Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Riska ngambek


__ADS_3

Setelah beberapa jam akhirnya kami sampai di kota Valmas. Banyak tatapan yang mengarah pada kami namun karena kami sudah terbiasa menjadi pusat perhatian kami menghiraukan mereka.


Saat kami sampai depan pintu masuk guild kami turun dari Ignis dan membiarkan Ignis masuk ke lingkaran sihir untuk istirahat.


Kami membuka pintu dan ada sebuah aura membunuh di belakang William yang sedang menunggu kami.


"Kami kembali."


"Hmm? Siapa kau? Dan dimana Zen!?"


Kenapa kau sangat marah William, yang lebih penting. Aku ini ada di depanmu loh. Apa kau tidak bisa mengenaliku? Sebelumnya kau dapat mengenaliku dengan mudah kenapa sekarang kau tidak bisa.


"Aku disini."


"Apa!?"


Teriakan semua yang ada di guild begitu keras hingga menggema sampai keluar guild.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Kenapa bisa begini?"


"Wah, kau terlihat keren dengan rambut putih."


Satu persatu pertanyaan dilontarkan padaku. Bisakah kalian tidak bertanya, dan juga William jangan menatapku dengan tatapan kagum seperti itu, rasanya menjijikan, tahu.


Ekspresi wajah William kini kembali marah, aku tidak tahu apa yang membuatnya marah dan itu sangat menyeramkan.


"Kalau begitu jawab aku. Kenapa kau pergi selama tiga hari kau bilang hanya sehari."


Jadi itu yang membuatmu marah, tapi aku menjawab apa? wajahmu sangat menakutkan sampai-sampai aku sulit berkata-kata.


"Maafkan kami, karena kami baru saja kembali dari kerajaan Agate."


Lilith apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberitahunya. Mana mungkin ia akan percaya padamu.


"Hmm, kau kan gadis yang waktu itu untuk membantu desamu. Tidak, itu tidak penting tapi apa maksudmu baru kembali dari kerajaan Agate? Memangnya kalian sedang apa disana?"


"Kami menyembuhkan mata istri raja Agate dan melindungi kerajaan mereka dari monster."


Brull kau juga? Kenapa kau malah menambahkannya, sudah kubilang ia tidak akan percaya.


"Kalau begitu, apa kau harus percaya pada kalian?"


Lihat? Ia tidak akan percaya, kalian ini.


Mereka mengambil sesuatu dari dalam saku mereka dan menunjukkannya pada William.


"Ini!? Medali kerajaan Agate!?"


Dasar kalian berdua ini, dan Riska kenapa dia diam saja? Ah!? Kenapa kau membuang muka?


"Baiklah, aku percaya. Lalu bagaimana kalian mau pergi ke sekolah?"


"Boleh aku bertanya?"


"Ya."


"Apa sekolah ini bayar?"


"Tentu saja. Tapi karena kalian direkomendasikan olehku, biaya bulanannya diturunkan untuk kalian."


Yang benar!? Bukankah itu keren. Tidak bukan itu, bukan itu yang ingin kutanyakan.

__ADS_1


"Lalu berapa biayanya?"


"Normalnya hanya 10 koin emas tapi karena kalian direkomendasikan, biayanya menjadi 5 koin emas."


Hmm. hanya dipotong setengah harga. Melihat sisa koin platinum yang kita miliki, kita hanya memiliki 49 koin platinum itu artinya 1 koin bisa untuk 20 bulan.


"Baik, Terima kasih. Dari sini kami akan membayar sendiri."


Setelah mengatakan itu, mereka semua tertawa kecuali William dan kami.


"Darimana kau mendapatkan uang? kau bahkan masih belajar dalam kelas. haha, konyol sekali."


Aku ingin membantahnya namun sudah keduluan oleh William.


"Kenapa kau tertawa? Mereka tidak hanya mendapatkan medali dari raja Agate tapi juga koin platinum, benar kan?"


Memang yang di harapkan dari William, kau memang bisa diandalkan.


"Koin platinum!?"


Mereka langsung terdiam setelah mendengar koin platinum, karena sudah menunjukkan pukul 8:30, William menyuruh kami pergi ke sekolah dan kami langsung bergegas pergi ke sekolah, tentunya kami akan membawa Lilith dan mendaftarkannya.


Kami akhirnya sampai di tempat loket, disana aku mengatakan kalau Lilith akan mendaftar dan ia dibawa ke suatu ruangan sementara kami kembali ke kelas kami.


Kami duduk di tempat kami biasa duduk. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku tidak ada tapi kenapa semua melihatku. Apa aku melakukan sesuatu? Tidak, mungkin mereka hanya bingung dengan penampilanku yang berbeda.


1 menit kemudian, Emillia masuk ke dalam kelas bersama Lilith.


"Baik, anak-anak. Kita kedatangan murid baru, perkenalkan dirimu."


"Baik. Terima kasih, namaku Lilith Miyazaki, salam kenal."


Sedetik kemudian, kelas langsung menjadi meriah seperti ada pesta.


"Jadilah pacarku!"


"Sangat cantik ya?"


"Rambutnya pirang sungguh cantik!"


Teriakan itu membuat Lilith agak kerepotan namun ia berhasil membuat para lelaki kecewa dengan mengatakan...


"Ah!? Disana kau rupanya, Zen. Kupikir kita akan beda kelas."


""Apaaaaa!?""


Melihat ekspresi mereka, membuatku bingung. Kalian terkejut dengan perubahanku atau karena Lilith. Kupikir mereka terkejut karena keduanya.


"Dia? si platinum?"


"Sialan kau, Zen."


"Kenapa harus dia?"


"Cih, mati saja kau!"


Hah, dasar Lilith sialan! Kau membuatku menjadi pusat perhatian. Kenapa kamu menahan tawamu? Dasar wanita sialan!


Oh iya, sejak tadi aku tidak mendengar suara Riska sama sekali. Kenapa? Kenapa kau membuang muka dan mengembungkan pipimu? Apa dia marah ya?


.....Ah!? aku belum minta maaf soal aku berteriak "berisik" padanya. Bagaimana ini? dia terlihat sangat marah.


"Baik, nak Lilith, silahkan duduk di manapun kau suka?"

__ADS_1


"Baik"


Lilith berjalan dan duduk di sebelah Riska. Pelajaran bu Emillia sudah dimulai tapi aku harus minta maaf pada Riska.


"Eh... Riska?"


"....Hmph...."


D-Dia marah! Bagaimana ini! Kenapa marahnya berbeda seperti biasanya, biasanya dia akan menceramahiku dan menjewerku tapi kali ini dia seperti gadis tsundere.


"Hah... Aku minta maaf Riska. Aku tidak akan membentakmu lagi. Bagaimana kalau, kau boleh memerintahkan apapun padaku, bagaimana?"


Sesaat setelah aku mengatakan itu, Riska langsung menatapku dengan mata yang berbinar.


"Benarkah? Apapun?"


"...Y-ya apapun..."


"Baiklah... Malam ini kau harus tidur bersamaku dan memelukku dengan erat."


"Kalian berdua! Sebaiknya kalian kembali ke Kenyataan. Bu Emilia melihat kita." Bisik Brull


Saat aku menoleh ke depan. Bu Emilia sedang memelototiku, meskipun ia tersenyum tapi aku bisa tahu kalau itu bukan senyuman senang.


"Zen-nyaa. Kalian sedang bisik-bisik apa?"


Zen-nya? Apa-apaan nama panggilan lucu itu. Dan juga Brull kalau kau ingin tertawa tidak tertawa saja, jangan menahannya seperti itu.


"T-Tidak ada, hanya mengobrol."


"Apa! mengobrol?"


"Wah, sungguh jujur sekali dia."


"Kalau aku sih sudah pasti akan membohongi Bu Emillia."


Suara bisikan mulai terdengar di ruang kelas. Bu Emilia sangat kesal hingga memanggilku maju ke depan.


"Zen-nya kemari."


Aku dengan pasrah maju ke depan. Bu Emilia menyuruhku membuat patung dari es.


Aku menggunakan skill Dark element dan membuat patung es.


"[Dark Element: Ice formation]"


Sebuah potongan es hitam besar muncul di depanku dan membentuk sebuah patung yang menyerupai Bu Emilia.


"Wah!" Semua orang dikelas takjub melihat sebuah patung es hitam berdiri di depan kelas.


Bu Emilia terlihat bingung dengan patung itu dan bertanya dengan bingung.


"Zen-nya kenapa esnya berwarna hitam?"


"Bu Emilia, aku tidak bisa membuat es biasa. Elemen apapun yang aku keluarkan akan berwarna hitam."


Bu Emilia seketika langsung syok dan pingsan setelah mendengar itu. Beberapa anak laki-laki berhasil membawanya ke ruang kesehatan.


Dan Bu Emillia digantikan oleh dua orang wanita. Yang pertama, wanita yang memiliki rambut hitam pendek seperti laki-laki, ia biasa dipanggil Elma. Ia juga adalah seorang guru, aku tidak tahu panggilannya apa tapi kalau lebih mudahnya ia adalah guru olahraga. Dan yang kedua seorang wanita dengan rambut putih panjang hingga punggung, adalah Laura.


Meskipun ia terlihat masih muda dan berumur 17 tahun sama sepertiku tapi ia adalah kepala sekolah. Mungkin kau tidak percaya tapi ini adalah kebenarannya. Ia sangat cantik, kulitnya sangat putih seputih salju. Dan yang membuat aku tertarik dengannya adalah "Dadanya!"


Aku yakin kalau ukurannya lebih besar dari Riska dan Lilith mungkin F-cup? yah, itu tidak penting yang lebih penting adalah aku berada dalam bahaya!

__ADS_1


__ADS_2