Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Menahan aura


__ADS_3

"...Uhh..."


Kepalaku benar-benar sakit. Tapi yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah.


"Apa yang dilakukan anak kecil disini?"


Laura dan Elma langsung melirik ke anak kecil yang berdiri di sebelah mereka.


"Tidak sopan! Aku ini berumur 25 tahu!"


Gadis itu berteriak kesal dengan wajah yang memerah.


"Ahh... maafkan aku. Aku tidak tahu."


"Zen, kau baik-baik saja kan?"


"Ya, hanya saja masih sedikit pusing."


Sambil memegang mataku, aku masih terasa pusing. Namun, ada sesuatu di tanganku. Saat aku melihat tanganku, aku melihat darah di tanganku.


"Eh? Zen? Matamu!"


Mendengar keterkejutan Elma, tanpa ku sadari mataku mulai mengeluarkan darah.


Apa yang terjadi padaku? Mataku sangat sakit.


Anak kecil itu dengan cepat mengambil perban dan tisu. Mereka membantuku membersihkan darah yang keluar menggunakan tisu lalu memakaikan perbannya pada mataku. Sepertinya untuk sementara waktu aku tidak bisa melihat.


Aku bertanya pada Abbadon, namun ia menjawab seperti ini.


"{Sepertinya cincin yang kau pakai bukan untuk menahan mana yang keluar darimu melainkan membatasi mana yang ada di dalam tubuhmu.}"


Mendengar itu membuatku sangat terkejut, tapi sepertinya William tidak tahu kalau cincin ini untuk membatasi dan bukan menahan.


Tapi jika aku menggunakan cincin, orang-orang tidak akan ketakutan atau pingsan saat melihat, namun, itu juga membuatku sulit menggunakan sihir milik Abbadon ataupun Lucifer. Jika aku tidak memakai cincin ini, aku akan lebih mudah menggunakan sihir mereka tapi itu membuat orang-orang takut. Yah, kurasa untuk sementara aku akan menggunakan cincin namun jika akan bertarung aku akan melepaskannya, untuk sekarang itu adalah ide paling masuk akal.


Tapi sekarang aku harus bagaimana. Aku tidak bisa melihat tapi aku bisa berjalan kemanapun dengan bantuan mereka bertiga.


"Terima kasih ya, sudah memakaikan perbannya."


"Tidak masalah."


Aku bisa merasakan tubuh Laura, sepertinya ia sedang memelukku. Tubuhnya terasa hangat dan buah dadanya bisa kurasakan menempel pada dadaku, dan ia juga sangat harum, aku bisa mencium bau stroberi darinya.


"Eh ... bisakah kau membawaku kembali ke kelas."


"Tidak. Untuk sementara, aku harus beristirahat di sini. Kau tidak boleh melepaskan perbannya sampai aku menyuruhmu untuk melepaskannya."


Suara siapa itu? Apakah suara anak kecil itu? Imut sekali suaranya!


"Bisakah aku melepaskan cincin ini."


"Itu tidak bisa! Kau berbahaya."


Elma langsung berteriak setelah mendengar aku akan melepaskan cincin.


"Aku tidak tahu alasan kenapa Elma menolak tapi bisakah aku melihat cincin itu."

__ADS_1


"Oh, tentu."


"Tapi jangan dilepas."


Aku bisa merasakan jari-jari tangannya yang kecil dan juga lembut sedang menyentuh tanganku. Entah kenapa setiap sentuhannya membuatku terasa nyaman.


"Hmm, jadi begitu. Apa kau kesulitan menggunakan sihir?"


"Awalnya sih tidak, tapi saat aku menggunakan sihir mataku, seperti yang kau lihat sekarang."


"Baiklah, aku mengerti. Lepaskan saja."


"Tidak!"


"Elma, kau ini kenapa? Sejak tadi mengatakan untuk tidak melepaskan cincinnya."


"Karena ... Dia ... memiliki kapasitas mana yang besar!"


Sepertinya ia masih trauma dengan kejadian tadi. Padahal dia seorang guru tapi takut dengan kapasitas manaku sungguh aneh.


"Apa aku bisa menahan mana yang keluar tanpa harus memakai cincin?"


"Bisa saja. Kalau memang begitu, aku akan mengajarkanmu cara menahan aura yang keluar, tapi aku malas jadi kau bisa minta tolong pada Laura."


Meskipun anak-anak tapi sifatnya benar-benar seperti orang dewasa. Aku langsung di bawa ke ruang praktek oleh Laura dan Elma, karena disana tempat kosong jadi tidak ada kejadian seperti di kelas tapi yang menjadi masalahnya adalah Laura dan Elma tidak kuat dengan auraku lalu bagaimana dengan mereka?


"Apa aku harus melepas cincinnya?"


"Ya, tapi tahan dulu. Kami meminta bantuan temanmu agar lebih mudah."


Aku sedikit bingung, siapa yang mereka maksud tapi kalau bicara soal teman, mungkin itu Brull atau mungkin Riska.


"Kawan, aku jadi kasihan padamu melihat perban menutupi matamu. Haha."


"Darling, apa kau baik-baik saja?"


Mendengar suara itu ternyata mereka berdua yang datang, tapi kalau di pikir lagi. Mereka berdua tidak pingsan atau ketakutan saat auraku menyebar.


"Aku akan memberitahu kalian caranya agar Zen bisa melatih menahan auranya dan kami akan pergi keluar."


"Kau ini guru tapi tidak berguna sekali."


"Apa kau bilang!"


"Brull berhenti mengejek, itu adalah kebiasaan buruk."


"Baik!"


Entah sejak kapan tapi entah kenapa rasanya Brull seperti menurut pada Riska.


"Baik, kami sudah memberitahunya. Kami pergi dulu."


"Zen, sampai jumpa."


Mereka meninggalkan kami bertiga setelah berbisik pada Riska, aku tidak tahu apa yang dibisikkan oleh Elma tapi terserahlah.


Aku merasa sedikit kesal dengan sekolah ini karena mereka memberikan tanggung jawab mereka kepada orang lain, aku heran bagaimana cara mereka menjadi guru.

__ADS_1


"Kawan, lepaskan saja cincin itu."


"Setelah kau lepas cincinnya pusatkan seluruh manamu ke jantungmu."


Aku mengikuti kata-kata mereka, aku melepas cincinnya dan berkonsentrasi memfokuskan mana dalam tubuh. Memfokuskan mana rasanya seperti ada sesuatu di dalam tubuhku yang mengalir deras seperti air.


"Sudah."


Brull mengacungkan jempolnya sambil tersenyum sementara Riska melompat dan memelukku.


Kalau kupikir lagi ini tidak memakan banyak waktu. Di saat itu juga aku berpikir untuk menjadi petualang dan mencari semua party Riska, pertama aku akan keluar dari sekolah ini.


"Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu kawan?"


"Sudah ku putuskan, kita akan keluar dari sekolah dan berkeliling mencari party Riska."


"Aku mendukung keputusanmu, tapi apa kau bisa keluar begitu saja?"


Aku tidak mengerti apa maksudnya? Otakku terus berpikir tentang kata-kata Brull seketika aku menyadari sesuatu.


"Maksudmu, kita tidak bisa keluar dari sekolah ini selain lulus, begitu?"


"Ya."


Tidak salah juga sih apa yang dikatakan Brull, tapi bukankah kita bisa minta bantuan Laura yang merupakan kepala sekolah.


"Aku tahu caranya, ikut aku."


Kami pergi ke kelas untuk memanggil Lilith lalu pergi ke ruang kepala sekolah dimana Laura berada. Saat sampai di ruangannya tidak ada siapapun.


"Kemana wanita salju menyebalkan itu."


Untuk beberapa alasan sepertinya Riska tidak menyukai Laura, karena di kelas dan di ruangannya tidak ada kami pergi ke ruang kesehatan.


Saat sampai di ruang kesehatan, suasana yang aneh terasa.


"Kenapa kau mengambilnya Laura!"


"Meskipun kau orang dewasa tapi tubuhmu hanya anak-anak jadi kau tidak boleh minum."


"Hanya sedikit, hanya segelas kumohon."


Seperti yang dilihat, sepertinya Bu loli ini ingin minum alkohol dan Laura melarangnya, ngomong-ngomong kenapa kami hanya diam dan melihat mereka ya.


"Ah? Zen, kenapa kau disini? Apa sudah selesai?"


"Ya."


"Kau menahan mana secepat ini?! Sungguh tidak bisa dipercaya, apa kau titisan dewa?"


Dewa? kupikir itu tidak ada, lagipula kalau aku titisan dewa aku tidak akan dikhianati oleh kerajaan. Yah, itu tidak penting.


"Laura, aku tidak suka basa-basi jadi aku akan langsung ke intinya."


"?"


"Aku ingin keluar dari sekolah dan menjadi petualang langsung."

__ADS_1


__ADS_2