Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Dua pengguna iblis bertarung


__ADS_3

Brull kembali sambil membawa pesanan, tangannya penuh dengan piring dan plastik.


Raja Akira bertanya tentang kantong plastik yang di bawa Brull.


"Plastik apa itu?"


"Ini roti daging milik Zen."


Ketiga raja langsung menatapku, aku hanya diam tak menanggapi mereka.


Namun saat semuanya siap menyantap makanan mereka, tiba-tiba seisi kantin bergetar begitu besar.


"Apa ini? Gempa?"


Dengan cepat kami berlindung di bawah meja.


"Apa yang terjadi?"


Saat aku masih bertanya-tanya Abbadon memberitahukan sesuatu.


"{Perasaan ini ...? Zen sepertinya ada iblis di luar."} (Abbadon)


"Apa kau bilang?"


Getarannya akhirnya berhenti, tepat setelah keluar dari bawah meja aku langsung memperingatkan mereka.


"Semuanya! Jangan ada yang pergi dari sini!"


Brull dengan bingung bertanya.


"Ada apa?"


"Di luar sepertinya ada iblis."


""Apa?!""


Mereka langsung terkejut dengan pernyataanku. Namun Abbadon tidak mungkin berbohong jadi aku percaya padanya. Aku langsung bergegas pergi namun Riska menahan dengan menarik tanganku.


"Kau mau kemana? Kalau yang kau katakan itu benar, maka kau tidak boleh pergi."


"Tapi aku tidak bisa membiarkannya. Tidak hanya akan ada korban tapi kota juga bisa hancur."


Setelah mendengar penjelasanku, Riska melepaskan tangannya dan langsung memelukku.


"Aku tahu, tapi aku tidak ingin kehilanganmu."


Wajahnya yang khawatir padaku membuat kepanikan di kepalaku menghilang tapi itu bukan alasan untuk tidak pergi.


"Tenanglah, oke. Aku ini kuat dan tidak ada yang bisa mengalahkanku. Jadi aku pergi dulu ya, honey."


Riska melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dan mengatakan.


"Hati-hati."


"Maaf, apa raja sekalian bisa diam disini dan menjaga semuanya."


"Aku percaya padamu, jadi serahkan tugas disini pada kami."


Semuanya langsung mengangguk dengan pernyataan Altson. Dengan tergesa-gesa aku berlari ke arah sumber mana yang ditunjukkan Lucifer. Arahnya berasal dari arena pertandingan.


"Hahahahaha. Semuanya akan ku hancurkan!"


Saat sampai di sana, seorang pria dengan tubuh yang besar memiliki empat tangan. Dia sedang bertarung dengan sebuah kelompok.


Aku berjalan lebih dekat dan kelompok itu adalah Leon dan yang lainnya. Leon memakai Zirah dan membawa pedang, Sepertinya ia pahlawan.


(”Cih, orang-orang bodoh.”)


"{Zen, iblis itu tidak seberapa kuat tapi dengan kekuatanmu yang sekarang mustahil mengalahkannya.}" (Abbadon)

__ADS_1


"Aku harus bagaimana?"


"{Karena ini adalah tubuh baru jadi kita hanya punya waktu 30 menit.}" (Lucifer)


"Apa yang kau katakan? Aku tak mengerti."


"{Kita akan menggunakan mode iblis, kita akan menyalurkan kekuatan kami padamu.}" (Lucifer)


"Begitu, aku mengerti. Waktu tiga puluh menit. Itu cukup!"


"{Baiklah kita mulai.}" (Abbadon)


"Datanglah, pedang."


Pedang merespon suaraku, saat aku berlari ke arah iblis besar itu dan melompat lalu menebasnya namun ia berhasil menahan Seranganku dengan tangannya.


"Cih."


Aku melompat ke belakang saat dia menyerang balik.


"Hmm. Berani sekali kau menyerangku tiba-tiba."


"Siapa kau? Sebaiknya kau mundur kau tidak akan kuat sanggup melawannya."


Leon yang melihatku menyerang tiba-tiba berteriak dan menyuruhku mundur. Mendengar suaranya membuatku tersenyum.


"Hmm. Kau bahkan tidak melukainya sama sekali tapi berani memerintahku."


"Aku tidak tahu siapa kau tapi dia berbahaya!"


"Lihat." Aku menunjuk tangan yang aku serang tadi, sebuah luka gores. Sebelumnya aku melihatnya saat di serang ia menyembuhkan dirinya dengan cepat, namun sepertinya seranganku berpengaruh padanya. "Lukanya tidak sembuh."


Iblis itu melihat lengannya dan ekspresinya langsung marah dan berteriak dengan keras.


"Sialan! Siapa kau? Berani sekali kau, akan ku bunuh kau."


""Mode Iblis: 10%""


Partikel hitam itu membuat tubuhku terlihat seperti iblis. Sayap hitam, ekor, dan taring muncul.


"Jadi kau juga punya kekuatan dari iblis."


"Salah. Bukan dari iblis tapi ini adalah kekuatan iblis!"


Leon dan yang lainnya diam membeku melihat diriku yang terlihat seperti iblis. Aku berlari ke arahnya saat berlari sebuah petir berwarna hitam keluar dari tubuhku. Hanya dengan satu tebasan aku berhasil memotong lengannya.


"A-apa?! Sialan! Siapa kau?"


Aku tak menjawab pertanyaannya dan mulai berlari sambil mengayunkan pedang. Kali ini kedua kakinya yang terpotong, dia tidak beregenerasi jadi seperti dugaanku kekuatan iblisku bisa mengalahkannya.


"Gah. Kenapa?! Sialan!"


Tangan satunya memanjang dan mulai menyerangku namun karena wujud ini aku bisa bergerak dengan sangat cepat, aku menghindarinya dan memotong lengannya.


Aku berlari dan melompat ke atas kepalanya, dengan sihir Lucifer aku menatap matanya, saat melakukan kontak mata denganku.


Duar...


Meledak! Tubuhnya meledak dan hancur setelah menatap mataku.


"Hah... hah... Berhasil."


Aku sangat lelah setelah menggunakannya dan partikelnya menghilang begitu saja. Aku bahkan sulit untuk berdiri saat akan jatuh.


"Kerja bagus kawan."


Brull menangkapku saat aku mau roboh ke tanah, aku melihat sekeliling. Banyak yang melihat pertarungan itu, dan sementara Leon dan yang lainnya masih membeku di sana.


"Kenapa ... kalian datang kemari?"

__ADS_1


"Aku merasakan manamu berkurang drastis jadi aku datang karena khawatir padamu."


Aku sangat lelah bahkan berdiri pun sulit, Brull tahu aku tidak bisa berdiri ia menggendongku di punggungnya.


"Sejak kapan kalian di sana."


"Saat tubuhmu dibalut sesuatu berwarna hitam."


Selama itu ya, apa aku akan dieksekusi?


Saat aku melihat ke arah tiga raja, mereka hanya melihatku dari kejauhan sambil tersenyum.


"Zen, kau baik-baik saja?"


"Apa ada yang terluka?"


Lilith dan Riska berlari ke arahku dengan penuh rasa khawatir, dan itu juga membuat Leon dan yang lainnya berhenti membeku dan menatapku dengan terkejut saat Lilith memanggilku dengan Zen.


Karena rasa penasaran mereka mendekat. Teo mendekat dengan pakaian seperti Assasin dan dua pisau yang menggantung di pahanya.


"Tadi siapa namamu, kalau boleh tahu?"


Lilith yang ingat untuk menyembunyikan identitasku menutup mulutnya dan mengatakan "Ups." Namun Riska segera menjawab pertanyaannya.


"Ada apa dengan kakakku?"


Reza melihat jawaban Riska seperti kebohongan, ia mendekat dan bertanya lagi.


"Kami hanya penasaran dengan namanya kalau boleh tahu namamu juga."


Dengan tatapan merendahkan dan suara yang dingin menjawab mereka.


"Aku Riska Martel dan dia kakakku Zeon Martel."


Aku melihat Rina terlihat sedih dan hanya menundukkan kepalanya saat melakukan kontak mata denganku.


"Begitukah, maafkan kami."


Aku membisikkan sesuatu pada Brull dan Brull mengatakannya kembali dengan keras.


"Hei, gadis yang di sana kemarilah."


Brull memanggil Rina yang sedang menundukkan kepalanya. Namun dia datang sambil bersembunyi di balik teman perempuannya yaitu Misaki Yukki.


Saat di duniaku, mereka selalu bersama bahkan kami pernah diam-diam berbicara tanpa sepengetahuan siapapun, ia memiliki rambut hitam panjang yang mencapai punggung.


"Ada apa?"


"Kau ikut dengan kami."


"Tidak akan! Kalau kau mau membawa Rina aku juga akan ikut."


Sebelum Brull melanjutkan bicara, Leon mendekat dan menggandeng tangan Rina seperti pasangan. Wajah Rina seperti tidak menyukainya namun ia pasrah.


Sepertinya Leon mengancam Rina. Sudah kuduga, saat aku tidak ada dia semakin berani.


"Kau tidak bisa membawanya, dia milikku."


Dengan penuh kekesalan aku menggunakan sihir kata-kata pada Leon.


"Berlutut."


Dengan satu kata, Leon berlutut dia mencoba berdiri namun ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Riska, Lilith bawa mereka berdua."


Dengan cepat Lilith dan Riska mengikuti perintah Brull dan membawa Misaki dan Rina pergi.


"Hei, mau kemana kita?"

__ADS_1


Kami terus berlari saat mereka sudah tidak terlihat, aku turun dari punggung Brull.


"Apa kalian berdua masih akur?"


__ADS_2