
Kami bertanya kepada mereka bertiga dan kami akhirnya sampai berada di guild petualang.
Saat kami masuk dan aku menyeret ketiga pria yang diikat semua orang menatapku dengan gemetaran.
Aku penasaran kenapa sejak tadi aku diperhatikan terus, kalau aku memang populer setidaknya aku memiliki fans bukan? Yah, itu tidak tidak penting sekarang.
Aku berjalan mendekati resepsionis. Resepsionis itu tidak terlihat gemetaran seperti yang lain, justru hanya ia yang tersenyum.
"Ada yang bisa dibantu, Tuan."
"Kami ingin membuat kartu pengenal."
"Baik, kalau begitu."
Resepsionis itu mengeluarkan bola kristal dari bawah ke atas meja. Bola dengan warna putih polos, itu terlihat cukup indah.
"Kalian bisa meletakkan tangan kalian di atas untuk mengecek apa kalian memiliki riwayat kejahatan atau tidak."
Sepertinya dia sedikit mencurigai ku.
"Tidak masalah."
"Jika kristal berubah warna merah itu artinya kalian pernah melakukan kejahatan dan begitu juga sebaliknya, jika kristal berubah menjadi warna biru itu artinya kalian bukan orang jahat."
Setelah mendengar penjelasan dari resepsionis, kami mulai meletakkan tangan kami di atas kristal satu persatu. Dimulai dari Laura, Riska, Rina, Misaki, Rena, Lilith, Brull kemudian yang terakhir adalah aku sendiri.
Kami semua aman dan kristal berubah menjadi warna biru sementara diriku.
"A-Apa ini!? Aku... tidak pernah melihat kristal berwarna seperti ini."
Resepsionis itu terkejut melihat warna kristal setelah aku meletakkan tanganku di atasnya.
Sebelah kanan berwarna biru terang dan sebelah kiri berwarna merah gelap. Kedua warna itu bersinar secara bersamaan.
Seluruh orang yang ada di sana sangat terkejut dan memperhatikanku hingga sang guild master datang untuk melihat keributan yang terjadi.
"Ah... Guild master, kau di sini."
"Ada apa ribut-ribut?"
Resepsionis tidak menjawab dan membiarkan guild master melihat yang sedang terjadi. Setelah melihat kristal yang berwarna aneh, ia segera menanyakan nama padaku.
"Hei nak, siapa namamu?"
"Zen Ignatius."
Guild master terkejut mendengar namaku dan ia menarik nafas dalam-dalam untuk membuat dirinya tenang (kurasa).
"Jadi begitu. Aku guild master disini, namaku John, salam kenal."
Ia memperkenalkan diri setelah aku menyebutkan namaku.
Kepala botak, kumis tebal dan janggut panjang. Aku penasaran, apakah dia tidak pernah mencukur kumis dan janggutnya.
"Setelah mengetahui namaku dan melihat reaksi kristal yang berwarna aneh. Apakah kalian akan menangkapku?"
"J-Jujur saja, itu benar. Tapi kau pengecualian."
Pengecualian? Padahal normalnya mereka akan langsung menangkapku bukan? Kurasa menjadi populer tidak buruk juga.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kau keponakannya William bukan? Guild master kota Valmas."
Keponakannya William? Siapa? Aku?
Aku tidak tahu apa yang dikatakannya tapi kurasa lebih baik ikuti saja dulu.
"Biar kukatakan padamu, Wili-, maksudku pamanku sudah tiada jadi jangan membicarakan orang yang sudah tiada."
"Ah, maaf. Bukan begitu maksudku. Aku adalah temannya William dan aku sudah mendengar tentang dirimu."
Apa yang dikatakan William padanya tentangku? Entah kenapa aku merasa penasaran.
"Kurasa tidak enak berbicara seperti ini jadi kita pindah tempat saja."
Setelah itu kami naik ke lantai atas yang merupakan kantor guild master. Kursinya hanya cukup untuk tiga orang dan aku duduk diantara Rena dan Riska.
Anak kecil yang kami selamatkan duduk di pangkuan Riska dan yang lainnya berdiri di belakangku.
"Mungkin ini pertama kalinya kita bertemu, tapi aku ingin kau bersikap seperti kau berbicara dengan William."
Guild master, John. Menyuruhku untuk bersikap kepadanya seperti aku bersikap pada William. Aku tidak tahu kenapa dia menyuruhku melakukan itu tapi setidaknya itu lebih baik karena jujur saja, aku tidak suka berbicara formal.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan."
"Ini mungkin terlambat, tapi aku juga turut berduka atas William dan para petualang lainnya."
"Ya, terima kasih. John, aku ingin berbicara denganmu tentang-"
"Gawat!"
Saat aku sedang berbicara, seseorang datang dengan mendobrak pintu dan menyela saat aku berbicara.
Orang yang memotong pembicaraanku tidak lain adalah temanku yang tidak lama bertemu, itu adalah Yugo Tachibana.
Dan ada ada empat gadis mengikutinya dari belakang.
Kenapa dia ada disini? Dan juga sepertinya ada yang hilang. Kurasa ekspresi wajahnya menjelaskannya.
"Ada apa?" (John)
"Tolong bantu aku."
"Hah..."
Mendengar desahanku, John bertanya.
"Ada apa Zen. Apa kau lelah?"
Mendengar nama yang disebutkan oleh John. Yugo langsung menoleh kepadaku.
"Zen? Zen!"
Melihatku, ia langsung melompat ke arahku. Namun, dengan cepat aku menendang wajahnya karena ekspresinya sangat menjijikan.
"Berhentilah merengek, dasar idiot."
"Ah maaf. Aku sangat senang bisa melihatmu lagi."
"Katakan kenapa kau merengek seperti itu. Karena sangat menyebalkan melihatmu merengek seperti bayi."
"Uh... Seperti biasanya kata-katamu sangat menyebalkan."
__ADS_1
Kurasa dengan begini dia sudah tenang sekarang. Dasar, kalau aku tidak membuatnya tenang seperti sekarang, dia akan terus merengek seperti itu.
"Baiklah, sekarang kau sudah tenang bukan?"
"Eh? ah ya."
"Jadi kenapa kau merengek seperti bayi?"
"Tolong aku Zen. Chelsea diculik dan mereka sangat kuat."
Chelsea? Ah, aku ingat. Kalau tidak salah dia anak kecil yang membawa boneka.
"Kau bilang sangat kuat, memangnya dengan siapa kau berurusan?"
John langsung bertanya karena penasaran, memang benar aku juga penasaran dengan siapa dia berurusan. Kalau tidak salah class milik Yugo itu adalah Dominator.
Tapi aku tidak tahu cara kerja class miliknya itu. Dia memiliki banyak budak untuk apa memangnya.
"Para pedagang budak."
"Hanya pedagang budak kenapa kau sangat takut? Dia itu bukan orang dari dunia lain jadi kenapa kau yang dari dunia lain takut?"
Kali ini yang berbicara adalah Brull. Memang benar mereka bukan dari dunia lain, dengan kata lain kekuatan mereka lebih lemah.
"Itu..."
"Mereka memiliki iblis yang sama saat di kastil."
Mendengar itu dari budaknya Yugo yang memiliki kulit gelap. Amarah yang tak terbendung keluar dariku.
Alasan aku marah bukan karena budaknya Yugo melainkan mendengar iblis berlengan empat yang dibuat oleh organisasi Dark spirit ini.
Aku berdiri dengan kesal, melihat aura gelap yang keluar dari tubuhku membuat yang lain merinding dan ketakutan.
"Pimpin jalan."
Aku menatap Yugo dan mengatakan itu. Yugo mengusap air matanya dan mengangguk.
Aku menoleh dan berbicara pada mereka.
"Kalian tunggu disini. Maaf John, kita akan bicara setelah aku kembali."
Setelah aku mengatakan itu, mereka hanya tersenyum dan menjawab.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Ya, tenang saja. Aku akan menunggumu." (John)
Saat aku melangkahkan kakiku, aku dihentikan oleh anak kecil.
"Kakak, tolong selamatkan yang lainnya juga."
Mendengar permintaan itu dari anak kecil memang aneh namun saat aku berpikir kembali aku harus melakukannya.
Meskipun aku belum sempat membicarakan tentang anak kecil itu tapi untuk sekarang aku akan menjaganya.
"Baiklah, aku akan menyelamatkan yang lainnya tapi kau harus berjanji untuk menjadi anak yang baik."
"Baik!"
Aku pergi ke pojok ruangan dimana para pengejar tadi diikat dan menyeret mereka kembali agar mereka bisa memberi informasi.
__ADS_1