siswa dan ksatria lainnya sangat bingung dengan pembicaraan kami, Lucy pun bertanya dengan rasa penasarannya.
"Apa yang kalian bicarakan? Mereka itu siapa?"
Brull berbalik dan menjawab pertanyaan Lucy dengan tenangnya.
"Apa!?" Mereka sangat terkejut dan sepertinya mereka lebih terkejut daripada sebelumnya.
"Brull, kenapa kau mengatakan itu dengan tenangnya." Tanya Misaki
Lucy langsung berdiri dan memukul meja dengan keras dan berteriak.
"Apa maksudmu segerombolan monster akan datang menghancurkan kota?!"
"Kalian sudah selesai makan?" Tanyaku dengan tenang.
"Ya."
Para gadis meresponku sambil mengangguk.
"Oh iya, di sini ada tempat pemandian kenapa kita tidak kesana bersama."
Teriak Lilith dengan penuh semangat, matanya mulai berbinar-binar.
__ADS_1
Aku merasakan firasat buruk tentang ide Lilith.
"Aku tidak ikut, aku memiliki urusan sekalian membersihkan mobil." Jawab Brull dengan senyum di wajahnya.
"Aku juga tidak ikut, aku akan membantu Brull." Lanjut Misaki.
"Kalau begitu, cuma kita berlima saja yang akan mandi bersama." Lanjut ucap Lilith dengan semangat yang tinggi.
Sudah kuduga.
Lucy, para ksatria dan murid lainnya terkejut mendengar ucapan Lilith yang tidak di saring itu.
"Kalau begitu, aku yang akan menggosok punggung Zen." Ucap Laura dengan bangga.
"Tidak, aku yang akan menggosoknya. Karena aku dan Zen terkadang sering mandi bersama saat masih di bumi." Jawab Rina dengan senyum manis.
"Tidak, yang akan menggosok punggungnya adalah aku karena aku adalah orang pertama yang meniduri Zen." Jawab Riska.
"Apa!? Tidak, kalian sudah bermesraan dengan Zen tapi aku sama sekali belum, jadi aku yang akan menggosoknya." Teriak Lilith dengan penuh semangat.
Hah, apa mereka ini tidak punya urat malu? Bagaimana bisa kalian mengatakan hal yang begitu memalukan dengan bangga.
"Ti-"
Aku melirik Lucy yang sedang menunduk dengan wajah memerah, ia ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya tertahan di tenggorokannya.
Melihat itu, Para gadis langsung mengalihkan perhatiannya pada Lucy.
"Tidak tahu malu! Zen, kau tidak hanya membuat mereka menuruti perintahmu tapi juga kau sudah meniduri mereka berempat. Kau sudah menjadi orang yang sangat buruk! Kau, kau harus merenungkan perbuatanmu. Ya, aku akan membuatmu merenungkan perbuatanmu. Tidak bisa dimaafkan!"
Ledakan Lucy membuat Para gadis terdiam dan menundukkan kepala mereka. Aku hanya bisa menghela nafas dan menggaruk kepalaku.
Misaki berdiri dan membisikkan sesuatu kepada Lucy, aku tidak tahu apa yang dikatakannya tapi wajah Lucy menjadi agak sedih.
Lucy berbalik dan membungkuk sambil meminta maaf.
"Maafkan aku, aku tidak tahu tentang itu."
Aku melirik ke Misaki dengan menyipitkan mataku namun ia malah membuang mukanya dan mengalihkan pandangannya sambil bersiul.
__ADS_1