
Hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana turnamen sihir dimulai.
Laura sudah mendaftarkan kami jadi kami adalah pesertanya yang mewakili dari Sekolah Valmas.
Karena pemilihan, sekolah kami yang menjadi tuan rumahnya. Menurut Laura setiap kota besar memiliki sekolah sihir.
Yang membuatku terkejut adalah wali kota Valmas adalah William, seorang guild master. Namun hari ini juga merupakan hari paling sial dalam hidupku. Yang menjadi juri saat ini ada lima.
William perwakilan dari kota Valmas, dan dua penjaganya Gabriel dan Roy. Lalu Alfred dari Fredrosse beserta dua pengawal yang tidak aku kenal.
Lalu Disebelahnya ada Altson dan dua pengawalnya Adelino dan Leorg. Lalu dua orang lagi yang terlihat seperti om-om adalah raja Azura dari kerajaan Zetes dan raja Akira dari kerajaan Welford.
Dilihat dari ekspresinya sepertinya ia masih belum menyadari kalau aku masih hidup. Hari ini ada dua hal yang membuatku kesal. Pertama kedatangan Alfred sialan dan acara battle Royal diganti menjadi pertarungan ring.
"Zen, berhentilah dengan ekspresi seperti itu. Aku tahu kau kesal, tapi kau harus menahannya."
"Itu benar, ayolah kawan. Aku akan membelikan roti daging lagi kalau kau mau."
Karena sangat kesal, aku tidak bisa menahan emosiku sehingga aura yang ku tahan menyebar keluar. Namun aku tidak mempedulikannya dan terus mengunyah roti daging.
"Darling, kami tahu kau tidak suka dengan orang itu tapi kau harus sabar. Lagipula kita masih dalam rencana kita bukan."
Riska menyenderkan kepalaku di dadanya dan terus mengusap kepalaku. Sepertinya aku membuat mereka khawatir padaku, aku menarik nafas dalam-dalam dan menahan aura agar tidak terjadi kepanikan.
"Terima kasih, kalian semua. Aku senang kalian begitu peduli denganku."
"Apa yang kau katakan kawan. Tentu saja kami khawatir karena kau itu spesial bagi kami."
"Benar Zen, bagi kami kau itu segalanya."
"Ingat apa yang pernah kau katakan padaku, 'Tidak peduli siapapun kau, aku tidak punya alasan untuk meninggalkanmu.', bukan begitu, Zen."
Aku hanya tersenyum dengan kata-kata Riska, mereka benar-benar sangat baik, sangat sulit menemukan orang seperti mereka.
"Pertandingan akan dimulai, bagi yang namanya dipanggil harap naik ke atas arena."
Suara keras dari komentar terdengar dari arena. Akhirnya pertandingan akan segera dimulai.
Yang menjadi komentatornya adalah bu loli, ngomong-ngomong hari ini namaku adalah Zeon Martel dan Riska menjadi Riska Martel. Karena harus menyembunyikan fakta bahwa aku masih hidup aku mengganti namaku dan berperan sebagai anaknya Roy dan Kana.
Hal ini sudah disepakati oleh orang-orang di guild. Bahkan Laura dan yang lainnya pun diberi tahu tentang menyembunyikan identitasku.
__ADS_1
"Oke, pertandingan pertama, di sebelah kanan ada perwakilan dari kota Valmas, yaitu Bruce Will!"
Brull berjalan ke arena dengan sigap, bahkan aku bisa merasakan semangatnya yang sedang membara.
Aku, Riska dan Lilith duduk di kursi penonton, karena mataku baik-baik saja sekarang aku melepaskannya. Saat perban di lepas, orang-orang di sekitarku menatap dengan tatapan kagum dari para gadis dan tatapan cemburu dari murid laki-laki.
"Senang rasanya bisa melihat kembali."
"Kau benar, entah berapa kali aku melihatnya matamu benar-benar indah." Riska memujiku setelah melihat kedua mataku
"Terima kasih, Riska."
"Kalian berdua, berhenti bermesraan seperti itu."
Lilith membuang muka dan mengembungkan pipinya saat aku dan Riska saling bertatapan.
"Fufu, tenang saja Lilith. Hari ini aku adalah seorang adik."
"Meskipun kau bilang begitu tapi aku cemburu melihatnya."
"Sudah, hentikan kalian berdua. Kita disini untuk-"
Seketika aku langsung terkejut hingga membuatku membeku. Perasaan senang dan sedih bercampur aduk, aku terus menahan air mata yang keluar dari mataku.
Tanpa kusadari air mataku keluar, melihat seseorang yang sangat penting dan bertemu dengannya adalah keinginan tersendiri bagiku.
Aku melihat Rina sedang duduk di sebrang, wajahnya terlihat sangat cantik sedang tersenyum melihat ke arena.
".... Rina?"
Tanpa kusadari aku menyebut namanya dengan suara yang bergetar. Riska mendengar nama Rina dari mulutku dan melihat ke sebrang, seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang, dengan gaya rambut ponytail sedang duduk. Ia memakai pakaian seperti biarawati dan di kepalanya terdapat topi suster serta membawa tongkat yang di ujungnya terdapat bentuk bintang.
"Jadi dia yang bernama Rina, ya."
"Rina? Siapa itu?"
Rasa bingung Lilith membuatnya bertanya-tanya, saat ia menatap gadis yang di lihat aku dan Riska.
Zzzttt
Suara sengatan listrik terdengar dari arena, aku teralihkan ke arena. Brull terlihat kesulitan untuk menyerang, semua serangan yang di berikan tidak ada satu pun yang mengenai musuhnya.
__ADS_1
"Cih, lagi-lagi dia menghindar. Sial!"
"Wahai api-"
Musuh mulai merapalkan mantra namun itu dihentikan dengan serangan cepat dari Brull, dengan refleks ia langsung menghindari serangan Brull.
Suasana pertandingan menjadi semakin panas. Brull yang tidak memberikan sedikit pun kesempatan pada lawan untuk membiarkannya membaca mantra. Namun, lawan pun sepertinya kesulitan karena terus menerus menghindari serangan Brull.
Brull memejamkan matanya dan dengan seketika terdapat lima bola petir melayang di sekelilingnya.
"Terima ini! {thunder ball}"
Bola petir itu terbang mengarah pada lawan namun dari lima bola petir yang datang padanya hanya satu yang berhasil mengenainya.
Namun saat itu juga, suasana penonton berubah menjadi terkejut dan takjub.
"Apaan itu? Dia menggunakan sihir tanpa rapalan?"
"Yang benar saja, siapa dia?"
Kebingungan dan keterkejutan mereka adalah hal biasa, menggunakan sihir tanpa rapalan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh sembarang orang bahkan untuk ahli sihir kerajaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya.
Brull berhasil menguasai sihir tanpa rapalan hanya dalam satu hari, berkat kemampuanku aku berhasil mengajarkan Brull cara menggunakan sihir tanpa rapalan.
Aku merasa bangga pada diriku sendiri yang berhasil mengajari orang dalam waktu singkat.
Setelah mengetahui serangannya berhasil mengenainya, Brull menggunakan mananya lebih banyak.
"Haha. Bagaimana yang ini. {Thunder Dragon}"
Naga petir muncul di langit dan turun menghantam lawan, dengan kekuatan penuhnya ia mencoba menahan naga petir dengan sihirnya namun karena Brull memiliki banyak mana, ia tidak tahan menahan naga petir itu dan membuatnya terdorong hingga keluar arena.
"Pemenangnya perwakilan dari kota Valmas, Bruce Will!"
Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh Brull, namun aku merasa bangga padanya karena kemampuannya yang cepat belajar bahkan ia juga bisa menggunakan sihir dragon thunder hanya sekali coba.
Brull datang ke kursi penonton tempat kami sedang menonton pertandingan.
"Bagaimana dengan itu?"
"Aku bangga padamu, Brull. Tapi siapa sangka kau bisa mencari cara membuatnya kewalahan."
__ADS_1
"Haha. Bertarung dengannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bertarung denganmu."
Kemarin sehari sebelum pertandingan di adakan kami berlatih dengan bertarung. Meskipun ia tidak berhasil mengalahkanku tapi melihat pertandingan barusan ia sepertinya tahu cara mengantisipasi serangan.