Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Zen vs Melves


__ADS_3

"Kenapa kau melepaskan mereka?"


"Brull, aku tahu kau marah tapi mereka itu di manfaatkan oleh Melves jadi itu bukan salah mereka."


Brull menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, dan saat dirinya sudah mulai tenang ia bertanya.


"Jadi, sekarang bagaimana?"


"Karena sudah begini, kita kejar mereka. Kemungkinan Melves ada di sana."


Kami langsung berlari mengejar mereka, kami sampai di sebuah desa. Desa itu sudah di penuhi oleh api yang berkobar di mana-mana dan banyak bercak darah.


"Apa yang terjadi?" Kata Misaki


"Mengerikan." Ucap Riska


"Sungguh tak berperasaan." Kata Rina


Saat aku melihat ke depan, ada sebuah bangunan besar sepertinya itu adalah gereja. Dari semua bangunan yang ada hanya gereja itu yang sama sekali tidak terbakar ataupun rusak.


Ini sangat aneh.


"Apa kau merasakannya Brull?"


"Ya, aku yakin di sana ada banyak iblis."


"Apa?!" Para gadis terkejut.


Kami berlari masuk namun saat aku akan masuk, aku terpental ke belakang.


"Zen!"


"Kau tidak apa-apa?"


Apa yang terjadi? Aku tidak bisa masuk ke dalam.


"{Kau ini bodoh ya?}" (Lucifer)


"{Kau pikir iblis bisa masuk ke dalam sana?} (Abbadon)


Kenapa tidak bilang dari awal. Tubuhku sangat sakit, itu artinya hanya aku yang tidak bisa masuk ke sana ya.


"Aku baik-baik saja, sepertinya aku tidak bisa masuk ke dalam jadi kalian saja yang masuk."


"Tapi..."


Mereka terlihat ragu untuk masuk ke dalam, jadi mereka tidak bisa melakukannya tanpa aku ya.


"Tenang saja, tidak perlu ragu. Aku akan baik-baik saja di sini."


Namun saat itu juga sebuah serangan keluar dari dalam gereja, dengan cepat Brull membuat tembok tanah.


"[Earth wall]"


"Haha, ternyata aku terlalu meremehkanmu Raja iblis. Tidak kusangka kau akan sampai kemari."


Seorang pria berjalan keluar dari dalam gereja, dari suaranya dia adalah Melves.


Brull dan yang lainnya langsung mengambil posisi siap bertarung. Mereka waspada dengan sihirnya Melves ya.


"Aku tidak tahu apa rencanamu tapi yang pasti aku akan menghentikan rencanamu."


Aku langsung segera mengeluarkan pedang dan menodongkannya ke depan.

__ADS_1


"Oh, kau ingin bertarung ya? Baiklah, maju lah, Raja iblis!"


"Kalian mundur saja, dia biar aku yang urus."


Mereka langsung mundur dan berdiri di belakangku, melihat wajahnya yang sombong benar-benar membuatku semakin ingin membunuhnya.


"Kalau begitu, bersiaplah. Melves!"


Aku menerjang ke Melves namun sesuatu yang tak terlihat sedang melindunginya sehingga pedangku tidak sampai padanya.


"Percuma saja."


Dasar sombong tapi...


Aku memasang kristal merah dan terus menekan perisai tak terlihat yang menghalangi.


Aku pun mundur karena sangat keras bahkan api yang keluar tidak membuatnya hancur.


"Haha. Kau pikir bisa menghancurkan perisai tak terlihat milikku?"


Aku mengganti kristal merah dengan kristal biru. Dari jarak sejauh ini aku akan menghancurkannya.


Aku terus mengayunkan pedangnya agar perisainya hancur dengan cambuk tapi sepertinya ini percuma saja.


"Cih, kerasnya."


"Kau terlalu banyak bermain-main, terima ini, Wahai angin hancurkan musuhmu dengan angin. [wind cutter]."


Serangan angin datang ke arahku dengan cepat aku berhasil menghindarinya namun angin itu mengenai tembok batu yang di buat Brull dan membelah menjadi dua.


Jadi begitu serangan yang barusan itu bisa membelahnya menjadi dua.


Aku dengan cepat menggunakan skillku juga.


"[Wind Bullet]"


Krek...


"Haha, serangan lemah seperti itu tidak akan bisa mengenaiku."


"[Multiple]"


Skill ini bisa memperbanyak skill lainnya, lingkaran sihir berjejer di langit dan aku menambahkan [Wind Bullet], sekitar ratusan serangan peluru angin menyerang Melves.


Krek...


"Apa?!"


Sepertinya dia sudah menyadarinya, suara retakan itu berbunyi jadi tidak mungkin Melves tidak mengetahuinya.


Dia melompat ke samping dan menghindari serangan beruntun milikku.


"Sudah kuduga kau berbahaya, tapi untuk saat ini aku akan membiarkanmu."


Mau kabur ya? Aku berkonsentrasi dan memfokuskan pandanganku pada Melves.


"[Poison control: Curse poison]"


"Gah!"


Sepertinya aku berhasil mengenainya.Tapi ia berhasil menghilang dengan sihirnya.


Aku sudah memberikan racun pada tubuhnya aku yakin hidupnya tidak akan lama lagi.

__ADS_1


"Kau yakin membiarkannya begitu saja." Tanya Riska


"Ya, racun itu akan menggerogoti tubuhnya." Jawabku


"Sekarang kita akan kemana?"


"Apa yang kau katakan, tentu saja kita akan kembali ke kota."


***


Sementara itu Melves yang berhasil lari.


"Sial, kekuatannya meningkat dari yang aku duga."


"Kau kalah darinya, Melves?"


Seseorang yang misterius sedang berbicara dengan Melves.


"Kau yang hanya diam saja, tahu apa."


"Padahal dia belum serius tapi kau sudah babak belur ditambah kau terkena racun kutukan."


Pria itu menghina kekalahan Melves.


"Cepat bantu aku, lain kali aku pasti akan membuatnya menderita."


"Hah, kau ini tidak pernah belajar ya? Kalau tuan Gerheim melihatmu seperti ini dia pasti sudah membuangmu."


"Terserah saja, yang aku lakukan semuanya untuk tuan Gerheim."


Pria misterius itu menyembuhkan Melves dengan sihirnya, cahaya redup itu menghilangkan racun di tubuh Melves.


"Bagaimana persiapanmu?" Tanya Melves


"Belum selesai, tapi setidaknya ada 1000 iblis yang siap bertempur." Jawab pria misterius sambil menatap sebuah pintu raksasa di depannya.


"Begitu ya, kupikir kau akan bermalas-malasan."


"Aku tidak seperti dirimu yang langsung mengubahnya menjadi iblis, sementara aku menculik mereka dan mengubahnya secara massal."


"Lupakan saja, untuk sekarang bagaimana rencana kita selanjutnya. Aku yakin kau tahu kalau portal kehancuran menghilang satu-persatu."


"Ya, aku tahu. Meskipun aku tidak tahu siapa yang melakukannya tapi aku tidak yakin kalau kelompok manusia lain itu yang melakukanya."


"Sial, siapa yang berani melakukan hal itu." Melves berteriak dan memukul tembok di sebelahnya hingga berlubang.


Pria itu menatap Melves, Melves yang menyadari tatapannya merasa bingung.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tunggu, jangan bilang si raja iblis yang melakukannya?"


Pria misterius itu hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, Melves tersenyum dan mengusap kedua tangannya.


"Aku yakin dia yang melakukannya, aku punya ide yang sangat bagus."


***


Kembali ke kota Valmas.


Aku dan yang lainnya kembali dan menceritakan apa yang terjadi pada William, ia terlihat serius sepertinya ia sedang memahami situasi di kepalanya.


"Hmm. Kalau itu benar maka kita dalam bahaya, tapi aku tidak bisa membantu banyak."


"Setidaknya beri aku saran, saat ini dunia dalam bahaya jadi aku tidak bisa duduk diam."

__ADS_1


"Kalau itu yang kau mau, aku sarankan kau meminta bantuan ke kerajaan lain, bukankah kau dekat dengan ketiga raja. Aku yakin mereka akan membantumu."


Yang dikatakannya masuk akal, kenapa aku tidak melakukannya sejak awal? Jika aku memiliki kekuatan militer sebanyak itu, aku yakin kita bisa menghentikan Iblis yang mengamuk.


__ADS_2