
"A-apa flame wolf itu jinak?"
Wanita yang memeluk kami menanyakan itu dengan menunjuk ke arah Ignis.
"Tentu saja, dengan kekuatan Zen kalian bukan apa - apa."
Riska menjawab dengan nada yang sombong, seakan dia yang melakukannya.
"Maafkan kami, kami hanya terkejut karena binatang sihir biasanya ganas dan sulit dijinakkan, apalagi Flame Wolf yang merupakan salah satu binatang sihir no 5 di ensiklopedia mahluk sihir."
mereka bersujud dan meminta maaf pada kami, tapi melihat mereka mereka sepertinya petualang sama seperti Riska, mungkin aku bisa mendapatkan informasi tentang partynya Riska.
"Baik aku maafkan. Tapi, dengan satu syarat."
"Apapun syaratnya kami akan berusaha."
Mereka langsung menyetujui syarat begitu saja tanpa mendengarkannya dulu, tapi ya sudahlah. Aku berbisik dengan Riska untuk mengetahui nama temannya itu.
"Siapa nama temanmu? mungkin mereka tahu tentang partymu?"
"Kau benar, ketua namanya Maria Kyoko, Nanami Megumi, dan Ryuusuke Egil."
Setelah mendengar nama temannya, aku mendekati mereka dan menanyakan teman Riska.
"Kalau begitu, apa kalian tahu seseorang bernama Maria Kyoko?"
"Maria Kyoko?"
Mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah yang bingung tapi sala satu pria yang memakai mantel terlihat mengetahui sesuatu.
"Ah, aku tahu dia, dia yang menyerang dan mengambil uang kita waktu di pasar."
"Oh, aku ingat wanita itu."
Aku terkejut kupikir yang bernama Maria ini mungkin dalangnya tetapi setelah mendengarnya rasanya aku ingin menemuinya dan membunuhnya.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama menangkap Maria ini, dengan begitu kalian dapatkan kembali barang kalian."
"Baiklah, tapi kita tidak tahu dimana dia sekarang."
Aku tidak berpikir menemukan orang itu sulit, tapi yang sulit adalah menemukan petunjuk, karena ada kota di barat mungkin kita mulai dari sana.
"Disana ada kota, bagaimana kalau kita mulai dari sana."
"Kau benar."
Aku dan Riska naik ke punggung Ignis, sedangkan mereka berjalan, tapi melihat si Roy ini tidak bisa berjalan dengan benar akan merepotkan jadi aku memutuskan untuk menyembuhkannya.
"Berhenti."
"Ada apa, Zen?"
__ADS_1
"Ada apa tuanku?"
"Bi-bi-bisa bicara!"
Mendengar Ignis berbicara mereka terlihat sangat terkejut karena wajar dia tidak bicara dari tadi.
"Namamu Roy kan?"
"Ya, ada apa?"
"Melihatmu tidak bisa berjalan dengan baik sangat menggangu, jadi aku akan menyembuhkanmu."
Teman - temannya membantunya duduk di tanah, lalu wanita yang mengenakan pakaian penyihir berwarna biru sepertinya pacar Roy, ia mengatakan padaku dengan wajah kasihan menatap Roy.
"Terima kasih atas bantuanmu tapi aku sudah mencoba menggunakan sihir penyembuhku tapi tidak berhasil jadi percuma saja."
Aku merasa kalau skill penyembuhku diremehkan, aku menghela nafas dalam hatiku dan menghiraukan apa yang dikatakannya dan mendekati Roy, aku menyentuh kakinya dan menggunakan skillku.
"[ex mega heall]"
Cahaya berwarna hijau terang keluar dari tanganku dan menyelimuti kaki Roy, ekspresi Roy terlihat bercampur aduk antara senang dan kagum, teman - temannya pun terkejut melihatnya.
"Bagaimana sekarang?"
"Wah! Tidak terasa sakit lagi."
Ia terlihat sangat senang sambil mengerakkan kakinya, ia menatap teman - temannya dengan wajah yang senang dan memeluk bersamaan seperti bocah berumur 7 tahun yang sedang bermain bersama.
Karena terasa bosan hanya berjalan tanpa berbicara, Roy mulai membuka pembicaraan.
"Oh iya namamu Zen ya, sebelumnya kita belum berkenalan kan?"
"Y-ya"
Namaku Roy Martel, yang mengenakan mantel adalah Leo Martel dan Kei Daisuke."
"Salam kenal."
"Salam."
mereka mengatakan itu sambil melambaikan tangan kepadaku.
"Lalu dua wanita disana adalah Mila Misuzu dan Haruna Kana."
Mereka berdua hanya tersenyum dan melambaikan tangan, dari ekspresi wajah mereka rasanya seperti mereka mewaspadaiku atau hanya perasaanku saja.
Riska langsung memperkenalkan kami dengan senyum yang manis.
Namaku Riska Ignatius."
mendengar nama terakhirnya rasanya dia sengaja menggunakan namaku jadi aku mencoba membantahnya.
__ADS_1
"Oi, sejak kapan namamu berubah dari Scarlett menjadi Ignatius?"
"Hah tidak apa - apa bukan karena namanya lebih keren dan juga artinya hampir sama."
"Bukan itu."
Mereka hanya tertawa begitu juga dengan Ignis menertawakan kami.
"Tuan, wajah anda benar- benar lucu."
Aku menghela nafas berat kerena aku tidak bisa melawan Riska, jadi aku melanjutkan perkenalannya.
"Yah, dia Riska Scarlett, namaku Zen Ignatius dan dia bukan flame wolf, dia Ignis."
Wajah Mila terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu padaku.
"Uh, apa ada yang kau tanyakan padaku?"
"Eh?"
Wajahnya terlihat agak panik dan semua mata mulai melihat ke arah Mila.
"Ah ya, dari mana kau belajar sihir tanpa rapalan seperti barusan."
Saat mendengar itu awalnya aku agak merasa bingung, memangnya tanpa rapalan itu tidak biasa ya setelah melihat ekspresi wajahnya saat bertanya akhirnya aku mengerti bahwa tanpa rapalan bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah.
"Entahlah, yang pasti Setiap aku ingin menggunakan sihir aku hanya membayangkan sihir itu sendiri."
Wajah mereka tiba - tiba berubah terlihat sangat kagum padaku, aku bisa melihat mata mereka yang bersinar.
Kami pun akhirnya sampai di depan kota Valmas, sebuah gerbang yang berbentuk seperti gapura tapi agak sedikit berbeda, di kedua sisi ada perajurit yang mengenakan baju besi lengkap sambil memegang tombak.
Sebelum masuk Roy dan teman - temannya mengatakan pada kami kalau Ignis tiba bisa masuk ke kota karena terlalu berbahaya, aku hanya menatap ke Ignis sambil memikirkan bagaimana cara membawa Ignis masuk ke kota.
Seketika tubuh Ignis bersinar lalu mengecil, ia mengecil seperti seekor anak kucing.
"Wah! lucunya."
Riska sangat senang sambil memeluk Ignis lalu Mila dan Haruna pun mengambil Ignis seperti boneka lalu memeluk Ignis begitu erat.
"Tuan, tolong aku."
"Maaf, aku tidak bisa membantu."
"Tuan?"
Para laki - laki hanya tertawa melihat mereka, lalu kami pun masuk ke dalam kota meskipun sebelum masuk harus memperlihatkan identitas, tapi aku dan Riska bisa masuk tanpa harus memperlihatkan identitas karena kami dianggap sebagai anak dari Roy dan pacarnya Haruna, meskipun itu hanya pura - pura, aku tidak sudi menjadi anaknya Roy. Karena bagiku dia itu terlihat seperti orang bodoh.
Pertama kami pergi mencari penginapan sambil mengelilingi kota, melihat sekeliling aku merasa sangat senang walaupun tidak ku tunjukan ekspresiku, karena aku bisa melihat banyak ras selain manusia seperti manusia setengah kelinci, manusia setengah serigala, manusia setengah harimau, dwarf lalu ras yang memiliki umur yang panjang yaitu elf.
Biasanya aku hanya tahu mereka dari buku - buku novel yang sering ku baca tapi kali ini aku benar - benar bisa melihat mereka secara langsung.
__ADS_1