Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Pohon suci


__ADS_3

...Sudut pandang Zen Ignatius...


Setelah melawan iblis Romy, tiba-tiba tubuhku terasa berat dan panas seperti terbakar, setelah itu aku menjadi tidak sadarkan diri. Namun saat ini, aku membuka mataku secara perlahan.


Hal pertama yang kulihat adalah seorang gadis elf sedang tidur sambil memegangi tanganku. Aku tidak tahu sekarang aku berada di mana tapi, apakah ini rumah pohon.


Dari tembok, lantai dan langit-langit terbuat dari kayu yang kokoh. Tubuhku masih terasa agak sakit dan kepalaku terasa sedikit pusing.


"Emm..."


Gadis elf tiba-tiba merespon saat aku mencoba menggerakkan tanganku. Tapi, situasi ini apa artinya.


Aku bahkan tidak mengenal gadis elf ini. Aku menggunakan otakku dan aku mendapatkan sebuah kesimpulan.


Selagi aku tertidur, pasti yang lain bertemu dengan elf dan gadis elf ini merawatku, pasti begitu.


"Kau sudah bangun?"


Gadis elf yang tertidur di sebelah kananku bangun dan langsung mengeluarkan pertanyaan. Sebelum aku datang ke dunia lain ini, aku selalu mengagumi elf, meskipun aku selalu melihat mereka di buku tapi saat ini aku sedang bertatapan dan berbicara langsung dengan elf.


Sebagai seorang kutu buku, ini adalah situasi yang sangat penting bagiku. Aku menarik nafas panjang lalu menanggapi mereka.


"Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah merawatku, dan maaf sudah merepotkan mu."


Di akhir aku membungkuk dan meminta maaf padanya.


"Tidak, tidak. Kalau kau baik-baik saja maka aku juga turut senang."


Di tersenyum dan seketika wajahnya mirip dengan seseorang yang aku kenal. Tanpa aku sadari air mata mengalir keluar dari mataku dan menyebutkan satu nama yang terlintas di kepalaku.


"... Rena ... ?"


"Ya?"


Gadis elf itu tersenyum sambil memiringkan kepalanya, namun saat ia melihat air mataku keluar dia menjadi agak panik.


"Eh? Eh? Kau menangis? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu sedih?"


Dia terus membungkuk sambil mengucapkan maaf berulangkali seperti mantra.


"Maaf, maafkan aku."


Aku tersenyum dan merasa senang melihatnya seperti ini, tapi apa-apaan perasaan nostalgia yang kurasakan ini? Aku merasa sudah pernah bertemu dengannya.


"Kau tidak salah apapun, maafkan aku karena tiba-tiba menangis. Aku seperti anak kecil saja ya."


Aku tersenyum sambil mengusap air mataku dengan tanganku. Namun, dia tiba-tiba tersenyum lalu tertawa dengan keras.


"Pfft... hahaha. Maaf, maaf. Kau sangat lucu, saat kau menyebut namaku kau terlihat manis sekali."


Dia mencubit pipiku saat ia mengatakan manis padaku, tapi saat ia mencubit pipiku, aku merasa perasaan hangat yang kurasakan saat ini berlangsung lama.


"Lepaskan!"

__ADS_1


Suara teriakan terdengar dari luar, dengan segera aku beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar.


Seorang pria tua sedang mencoba menahan kedua tangan elf lalu menjulurkan lidahnya, sementara elf lainnya ketakutan dengan banteng yang siap menyerang kapan saja.


Dengan cepat aku melompat dari balkon lalu melemparkannya dengan sihir gravitasi.


"[Sihir gravitasi: Pendorong]"


Banteng itu terlempar ke belakang dan mengenai pria tua itu, pria tua itu tahu kalau bantengnya mengarah padanya dan melempar gadis elf ke samping namun saat ia ingin menghindari itu, dia terlambat dan ikut terhempas.


Kepalanya membentur pohon yang ada di belakangnya hingga daun dari pohon itu berjatuhan.


Perhatian para elf langsung tertuju padaku, ekspresi sedikit kesal terlihat di wajahku karena sifat pria tua itu.


"Oi, katakan padaku apa yang sedang kau lakukan barusan?"


Aku menghiraukan pandangan para elf padaku, dan aku berjalan menuju pria tua yang terkapar.


"Aduh, sakit sekali. Siapa itu?!"


Hanya sekilas saja, aku tahu kalau yang tadi itu dia mencoba menodai kesucian elf itu. Namun, entah kenapa aku merasa kesal tidak hanya dengan sifatnya tapi juga dengan wajahnya.


"Aku sedang bertanya padamu, bajingan."


Aura mana yang aku tahan bocor dan menyebar ke mana-mana, pria tua itu ketakutan dan banteng itu langsung menghilang setelah melihatku.


Jadi banteng itu familiarnya, ya.


"S-Siapa kau!?"


"Meskipun kau sudah dewasa tapi kau mengompol seperti anak kecil, sungguh menjijikan."


Setelah dia mengompol di celana, dia pingsan ketakutan. Dia tidak mendengarnya, ya.


Aku menarik nafas panjang dan menahan mana yang keluar dari tubuhku. Aku menoleh ke belakang dan langsung membungkukkan badanku.


"Aku minta maaf!"


"Kenapa kau minta maaf?"


Gadis elf tadi maksudku-, Rena tersenyum dan mengelus kepalaku.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongnya."


"Anu..."


Gadis elf yang hampir dinodai tadi mendekat padaku, sikapnya yang malu-malu dan pipinya yang merah membuatnya terlihat sangat imut.


Dia mencoba mengatakan sesuatu tapi suaranya tersendat di tenggorokannya.


"Terima kas... ah!"


Ah, lidahnya tergigit.

__ADS_1


"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah merawatku."


Sekali lagi aku membungkukkan badanku dan berterima kasih namun suara asing dari dalam kerumunan.


"Tidak. Aku senang melihatmu sehat, tuan Zen. Apa kau membutuhkan sesuatu."


Seorang gadis elf lainnya. Ia memiliki rambut merah muda panjang yang mencapai bahu, aura erotis dan menggoda terasa darinya. Senyumnya yang manis dan kulitnya yang putih membuatnya terlihat cantik.


"Terima kasih, ngomong-ngomong anda ini siapa?"


"Ara, maafkan aku. Kau bisa memanggilku Karen."


Saat ia menyebutkan namanya, pipiku memerah seperti tomat tanpa aku sadari, Karen hanya tersenyum saat melihatku.


Aku menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan pikiran aneh yang akan terlintas di otakku.


"Kenapa kau terlihat bingung begitu?"


"Sebenarnya, kenapa aku ada di sini? Dan dimana teman-temanku?"


Saat aku bertanya, wajah mereka menjadi serius dan menyuruhku untuk ikut dengan mereka. Aku mengikuti mereka dari belakang, aku di bawa ke sebuah pohon yang sangat besar bahkan tingginya sampai menyentuh awan.


Aku menggunakan otakku dan aku mengenali pohon ini. Dalam buku yang aku baca ini adalah pohon suci.


Aku melihat mana yang sangat kecil di dalam pohon, itu terlihat seperti api obor yang hampir padam.


"Bukankah ini pohon suci? Kenapa kalian membawaku ke sini?"


"Benar, kau juga mungkin bisa mengetahui kalau mana di dalam pohon ini sangat kecil."


Memang benar kalau mananya sangat kecil tapi apa hubungannya denganku? Tidak, dalam buku pohon suci itu merupakan sumber kehidupan. Itu artinya jika mana dalam pohon habis maka pohon akan mati dan para elf mungkin akan kesulitan bertahan hidup.


"Ya aku tahu, atas pesan yang dikirim pohon suci. Kalian membawaku untuk bertemu denganku, begitu?"


Para elf terkejut saat aku menjelaskan, itu artinya tebakanku benar. Tapi, sekarang sudah bertemu denganku tapi apa yang harus kulakukan?


Saat aku masih berpikir, Abbadon dan Azazel mengatakan sesuatu.


{"Kau ini tidak peka sekali."} (Abbadon)


{"Apa kau tidak mendengarnya? Dia sejak tadi berbicara denganmu, tahu?"} (Azazel)


Eh? Berbicara? Tapi aku tidak mendengar apapun.


{"Lepaskan mana yang kau tahan."} (Azazel)


{"Mana yang kau tahan menghalangi komunikasimu dengan pohon suci."} (Abbadon)


"Kalian bisa berbicara dengannya? Baiklah, tapi apa tidak masalah kalau aku melepaskan mana ku di sini?"


{"Tadi kau melepaskan manamu bukan? Mereka tidak ketakutan ataupun merespon yang artinya kau aman."} (Abbadon)


Aku melepaskan mana dalam tubuhku, aku sendiri bisa merasakan mana yang aku lepaskan terasa mengerikan. Tapi, aku langsung kembali ke pohon suci.

__ADS_1


"Apa kau sekarang bisa mendengar suaraku?"


Wah, ternyata aku bisa berkomunikasi dengan pohon suci.


__ADS_2