
Pagi hari tiba, Zen bangun dan menemukan dirinya yang tidak bisa duduk atau pun bergerak.
Di lengan kirinya sudah ada Rena dan Lilith. Di lengan kanannya sudah ada Rina dan Laura. Dan di atasnya ada Riska yang sedang memeluknya.
Kalau ini di dalam cerita novel atau komik, ini adalah adegan dimana para harem sedang tidur dengan sang MC. Tapi bagi Zen ini sebuah siksaan, dia bahkan sulit bernafas dan bergerak.
Kedua tangannya mati rasa dan hidungnya tersiksa oleh bau sabun mereka yang seperti bunga. Kalau para lelaki mengatakan ini surga maka Zen akan mengatakan ini adalah neraka.
Tok tok
"Kawan, mau sampai kapan kau tidur?"
"Hei Zen! Bangun! Aku tahu kau bukan tipe orang yang akan bermalas-malasan!"
Terdengar suara ketukan pintu dan dilanjutkan dengan teriakan dari Brull dan Yugo.
"Aku sudah bangun, aku akan segera ke sana. Jadi tunggulah sebentar!"
Zen terus mencoba melepaskan kedua tangannya tapi sangat sulit untuk melepaskannya.
"Kurasa membangunkan mereka adalah pilihan yang tepat."
Zen tahu kalau mereka kelelahan, semua ini tidak akan terjadi kalau mereka tidak memaksanya untuk melakukan **** dengan mereka. Mereka menyiksanya dan melakukan itu hingga hampir pagi.
Melihat cahaya yang masuk dari jendela sekarang sudah pukul 7 pagi, itu artinya mereka hanya tidur 2 jam saja.
"Hei! Mau sampai kapan kau di dalam, anak sombong?!"
Yugo langsung mendobrak pintu dan berteriak.
"Hei, apa kau punya sedikit sopan santun? Kurasa si mata empat ini ingin mati lebih cepat."
Zen kesal dan menatapnya dengan tajam, bahkan aura sihirnya bocor.
"Wah, m-maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk... mengganggu tapi..."
Bagi Yugo itu adalah pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Dimana para gadis sedang tertidur dengan telanjang bulat dan hanya di tutupi oleh selimut.
"Kawan, tenanglah. Maaf mengganggu waktumu tapi kurasa kita harus segera pergi ke istana Zetes."
Brull masuk sambil membawa sebuah surat.
"Apakah ada masalah?"
"Sepertinya. Kita mendapatkan undangan dari raja Azura untuk menghadiri acara pertunangan putranya."
Putranya? Aku tidak tahu kalau Azura punya anak. Yah, siapa yang peduli.
"Kapan acaranya dimulai?"
"Dari undangannya, acaranya akan dimulai siang ini."
Kurasa hari ini adalah hari keberuntunganku. pikirnya.
Zen menyeringai mengerikan membuat Yugo merinding dan melihat Zen seperti bukan Zen yang ia kenal.
"Baiklah, kita bersiap. Sesuai keinginan kalian aku tidak akan bertarung kecuali di saat gawat."
__ADS_1
"Apa yang kau rencanakan?"
Yugo bingung dengan ucapan Zen. Yugo tahu kalau mereka hanya akan menghadiri acara pertunangan saja. Tapi kata bertarung keluar dari mulut Zen dan membuatnya penasaran.
"Tidak ada. Hanya saja aku punya tujuan."
"Kalau begitu, yang akan membunuhnya adalah Riska saja. Aku tahu kalau kau kesal tapi dengan kondisimu yang seperti ini, aku yakin mereka tidak akan mengizinkannya."
"Kau benar."
"Eh? Membunuh? Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Bingung, Yugo bolak-balik antara Zen dan Brull.
Yugo menjadi sakit kepala dengan pembicaraan yang sulit dimengerti olehnya.
"Baiklah kawan. Aku akan bersiap dan kau juga segera bersiap."
"Ya "
"Ayo Yugo. Kita harus bersiap."
Brull langsung menarik baju Yugo dan menyeretnya keluar kamar.
"Hoam... Pagi darling♪"
Riska bangun dan membuka matanya. Dia duduk di atas Zen dengan telanjang bulat bahkan Zen bisa melihat dadanya yang indah.
Riska menyeringai dan menjilat bibirnya, sesaat kemudian dia menggigit leher Zen dan meminum darah.
"Seharusnya kau memakai pakaianmu dulu sebelum sarapan."
Riska hanya tertawa mesum.
"Padahal masih pagi hari tapi kau sudah agresif sekali ya, Riska?"
"Aku tidak mau mendengar itu dari mantan pahlawan mesum sepertimu."
"Apa kau bilang!?"
Rena yang langsung menyindir bertengkar dengan Riska. Zen tahu kalau hal semacam ini akan terjadi jadi dia sengaja membuat aura sihirnya bocor dengan besar.
Riska dan Rena langsung terkejut dan melihat Zen.
"Kalau kalian masih bertengkar, aku akan membakar kalian."
""Hii.... Maafkan kami!""
Setelah itu para gadis lainnya juga terbangun akibat aura sihir Zen yang bocor dan suara teriakan Riska dan Rena.
...****************...
Aku menjelaskan pada para gadis tentang undangan yang dikirim untukku.
"Jadi kita akan pergi ke istana untuk menghadiri acara pertunangan pangeran begitu?" (Rena)
"Tapi kenapa kita di undang oleh orang penting?" (Rina)
"Tentu saja karena Zen itu pahlawan, bukan?" (Lilith)
__ADS_1
"Pahlawan yang menghabisi banyak iblis." (Laura)
"Kalian harusnya sudah tahu, bukan? Tanpa Zen mereka tidak akan bisa menghentikan iblis yang bermunculan entah dari mana." (Riska)
Kelima gadis berbincang sambil mengenakan pakaian mereka. Dengan skill [Creation], aku mengubah barang yang tidak terpakai yang ada di sini menjadi gaun pesta.
Karena itu dari ingatan milikku jadi gaun yang tercipta adalah gaun panjang yang menutupi dari dada hingga kaki. Dengan mengubah warna sehingga mereka memakai gaun yang sama namun berbeda warna.
Sementara aku hanya membuat tuxedo putih dengan dasi biru. Ini cukup nyaman meskipun tidak ada tambahan kemampuan.
Setelah selesai berpakaian, kami turun dan pergi ke luar penginapan dimana Brull, Misaki, dan Yugo sudah bersiap dan sedang menunggu kami.
"Ayo pergi."
Aku berjalan masuk ke dalam mobil tanpa menatap mereka. Lalu duduk dan menunggu mereka, aku mengintip dengan satu mata dan Yugo terlihat kebingungan.
"Kau harusnya lebih bersabar, kawan."
"Kau tahu, saat ini aku sedang menahan amarahku. Jadi ayo berangkat."
"Eh? Marah? Apa kau marah karena aku menerobos masuk tadi?"
Ucapan Yugo yang ketakutan membuat para gadis terkejut dan menatap tajam Yugo.
"Apa maksudnya itu, Tachibana?"
"Aku tidak mengerti apa yang terjadi tapi sepertinya ada yang ingin dibakar."
"Kurasa kau ingin dijadikan es ya?"
"Kalian tidak boleh seperti itu, yang terbaik adalah menebasnya bukan?"
"Aku tidak mengerti kenapa kalian sangat marah? Tapi dia akan cocok jadi target panahku."
"hii..."
Aura membunuh para gadis membuat Yugo bersembunyi di belakang Brull, dia gemetaran akan para gadis.
"Bruce, tolong aku!"
"Begini ya, sebenarnya aku tidak peduli apa yang terjadi denganmu meskipun kau itu adalah temannya Zen, tapi aku sarankan untuk menyerahkan nyawamu pada mereka karena aku tidak bisa membantumu untuk saat ini."
"Bruce..?!"
Hawa membunuh mereka sangat mengerikan dan Yugo hanya bisa pasrah dengan nyawanya yang terancam.
Tapi dalam situasi ini lebih baik aku membantunya.
"Sudah cukup bermainnya. Aku marah bukan karena itu tapi hal lain, jadi jangan khawatir."
"Zen..."
"Tapi itu bukan berarti aku memaafkanmu."
"Zen!"
Dengan begitu pagi dipenuhi dengan keributan. Dan kami pergi ke istana Zetes.
__ADS_1