
Aku terjatuh ke dasar dan sulit bernafas, tubuhku terasa berat.
"Apa kau mau ku bantu?"
Padahal sebelumnya Azazel selalu mengantuk dan tidur setiap kali aku bertanya, namun ia tiba-tiba menawarkan diri, pasti ada apa-apanya ini.
"Bagaimana kau membantuku?"
Azazel menghela nafas berat, dan entah kenapa itu membuatku kesal.
"Pinjamkan tubuhmu padaku."
"Baiklah."
Tanpa berpikir panjang aku langsung menerimanya dan meminjamkan tubuhku.
Seketika tubuhku bergerak dengan sendirinya, tubuhku berenang mengambil crystal biru yang berada di dasar lalu berenang ke permukaan.
"Uhuk... uhuk..."
"Zen."
"Kawan."
"Zen."
Riska, Brull dan Lilith langsung berlari ke arahku dan menarikku naik.
Aku menarik dan membuang nafas secara berulang-ulang sambil berbaring untuk menghilangkan sesak.
Mereka bertiga langsung menghindar dari sebuah tentakel besar yang keluar dari air dan mengenaiku yang sedang berbaring.
"Zen."
Mereka panik dengan kondisiku. Aku secara reflek langsung menahan tentakel itu dengan pedang.
Riska menggunakan apinya dan membakar tentakel itu. Tentakel itu masuk ke air.
"Zen, kau tidak apa-apa."
Mereka kembali padaku dan membantuku berdiri, tidak lama empat tentakel keluar dari air dan menyerang kami secara bersamaan.
Brull langsung mengeluarkan palunya dan menahan empat tentakel itu.
"Aku akan menahannya, kalian larilah."
Brull menahan tentakel itu agar kami bisa lari. Namun, kakiku tidak bisa ku gerakan sama sekali, kakiku mati rasa.
Riska langsung menggendongku dan masuk ke dalam hutan.
Kami berdiam di bawah pohon. Aku duduk sambil mencoba menggerakkan kakiku.
"Zen, kau tidak apa-apa?"
Riska terlihat khawatir.
"Tenang saja. Aku baik-baik saja."
Lilith datang dengan nafas yang terengah-engah.
"Riska, kenapa kau meninggalkanku."
Lilith sangat kelelahan setelah berlari dan merasa sedih saat saat ditinggalkan.
"Oh, ternyata kau selamat."
Riska tidak terlihat khawatir dan wajah Lilith seperti ingin menangis.
Kakiku sungguh tidak bisa digerakkan, sepertinya tentakelnya membuat kakiku mati rasa.
Aku menggunakan sihir penyembuh pada kakiku.
"[Ex Mega Heall]"
Cahaya berwarna hijau menyelimuti kakiku dan terasa hangat. Aku mulai bisa merasakan kakiku namun sebuah cairan berwarna ungu tiba-tiba muncul di kakiku.
__ADS_1
Apa ini? rasanya sangat berbahaya.
"Zen, apa itu?"
"Aku juga tidak tahu."
Aku dan Riska sedang berpikir apa cairan ungu ini. Lilith mendekat dan mengatakan sesuatu.
"....Racun...."
Aku dan Riska melihat Lilith.
"Lilith, apa kau tahu apa ini?"
"Ya... ini adalah racun. Namun sepertinya ini racun mematikan."
Mendengar itu membuatku sangat terkejut dan langsung berlari ke tempat Brull.
Riska dan Lilith mengikutiku dari belakang.
Saat sampai Brull masih bertarung dengan gurita itu. Namun, wajahnya terlihat sangat pucat seperti mayat.
Aku memerintah Riska dan Lilith.
"Riska, serang dia dengan apimu dan Lilith, kau lindungi Brull."
"Baik."
"Siap."
"[Flame: Burn]"
Enam tentakel yang keluar terbakar seperti kertas. Brull langsung ditangkap oleh Lilith karena terlalu berat mereka terjatuh.
Aku dengan cepat berlari ke arah Brull, wajahnya sangat pucat dari sebelumnya dan ia sepertinya sedang menahannya.
"Brull, bertahanlah."
"Ka...wan?"
"Jangan bicara dulu. [Ex Mega Heall]"
"Lilith, kau jaga Brull."
"Baik."
Aku mengeluarkan pedang dan memasang crystal biru pada pedang. Bilah pedangnya berubah menjadi seperti cambuk berwarna biru.
Delapan tentakel keluar dari air secara bersamaan dan menyerangku.
"Zen, awas."
Riska berteriak dan dengan cepat aku mengayunkan pedangnya dengan satu tangan.
Riska dan Lilith sangat terkejut hingga ternganga, delapan tentakel itu langsung terpotong setelah aku mengayunkan pedang.
Tentakel yang terpotong itu berjatuhan namu tidak mengenaiku. Aku berlari dan melompat ke dalam air.
Aku melihatnya. Tentakel gurita itu beregenerasi. Namun, sebelum regenerasinya selesai aku memotong kepala gurita itu dengan dua ayunan.
Meskipun sudah hancur, ia masih beregenerasi dan aku melihat cairan yang keluar dari gurita berkumpul di sebuah bola seperti bola tenis berwarna merah dan gurita itu kembali normal.
"Sepertinya itu kelemahannya. Ini menarik."
Aku terus mengayunkan pedang berulang kali dan setelah bola itu terlihat aku dengan cepat meyerangnya. Namun, itu hanya membuat retak saja.
"Sepertinya ini tidak akan mudah."
Aku berenang ke atas dan menggunakan angin di sepatu untuk terbang. Karena retakan itu, ia hanya bisa meregenerasi empat tentakel.
"Kau terlalu lama, Bertukarlah."
Saat terbang di langit aku bertukar dengan Azazel. Azazel menebas tentakel itu dengan beberapa ayunan, berkat itu regenerasinya membutuhkan waktu. Cambuknya memanjang dan dengan cepat, Azazel mengayunkan pedangnya dan mengenai bola itu. Bolanya hancur dan menghilang.
Kami kembali ke desa setelah mengalahkan gurita dan bersiap-siap kembali ke kota Valmas.
__ADS_1
Brull berada di ruang tamu yang masih belum sadar dan sedang berbaring di sofa. Lilith sudah pulang ke rumahnya, sementara aku dan Riska sedang di dalam kamar.
"Zen, kau yakin melakukan ini?"
"Ya, ini adalah rasa terima kasihku."
"Begitu."
Aku menggunakan skill kreasi dan mengubah kamar menjadi lebih ramai, kasur yang sudah ku pakaikan Seprai berwana merah dengan corak berwarna biru. Lantai dan dinding hingga langit-langit di bersihkan hingga mengkilap.
"Selesai."
"Zen, bukankah ini terlalu berlebihan."
Riska murung dan mengatakan sesuatu yang aneh.
"Apanya yang berlebihan, tidak ada yang berlebihan."
Riska langsung berbaring di kasur.
"Riska, apa yang kau lakukan. Itu baru saja ku rapihkan."
"Aku lelah setelah pertarungan tadi."
Aku menghela nafas panjang melihat Riska berprilaku seperti ini.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu, jadi jangan tiduran di situ."
Riska langsung berdiri dengan semangat dan mengatakan keinginannya.
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu darling dan kau harus memanggilku honey."
Permintaan macam apa itu?
"Ba-Baiklah aku akan mengabulkannya, jadi bereskan kembali tempat tidurnya."
"Tidak mau, kau harus mengatakannya dengan jelas."
Riska menyilangkan lengannya dan membuang muka. Tapi aku merasa malu melakukan itu.
"Ho-Honey to...long ra-rapikan kembali tem...pat tidurnya."
"Apa? aku tidak mendengarnya. Katakan lebih keras."
Aku sangat malu mengatakannya tapi sepertinya Riska tidak akan berhenti menggodaku sampai aku mengatakannya.
"Honey, tolong rapikan kembali tempat tidurnya kalau tidak aku akan menghukummu."
"Baik..., dar-ling~"
Riska merapikan tempat tidurnya dengan ceria dan aku bisa melihat senyumnya yang tidak berhenti dan jantungku tidak bisa berhenti berdetak kencang mendengar ia bilang darling padaku.
Brull sudah sadar dan kami berada di depan gerbang desa yang sedang berpamitan pada warga.
"Terima kasih atas makanannya."
"Semoga kalian sehat selalu."
Riska dan Brull sedang berpamitan dengan para warga dan aku sedang berbicara empat mata dengan kepala desa.
"Pak tua, terima kasih untuk makanan dan tempat tinggalnya."
"Tidak perlu berterima kasih harusnya kami yang berterima kasih karena sudah menyelamatkan desa kami dari para orc."
Ia membungkuk dan berterima kasih padaku.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, sampai jumpa."
Aku berjalan ke arah gerbang desa yang Riska dan Brull sedang menunggu.
"Sampai jumpa, nanti main kemari lagi ya."
Warga desa berteriak dan melambaikan tangan mereka.
Tepat beberapa langkah suara teriakan terdengar dari belakang.
__ADS_1
"Hei, tunggu aku~"
Aku menoleh dari bahuku, Lilith berlari ke arah kami sambil membawa tas besar.