
Kami saat ini berada di lapangan yang biasa digunakan untuk melakukan latihan sihir oleh para elf. Berkat pengetahuan para elf aku mengerti cara menggunakan api putih.
Pada dasarnya api putih berbeda dengan api pada umumnya, api ini tidak bisa digunakan untuk bertarung jika kau tidak tahu kegunaannya.
Api putih memiliki kemampuan yaitu membakar mana, lebih mudahnya api ini bisa membakar apapun yang terbuat dari mana.
Brull dan para gadis diajarkan menggunakan mana alam oleh para elf, itu adalah mana yang berasal dari lingkungan. Karena saat ini kita sering berhadapan dengan iblis buatan, meskipun hanya buatan tapi mereka sangat kuat dan untuk mengalahkan para iblis itu, mereka tidak bisa terus diam dan membiarkanku bertarung sendirian.
Jadi mereka meminta bantuan kepada para elf.
Kami beristirahat sebentar setelah berlatih dengan para elf, namun
"Berhenti mengganggu latihanku, Brull gendut!"
"Siapa yang kau panggil gendut?! Lagipula kaulah yang tidak bisa fokus kenapa aku yang disalahkan?"
Brull dan Lilith tidak beristirahat dan terus bertengkar, alasannya mana yang dikumpulkan oleh brull selalu menyebar dan membuat Lilith terpental ke dalam kolam dan basah kuyup.
Sungguh, aku mulai kesal melihat mereka berdua terus bertengkar dan saling melontarkan kata-kata kasar.
"Bisakah kalian berdua diam!"
Teriakanku cukup kencang dan membuat mereka berdua terdiam. Aku menghela nafas dan mengontrol kembali emosiku, setelah aku mulai tenang aku menggigit roti panggang yang di atasnya terdapat selai kacang buatan para elf.
"Saat ini banyak sekali masalah yang terus mengelilingi kepalaku, jadi berikan aku sedikit ketenangan."
""Maaf""
Mereka berdua menunduk dan meminta maaf, saat sedang beristirahat, salah satu gadis elf tiba-tiba berlari ke arah kami dengan tergesa-gesa.
"G-Gawat!"
Nafas gadis elf tersebut terengah-engah, kata-katanya terbata-bata jadi aku menyuruhnya tenang terlebih dahulu.
"Apa kau sudah tenang?"
"Maaf"
"Katakanlah ada apa?"
"Pria tua yang tadi mengatakan sesuatu tentang rencana dewa roh."
Aku dan yang lainnya segera pergi ke tempat tua bangka itu diikat. Kami mengikuti gadis elf tersebut ke dalam hutan.
Kami berhenti dan tidak ada apapun dihadapan kami. Namun, gadis elf tersebut menyentuh tanah yang dipenuhi oleh rumput, dalam sekejap sebuah lingkaran sihir terukir di atasnya dan tanah bergeser seperti pintu.
"Ruang bawah tanah yang cukup keren."
Aku cukup kagum dengan ruang bawah tanah ini, menurutku ruang bawah tanah ini tidak akan bisa ditemukan oleh sembarang orang.
Kami menuruni tangga ke bawah, di bawah sini tidak ada apapun kecuali jalan satu arah yang menunju ke sebuah pintu, kami memasuki pintu itu dan terdapat si tua bangka sedang diikat dengan rantai.
__ADS_1
Wajah dan dibeberapa bagian tubuhnya penuh memar, sepertinya dia sudah di siksa oleh para elf.
Memikirkannya saja membuatku takut. Aku menggunakan sihir penyembuhan pada tua bangka itu, meskipun aku sangat enggan melakukannya namun sepertinya ia tidak bisa bicara karena dia menggigit lidahnya.
"Ternyata kau baik juga?"
"Jangan salah paham, aku melakukannya agar kau bisa bicara jadi katakan semua yang kau ketahui tentang Melves, Gerheim dan lainnya."
"Pfft, hahahahahahaha"
Pria tua itu hanya tertawa, aku tidak tahu arti tawanya itu, namun aku bisa tahu kalau dia tidak berniat untuk berbicara jujur.
"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Brull dengan bingung.
"Tidak ada, hanya saja. Apa kau pikir aku akan menjawabnya dengan jujur?"
"Tidak juga, lagipula aku tahu kau akan mengatakan itu."
Senyum pria tua itu langsung menghilang dan menatapku dengan bingung.
Dengan kekuatan Abbadon dan Lucifer yang berada di mataku, aku bisa menghipnotis orang hanya dengan menatap mataku.
Aku membuat pria tua itu menatap mataku, cahaya di mata pria tua itu menghilang dan dia menjadi penurut.
"Baiklah, apa kau tahu rencana apa yang sedang kalian lakukan?"
Dengan tenang pria tua itu menuruti perintahku dan mulai menjawab pertanyaanku.
Begitu ya.
"Selanjutnya untuk apa orang-orang desa diubah menjadi iblis?"
"Untuk membangun pasukan dan menjadi persediaan mana untuk kebangkitan tuan Gerheim."
Membangun pasukan? Apakah mereka berencana memulai perang?
"Lalu apa yang kau lakukan disini?"
"Aku diperintahkan untuk mengambil mana milik pohon suci untuk dikirim ke gereja selatan."
Gereja selatan? Kurasa disana adalah tempat dimana Gerheim akan dibangkitkan.
"Kenapa kalian mencoba membangkitkan Gerheim?"
"Aku tidak tahu."
"Pertanyaan terakhir, apa hubungan Melves dengan Alfred?"
"Aku tidak tahu."
Dasar tidak berguna. Dalam sekali tatapan, aku membakar pria tua itu dengan api putih milikku.
__ADS_1
"!?"
Semua yang ada di ruang bawah tanah langsung terkejut dan mundur selangkah karena terkejut dengan api yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Zen, apa yang kau lakukan?"
"Tiba-tiba membakar begitu saja."
Rina dan gadis elf yang membawa kami meneriaki ku yang tiba-tiba membakar pria tua itu.
Aku melihat sihir sedang di tangannya jadi aku yakin dalam beberapa detik lagi ia bisa lepas dari ikatan rantai jadi aku langsung membakarnya. Namun, jika aku memberitahu mereka mungkin mereka tidak akan percaya.
Oh sial, aku lupa menanyakan sesuatu.
"Zen kau baru saja mengatakan "Oh sial" di dalam hatimu, bukan?"
Berkat pelatihan dari para elf, Brull bisa mendengar suara hati seseorang dengan mudah. Aku harus berhati-hati dalam berbicara.
"Tidak, kau mungkin salah dengar." Aku membantah.
Setelah tubuh pria tersebut menjadi kering dan hangus, api putihku kembali ke padaku.
Meskipun aku lupa menanyakan sesuatu padanya bukan berarti aku tidak akan tahu. Api putih milikku tidak hanya membakar mana tapi juga mengambil ingatannya.
Dengan memfokuskan pikiranku, aku mulai melihat ingatan pria tua itu.
[Aku datang sesuai permintaanmu, tuan]
Seseorang berdiri dengan jubah hitam dan memakai topeng kelinci sedang menatap langit dari jendela.
Siapa dia?
[Terima kasih sudah datang, aku ingin kau pergi ke hutan elf dan mengambil mana dari pohon suci mereka]
[Baik tuan]
Saat berbalik untuk pergi, dua orang laki-laki datang yang di depan adalah Melves dan di belakangnya seorang pria muda dengan pakaian mewah, kurasa ia seorang bangsawan.
[Oh Melves, kau datang rupanya.]
pria bertopeng itu melebarkan kedua tangannya dan memeluk Melves seperti orang yang tidak lama bertemu.
[Tentu, semuanya demi tuan Gerheim.]
Selesai berpelukan, pria bertopeng itu melirik laki-laki yang di bawa Melves, laki-laki itu seketika mundur selangkah saat menyadari dirinya di tatap oleh pria bertopeng.
[Melves, siapa dia?]
[Oh, dia]
Melves berjalan ke belakang laki-laki itu dan menepuk pundaknya.
__ADS_1
[Dia adalah seorang bangsawan dari kerajaan Zetes]