Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Riska Scarlett vs Maria Kyoko


__ADS_3

Bukan Melves? Apakah ada orang lain juga yang sama seperti Melves.


Saat aku sedang berpikir, mode Iblisku sudah mencapai batasku dan menghilang begitu saja.


Iblis itu bertanya saat aku sedang berpikir.


"Apa ... kau juga ... diubah ... menjadi ... iblis?"


"Tidak, aku tidak seperti kalian yang berubah menjadi iblis buatan. Aku itu membuat kontrak dengan Iblis kuno."


Setelah mendengar jawabanku ia menutup matanya dan tubuh mulai menghilang.


Apa yang terjadi?


"{Sepertinya iblis buatan ini akan menghilang seperti itu jika sudah pasrah.} Jawab Abbadon.


"{Dan yang masih belum menyerah seperti iblis berlengan empat sebelumnya harus segera dihabisi.} Lanjut Lucifer.


Kurasa itu masuk akal, tapi untuk sekarang kurasa quest ini sudah selesai.


Brull dan yang lainnya menghampiriku yang sedang berpikir.


"Kawan, apa kau baik-baik saja."


Brull melihatku dan ia menggendongku saat aku berdiri dengan sempoyongan. Kepalaku juga mulai terasa pusing.


Sepertinya menggunakan mode iblis itu sangat melelahkan.


"Ya, aku agak mengantuk. Maaf ya Tony, aku tidak terlalu berguna disini."


"Tidak, anda sangat menakjubkan. Dengan kekuatan anda yang besar itu mustahil kalau anda itu tidak berguna." Jawab Tony dengan bersemangat.


Haha, aku menyenderkan kepalaku ke bahu Brull dan tidur. Ternyata tubuh besar Brull sangat berguna ya.


...***...


zzzzz


"Dia sudah tidur." Kata Rina sambil menatap wajah Zen yang sedang tidur.


Riska, Lilith, dan Laura mengangguk dan menatap wajah Zen.


"Wajahnya sungguh lucu saat tertidur ya." Jawab Rina.


Dari belakang Misaki langsung mencubit pipi Rina.


"Aduduh, Misaki itu sakit."


"Berhenti menatap Zen seperti itu dan juga kau ingat apa tujuan kita kemari bukan."


"Apa salahnya, padahal yang lainnya juga melihat wajah tidur Zen tapi hanya aku yang diingatkan, Hmph." Gumam Rina dengan kesal.


"Sudahlah, kalian jangan bertengkar lagi, atau Zen akan bangun nanti. Riska, mereka kemari."


Maria, Ryuusuke dan Nanami datang menghampiri kelompok Zen.


"Aku berterima kasih pada tuan kalian, apa kalian ini pelayanannya?" Tanya Maria.


"Sayangnya bukan, mereka keluargaku." Jawabku yang dalam keadaan setengah tidur.


Uhh, aku sangat lelah.


"Ah maafkan aku, untuk yang tadi itu ... terima kasih." Jawab Maria dengan malu-malu dan pipi merah.

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan salah paham. Idiot."


Entah kenapa setiap aku berbicara dengannya aku merasa kesal.


"Hei, beraninya kau menyebut Kyoko dengan Idiot!"


Saat Nanami berteriak, Maria menatapnya dan tersenyum. Dari senyumnya itu tidak terlihat seperti senyum tulus.


"Maafkan temanku, mereka memang seperti itu." Jawab Maria sambil membungkukkan badannya.


"Kalian pikir aku akan memaafkan kalian?" Jawabku.


"K-kalau begitu, apa yang kau ingin kami lakukan untuk memaafkan kami." Tanya Maria dengan gugup.


"Kalau begitu, kenapa kalian tidak mati saja." Jawabku.


"B-Boleh diulang, aku sepertinya salah dengar."


Maria semakin gugup dan mulai bingung.


"Zen, bilang kalau kalian ingin di maafkan. Pergi mati saja."


Riska membuka tudungnya dan menunjukkan wajahnya. Ekspresi marah dan kesal mulai bercampur di wajah Riska.


"R-Riska!?"


Mereka bertiga sangat terkejut melihat teman mereka yang dulu ia buang ke hutan kematian masih hidup dan berhasil keluar dari sana.


"Kenapa kalian terkejut?"


"T-Tentu saja, kupikir kau sudah mati."


"Benar, syukurlah kau masih hidup.


Wajah mereka bertiga menjadi tegang dan keringat dingin mulai bercucuran. Maria sepertinya tidak terima dengan keberadaan Riska, ia terus diam lalu menyeringai.


"Sepertinya kalian tidak tahu, kalau dia bukan manusia." Kata Maria dengan menunjuk Riska.


"Kami sudah tahu, dia adalah vampir."


Jawab Brull, Lilith, Laura, Misaki dan Rina secara bersamaan.


Mendengar itu wajah Maria semakin menegang.


"Baiklah, aku punya dua pilihan untuk kalian bertiga." Tanyaku


Maria mulai mengepalkan tangannya dengan erat.


"Pilihan pertama, kalian mati secara sukarela di tangan Riska atau pilihan kedua. Maria dan Riska saling bertarung dan jika kalian menang kalian aku maafkan, bagaimana?"


Mereka bertiga saling menatap dan sepertinya mereka sudah memilih.


"Aku pilih nomor dua." Jawab Maria tanpa ragu.


"Bagaimana Riska? Apa itu cukup?" Tanyaku.


"Ya."


Riska dan Maria pergi ke tengah ruangan dan bersiap di posisi masing-masing. Para petualang lain yang melihat itu mulai diam dan menyaksikan mereka.


"Riska, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Kata Maria dengan percaya diri.


"Huh, Zen sudah memberikanku kesempatan ini jadi aku tidak akan mengecewakannya." Jawab Riska.

__ADS_1


Saat Brull mengatakan mulai. Maria langsung menggunakan sihir esnya.


"Wahai es, bekukan mereka dengan cepat. [freezing]."


Es keluar dari tangan Maria dan membekukan kaki Riska, Riska tersenyum dan mengumpulkan mananya ke kaki.


"[fire kick]"


Kaki Riska terbakar dan melelehkan es di kaki, saat esnya benar-benar cair, Riska menendang ke depan dan bola api keluar dari kakinya mengarah ke Maria.


Maria yang melihat bola api mengarah padanya, langsung membaca mantra dengan cepat.


"Wahai es, serang mereka dengan es dinginmu. [ice ball]"


Bola es Maria mengadu dengan bola api Riska dan meledak. Saat pandangan mereka masih di tutupi asap, Riska langsung menyerangnya lagi.


"[Fire snake]"


Ular api berkepala dua keluar dari bayangan Riska dan menyerang Maria. Asap sudah menghilang dan pandangan Maria langsung tertuju pada ular api yang mengarah padanya.


"Wahai es-"


Maria dengan cepat mulai membaca mantra namun sebelum ia selesai membaca, ular api itu menggigit Maria dan mendorongnya hingga membentur tembok di belakangnya.


"Kyoko!"


Nanami dan Ryuusuke mengejar Kyoko yang terbaring pingsan, matanya memutih dan kedua tangannya hangus terbakar.


Ternyata kemampuannya hanya segini.


Orang-orang yang menonton langsung bersorak gembira dan mengangkat tangan mereka.


Riska mendekati kami dengan wajah senang.


"Zen, bagaimana penampilanku barusan. Apa aku akan dapat hadiah?" Tanya Riska dengan mata yang berbinar-binar.


"Sangat bagus tapi tidak ada hadiah."


"Apa?!"


Riska langsung memelas dan mengeluarkan air mata palsu.


"Tidak, tidak, aku ingin hadiah."


Riska terus menarik-narik bajuku dan memohon-mohon.


"Baiklah, kau ingin apa?"


"Aku ingin kencan!"


Dengan semangat, Riska mengatakan 'Kencan' dengan ceria.


"Baiklah, kita akan kencan saat di kota."


"Hihi."


Riska tertawa kecil pada Laura, Riska, Lilith dan Rina. Mereka berempat sangat kesal dengan sikap Riska namun mereka menjadi tenang setelah aku berbicara.


"Apa kau yakin tidak akan membunuhnya?" Tanyaku pada Riska.


"Tidak perlu, luka itu cukup untuknya lagipula sekarang aku masih hidup jadi aneh rasanya kalau aku membunuhnya." Jawabnya dengan senyum manis.


Kami segera kembali ke tenda sebelumnya untuk menginformasikan pada si botak.

__ADS_1


__ADS_2