
Zen dan rombongannya telah sampai di istana. Mereka mengikuti ksatria ke ruang takhta.
"Yang mulia, mereka sudah tiba."
"Biarkan mereka masuk."
Pintu terbuka dan mereka melangkahkan kaki ke ruang takhta. Saat mereka masuk, sang raja terkejut.
"Yo. Kita bertemu lagi, Akira."
Para ksatria mencoba menodongkan senjata mereka pada Zen karena ia bersikap tidak sopan namun Akira menyuruhnya berhenti dengan mengangkat tangannya.
"Hm? Hahaha. Seharusnya kau mengatakan padaku kalau ingin datang."
Dia berdiri dan mendekat pada Zen.
"Jadi, raja yang periang ternyata percaya akan adanya pahlawan."
"Tentu saja. Lagipula negara ini bisa tetap berdiri berkat pahlawan yang berperan besar dalam perang manusia iblis."
Sungguh tidak di duga. Orang tua ini mengetahui tentang kejadian seribu tahun yang lalu yang sekarang menjadi sebuah legenda.
Akira berlutut di depan Rena yang membawa pedang Durandal di tangannya.
"Tuan Pahlawan. Akhirnya anda kembali."
"Terima kasih. Berdiri lah, tidak seharusnya seorang raja membungkuk pada seorang gadis."
"Ahahaha. Maafkan saya."
Sifat Rena yang baik hati membuatku senang. Ingatanku belum sepenuhnya kembali tetapi perasaanku mengatakan kalau Rena tidak berubah sejak dulu.
"Apa hanya itu yang ingin kau lakukan dengan menyuruh kami datang kemari."
"Sepertinya kau sedang terburu-buru. Tapi ya, aku akan senang kalau kalian mau ikut makan bersamaku. Karena pahlawan telah kembali, aku ingin merayakan pesta."
Masih ada waktu. Aku berharap ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya tapi tidak perlu terburu-buru. Aku masih belum memikirkan tujuan selanjutnya.
"Tentu, kenapa tidak kau lakukan saja. Masih ada banyak waktu."
"Ahaha, kalau begitu. Besok aku akan mengadakan pesta jadi kuharap kalian datang."
"Tentu, tapi sayangnya aku tidak ikut."
__ADS_1
Semua melihatku dengan terkejut. Aku tahu apa yang ingin mereka katakan. Tapi aku sedang malas melakukan hal seperti ini.
"Apa kau serius Zen?" Tanya Brull.
"Kalau kalian ingin ikut maka ikut saja. Aku ... sedang tidak mood bertemu banyak orang."
Semua memperhatikanku dengan cemas. Setelah makan malam bersama, kami diberi kamar untuk beristirahat oleh Akira.
Dia terlalu baik sebagai raja tapi kurasa karna dia seperti itulah alasan mengapa dia menjadi raja.
Kami diberi kamar, awalnya hanya diberi tiga kamar namun karena aku ingin sendiri, Akira memberikan satu kamar khusus untukku.
Rina bersama Rena, Riska bersama Laura dan Lilith sementara Brull bersama Misaki. Totalnya ada 3 kamar dan aku sendirian.
Kamarku tidak berbeda dengan yang lainnya. Ruangan luas yang dia dua ruang dijadikan satu. Tempat tidur yang luas dan beberapa furniture lainnya seperti sofa, meja dan lain-lain.
Aku menatap langit malam keluar jendela. Angin malam berhembus sejuk. Di saat seperti ini entah kenapa aku merasa sangat sedih.
Aku rasa penyebabnya adalah kehilangan Roy. Tapi aku sudah membalaskan dendam mereka.
Meskipun sudah balas dendam sekalipun tidak ada yang berubah. Roy tidak akan kembali dan orang-orang di guild juga tidak akan hidup kembali.
Jika diriku yang dulu, saat masih menjadi raja iblis, apa yang akan dia katakan? Dan apa yang akan dilakukannya?
{"Tidak seperti dirimu saja."} (Abbadon)
Ini adalah suara Abbadon.
{"Dengar, dalam kehidupan ini kematian adalah hal yang biasa. Jangan terlalu memikirkannya, itu hanya akan menambah masalah."} (Abbadon)
Dia benar. Meskipun begitu, aku tidak bisa menghilangkan pikiran ini.
{"Ubah kesedihan menjadi kekuatan. Gadis itu bilang begitu padamu bukan? Daripada memikirkan kematian mereka, lebih baik kau fokus saja pada tujuanmu. Dengan begitu, aku yakin mereka akan senang dari alam sana."} (Abbadon)
Benar juga. Aku hampir melupakan tujuanku, aku datang ke sini untuk menyelesaikan masalah dengan Gerheim lalu kembali ke bumi. Aku tersenyum karena aku merasa bahagia bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
...----------------...
Di dalam kamar, Rena dan Rina sedang duduk dan asyik bercerita.
"Eh... Tidak kusangka dia seperti itu."
Rena terkejut dan kagum saat mendengar cerita Rina tentang Zen selama di bumi.
__ADS_1
"Lalu ... Dia selalu bersikap baik namun saat masalahnya membesar, Zen berubah 180 derajat."
Rena mengangguk karena ia sangat paham. Dia tidak berubah sedikitpun meskipun sudah bereinkarnasi. Dulu saat bawahan terpercayanya mati, dia membantai negara dalam semalam. Pahlawan tidak sempat menyelamatkan mereka dan raja iblis Zen sudah pergi.
Zen selalu menjadi lebih kejam jika itu bersangkutan dengan temannya. Meskipun Rena adalah pahlawan namun yang dia pikirkan bukan menyelamatkan temannya tapi seluruh dunia.
"Ngomong-ngomong, Rena. Kau bilang kau pahlawan bukan? Kalau begitu, bisa ceritakan padaku apa yang terjadi antara kau dan Zen saat dulu."
Rena tersenyum. Akhirnya ada yang tertarik dengan cerita anak-anak ini.
"Tentu. Dahulu kala. Saat dunia masih damai sebuah berita muncul dan menggemparkan dunia. Itu adalah kebangkitan raja iblis."
Rena meminum teh dan melanjutkan ceritanya.
"Saat itu, banyak sekali pasukan iblis menyerang manusia. Baik anak-anak maupun lansia semuanya terbunuh. Tujuan mereka adalah menguasai umat manusia dan menjadikannya budak."
"Dari waktu ke waktu, raja iblis berganti. Suatu ketika, seorang anak muda menggantikan posisi raja iblis dan dikatakan bahwa dia adalah raja iblis terakhir. Dia adalah Zen."
Rena menghela nafas karena dia agak lelah berbicara panjang lebar.
"Di sisi lain, bangsa manusia akhirnya memiliki sebuah harapan. Itu adalah aku. Seorang gadis kecil yang dipilih oleh sebuah pedang suci." Rena menatap Durandal yang ada di dekatnya.
"Aku diperintahkan oleh kerajaan untuk menghentikan serangan raja iblis. Pertarungan demi pertarungan, pihak manusia belum bisa menang melawan raja iblis. Namun, setiap kali aku melawan Zen. Dia tampak tidak senang."
Rina masih mendengarkan dengan serius. Dia tampak tertarik dengan cerita lama ini.
"Pada suatu waktu, seseorang datang dan mengaku dirinya sebagai dewa. Dia juga mengatakan bahwa dialah yang merancang perang ini selama berabad-abad. Zen kesal dan bertarung dengannya. Baik manusia maupun iblis sangat marah dan mereka bekerja sama untuk melawannya."
Rena menghela nafas kembali.
"Meskipun Zen dan aku sudah bekerja sama dan melawannya, kami sama sekali tidak berdaya. Kekuatannya sangat besar. Bahkan Zen yang dikenal sebagai raja iblis terkuat pun kekuatannya dapat di segel olehnya. Saat kematian mendatangi kami, kita berdua akhirnya mengerti perasaan yang selama ini mengganggu kami. Kami berdua saling mencintai dan kami mengatakan mimpi kami yang tidak akan pernah terwujud."
"Mimpi seperti apa?"
Rena tersenyum lembut dan melihat ke langit-langit.
"Berharap kami berkeluarga dan memiliki seorang anak gadis yang cantik."
Rina terkejut. Mereka terus bertarung sebagai musuh namun sebenarnya mereka saling mencintai. Karena perbedaan dan tanggung jawab yang mereka pikul. Keduanya harus mengalami rasa sakit yang mengerikan. Tanpa sadar, air mata Rina mengalir.
"Eh? Tung... Jangan menangis."
"Maafkan aku. Mendengar ceritamu, kalian melalui masa yang mengerikan dan akhirnya bisa bersama namun mengingat masalah yang sekarang di hadapi Zen, dia masih harus menanggung tanggung jawabnya di masa lalu sebagai raja iblis."
__ADS_1
"Kau benar. Sepertinya para dewa tidak menyukai dia hidup bahagia."