Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Membebaskan budak (Bagian 2)


__ADS_3

Langit sudah mulai gelap yang menandakan malam hari segera tiba.


John seorang Guild master yang berada di kota Kawa dan seorang pria yang dikenal sebagai pria kapak.


Entah apa yang membuatnya dipanggil seperti itu, di mata orang-orang yang berada dihadapannya, ia hanyalah seorang kenalan.


Gadis berambut merah yang diikat dengan ponytail sedang menyuapi kue pada gadis kecil yang duduk di pangkuannya.


Gadis kecil itu terlihat senang dan senyum manis terlukis di wajahnya.


"Apakah kalian tidak khawatir pada Zen?"


Semua yang ada di sana kecuali gadis kecil menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


John sangat terkejut dengan jawaban mereka.


"Kurasa yang harus dikhawatirkan adalah para pedagang budak itu, karena kawanku itu tidak memiliki belas kasih." Jawab Brull.


Keringat dingin mulai bercucuran dikepala John, ia sangat terkejut dengan yang mereka ucapkan. Jelas sekali, kalau penggambaran tentang Zen sangat jauh berbeda dengan apa yang diceritakan oleh William.


Tapi John berhasil mengambil ketenangannya dan mulai bertanya kembali.


"Kalian tahu kalau Zen akan membunuh mereka, tapi kenapa kalian tidak menghentikannya?"


"Karena dia seorang raja iblis."


Jawaban yang mereka katakan secara bersamaan membuat John agak syok. Tapi karena dia merupakan seorang yang dikenal pria kapak, dia sudah pernah bertarung dengan banyak orang sehingga rasa syoknya bisa dia kendalikan.


...****************...


Tepat dibelakang panggung adalah sebuah ruangan kosong, tidak ada apapun hanya ada kegelapan yang mengelilingi.


"Hei Zen, apakah kau tidak merasakan aura yang mencekam ini?"


"Kalau kau takut, maka pulang sana. Lagipula tidak ada yang memintamu untuk ikut denganku."


"J-Jangan mengejekku! Aku ini pria yang sangat berani!"


Dengan bangga Yugo menjadi percaya diri dan para budaknya mengangguk sambil tersenyum.


Namun aku hanya tertawa, karena sifatnya yang sok itu.


"K-Kenapa kau malah tertawa?!"


"Ah... Maaf. Hanya saja aku mengingat ada orang yang merengek padaku untuk meminta bantuan."


Wajah Yugo memerah karena malu dan kesal.


"Berhenti mengejekku, sialan!"


"Yah, tapi aku senang melihatmu menderita kau tahu?"


Yugo mengepalkan tangannya karena menahan emosinya yang mulai memuncak.


"Hahahaha."


Tapi perhatianku tertuju pada suara tawa yang menjijikan.


"Bisakah kau diam sebentar."


Yugo diam dan mulai bingung, yah wajar saja karena aku yang tiba-tiba menjadi serius.


Aku memfokuskan pada telingaku untuk mendengarkan suara itu.

__ADS_1


"Hahaha, kalian pikir bisa melawanku?"


"Maafkan aku!"


"Tolong lepaskan dia, kau membuat ketakutan."


"Siapa yang peduli, hah?!"


Plak!


Aku mendengar suara seorang pria yang sedang membentak, suara cambuk, seorang wanita yang sedang membela dan ..... tangisan.


Aku berjalan dengan lebih cepat dan menemukan jalan buntu. Hanya ada tembok yang di hadapanku.


Tapi telingaku mendengar suara dari balik tembok ini.


"Zen, ini jalan buntu. Bagaimana sekarang?"


Aku hanya diam dan tidak menanggapinya.


"Tuan Zen, bagaimana kalau kita hancurkan saja tembok ini? Karena aku sangat yakin ada budak lainnya di balik tembok ini." Ucap Riza.


"Memang benar, mataku juga mengatakan kalau mereka ada di balik tembok ini. Tapi, aku malas. Jadi kalian lakukan sesuatu."


Memang benar, kalau budak lainnya ada di balik tembok ini tapi itu membuang manaku kalau aku yang menghancurkannya, kurasa lebih baik memanfaatkan mereka.


"Kalau begitu, Yugo. Hancurkan tembok ini."


"Apa?! Jangan mengatakan seolah aku ini pria baja yang bisa menghancurkan tembok dengan mudahnya."


Hah... dasar tidak berguna. Padahal kau memiliki class dominator.


"Hei, Zen. Pasti kau berpikir aku ini tidak berguna?"


"Tidak."


"Hei! Lihat mataku saat berbicara!"


Aku bosan mendengar keluhan Yugo jadi aku menyuruh budak Yugo yang mengenakan kimono, kalau tidak salah nama adalah.... Ah, benar. Aisha!


"Namamu Aisha bukan?"


"Hei! Jangan mengabaikanku!"


"I-Iya."


"Kau memiliki mana yang cukup banyak, apa kau bisa menghancurkan tembok ini?"


"Tentu, tapi kenapa aku harus menuruti perintahmu?" Jawab Aisha dengan sombong.


"Begitu ya? Kau tidak mau menuruti perintahku?"


Aku hanya tersenyum padanya tapi dia ketakutan hingga keringat dingin yang membasahi dahinya.


Dia melihatku seperti aku adalah monster yang berbahaya.


Gadis disebelahnya yang memiliki kulit gelap mendekat dan menundukkan kepalanya padaku. Kalau tidak salah namanya adalah Riza bukan?


"Mohon maafkan dia, tuan Zen. Sebagai gantinya biar aku saja yang menghancurkan tembok ini."


Yugo hanya tersenyum dan budak Yugo lainnya terkejut dengan Riza yang menundukkan kepalanya padaku.


"Baiklah, aku akan memaafkannya. Kalau begitu, tidak perlu banyak bicara. Cepat hancurkan saja tembok ini."

__ADS_1


"Baik!"


Riza menarik pedang dari pinggangnya, memegang gagang pedangnya dengan erat lalu mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan dengan cepat.


Dalam satu tebasan, temboknya hancur dalam sekejap. Dia menyimpan kembali pedangnya dan mundur sambil membungkukkan badannya.


Aku suka sifatnya yang menghormatiku dan mengingat apa yang kukatakan pada mereka sebelum masuk ke sini.


Debu yang menghalangi pandangan kami secara bertahap mulai menghilang.


Saat debu menghilang dari pandanganku, aku melihat seorang wanita dengan pakaian maid sedang melindungi gadis dan dihadapannya adalah seorang pria kurus dengan kumis yang tipis dan janggut pendek sedang memegang cambuk.


Pria kurus itu ingin mengayunkan cambuknya namun dengan cepat aku mengeluarkan pedangku dan menusuk jantungnya dari belakang.


Darah keluar dari mulut pria itu, dia melihat ke dadanya yang terdapat pedang sedang menancap padanya.


Para budak dan maid yang melihat itu sangat terkejut dan bingung dengan kejadian yang mereka lihat.


Dia berusaha menoleh meskipun ada keraguan untuk melihatku.


"S-Siapa kau??"


"Kau tidak perlu tahu siapa aku? Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku adalah orang yang mengambil nyawamu."


Aku segera mencabut pedangku dan dia langsung jatuh ke tanah dengan darah yang berceceran.


Aku segera berbalik dan melihat ke budaknya Yugo.


"Siapa diantara kalian yang bisa membersihkan pedangku?"


"Hei, bisakah kau sedikit merasa bersalah? Kenapa kau begitu tenang setelah membunuh orang?"


Yugo tiba-tiba mengeluh padaku, aku mengerti apa yang ia maksudkan. Tapi sejak Kana dan Roy tidak ada, mau aku membunuh seratus orang pun aku tidak merasakan apapun.


"Jadi siapa yang bisa membersihkan pedangku?"


"Hei, jangan mengabaikan diriku, sialan!"


Aku segera melirik Yugo karena berisik sekali.


"Bisakah kau diam sebentar?"


"Ah... ya."


Yugo sedikit gemetaran menjadi tenang. Silvia maju selangkah dan berbicara.


"Anu... Aku bisa menggunakan skillku untuk membersihkan pedangmu."


"Lakukan."


Silvia mengarahkan tangannya ke bilah pedangku yang berlumuran darah.


"[Clean wash]"


Dalam sekejap cahaya putih membalut bilah pedang dan darah mulai menghilang.


Meskipun aku masih bisa mencium bau darah dari pedangku tapi setidaknya itu tidak kotor.


"Selesai."


Pedang menghilang setelah dibersihkan dan aku segera berjalan ke sang maid itu.


Dia terlihat waspada saat aku mendekatinya.

__ADS_1


__ADS_2