Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Desa Nero


__ADS_3

Setelah melakukan tes, kami kembali ke kelas dan Bu Emillia mulai menjelaskan tentang element sihir.


"Baik, anak-anak. Aku akan menjelaskan tentang element, nyaa."


Di papan ada sebuah lingkaran yang bertuliskan 'api -> air -> tanah -> petir -> angin -> api'


Apa itu? kalau tidak salah itu lingkaran element dimana elemen satu bisa mengalahkan elemen lain.


"Apa ada yang tahu, apa ini, nyaa."


Brull dengan membusungkan dadanya lalu mengangkat tangan.


"Aku tahu. Itu adalah lingkaran elemen dimana kita bisa tahu cara mengalahkan elemen dengan elemen lain."


"Benar~, nyaa."


Bu Emillia mulai menjelaskan pelajarannya lagi.


"Dengan membuat kelompok kita bisa saling melengkapi untuk melawan musuh. Namun kalian perlu diingat bahwa manusia dan manusia setengah hewan hanya memiliki 2 elemen sementara kaum elf hanya memiliki 3 elemen jadi mustahil seseorang bisa menguasai semua elemen yang ada. Nyaa."


Mendengar penjelasannya barusan rasanya aku merasa bangga pada diriku sendiri karena aku bisa menggunakan semua elemen dengan mudah. Bu Emillia melanjutkan penjelasannya.


"Yang hanya bisa menguasai semua elemen hanya manusia panggilan."


Mendengar itu, membuatku sangat terkejut karena aku adalah manusia panggilan. Tapi aku berpura-pura mendengar seolah-olah aku bukan salah satu manusia panggilan karena aku merasa ada sesuatu yang buruk jika aku melakukan itu.


Riska melihat ke arahku tanpa mengatakan apa-apa tapi sepertinya ia tahu kalau aku mencoba menyembunyikannya.


Aku menyembunyikannya bukan karena aku takut mereka tahu tentang diriku di kerajaan Fredrosse.


Siang pun berlalu, langit menjadi sore hari. Kelas pun berakhir, Brull mengajakku pergi ke taman kota untuk melihat matahari terbenam.


"Zen kawanku, apa kau mau melihat matahari terbenam di taman kota?"


Aku melihat ke arah Riska, wajahnya terlihat sangat ingin ikut denganku.


"Brull, apa Riska boleh ikut?"


Brull terlihat agak kecewa tapi ia tetap tersenyum.


"Tentu."


Kami pergi ke taman kota yang berada di tengah kota. Tamannya penuh dengan bunga yang bermekaran, namun sangat sepi hampir tidak ada yang datang ke taman saat sore hari.


Kami duduk di taman melihat matahari sambil memakan es krim rasa vanilla dengan taburan coklat di atasnya.


"Sungguh pemandangan yang indah bukan, kawan."


"Kau benar, ini adalah pemandangan yang luar biasa."


Aku melihat ke Riska yang berada di sebelahku yang sedang makan es krim, mulut penuh dengan krim dan aku membersihkan mulutnya.


Wajah Riska terlihat merah saat aku membersihkan mulutnya, dan aku menghiraukannya lalu melihat kembali ke matahari sore.


Aku merasa hari ini adalah hari yang sangat indah, udara sore hari yang sejuk matahari yang berwarna oranye begitu indah dan es krim vanilla yang manis.


Kalau kuingat kembali diriku yang dulu, aku belum pernah merasakan hal seperti ini karena hampir setiap hari aku membaca buku dan menjaga Rina.


"Lihat kawan, matahari mulai terbenam."


Matahari mulai terbenam sedikit demi sedikit.


"Kau benar, kuharap kita bisa melihatnya lagi di lain waktu."


"Kau benar."


Brull menghabiskan semua es krimnya dengan sekali suap lalu ia berdiri sambil menatap ke depan.


"Kawan, boleh aku bertanya?"


"Ada apa?"


"Apa kau manusia panggilan?"


Aku terkejut mendengar itu hingga es krimku jatuh bawah, aku merasa takut saat ia mengatakan itu.


Aku hanya diam dan menundukkan kepala.


"Begitu, jadi kau memang manusia panggilan. Aku... ingin ikut bersamamu."


Eh? Apa yang baru saja ia katakan, apa telingaku bermasalah?


Aku pikir ia akan membenciku atau semacamnya.


"Aku sudah mendengar tentang manusia panggilan yang melakukan pelecehan seksual pada putri lalu mereka melemparnya ke hutan kematian dan orang itu kau bukan?"


Aku tidak tahu ia tahu tentangku sejak kapan tapi dilihat dari wajahnya sepertinya ia tahu sejak awal.


"Ya, itu aku."


Riska memegang bajuku lalu aku melihat wajahnya, ia terlihat seperti aku ingin tidak memberitahunya tapi aku tidak bisa mengelak kali ini jadi aku menjawab dengan jujur.


"Aku percaya padamu, kawanku. Aku sudah melihat perilakumu, caramu berpikir dan lainnya, kau tidak mungkin melakukan itu jadi kau pasti ingin membalas dendam. Kalau begitu biarkan aku ikut."


Mendengar Brull mengatakan itu membuat hatiku tersentuh, aku merasa ingin menangis.


"Tentu saja kau boleh ikut, kau adalah orang yang sangat penting bagi Zen."

__ADS_1


Riska tiba-tiba menjawab menggantikanku dengan senyum yang manis.


Matahari sudah terbenam dan langit pun menjadi gelap. Kami memutuskan untuk kembali ke guild.


Kami berpisah dengan Brull dan kembali ke guild, saat membuka pintu guild seorang gadis yang hampir seumuran dengan dan Riska, ia memiliki mata biru dan rambut pirang panjang, dan ia juga mengenakan pita hitam di belakang rambutnya.


Jika di duniaku yang dulu mungkin ia akan menjadi gadis tercantik, ia mengenakan baju kuning namun aku bisa kedua bahunya di kiri dan kanan serta rompi coklat, rok pendek hitam dan sepatu kulit.


Aku bertanya tanya, siapa gadis ini? ia terlihat lelah seperti habis berlari jauh, wajahnya terlihat seperti meminta bantuan.


"Kami kembali, semuanya."


Keheningan mulai menyelimuti guild.


"Ada apa ini?"


Resepsionis menjawab dengan wajah yang menegang dan keringat di dahinya.


"Gadis ini meminta bantuan untuk menyelamatkan desanya."


"Lalu apa masalahnya? kalian tinggal membantunya."


"Tapi..."


Resepsionis mengatakan seolah-olah mereka tidak bisa membantu. Para petualang yang duduk juga hanya diam sambil membuang muka mereka.


"Siapa namamu dan apa masalahmu?"


Aku bertanya pada gadis itu, wajahnya sangat senang mendengar aku mengatakan itu.


"Namaku Lilith Miyazaki dan aku butuh bantuan untuk menyelamatkan desaku dari segerombolan orc."


Ia mengatakan itu dengan memegang kedua tanganku dan menatapku dengan wajahnya yang sangat dekat.


Orc? sepertinya desanya dalam masalah namun ini kesempatan bagus untukku, aku bisa melihat orc secara langsung.


Tanpa memikirkan apapun aku membantunya.


"Baiklah, aku akan membantumu. Besok pagi kita akan berangkat ke desamu."


Ia sangat bahagia aku mengatakan itu hingga memelukku sambil melompat-lompat.


Riska menarikku untuk melepaskanku dari pelukan Lilith, wajahnya terlihat agak kesal sepertinya Riska cemburu.


"Kami akan membantumu jadi lepaskan pelukanmu dari Zen."


Sesat wajah Lilith agak bingung namun ia langsung tersenyum.


"Tunggu dulu, kau mau melawan segerombolan orc, Zen?"


Roy berdiri dari kursinya lalu berteriak, membuat semua yang mendengarnya melihat ke arahku.


"Tidak, hanya saja apa kau yakin. 1 orc saja kami tidak bisa melawannya dan kau ingin melawan segerombolan orc sendirian?"


Roy terlihat seperti mencoba untuk menahanku untuk tidak pergi, walaupun ia menghentikanku aku tetap akan pergi juga.


"Tenang saja, soalnya Zen sudah pernah menghancurkan 200 robot latihan dengan sekali serang."


Mendengar Riska mengatakan itu membuatku malu dan membuat semua orang yang ada di guild terkejut.


Tanpa berkata apa-apa, Roy kembali duduk dengan wajah yang masih terkejut.


Aku dan Riska berjalan ke lantai 2 namun William keluar dari ruangannya dan memanggil kami.


"Zen, Riska bagaimana sekolah kalian."


Aku hanya berhenti dan menoleh ke belakang.


"Sedikit menyenangkan dan kami mendapat lencana platinum."


"Begitu, besok aku akan meminta surat izin untuk kalian. Beristirahatlah yang cukup."


Kami langsung naik dan masuk ke dalam kamar kami.


Sebelum kami tidur, aku membiarkan Riska meminum darahku agar ia tidak kelelahan.


Pagi hari pun tiba.


Matahari naik dan mulai menerangi kamar kami. Kami bersiap-siap untuk pergi ke desanya Lilith.


Kami turun dari tangga dan semua sepertinya sudah mulai terbiasa dengan perubahan kami.


"Yo, kalian berdua. Hati-hati ya." Kata Gabriel.


Lilith duduk bersama partynya Roy. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan mendekatiku.


"Ayo kita berangkat, semuanya sudah menunggu."


Riska langsung menarik tanganku dan membawaku keluar.


"Hati-hati dijalan."


Semua yang ada di guild melambaikan tangan kepada kami.


Saat berjalan menuju ke luar gerbang kota, aku merasa sangat malu dilihat banyak orang, karena di dua sisiku ada dua orang gadis cantik yang sedang menggandeng tanganku.


Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari belakang.

__ADS_1


"Kawan, tunggu!"


Aku menoleh ke belakang dan dugaanku benar, itu adalah suara Brull.


Kami pun berhenti, saat sampai di depanku ia terlihat sangat lelah sepertinya ia habis berlari kesini.


"Kawan... kau... mau kemana?"


Suaranya terengah-engah, dan keringat membanjiri wajahnya.


"Aku mau pergi, menolong desa gadis ini."


"Kalau begitu, aku ikut."


Ia menatapku dengan serius, aku tidak punya pilihan lain selain membawanya bersamaku.


"Baiklah, ayo."


Kami akhirnya berjalan keluar kota, namun kami berhenti di tengah jalan.


"Kenapa kalian berhenti?"


Lilith bingung dengan kami yang tiba-tiba berhenti, aku menjelaskan kenapa kami berhenti.


"Lilith, sebelum kita melanjutkan perjalanan aku ingin bertanya satu hal padamu."


"Iya?"


"Sebenarnya apa tujuan kita?"


Aku bingung sejak tadi ia terus menarik pergi ke desanya, namun aku tidak tahu nama desanya karena desa itu ada banyak di sekitar kota Valmas.


"Desa Nero."


Aku yang tidak tahu dimana letaknya desa Nero, Brull tiba-tiba mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari sakunya.


Ia membuka gulungan dan melihatnya, lalu menunjuk ke arah timur dari gerbang kota.


"Desa Nero ada di sebelah sana, ini bukan jalan menuju ke desa Nero."


Dugaanku benar, ini bukan jalan yang benar. Sejak tadi aku bingung kemana kita dan jalan mana yang harus kita ambil.


"Kalau begitu kita kembali."


Lilith hanya tersenyum pahit yang sejak tadi menarik tanganku.


Karena terlalu lama, aku memberitahu Riska cara tercepat menuju ke desa.


Riska tiba-tiba menggendong Lilith lalu menggunakan sihir angin yang ada di sepatunya untuk berlari cepat, sementara aku menarik tangan Brull dan menggunakan sihir anginku untuk berlari cepat.


"Kawan? pelan sedikit, kau terlalu cepat. Huek."


Brull sangat mual dengan kecepatan lariku yang tidak normal.


Kami akhirnya sampai di depan desa Nero hanya beberapa menit dari tempat awal.


Sebuah tembok besar kira-kira memiliki 8 meter yang terbuat dari semen berbentuk lingkaran. Aku yakin di balik tembok ini adalah desa Nero.


Brak... brak...


Suara keras terdengar yang tidak jauh dari tempat kami. Kami berjalan untuk mencari arah suara itu.


Sekitar 100 orc sedang berkumpul dan memukuli pintu gerbang.


Mereka sangat besar berbadan gemuk, kulit mereka yang berwarna hijau, dua gigi taring keluar dari bawah mulutnya, matanya yang agak sipit.


"Itu mereka, sedang mencoba menghancurkan pintu gerbang desa."


Lilith berteriak sambil menunjuk para orc itu, hingga para orc menyadari keberadaan kami.


Aku dengan cepat menggunakan sihir dark elemen.


"[Dark elemen: Dragon Thunder]"


Seekor naga hitam muncul dari langit, aku menurunkan tanganku dan naga besar itu menyambar para orc hingga berubah menjadi abu.


Brull dan Lilith hanya menggosok mata mereka karena tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat sementara Riska hanya tersenyum kecil.


Lilith mulai kembali sadar lalu berterima kasih padaku berulang kali seperti mantra.


"Mungkin masih ada orc yang masih bersembunyi. Sekarang kita lihat warga desa terlebih dahulu."


Aku mengajak mereka untuk masuk ke dalam desa dan Lilith langsung berlari duluan untuk memberi tahu warga.


"Halo! Ini aku Lilith!"


Gerbang desa yang memiliki tinggi kira-kira hampir sama dengan tembok mulai terbuka secara perlahan.


Kami masuk ke dalam dan semua orang berkumpul di depan gerbang.


"Semuanya! Aku membawa bantuan!"


Semua langsung menatap ke arah kami, aku menghiraukan tatapan mereka dan sedang berpikir.


Kenapa para orc menyerang desa? apa tujuan mereka?


Aku belum begitu mengenal dunia ini namun setahuku, orc adalah makhluk ganas dan jahat dan merupakan musuh bagi elf dan manusia.

__ADS_1


Jadi aku berpikir kalau para orc ini sangat kelaparan dan ingin memakan warga desa Nero.


__ADS_2