Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Membebaskan budak (Final)


__ADS_3

Di Guild,  John menyeruput kopi panasnya dan hatinya sudah merasa tenang setelah rasa syok sebelumnya menyerangnya.


"Jadi, apa maksudnya dengan dia adalah seorang raja iblis?" John bertanya


"Kau mungkin tidak percaya tapi seribu tahun yang lalu aku adalah seorang pahlawan." Jawab Rena sambil meminum tehnya.


"Pahlawan? Seribu tahun?"


John memiringkan kepalanya karena sangat bingung.


Rena meletakkan cangkirnya di atas meja dan menyilangkan lengannya.


"Ya, karena sihir reinkarnasi. Ingatanku tentang diriku di masa lalu sangat sedikit tapi, seribu tahun yang lalu, yang dikenal zaman mitologi. Aku adalah seorang pahlawan dan Zen adalah seorang raja iblis."


"Begitu ya."


John memegang kepalanya karena cerita yang baru saja ia dengar membuat kepalanya sakit.


"Yah, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Yang pasti Zen akan kembali dengan selamat."


Para gadis menatap Rena dan tersenyum kecil.


...****************...


Aku mengulurkan tanganku pada maid itu.


"Ayo, kita keluar dari sini."


Maid dan budak yang berada di belakang maid itu sedikit takut dan gemetaran.


Apakah mereka menggigil karena di sini sangat dingin? 


Aku segera melepaskan mantelku dan memberikannya kepada maid itu. Namun, maid itu terlihat bingung saat aku memberikan mantelku.


Aku berbalik dan melihat Yugo yang menahan tawanya.


"Apa yang lucu?" Tanyaku.


"T-Tidak ada." Jawabnya.


Yah, aku tidak tahu apa yang membuatnya tertawa tapi sekarang kurasa kita harus segera keluar dari sini. Dan juga sejak tadi aku tidak menemukan iblis berlengan empat seperti yang dikatakan Yugo.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku..."


Saat ingin berbicara, gedung tiba-tiba bergetar.


"ahh..."


"Ada apa ini?!"


Gempa? Tidak, bukan itu. Ada sesuatu yang besar sedang mendekat.


Tidak lama setelah itu, gempanya berhenti. Meskipun tidak ada yang terluka tapi aku sangat yakin. Akan ada bahaya setelah ini.


["Zen, dia datang!] (Lucifer)


Brak!


Kami dengan cepat menghindar. Langit-langit hancur dan asap debu menghalangi pandangan kami.


"Kalian tidak apa?" Teriakku.


"Ya!" Jawan mereka.


Sebuah bayangan hitam keluar dari asap debu dan mengarah ke Yugo.

__ADS_1


"Yugo, menjauh dari sana!"


Yugo bingung dan lambat menerima peringatanku. Aku dengan segera menggunakan wujud iblisku.


Wujud ini meningkatkan kemampuanku, meskipun begitu ada batas waktunya sehingga aku tidak bisa menggunakannya sesukaku.


Aku segera menerjang dan menendang bayangan hitam itu.


Suara benturan ke tembok terdengar cukup keras. Kurasa sementara waktu dia tidak bisa bergerak.


Berkat itu aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Pria kekar yang tingginya 2 meter dan memiliki empat lengan kekar.


"Yugo, pergilah bersama yang lain."


"Hah? Apa yang kau katakan?"


"Cepatlah, bajingan! Aku akan melawannya, jadi kau pergi saja."


".....Tapi?"


Aku tahu Yugo tidak bisa meninggalkan diriku di situasi berbahaya ini, tapi bagaimanapun dia hanya akan jadi penghambat saja. Bagaimanapun caranya aku harus membuat Yugo dan semua yang ada disini keluar dengan selamat.


Berpikir! Berpikir! Berpikir!


Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.


Ting!


Ide muncul dalam kepalaku dan segera aku membuat penghalang disekitar iblis itu dan dengan kecepatan seperti kilat aku menggendong Yugo ke tempat maid dan para budak berada.


"......Kau?"


Maid itu seperti ingin mengatakan sesuatu namun aku mengabaikannya.


"[Black hole]"


Pada dasarnya lubang hitam milikku berfungsi untuk berpindah tempat, kalau dalam novel yang aku baca itu disebut [Gate].


"Cepat masuklah."


"Eh?"


Maid itu terlihat bingung.


"Jangan mengatakan "Eh?" Kalian harus keluar dari sini." Jawabku.


Maid dan budak yang berada di belakangnya masuk ke dalam secara bergilir. Tapi Yugo hanya berdiri diam.


"Apa yang sedang kau lakukan, bodoh."


"Tapi Riza dan yang lainnya?"


"Tidak perlu khawatir, aku juga akan menyelamatkan mereka. Untuk sekarang kau masuk saja terlebih dahulu, aku tidak bisa mempertahankan lubang hitam ini lebih... lama lagi."


Tanganku sudah terasa panas dan juga rasanya tulang lenganku rasanya akan hancur, aku berusaha menahan rasa sakit untuk terus mempertahankan lubang hitam. Tidak hanya itu, Bahkan wujud iblisku sudah hampir mencapai batasnya dan kesadaranku hampir hilang.


"Baiklah! Aku mengandalkanmu."


Yugo masuk ke dalam lubang hitam dan sedetik kemudian lubang hitam menghilang dan aku kelelahan, mataku terasa berat dan nafasku terengah-engah.


Riza beserta lainnya berlari ke arahku, Erika dan Silvia membantuku berdiri.


"Tuan!"


"Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Uhuk!"


Dalam sekejap wujud iblisku menghilang dan aku batuk darah.


"Tuan!"


"Kau baik-baik saja?"


Melihat mereka yang saat pertama kali bertemu, kesanku pada mereka adalah 'Tidak suka'.


Alasannya adalah karena mereka sangat sombong bahkan berbicara tidak sopan pada Rina. Tapi mereka membantuku seolah mereka hanya membenci wanita yang mendekati Yugo.


"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah."


"... Kalian tidak perlu khawatirkan aku..."


Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku tidak tahu kalau ada efek samping jika menggunakan wujud iblisku lebih lama.


Chelsea mengambil botol yang berisi air dari skill [Dimensional Home], Itu adalah skill ruang yang mampu menyimpan apapun di dimensi lain.


"Minum ini, kak." Chelsea memberikan air minum padaku.


Sungguh mereka baik sekali padaku.


Aku mengambilnya dan meminumnya.


Trang!


Tanpa aku sadari iblis berlengan empat itu berhasil menghancurkan penghalang yang aku buat.


Bahaya! Bagaimana ini? Tubuhku tidak kuat lagi dan para budaknya Yugo mustahil untuk melawan iblis itu karena perbedaan kekuatan yang besar.


Sebuah ide kembali terlintas di kepalaku.


Para budak Yugo sudah dalam posisi siap untuk bertarung.


Aku mengarahkan segalanya untuk berdiri, meskipun pahaku sangat sakit tapi aku berusaha menahannya dan berdiri.


"Tuan Zen, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Chelsea dengan penuh khawatir.


"Jangan memaksakan diri, kau itu sedang terluka bukan?" (Erika)


"Benar, jika kau memaksakan diri terus lukanya akan terus bertambah." (Silvia)


Aku tersenyum dan melirik Aisha.


"Aisha, ke atas dan panggil budak yang ada di atas."


"Siap."


"Erika, Silvia, Chelsea, Riza. Berdiri di belakangku."


Mereka mengikuti ucapanku dan aku mengeluarkan pedangku lalu mengangkatnya setinggi mungkin.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Diam dan lihat saja."


Iblis berlengan empat itu berlari ke arahku dengan cepat. Bilah pedang berubah menjadi api putih dan saat iblis itu berada di depanku tepat di jangkauan pedang, aku mengayunkannya ke depan.


"Tuan, awas!"


Dalam sekejap, Iblis itu terbelah menjadi dua dan dilanjutkan dengan terbakar oleh api putih milikku.


Teriakkan kencang keluar dari mulut Iblis itu dan telingaku cukup sakit. Saat itu juga kesadaranku sudah mulai hilang dan aku akhirnya jatuh pingsan karena tidak bisa menahan mataku.

__ADS_1


Suara teriakan dari belakangku terdengar walaupun agak samar.


__ADS_2