
"Hanya mimpi ya."
Aku benar-benar terkejut, mimpi yang kulihat barusan terasa sangat nyata. Aku bahkan bisa merasakan air mata keluar dari mataku tanpa sadar.
"Eh, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apa ada yang salah?"
Kana terlihat sangat panik melihat air mata keluar dari mataku, karena kepanikan itu membuat yang lainnya datang ke kamar dengan cepat.
"Ada apa, Kana?"
"Apa yang salah?"
Roy, Brull dan William datang ke kamar dengan terburu-buru hingga pintu di dobrak oleh mereka.
Aku mengusap air mata dan dengan ekspresi datar aku mencoba tidak membuat kepanikan.
"Tidak ada dan juga bisakah kalian masuk tanpa harus menghancurkan pintunya."
Mereka hanya menjawab canggung dan Brull mendekat dan tersenyum.
"Syukurlah, kau sudah sadar, Zen. Kau membuatku khawatir saja."
Memangnya apa yang terjadi, aku tidak tahu apa pun.
"Benar, kupikir kau terkena racun atau semacamnya." Kata Roy sambil mengunyah roti.
"Memangnya apa yang terjadi padaku?" Tanyaku dengan penasaran.
"Kau tiba-tiba demam dan kau tertidur selama 2 hari."
2 hari?! Aku tidak pernah sakit sejak kecil dan sekarang aku demam, sepertinya aku terlalu banyak bekerja hingga tubuhku sampai batasnya.
"Begitu ya, terima kasih sudah merawatku."
Aku menundukkan kepalaku dan berterima kasih.
"Eh, tidak perlu seperti itu."
"Benar, kau sudah kuanggap sebagai anak jadi mana mungkin aku membiarkannya begitu saja."
Roy dan Kana sangat peduli padaku meskipun kami tidak memiliki hubungan darah tapi mereka tetap merawatku, sungguh orang baik seperti mereka sangatlah langka.
"Ngomong-ngomong, dimana yang lainnya?"
Aku bertanya tentang Riska dan yang lainnya, aku tidak melihatnya.
"Maksudmu, Riska dan yang lainnya. Mereka pergi mencari seseorang yang bisa menyembuhkanmu, saat kau tiba-tiba demam, mereka langsung panik dan mencari seseorang untuk menyembuhkanmu."
Mereka juga melakukannya untukku, aku harus berterima kasih kepada mereka saat mereka kembali nanti.
"Ngomong-ngomong, boleh aku bertanya sesuatu Zen?"
Wajah dan cara bicara Kana menjadi serius, sepertinya ini sesuatu yang penting.
"Siapa itu Rena?" Tanya Kana
Rena? Siapa itu? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, Tapi entah kenapa aku meremas nama itu sudah pernah bertemu dengannya?
"Kenapa kau bertanya begitu? Aku tidak tahu siapa dia?"
__ADS_1
"Benarkah? Tapi saat kau tertidur kau selalu menyebut namanya berulang-ulang."
Benarkah? Aku tidak ingat apa-apa.
"Tidak hanya itu, saat demam suhu tubuhmu mencapai 38° Celcius." Jawab Kana
Yang benar!? Setinggi itu? Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi setidaknya saat ini aku baik-baik saja walaupun agak lemas.
"Sebenarnya ada yang kukatakan padamu, tapi sebaiknya kau beristirahat saja untuk sekarang." Kata Brull dengan serius
"Tidak apa, katakan saja."
"Sebenarnya..."
Brull memberitahuku kalau desa yang berada di dekat kerajaan Agate, Welford dan Zetes telah dihancurkan dan mereka sudah berubah menjadi iblis. Saat aku tidur kekacauan sedang terjadi tidak hanya itu, Brull juga mengatakan kalau ada portal kehancuran sehingga mereka raja yang lain tidak bisa membantu desa yang hancur itu karena kalah jumlah.
"Terima kasih informasinya, kalau begitu kita harus pergi membantu."
"Tapi... kita tidak bisa melakukan itu."
"Benar, saat ini kau sedang dalam kondisi yang kurang baik."
Brull dan William mencoba menahanku untuk tidak pergi, tapi saat ini dunia dalam bahaya. Aku tidak bisa diam dan melihat saja.
"Benar apa yang dikatakan mereka." Jawab Roy
"Kau sebaiknya beristirahat saja untuk saat ini." Sambung kana
Tidak lama kemudian Riska dan yang lainnya kembali.
"Oi, Brull. Kami membawa seorang yang bisa menyembuhkan Zen." Teriak Lilith dengan keras dan Riska dan yang lainnya mengikuti dari belakang.
Mereka datang dengan girang sambil membawa seorang pria muda dengan pakaian seperti dokter.
"Mau bagaimana lagi, kami sudah membawa seseorang yang bisa mengobati Zen."
"Itu tidak perlu." Jawab Brull dengan santai sambil menunjuk ke arahku
"Hah?" Lilith dan yang lainnya menoleh ke arahku lalu mereka melompat ke arahku dengan girangnya.
"Zen!" Jawab mereka secara bersamaan.
"Zen, Syukurlah kau baik-baik saja."
"Itu benar, kau membuat kami khawatir."
"Syukurlah, kupikir aku tidak bisa melihat mu lagi."
Kau pikir aku mati, dan juga Laura, jangan mengatakan itu dengan wajah datar, itu sangat menyebalkan.
"Zen, kau baik-baik saja kan? Apa ada yang sakit?"
Rina terlihat panik dan terus menyentuh wajahku dan mencari luka.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
"Apa maksudmu tidak perlu khawatir?! Kau demam sangat tinggi dan kau menyuruhku untuk tidak khawatir, itu mustahil!" Teriak Rina
Aku berterima kasih kepada mereka dengan memiringkan kepalaku dan tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih banyak sudah khawatir padaku dan mencari orang untuk menyembuhkanku."
"T-Tidak masalah."
"T-Tentu saja, Zen itu milikku jadi aku khawatir padamu."
"Aku akan selalu bersama Zen!"
"Tentu saja, sebagai tunanganmu aku harus khawatir padamu."
Wajah mereka menjadi merah seperti tomat dan gugup setelah melihatku tersenyum, aku tidak tahu kenapa dengan mereka yang pasti aku senang melihat mereka seperti ini.
"Anu ... Jadi saya harus bagaimana?"
Pria yang dibawa oleh mereka tiba-tiba mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan dengan gugup.
"Ah, maaf. Saat ini Zen baik-baik saja jadi kau boleh pergi." Jawab Laura dengan dingin.
"Tidak boleh seperti itu, Brull bayar dia?"
Brull mengeluarkan satu koin emas dan memberikannya kepada pria itu namun pria itu mengembalikannya kembali dengan 10 koin perak.
Lalu ia langsung pergi keluar. Riska mendekat padaku dan berbisik.
"Zen, aku menemukan informasi tentang Maria dan yang lainnya."
"Begitu ya."
Aku lupa, masalah Riska masih belum selesai. Saat ini dunia dalam krisis besar, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan masalah Riska, bagaimana ini.
Sesuatu terlintas di pikiranku dan itu membuat kebingunganku menghilang. Untuk sekarang kita lebih baik menyelesaikan masalah Riska terlebih dahulu.
"Baiklah, kami akan kembali ke bawah, jika ada sesuatu kau bisa memanggilku."
Setelah Kana mengatakan itu, Kana, Roy dan William turun kebawah dan meninggalkan kami.
"Dengar semua, ada yang ingin aku katakan."
Aku menarik nafas dan mencoba memberitahukan sesuatu yang aku rencanakan.
Suasana menjadi serius dan hening, Mereka menjadi terlihat lebih serius dan diam mendengarkan.
"Saat ini, masalah iblis yang melanda dunia ini masih berlanjut namun di sisi lain aku juga punya masalah."
Wajah mereka menjadi lebih tegang dari sebelumnya, namun aku menghiraukannya dan melanjutkan kata-kataku.
"Ada orang yang membunuh Riska sebelumnya, namun saat ini Riska selamat dan dia ingin membalas perbuatan mereka jadi aku ingin membantunya. Untuk itu apa kalian mau membantuku?"
Setelah selesai berbicara mereka hanya tersenyum dan menatapku.
"Tidak perlu ditanyakan lagi bukan? Masalah Zen maka masalahku juga." Jawab Brull
"Orang yang membuat masalah dengan Riska maka dia musuhku." Jawab Lilith.
"Aku akan selalu membantu Zen." Jawab Laura.
"Riska sudah begitu baik padaku jadi aku akan membantu." Jawab Rina sambil merangkul Riska.
"Kalau Rina dan Brull ikut, aku juga ikut." Jawab Misaki sambil melirik Brull.
__ADS_1
Sudah di putuskan dengan ini, sekali lagi aku akan membunuh Maria.
Itu adalah kata-kataku dalam hati dengan penuh semangat.