Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Pencuri busur


__ADS_3

”Bagaimana ini Zen? Aku tidak mau menerima busur berbahaya ini.“


Lilith terlihat sangat cemas dengan yang diperbuatnya tapi itu bukan sepenuhnya salahnya karena aku memberikan elemen pada busur itu sehingga jadi lebih kuat dari yang kupikirkan.


”Tenanglah Lilith, itu bukan salahmu, sudah kukatakan bukan. Gunakan manamu untuk membuat panah jadi kau harus mengontrol mana yang diberikan pada busurmu, yang tadi itu kau terlalu banyak memberikan mana.“


”Baiklah, aku akan berusaha.“


Lilith sangat sedih meskipun aku sudah mencoba membuatnya tenang tapi ia masih merasa bersalah.


”Sudahlah Lilith, untuk sekarang kenapa kita tidak ke kantin kurasa disana akan makanan enak.“


Brull mencoba membantu dengan mengajak kami ke kantin untuk makan dan benar apa yang diinginkan Brull, Lilith kembali semangat dan wajahnya kembali tersenyum.


”Benar, ayo kita pergi sebelum waktunya habis.“


”Tentu saja, ayo!“


Kami pergi ke kantin, saat sampai disana itu sudah ramai bahkan kami tidak melihat ada tempat duduk yang kosong, Brull menunjuk tempat kosong yang berada di pojok.


"Lihat, disana ada tempat kosong."


Kami berjalan ke sana, saat sampai tempat itu benar-benar kotor bahkan meja dan kursinya penuh dengan debu, coretan dan jaring laba-laba.


"Kurasa ini bukan tempat yang bagus."


"[wind breeze]" Angin kecil menghempaskan debu dan jaring laba-laba, itu tidak terlalu bersih karena masih ada coretan diatas meja.


"Kurasa sekarang bisa digunakan."


Kami duduk di kursi tersebut, meskipun ini bisa digunakan tapi aku bisa merasakan kalau ada yang sedang memperhatikan kami.


"Aku akan memesan makanan, kalian ingin pesan apa?"


Brull berdiri dan menanyakan apa yang dipesan, sejujurnya aku tidak lapar. Tapi karena saat kesini aku mencium bau roti daging.


"Aku pesan pangsit goreng."


"Aku sama dengan Lilith."


"Kau mau pesan apa, Zen?"


"Kalau ada, aku ingin roti daging.


Setelah mengingat pesanannya, Brull pergi untuk memesan makanan. Setelah lama menunggu akhirnya pesanan kami datang.


"Ini dia, pesanan kalian."


Kami mengambil pesanan kami masing-masing, aku bisa mencium bau pangsit goreng, roti daging dan sesuatu yang pernah aku cium sebelumnya.


"Brull, apa yang kau pesan."


"Ini adalah sup ikan dengan tambahan saus tomat."


Aku melihat ikan yang tidak terlalu besar yang dibalut oleh saus tomat di atasnya dan beberapa sayuran lainnya seperti wortel dan bawang goreng di piring Brull, meskipun itu terlihat enak tapi itu tidak menarik perhatianku, aku sangat roti daging ini karena daging kecil yang di dalam roti mudah dikunyah dan rasanya sangat enak.

__ADS_1


Kami menikmati makanan kami dengan lahap, berapa kali pun aku mengunyahnya roti ini benar-benar enak tapi meskipun begitu aku penasaran apakah di dunia ini ada roti melon? Setiap kali aku membeli roti daging aku tidak melihat ada roti melon di manapun.


"Ahh, kenyangnya!"


"Benar-benar enak."


Brull dan Lilith sangat puas setelah menghabiskan makan mereka, namun setelah selesai makan ia masih terlihat murung.


Apakah Lilith masih merasa bersalah dengan yang tadi?


"Lilith, apakah kau masih memikirkan yang tadi, ayolah ini bukan salahmu lagipula seharusnya kau senang dengan busur pemberian Zen. Kau seharusnya tersenyum dan berterima kasih bukan murung seperti itu."


"Aku tidak memikirkan soal yang barusan tapi ada yang menatapku dengan tajam, itu menakutkan."


Brull melihat orang yang di lihat Lilith, seorang pria sedang duduk dengan dua temannya, ia mengobrol dengan temannya namun matanya terus melihat Lilith.


"Apa aku harus memberinya pelajaran?"


"Hentikan Brull, jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu."


Aku menghentikan Brull yang hendak menghampiri pria yang menatap Lilith. Aku yakin pria itu tidak akan menyakiti Lilith atau lebih tepatnya sepertinya pria itu menyukai Lilith.


"Biarkan saja, lagipula jika kau kesana pasti akan jadi masalah."


Setelah mendengar penjelasanku Brull kembali duduk dan Lilith mencoba menghiraukannya.


"Sekarang kita mau kembali ke kelas?"


"Apa kau ingin mendengar penjelasan panjang itu?"


"Sebenarnya tidak, tapi dari pada berkeliaran tidak jelas begini."


Setelah itu, kami langsung pergi ke ke kelas namun saat kami berjalan di lorong, tiga pria itu sedang mengikuti kami. Mungkin mereka pikir kami tidak menyadarinya, Brull yang jengkel karena diikuti langsung menghampiri mereka.


"Kalian bertiga, kalian pikir kami tidak menyadarinya."


Setelah mendengar suara Brull yang tegas mereka langsung keluar dari tempat sembunyi mereka.


"Y-yah ... halo."


Mereka mencoba bersikap bodoh agar kami berpikir ini hanya kebetulan. Tapi di hadapan Brull hal semacam itu tidak akan berpengaruh. Sikap tegak dan tatapan mata yang menunjukkan amarah membuat ketiga pria itu mengeluarkan keringat dingin, mereka sedikit ketakutan dan mencoba berbicara namun sepertinya suaranya tersendat di tenggorokannya.


"Katakan, apa yang kalian inginkan. Kami tidak punya waktu untuk kalian."


"eh ... itu ..."


"Cu-Cuaca yang cerah ya?"


"B-Benar."


Melihat tingkah mereka yang takut dan gugup membuat mereka sulit berkata-kata, ya itu pasti dari aura intimidasi dari Brull. Auranya seakan-akan ia sering membakar orang hidup-hidup.


"Sudahlah, kalian mengganggu saja."


Brull langsung meninggalkan mereka namun salah satu pria yang terus menatap Lilith di kantin berteriak dengan keras.

__ADS_1


"T-Tolong ajari kami tembakan hebat itu!"


Mereka bertiga membungkuk setelah mengatakan itu, awalnya aku bingung dengan teriakan tersebut namun kalau di pikiran lagi sepertinya, ia menatap Lilith karena panahnya yang mampu menumbangkan pohon.


Tapi ada yang aneh disini. Kenapa mereka bisa tahu tentang panah sihir Lilith kupikir saat kami di taman hanya ada kami berempat dan kakek si tukang kebun.


"Kenapa kau bisa tahu tembakan itu?"


Mendengar suara Brull, mereka merasakan intimidasi yang luar biasa bahkan aku pun bisa merasakannya.


"Se-Sebenarnya kami melihat kalian saat di taman, dan tembakan yang mampu menumbangkan pohon dengan mudah itu sangat hebat, j-jadi kami ingin bisa seperti itu."


"Sayang sekali kami tidak bisa mengajari kalian, sampai jumpa."


"T-tunggu dulu."


Saat Brull ingin pergi mereka bertiga menahan kaki Brull, itu membuat Brull risih dan kesal. Karena Brull tahu kalau sihir yang digunakan Lilith adalah berkat busur buatanku jadi mustahil bagi mereka untuk melakukan itu.


"Kami mohon ajari kami."


"Biar kuberi tahu, tembakan itu adalah berkat busur buatan sahabatku jadi dia tidak bisa mengajarimu."


"Kalau begitu buatkan juga untuk kami."


Melihat mereka bersikeras minta ajari itu tidak menggangguku sama sekali namun mendengar mereka minta dibuatkan busur membuatku kesal.


"Kalian mau ku buatkan busur sepertinya?"


"Apa kau yang membuatnya?"


"Ya, kalau kalian mau aku bisa buatkan untuk kalian."


"Eh yang benar."


"Tunggu, kau tidak bisa mempercayainya mana mungkin orang buta sepertinya yang membuatnya."


"Dia benar."


Mendengar ejekan itu membuat amarahku naik tapi aku terus menahannya atau aku bisa terkena penyakit darah tinggi. Aku menahan Brull yang mencoba untuk memukul dan membisikkan sesuatu pada Brull.


"Kalian bilang aku buta? haha. Baiklah kalau kalian tidak percaya, kami pergi dulu."


"Orang bodoh."


Sebelum pergi Brull menghina mereka, tepat sebelum kami pergi mereka langsung berlari ke arah Lilith dan mencuri busur Lilith yang tergantung di punggung Lilith.


"Apa!?"


"Hei! Kembalikan!"


"Haha. Bye-bye pecundang."


Mereka bertiga berlari sampai membawa busur Lilith, namun saat mereka masih belum jauh, aku menggunakan sihir kata-kata.


"Jangan bergerak."

__ADS_1


Gelombang suara mencapai telinga mereka dan dalam sekejap mereka berhenti seperti patung.


Lilith dan Brull terkejut, ya itu karena ini pertama kalinya aku menggunakan sihir kata-kata di depan mereka.


__ADS_2