Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Perubahan Zen


__ADS_3

"Wah, siapa dia?"


"Apa yang kau katakan? Tentu saja, Zen."


"Kalian ini, mau sampai kapan bertengkar Terus. Nah, dia bangun."


Karena suara yang begitu berisik, aku jadi membuka mataku secara perlahan. Setelah penglihatanku mulai terlihat jelas. Aku bisa melihat Brull, Riska dan Lilith sedang menatapku dengan bingung. Kira-kira ada apa ya?


"Uh... Selamat pagi. Pagi-pagi begini kenapa kalian sudah begitu berisik."


"Eh... Anda ini siapa?"


Lilith yang berdiri di sebelahku bertanya dengan nada kebingungan.


"Apa yang kau katakan? Aku ini Zen, lagipula kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"


Brull berdiri dan mengambil cermin kecil yang ada di atas meja dan memberikannya padaku. Aku melihat wajahku di cermin dan itu... membuatku sangat terkejut.


"Eh? Apa yang terjadi padaku? Kenapa rambutku memutih dan apa ini? mataku jadi berbeda."


Aku sangat terkejut melihat wajahku sendiri, mata kanan berwarna merah dan mata kiri berwarna biru, rambut hitam hitamku menjadi warna putih. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?


Seketika sebuah suara terlintas di pikiranku dan aku bisa mengetahui kalau itu adalah suara Lucifer dan Abbadon.


"{Tenanglah. Itu karena kau telah menerima kami dan kontrak kita kembali.}" (Abbadon)


"{Ini adalah wujudmu yang dulu tapi dulu rambutmu berwarna hitam bukan putih.}" (Lucifer)


Aku mengerti. Jadi ini adalah kekuatan baruku setelah membuat kontrak dengan mereka berdua. Tapi entah kenapa aku merasa kekuatan sihir yang sangat besar mengalir di tubuhku.


"Zen, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Lupakan soal diriku, kita harus pergi."


"Kau benar. Ayo, tadi Sebas kemari dan menyuruh kita untuk sarapan bersama."


Kami berjalan ke ruang makan namun entah kenapa, aku merasa kalau Riska terus menatapku dengan mata yang berbinar.


"Eh... Honey."


"Ya!"


"Kenapa kau terus menatapku?"


"Kenapa? Apa kau tidak suka? Tapi kau terlihat sangat tampan, jadi aku ingin terus menatapmu."


Bisa berhenti menatapku begitu, Riska! Aku memalingkan wajahku karena sangat malu dan membuat wajahku memanas. Kalau kau terus menatapku seperti itu bisa-bisa aku jatuh cinta padamu.


Bukannya aku tidak mau dilihat. Hanya saja wajahnya sangat imut sampai aku ingin menciumnya. Dan juga itu membuatku sangat deg-degan dengan cepat sampai-sampai jantungku akan keluar dari mulutku.


"{Oh... Lihat ada yang jatuh cinta♪}" (Abbadon)

__ADS_1


".... Berisik."


"Apa kamu bilang, Zen? Aku berisik?"


Air mata mulai keluar dari mata Riska karena perkataanku yang kukatakan untuk Abbadon dan secara tidak sadar malah mengatakannya pada Riska.


"Ah... Kau membuat Riska marah."


"Zen, tidak hanya penampilanmu yang berubah tapi juga sikapmu berubah."


Benarkah itu? Aku tidak merasa diriku berubah, tidak sama sekali! Atau mungkin aku memang berubah seperti yang mereka katakan. Yah, yang mana pun aku tidak peduli.


Tanpa kami sadari, kami sudah sampai di ruang makan. Yah aku bisa mengerti ekspresi terkejut kalian yang melihatku seperti orang lain.


"Anda siapa? Dimana Zen. Kenapa kalian bersamanya?"


Bisakah kau tidak mengajukan banyak pertanyaan, aku kesulitan untuk menjawab pertanyaanmu itu, Adelino.


"Yah, sebenarnya aku sungguh terkejut. Aku bahkan hampir tidak mengenalmu sesaat. Zen."


"Zen!?" Mereka semua terkejut kecuali Alisha yang langsung mengetahuinya, yah. Mungkin karena skill melihat masa depannya.


"Zen? Apa yang terjadi padamu?"


"Apa yang terjadi padaku itu tidak penting, aku tahu kalian terkejut melihatku. Tapi bolehkah kami duduk? Aku sangat lelah berdiri terus."


"Oh... ya, silahkan... silahkan. Sebas ambilkan piring lagi untuk mereka."


Sebas pergi ke dapur dan mengambil beberapa piring dan sumpit. Meskipun sudah di siapkan makanan. Aku tidak merasa lapar karena air sungai yang ada di hutan kematian.


"Ayo... ayo kita makan."


"Selamat makan."


Kami mengucapkan bersama dan menyantap makanan kami. Makanannya sungguh enak, terlebih lagi dagingnya yang empuk dan lembut sangat mudah dikunyah di dalam mulutku. Makanannya sungguh enak membuat hatiku merasa sangat nyaman.


Tanpa kusadari aku sudah makan banyak sekali daging hingga Riska dan yang lainnya hampir tidak kebagian.


"Kawan, apa kau tahu arti dari menahan diri."


"Kenapa kau bicara seperti itu? Maaf saja kalau makanku banyak."


"Kau tahu, aku mencoba memberitahumu tapi kau malah-"


Sebelum kata-katanya selesai, Adelino langsung menyela.


"Tenang saja. Masih banyak dagingnya, kalian tidak perlu bertengkar."


Adelino mengatakan sambil tersenyum, tapi senyumnya kali ini rasanya ia seperti sangat bahagia. Apa dia sedang dalam mood yang bagus?


Saat aku melihat jam yang ada di dinding, jam menunjukkan pukul 7:30. Sebaiknya aku harus cepat kembali ke kota Valmas.

__ADS_1


"Terima kasih atas makanannya."


"Altson, terima kasih atas makanan dan kamarnya. Maaf kalau kami merepotkan kalian."


Aku berdiri dan membungkuk pada mereka atas bantuan mereka dan Riska dan yang lainnya mengikutiku membungkuk.


"Sudah kubilang jangan terlalu formal, kalian tidak merepotkan sama sekali, justru kami senang kalau kalian sering berkunjung kemari."


"Itu benar, kalian sudah kuanggap sebagai adikku."


"Ini Zen, kau membutuhkannya, kan? Kau boleh membawanya. Itu adalah buku tentang semua sihir yang umum hingga sihir khas kerajaan Agate."


Alisha mengeluarkan buku dari bawah meja dan memberikannya padaku, dilihat sekilas pun aku bisa tahu kalau ini buku yang sangat penting karena begitu tebal mungkin lebih tebal dari buku paket sekolah.


"Apa tidak apa-apa?"


"Tentu, ambil saja."


"Anggap saja ini adalah hadiah dan terima kasih dari kami."


Setelah sarapan selesai kami berpamitan dengan Altson dan yang lainnya, mereka hanya mengantar kami sampai depan gerbang istana mereka. Kami keluar dari kerajaan Agate dan berjalan menuju ke kota Valmas.


Karena sangat melelahkan berjalan jauh terus, aku memutuskan untuk menaiki Ignis dan pergi ke Kota Valmas agar lebih cepat sampai.


"Ignis!"


Merespon suaraku, Ignis keluar dari lingkaran sihir dalam wujud anak anjing.


"Ya? tuanku, ada apa kau memanggilku?"


"Aku ingin kau membawa kami kembali ke Kota Valmas, kami semua lelah."


"Baik."


Aku penasaran, Kenapa ia tidak terkejut melihat diriku berubah tapi Riska dan yang lainnya terkejut melihatku. Meskipun penasaran tapi aku tidak bertanya dan membiarkannya begitu saja.


Ignis bercahaya dan membesar bahkan ia lebih besar dari kemarin. Tapi, yah lupakan saja. Itu tidak penting.


"Semuanya, ayo naik."


Kami naik ke punggung Ignis dengan posisi tempat duduk, Aku, Riska, Lilith, dan Brull.


Setelah semua sudah siap, dengan kecepatan penuh, Ignis berlari dengan cepat menuju ke kota Valmas.


Karena akan membosankan, aku mengeluarkan buku yang diberikan Alisha dan meniru skill Pandai besi dan alkemis.


Sesaat aku langsung teringat sesuatu yaitu gulungan yang masuk kedalam kepalaku.


Aku menutup mataku dan melihat tulisan-tulisan Itu muncul, di paling bawah terdapat sebuah tulisan yang pertama kali kulihat, disana tertulis "poison control."


Hmm, sepertinya ini adalah skill yang bisa membuatku bisa mengendalikan racun.

__ADS_1


__ADS_2