Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Kota Rewa


__ADS_3

Kerajaan Zetes biasa dikenal dengan kerajaan angin.


Kerajaan Zetes dipanggil negeri angin karena setiap bulan Juni-Oktober sering terjadi angin kencang. berbeda dengan kota Kawa, di kota Rewa kemanapun melihat hanya akan menemukan kincir angin.


negeri ini sangat nyaman dan juga cukup damai. Suasananya yang terasa seperti kembali ke rumah.


Namun hari ini banyak orang sedang ramai dan sibuk. Dimulai dari para pedagang yang beramai-ramai membuka toko dan memberikan diskon pada para pembeli.


Keramaian ini adalah untuk meriahkan acara pertunangan sang putri ke 3 dari kerajaan Zetes.


Putri ketiga dari kerajaan Zetes, Aurora. Gadis cantik yang berumur 15 tahun dengan wajah yang cantik nan indah. Memiliki rambut dan mata ungu gelap.


Karena kerajaan Zetes memiliki masalah yang sulit untuk diselesaikan, mau tidak mau mereka harus menikahkan putrinya bungsunya dengan seorang bangsawan untuk menyelesaikan masalahnya. Namun, sang raja Azura tidak setuju dengan solusi yang diberikan namun dia juga tidak bisa menolak atau membatalkan pernikahan ini.


Jadi mereka hanya bisa membuat mereka bertunangan untuk saat ini.


...****************...


Sebuah kotak beroda empat berjalan dengan kecepatan 30 km/jam, jalanya cukup mulus dan terawat.


Mereka menuju istana Zetes yang berada di kota Rewa.


"Aku bosan."


Itu adalah keluh Zen. Dia hanya melihat keluar jendela mobil sambil mengunyah rotinya namun seberapa banyak pun ia memakannya, ia tidak lagi merasakan rasanya. Itu seperti memakan permen karet yang sudah tidak lagi manis.


"Sabar sedikit, kita akan sampai sebentar lagi dan berhenti mengatakan itu setiap kali kau selesai mengunyah."


Itu dijawab oleh Misaki yang sudah bosan mendengarkan Zen. Yang lainnya hanya bisa diam karena mereka tahu kalau Zen bukan lagi seperti Zen yang dulu.


Zen yang sekarang selalu malas dan mudah kesal. Jadi tidak ada yang bisa mereka lakukan tapi berbeda dengan Misaki, dia dengan santainya bisa menegur Zen.


"Hei Yugo, apakah kau punya makanan lain?"


"Aku tidak punya makanan dan juga saat ini yang memiliki makanan di sini hanya roti daging milikmu saja."


"Aku tidak merasakan apapun dari roti ini jadi...apa kau mau?"


"Apa kau lupa kalau aku tidak suka dengan roti."

__ADS_1


Zen menyeringai dan memotong rotinya menjadi ukuran agak kecil dan juga tidak terlalu besar.


Mendekati Yugo dan menyodorkan roti ke mulutnya Yugo.


"Lihat Yugo, katakan a. Ini enak loh."


Yugo berusaha untuk menahan dirinya, tapi dalam pikirannya Zen yang mencoba menyuapinya roti adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup.


Yugo bukannya alergi ataupun memiliki penyakit karena tidak bisa makan roti melainkan karena dia hanya tidak suka dengan roti.


Yugo berkeringat karena sangat bingung. Jika dia menolaknya maka kesempatan Zen untuk menyuapinya seperti ini sangatlah langka, dan jika ia menerimanya maka ia harus memakan roti yang sangat tidak ia sukai itu.


Para gadis terlihat iri dengan Yugo karena bisa disuapi oleh Zen. Yugo akhirnya terpaksa memilih dan dia memakan roti yang diberikan Zen.


"Bagaimana rasanya?"


Meskipun Zen berubah dalam beberapa hal tapi saat ini ia tahu sifat jahilnya tidak pernah menghilang.


"Sialan... kau Zen."


"Oh bung, jangan menyalahkanku. Itu murni kesalahanmu, lagipula sudah lama aku tidak melihatmu menderita."


Sudah jelas kalau Zen sangat jahil tapi yang membuat Yugo bingung adalah Zen tidak pernah sekalipun memukul Leon. Meskipun Leon selalu mengganggunya dan memukulinya, ia tidak pernah membalasnya dengan pukulan.


"Hei sayang, kenapa kau tidak menyuapiku?" Melingkarkan tangannya di leher Zen, Rena menempelkan dahinya sambil tersenyum nakal.


"Oh kau benar, tapi sayang sekali. Aku tidak akan memberikan roti ini pada kalian."


"Kenapa? Apa kau tidak menyukaiku?"


"Lebih tepatnya, roti ini adalah racun bagi Yugo jadi aku tidak akan memberikannya padamu atau yang lainnya."


"Bukankah itu sangat jahat?"


"Aku tidak akan dipanggil raja iblis jika aku tidak jahat bukan?"


"Hei! Jangan jadikan aku korban dan bermesraan di hadapanku!"


Yugo sangat marah karena ia menjadi korban keisengan Zen dan semua yang ada tertawa.

__ADS_1


Namun suara tawa berhenti setelah Brull bersuara.


"Kalian lihat, kita sudah sampai."


Mereka bisa melihat dihadapan mereka, para warga menyingkir menjadi dua sisi sehingga membuat jalan lurus, jalan lurus itu sangat panjang hingga menuju istana.


Mereka sudah tahu kalau jalan ini akan digunakan untuk kedua mempelai namun atas perintah Zen, mereka terus berjalan menggunakan jalan itu untuk ke istana. Para warga yang melihat itu sangat terheran-heran karena melihat sebuah kotak beroda berjalan.


Setengah dari berteriak dan menghina sedangkan yang lainnya berpikir itu adalah monster yang belum pernah mereka lihat.


Tidak lama suara warga menjadi meriah. Zen melihat ke belakang dan menemukan kereta kuda dengan dekorasi yang mewah, ada kursi empuk di kereta yang mereka gunakan untuk duduk dan itu dijaga oleh ksatria yang menaiki kuda di depan dan belakang kereta.


"Bingo."


Zen terlihat senang, seorang pria yang dia cari ada di kereta itu, dia terlihat senang sementara sang wanita terlihat seperti kesal.


Zen melihat ke depan ada raja, ratu dan beberapa bangsawan juga ksatria yang menodongkan senjata mereka setelah melihat mobil kami.


"Hentikan mobilnya Brull."


"Dimengerti."


Mobil berhenti tepat di depan para ksatria yang waspada. Zen keluar dari mobil dan berteriak.


"Hei Azura! Rindu aku?!"


Para ksatria menjadi kesal karena datangnya seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dan memanggil raja seperti seorang teman.


"Zen, kurasa kau harus sedikit sopan disini."


Itu adalah Rena, dia keluar dari mobil dengan gaun yang indah dan merangkul Zen.


Sesaat kemudian teriakan terdengar dari belakang mobil.


"Hei! Ini bisa kau menyingkir?! Apa kau tahu saat ini ada acara spesial?!"


Pria berumur puluhan tahun depan kumis dan jambang hitam mengenakan armor besi sambil menaiki kuda menatap Zen dengan dingin.


Zen melihatnya lalu menghiraukannya. Dia berjalan ke tempat raja berdiri diikuti oleh yang lainnya. Para ksatria yang menghalanginya menyingkir dan membuatkan jalan setelah melihat mata Zen.

__ADS_1


__ADS_2