
Hanya sedikit menghembuskan nafasnya, Serigala itu langsung menghilang seperti jin yang masuk ke botol.
Sepertinya serigala itu adalah familiar milik seseorang. Dilihat dari caranya menyerang sepertinya ia mengincarku. Tapi kenapa?
"Kawan, lihat diatas! Mereka lari menggunakan familiar lain."
"Kau benar."
Mereka kabur dengan familiar burung elang, karena akan sangat merepotkan jika mengejarnya jadi aku membiarkan mereka kabur namun aku menyerang mereka dengan petir hitam untuk memberi tanda pada mereka.
"[Black Thunder: electric shock]"
Seranganku berhasil mengenai punggung salah satu dari mereka.
"Mereka berhasil lolos."
"Tenanglah Brull, mereka pasti akan kembali lagi. Untuk sekarang kita biarkan mereka pergi."
Brull awalnya agak kecewa membiarkan mereka pergi namun ia meneriakkan sesuatu untuk menenangkan dirinya.
"Awas saja! Jika mereka kembali aku akan mematahkan tangan dan kaki mereka."
Sungguh!? Kuharap hal itu tidak terjadi di masa depan. Aku tahu kalau Brull kesal tapi sepertinya ia agak berlebihan.
Ignis sudah kembali ke wujud anak anjingnya dan tanpa sadar ada beberapa ksatria yang datang dan dibelakangnya adalah para warga yang berlarian tadi.
"Berhenti disana! Malam-malam begini kenapa kalian membuat keri-"
Aku mendengar suara yang tidak asing, saat aku menoleh itu adalah suara Leorg.
"Oh, Leorg, kenapa kau berteriak begitu."
"Harusnya aku yang bertanya kenapa kalian ada disini dan membuat keributan."
"Maafkan kami. Tadi ada beberapa orang yang menyerang kami jadi ya, kau tahulah."
Leorg terlihat kesal namun ia berhasil menahannya dengan menarik nafas dan melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah aku percaya padamu, tapi sebaiknya kau kembali. Ini sudah malam bukankah besok kalian akan kembali."
"Baiklah, tapi bolehkah aku bertanya padamu?"
"Apa?"
"Apakah kau tahu dimana aku bisa menemukan buku yang berisi tentang skill pandai besi dan alkemis."
"Aku tidak tahu. Tapi kalau kau membutuhkannya kau bisa menanyakan pada yang mulia."
Ah, benar juga. Kenapa itu tidak terpikirkan olehku.
"Baiklah, Brull ayo kita kembali dan Ignis ini untukmu."
Aku mengambil satu roti daging dari plastik dan memberikannya pada Ignis, setelah menangkap roti dengan mulutnya, ia langsung kembali ke dalam lingkaran sihir.
Kami berjalan kembali ke istana, saat sampai didepan pintu aku sudah ditunggu oleh Tatsumi dan ibunya, Alisha.
"Kalian berdua, ikuti aku."
Kami mengikuti mereka dari belakang dan mereka membawa kami ke sebuah ruangan. Sekilas ini hanyalah sebuah ruangan yang gelap namun jika diperhatikan dengan baik, tempat ini adalah sebuah perpustakaan.
"Aku tahu kalian sedang mencari sebuah buku, bukan?"
__ADS_1
Wah! Aku terkejut kalau Alisha bisa tahu, ia sama seperti si William. Jangan-jangan ia ada hubungannya dengan si William? Tidak, tidak. Itu tidak mungkin karena si William itu hanyalah seorang guild master sementara Alisha adalah ratu Agate.
"Kenapa kau bisa mengetahuinya?"
"Karena aku memiliki skill yang disebut melihat "masa depan"."
Masa depan? apa si William itu juga punya kemampuan ini?
"Tidak ada orang yang bisa melihat masa depan kecuali aku, dan aku tahu saat ini kau bisa melihat kalau kau membutuhkan sebuah buku yang berisi tentang skill pandai besi dan alkemis, kan?"
"Benar."
"Eh... yang mulia."
"Kau tidak perlu formal begitu panggil saja Ali."
Wajah Brull memerah saat ia disuruh memanggil seorang ratu dengan Ali. Sepertinya Brull sangat malu. Yah, mau bagaimana lagi itu adalah permintaan seorang ratu.
"Kalau begitu, Ali. Apa kau bisa melihat masa depan milik Zen? Karena tadi ia diikuti oleh seseorang."
"Aku mengerti. Kalau begitu tunggu sebentar."
"Apa yang kau katakan Brull? Kau tidak perlu melakukan sesuatu seperti itu.
"Tidak apa-apa, terima saja."
"Baik ini dia."
Sebuah formasi sihir terukir di mata Alisha, sebuah cahaya putih masuk ke dalam kepalaku dan...
"Hah... hah..."
"Ada apa ibu?"
Namun saat menggunakan skillnya, ia tiba-tiba terjatuh dengan wajah yang penuh dengan ketakutan.
"Hah... hah... kau... harus berhati-hati... dengan dirimu... karena... hidupmu akan dipenuhi... oleh... kebencian."
Setelah selesai berbicara, Ali langsung pingsan. Tapi apa maksudnya? hidupku akan dipenuhi kebencian?
"Ibu! ibu! bangunlah!"
"Ali! Apa yang terjadi denganmu? sadarlah!"
Suara teriakan mereka berdua menggema hingga Altson dan Adelino datang dengan cepat ke perpustakaan.
"Alisha, apa yang terjadi?"
"Ibu! Ada apa? Kenapa denganmu, ibu."
Saking paniknya mereka tidak bisa berpikir dengan tenang, tidak lama Sebas datang dengan sama paniknya namun ia masih bisa berpikir dengan tenang.
"Tuan, sebaiknya kita membaringkannya di tempat tidur."
"Kau benar."
Dengan cepat mereka mengangkat Alisha ke tempat tidurnya. Setelah 1 jam pingsan akhirnya ia sadar. Namun ekspresi wajahnya masih terlihat ketakutan.
"Hah... tidak! eh? Kok aku ada di tempat tidurku."
Ia terlihat bingung setelah melihat dirinya ada di tempat tidur.
__ADS_1
"Alisha ada apa? Kenapa kau pingsan?"
"Maafkan aku, ini salahku."
Brull tiba-tiba membungkuk dan meminta maaf secara sopan. Adelino yang masih dalam kepanikan langsung menarik kerah Brull dan berteriak.
"Apa yang kau lakukan pada ibuku? hah? katakan!?"
Tatsumi langsung berteriak pada kakaknya, Tatsumi tahu bahwa ini bukan salah Brull.
"Kakak! Jangan menyalahkan seseorang tanpa ada bukti!"
"Kenapa? Kenapa kau membelanya?"
Altson yang duduk di sebelah istrinya berbicara dengan nada yang rendah.
"Hentikan Adelino. Kau membuat ibumu sulit berbicara."
Adelino melepaskan tangannya dan kembali ke kursi yang ada di dekat kasur.
"Maafkan aku, semuanya. Kalian pasti khawatir padaku."
"Alisha, apa yang terjadi?"
Alisha menarik nafas panjang dan mulai berbicara dengan tenang.
"Tadi aku mencoba melihat masa depan milik Zen."
"Apa! Zen?"
Tatapan tajam milik Adelino langsung tertuju padaku.
"Apa yang kau lihat?"
"Aku melihat kegelapan. Hatinya dipenuhi oleh kebencian. Aku tidak tahu penyebabnya namun yang pasti, aku melihat seseorang yang sangat dipenuhi dengan kekuatan jahat."
"Boleh aku bertanya padamu?"
"Tentu."
"Apa maksudnya aku dipenuhi kebencian?"
"Sepertinya yang kubilang tadi. Ada seseorang yang sangat membencimu dan ia berencana menghancurkan dunia ini. Dari yang kulihat kau mencoba menghentikannya dengan tiga teman hitam yang ada padamu."
Teman hitam? apa itu Azazel dan dua iblis lain yang ada di tubuhku?
"Karena bantuan mereka kau berhasil menyelamatkan dunia tapi tidak dengan dirimu."
Begitulah yang dikatakannya. Mendengarnya membuatku bertanya-tanya. Sebenarnya siapa orang yang membenciku? Orang itu pasti mengenalku tapi aku tidak tahu siapa itu. Tidak ada seorang pun yang terpikirkan olehku.
"Ibu, apa maksudnya "tidak dengan dirimu"? Tatsumi bertanya karena rasa penasarannya. Ekspresi Adelino yang seketika kesal berubah menjadi menahan air mata.
Ada apa denganmu, Adelino? kenapa kau menangis padahal yang orang yang dimaksud itu kan bukan dirimu, bahkan aku orang yang dalam cerita menyedihkan itu tidak merasakan apapun. Bahkan rasa takut pun tidak kurasakan apalagi menangis. Yah aku senang kau menangis untukku.
"Itu... kau akan mengerti dengan sendirinya suatu hari nanti." Jawab Altson.
"Yah, Terima kasih atas peringatannya, kami akan kembali ke kamar kami."
"Peringatan? kau menganggapnya peringatan!?"
Ada apa denganmu Adelino, kau tidak seperti biasanya? Yah sudahlah.
__ADS_1
"Skill ibuku bukan hanya hebat karena bisa melihat masa depan tapi juga itu akurat dan tepat."
"Sayangnya aku tidak percaya pada masa depan. Yang kupercayai adalah harapan. Kalau kau percaya itu akan terjadi di masa depan nanti, tapi tidak denganku karena menurutku masa depan bisa kita ubah dengan kerja keras."