Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Teman baik


__ADS_3

Aduh, kepalaku sakit sekali. Apa yang terjadi?


Aku membuka mataku sambil memegangi kepalaku yang sakit.


Dimana ini?


"Bagaimana perasaanmu?"


"Kalau kau masih sakit sebaiknya beristirahat saja."


"Padahal sudah kukatakan waktu yang kau punya saat menggunakan wujud itu sangat sedikit, inilah akibatnya kalau kau tidak mendengarkan."


Tiga suara yang terdengar sangat akrab bagiku terasa dekat sekali.


Aku mulai melihat sekeliling. Bukankah ini alam bawah sadarku? Kemanapun aku melihat hanya ada kegelapan. Aku berada di sebuah sofa yang empuk.


Aku melihat Abbadon dan Lucifer masih bermain catur di meja makan dan di sofa lainnya ada Azazel yang sedang minum kopi sambil membaca buku.


Kalian ini sedang apa sebenarnya? Kalian tidak terlihat seperti iblis melainkan seperti anak laki-laki yang sedang nongkrong di rumah orang lain.


"Berapa lama aku tertidur?"


"Kau menggunakan sihir untuk menahan wujud iblis lebih lama sehingga jiwamu membutuhkan waktu untuk mengumpulkan energi lebih banyak."


"Saat ini tubuhmu masih belum sadar, kalau menanyakan berapa lama kau pingsan jawabannya adalah baru satu hari dan saat ini baru jiwamu saja yang sadar."


Satu hari ya? Apakah sebanyak itu aku menggunakan sihir? Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi terakhir kali. Yang kuingat aku membelah iblis berlengan empat menjadi dua lalu terbakar.


"Hei, katakan padaku. Bagaimana keluar dari sini?"


"Oi, Abbadon lihat? Saudara kita ingin keluar setelah dia sadar. Apakah kita dibenci olehnya?"


"Kupikir daripada dibenci lebih tepatnya, dia tidak ingin melihat wajahmu yang menyebalkan, Lucifer."


"Apa kau bilang?!"


Wah, mereka bertengkar.


"Kenapa kau malah bertanya? Bukannya kau sudah tahu cara keluar dari sini." Azazel menjawab sambil membaca buku.


Tunggu, buku apa itu? Rasanya aku mengenalnya?


"Apa yang kau baca Azazel?"


"Hm? ini komik."


Kenapa kau menjawab dengan wajah datar seperti itu? Dan juga dari mana kau mendapatkankannya?


"Kebetulan aku bosan jadi aku melihat ingatan milikmu dan mewujudkannya. Sama seperti catur yang sedang dimainkan Abbadon dan Lucifer."

__ADS_1


Apa?! Kenapa kau seenaknya melihat ingatan orang lain!


"Yah... ingatanmu sangat hebat bahkan kami sangat menyukai film action." (Abbadon)


"Benar sekali, aku sangat suka adegan yang mengatakan Mengampunimu adalah tugas Tuhan tapi mengirimkanmu pada Tuhan adalah urusanku.' Begitu." (Lucifer)


Oh tidak, mereka sudah gila. Tapi kurasa melihat mereka semua begitu akrab membuatku tenang.


"Baiklah, aku akan pergi."


"Ya." Jawab Azazel


...****************...


"Sudah hampir tengah malam tapi kenapa Zen belum bangun juga?"


Brull terlihat gelisah sambil melihat keluar jendela dan Zen yang terbaring di kasur.


"Tenanglah Brull, bukankah sudah dibilang kalau tubuh Zen sedang mengumpulkan mana jadi dia pasti akan sadar."


Misaki mengatakan itu dan mengusap punggung Brull agar membuatnya tenang.


"Hah... aku tidak percaya ini, kalian malah bermesraan disaat seperti ini?" Sindir Rena.


"Siapa yang bermesraan!" Wajah Misaki menjadi merah seperti tomat.


"Aku minta maaf karena tidak bisa membantu Zen."


"Kau menghitungnya ya.... Tamaka."


"Kami juga minta maaf."


Budak yang berdiri di belakang Yugo menunduk dan meminta maaf secara bersamaan.


"Aku yakin Zen tidak menyalahkan kalian. Lagipula aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi." Jawab Riska.


"Itu benar. Zen pernah demam hingga 2 hari, jadi ini bukanlah masalah besar." Jawab Lilith


"Ah, waktu itu ya? Itu membuatku kesal karena saat Zen demam selalu memanggil nama Rena." Keluh Riska.


"Ara, sepertinya Zen hanya mencintai aku." Ucap Rena dengan sombong.


Ditengah pertengkaran itu suara keluhan kesal terdengar.


"Bisakah kalian diam sebentar. Kepalaku masih sakit."


Melihat itu semua menjadi tersenyum dan gembira. Seseorang yang sangat mereka cemaskan akhirnya sadar.


"""Zen!"""

__ADS_1


Para gadis berteriak dan memeluknya.


"Ya, ya. Ini aku. Kenapa mata kalian merah? Apakah kalian baru saja menangis?"


"Memangnya siapa orang bodoh yang tiba-tiba terluka, huh?" Jawab Rena sambil menyilangkan tangan dan melihat Zen dengan satu mata.


"Wah, kau seperti gadis tsundere. Bukan begitu Yugo?"


"Diamlah!"


"Hah... Kau membuatku takut saja. Lain kali jangan bertindak gegabah seperti itu lagi. Aku tahu kau kuat tapi sesekali cobalah untuk mengandalkan temanmu, Raja iblis sombong."


"Baiklah, aku akan mendengarkanmu. Mata empat."


"Hei! Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan itu!"


"Kenapa? Padahal kacamata sangat cocok denganmu, Yugo."


Semua orang tertawa dengan candaan Zen dan Yugo. Karena sudah sangat malam mereka kembali ke kamar mereka masing-masing yang sudah mereka pesan.


Dan di kamar ini menyisakan Zen, Riska, Rina, Lilith, Laura dan Rena.


Tanpa sepengetahuan Zen mereka memesan kamar untuk pasangan dan kasurnya cukup besar untuk lima orang.


"Biar aku tebak. Kalian akan tidur disini bersamaku bukan?"


"Ya!" Jawab mereka berlima dengan bersamaan.


Mereka berlima berbaring di tempat tidur dimana Zen ditengah kasur.


Mereka semua berbaring sambil menatap langit langit kamar.


"Maafkan aku, maaf sudah membuat kalian khawatir."


"Tidak apa-apa. Aku akan selalu percaya pada Zen." (Riska)


"Kalau kau meminta maaf maka lakukanlah dengan benar." (Rena)


"Aku yakin Zen itu kuat tapi sesekali meminta bantuan pada kami juga tidak apa-apa." (Lilith)


"Kau selalu saja seperti itu, padahal aku sangat khawatir padamu, tahu?" (Rina)


"Selama kau baik-baik saja itu sudah cukup untukku." (Laura)


"Terima kasih ya. Dan untuk Rena bisakah kau bersikap lembut sedikit padaku?"


"Aku tidak mau bersikap lembut pada raja iblis bodoh sepertimu." (Rena)


"Baiklah, selamat malam."

__ADS_1


"Malam Zen." Ucap mereka berlima.


__ADS_2