
Bagaimanapun, ini terdengar seperti hal-hal yang berguna untuk dimiliki. Mereka membuatnya lebih mudah untuk mengunjungi Tatsumi lagi, sebenarnya.
"I-Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kau ... memiliki kekuatan yang luar biasa."
Ekspresi pangeran terlihat bercampur aduk antara terkejut dan takjub.
"Begitukah?"
Karena aku tidak tahu apapun bahkan aku menganggap kalau kekuatanku ini normal, mungkin sepertinya tidak.
"Kalau boleh tahu berapa kapasitas mana yang kau punya?"
"Tidak terhitung."
Riska menjawab sebelum aku membuka mulutku.
"Ti ... dak terhitung?!" Altson dan Adelino sangat terkejut mendengarnya.
"Kalau begitu, boleh aku memintamu melakukan sesuatu?"
Keringat mulai membasahi dahi mereka berdua setelah mendengar kapasitas manaku dan dengan alasan itu mereka memintaku melakukan sesuatu.
"Apa itu?"
"Aku ingin kau menghancurkan portal aneh yang tiba-tiba muncul di dekat kerajaanku."
Melihat sikap mereka sebelumnya terhadap diriku, aku dengan terpaksa membantunya.
"Baiklah, tidak masalah."
Kegembiraan mulai terlihat di wajah mereka berdua, aku tahu kalau yang ku lakukan ini sangat merepotkan namun karena mereka bukan orang yang jahat, menurutku.
"Baiklah, kalau begitu kami berangkat."
Kami berdiri dari kursi dan berjalan ke luar. Namun saat kami baru berjalan 2 langkah dari kami berdiri, seseorang menghentikan kami.
"Tunggu dulu ... Aku akan ikut bersama kalian."
Aku menoleh ke arah suara itu dan itu adalah Leorg yang sedang berdiri di dekat pintu.
"Leorg ...?"
Altson menyebut nama setelah melihat ke arah suara itu berasal.
"Apa maksudnya itu, Leorg?"
"Maaf atas kelancanganku, namun mereka adalah orang yang tidak bisa dipercaya. Bahkan medalinya membawa nama kehancuran."
Adelino berdiri dan berteriak pada Leorg.
"Leorg ... kau berani meragukan mereka? meskipun medalinya membawa nama kehancuran bukan berarti dia orang jahat, kalau mereka orang jahat, mereka tidak mungkin menolong kita!"
Leorg menggertakan giginya lalu mencabut pedangnya yang tergantung di pinggangnya dan mengarahkan padaku sambil berteriak.
"Aku tidak mempercayaimu sama sekali, kau membantu hanya untuk mendapatkan keuntungan dari raja."
Adelino ingin berdiri namun ditahan oleh Altson. Altson dengan tenang bertanya kepada Leorg.
"Leorg, aku tidak tahu apa masalahmu. Namun, asal kau tahu saja, jika kau meragukan mereka artinya kau meragukan diriku."
__ADS_1
Leorg menurunkan pedangnya dan menundukkan kepalanya. Lalu ia mengangkat kepalanya lagu dengan serius, ia berteriak.
"Bukan begitu, yang mulia. Hanya saja melihat mereka, aku yakin mereka akan pergi meninggalkan negeri kita jadi aku akan ikut."
Ternyata dia ingin ikut untuk memastikan kami, padahal tinggal katakan saja sejak awal tidak perlu bertele-tele seperti ini. Sungguh orang yang merepotkan.
"Baiklah, kau boleh ikut untuk memastikan, tapi jika mereka benar-benar menghancurkan portal aneh itu, kau harus dihukum atas tindakanmu ini."
Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Leorg, kami berjalan ke luar gerbang kerajaan.
Namun dalam perjalanan ia terus menatapku. Brull mengetahui kalau Leorg terus menatapku dan berbisik padaku.
"Kawan, ia sejak tadi terus menatapmu. Apa itu baik-baik saja."
"Biarkan saja, anggap saja tidak ada. Dia hanya menjadi masalah kalau kita menanggapinya."
Kami akhirnya sampai di lapangan luas, sejauh apapun aku memandang hanya ada rerumputan.
Tepat di dekat kami, portal aneh berbentuk persegi melayang di langit seperti yang aku lihat sebelumnya. Namun, mungkin ini hanya perasaanku saja tapi yang ini terlihat lebih besar dari sebelumnya.
Beberapa monster aneh yang tidak pernah aku lihat sebelumnya keluar dari dalam portal satu persatu.
Mereka terlihat seperti orc namun mereka terlihat lebih besar dan memakai pakaian yang terbuat dari kain katun sambil membawa senjata di tangannya.
"Oi, Leorg, apa kau tahu monster apa itu?"
"Tidak tahu ... dan tidak ingin tahu."
Cih, bocah merepotkan.
"Kawan, apa yang kita lakukan sekarang?"
"Datanglah pedang."
Merespon panggilanku, partikel hitam dan putih yang tak terhitung keluar dari udara.
Cahaya berbentuk pedang mulai muncul. Hanya ada cahaya yang ada di hadapanku.
Saat mengangkat tanganku, pedang mulai melayang.
Saat aku memegang gagang. Cahaya itu terbalik dan ditempatnya ada pedang panjang yang terang.
Aku mengeluarkan crystal merah dari saku dan memasangnya di slot yang ada di gagang pedang. Bilah pedang mulai menyala terang.
Aku mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan, dan monster yang ada di dekat terbakar dan menghilang menjadi abu.
"Apa apaan itu ...?!"
Leorg berteriak karena terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Monster baru yang keluar dari portal langsung berlari ke arahku.
"Tidak ada habisnya."
Aku terus mengayunkan pedang dan monster yang mendekat terbakar setelah mengenai bilah pedang.
Monster sudah tidak bermunculan lagi dan aku berjalan mendekati portal, Riska, Lilith dan Brull mengikutiku dari belakang.
Saat aku menyentuh portal, tanganku masuk ke dalam seperti tidak ada apa-apa disana.
__ADS_1
Namun saat Riska, Brull dan Lilith menyentuh portal mereka langsung terpental ke belakang.
"Ah!"
"Aduh!"
"Sakit!"
Dengan heran aku menghampiri mereka untuk memastikan keadaan mereka.
"Kalian tidak apa-apa?"
Tangan mereka menjadi hitam seperti terbakar dan darah mulai bercucuran.
"Sepertinya portal itu menolak kami."
"Mungkin hanya makhluk panggilan sepertimu saja yang bisa masuk.
"Kau masuk saja, kami akan menunggumu."
Aku memegang tangan mereka bertiga dan menyembuhkannya dengan skillku.
"[Ex Mega Heall]"
Cahaya hijau lembut mengalir dari telapak tanganku ke tangan mereka, luka bakar pada tangan mereka mulai menghilang dan darah berhenti keluar.
"Heh. Kupikir kalian hebat, begitu saja sudah kalah."
Leorg menyindir dan berjalan mendekati portal.
"Aku sarankan untuk tidak menyentuhnya, jika kau terluka aku tidak akan menyembuhkanmu."
Cahaya mulai redup dan melihat Leorg. Ia mengabaikan peringatanku dan menyentuh portal itu.
"Ah!"
Saat menyentuhnya ia tidak terpental seperti yang lain namun lengannya tersengat oleh listrik saat ia menyentuh portal.
Tangannya gosong seperti kue yang terlalu lama dalam microwave.
"Cih. Kenapa kau diam saja sembuhkan aku dengan sihirmu." Leorg berteriak
"Aku sudah memperingatkanmu, dasar bodoh."
Aku berbalik dan berbicara pada mereka bertiga.
"Kalau begitu, aku akan masuk. Jaga diri kalian, aku tidak tahu apa yang akan si bodoh itu akan lakukan."
Mereka hanya mengangguk. Aku berlari dengan cepat dan masuk ke dalam portal.
Setelah masuk, aku tidak melihat apapun, yang bisa kulihat hanya kegelapan. Aku menutup mataku dan membukanya lagi perlahan.
Seketika ruangan yang gelap itu bisa kulihat, di depanku ada sebuah kuil berwarna putih.
Dilihat dengan sekilas, itu hanya kuil kosong yang sudah lama ditinggalkan.
Di depanku adalah pintu masuk ke dalam kuil yang dipenuhi oleh debu dan jaring laba-laba.
Saat aku melangkah maju ke depan, tiba-tiba pintu yang berada di depanku terbuka dengan sendirinya.
__ADS_1