
Kami berjalan ke hutan yang ada di dekat desa.
Hutannya hijau yang indah, angin yang berhembus terasa sejuk, pohon yang rindang juga dedaunan yang berterbangan.
Kami berjalan ke arah tengah hutan dan menemukan sebuah air terjun. Itu memang hampir mirip dengan yang ada di hutan kematian namun air disini begitu jernih dan bersih.
Di sana ada sebuah aliran yang menuju ke desa Nero namun sebuah batu besar menyumbat aliran itu.
Bagaimana bisa batu sebesar ini bisa kesini?
Aku berpikir bagaimana cara batu ini berpindah karena kalau di pikir dengan logis manusia normal tidak mungkin bisa mengangkatnya, aku melihat ke arah Brull dan berpikir mungkin untuk seukuran Brull mungkin saja atau ada seseorang yang memindahkan menggunakan sihir.
Selagi aku berpikir, Brull dengan semangat ingin menghancurkan batu besar itu.
"Baiklah, giliranku. Aku akan menghancurkan batu besar ini."
Brull mengumpulkan seluruh kekuatannya di tangan dan menggunakan elemen listrik. Saat Brull memukul batunya, petir yang ada di tangan Brull menyetrum batu itu dan batu itu pecah hingga menjadi batu-batu kecil seukuran kerikil dan air mulai kembali mengalir ke desa.
"Wah, batunya hancur."
Lilith sangat senang melihat batu besar yang menghalangi aliran air telah hancur.
"Ugh."
Tanpa ku sadari sebuah serangan datang dan membuat tubuhku berlubang dan sepertinya itu menghancurkan jantungku. Aku roboh ke tanah karena tubuhku tidak bisa kugerakan.
Mataku terasa berat namun aku mencoba untuk menahan mataku untuk tetap terbuka.
Karena serangan tiba-tiba itu, semua terkejut dan langsung melihat ke arah datangnya serangan itu. Serangan yang seperti laser datang dari atas air terjun.
"Hmph, tidak ku sangka orang yang mengalahkan 100 orc, mati semudah itu."
Serangan itu datang dari seorang laki-laki misterius yang berdiri di atas air terjun.
"Siapa kau?"
Dengan keras Brull berteriak dan wajahnya terlihat seperti menahan tangisan, matanya mulai berkaca-kaca. Riska dan Llilith terjatuh ke tanah karena kejutan itu membuat mereka kaki mereka lemas.
Laki-laki misterius itu melompat dari atas dan aku seperti pernah melihatnya sebelumnya. Ia mengenakan pakaian yang sama dengan warga desa dan ditangannya ada seperti sarung tangan yang di telapak tangannya terdapat sebuah lingkaran, sepertinya serangan yang barusan berasal dari sarung tangan itu.
Laki-laki misterius itu terlihat masih berumur 30 tahun-an, ia tidak mengatakan apapun dan mulai memandangi kami seperti sesuatu yang tidak penting.
"Paman Rev?"
Lilith melihat ke laki-laki itu dan menyebut sebuah nama.
"Oh, Lilith kau ada disini."
Paman? sepertinya aku baru saja mendengar kalau Lilith baru saja menyebut paman. Apa dia pamannya Lilith.
"Paman, apa yang kau lakukan?"
Lilith merasa bingung dengan seseorang yang ia kenal tiba-tiba menyerang. Pamannya Lilith tersenyum kecil dan mengatakan...
__ADS_1
"Aku disini untuk mengambil sesuatu dan karena kalian datang menghancurkan batunya aku terpaksa harus menyerang kalian."
"Kenapa?"
Lilith merasa tertekan dan terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh pamannya. Wajahnya terlihat ia merasa dikhianati.
"Berhenti berpura-pura, aku sudah menyembuhkan lukanya."
Tubuhku kembali normal dan bajuku baik-baik saja, tidak ada sobekan atau mida darah.
"Meskipun pakaianmu kau beri sihir untuk menghindari serangan tiba-tiba tapi itu tidak berefek pada crystal milikku."
Aku merasa bingung namun saat ku melihat sarung tangan itu ada sebuah crystal berwarna biru terang menempel di bagian punggung tangan.
Aku berdiri seolah-olah tidak terjadi apapun. Aku mengeluarkan pedang Azazel dan memasang Crystal merah pada pedang.
"Red Stone"
Pedangnya bersuara saat aku memasang Crystalnya.
"Sepertinya kau memiliki sesuatu yang sama dengan punyaku."
Semua menatap ke arahku, Lilith dan Riska langsung berlari dan memelukku dengan air mata yang keluar.
Brull mengusap air matanya dan tersenyum melihatku. Paman Rev sepertinya memiliki senjata yang sama dengan pedang Azazel.
"Tidak mungkin!? Mustahil!? kenapa kau masih bisa bergerak?"
"Ada apa? apa kau terkejut. Bertarunglah denganku dan jika aku menang, berikan Crystal biru yang ada padamu itu."
Ia menggertak giginya dan menahan kesal, karena tidak bisa menahan rasa kesalnya ia mulai menembak secara beruntung.
Phew... phew...
Aku menangkisnya dengan pedang sambil melindungi Riska dan Lilith yang masih memelukku.
Ia terus menembak hingga akhirnya sarung tangannya langsung meledak.
Duaar...
"Sudah selesai?"
Karena ledakan tadi, wajahnya menghitam, rambutnya naik ke atas dan tangannya terdapat luka bakar. Crystal birunya menghilang setelah ledakan tadi.
Aku menodongkan pedangku ke wajahnya dan ia sangat ketakutan sampai aku bisa melihat celananya basah karena ngompol.
"Hii, harusnya tidak begini... Kenapa?
Aku berjalan ke arahnya dan menghiraukan omongannya lalu mengajukan pertanyaan padanya.
"Sekarang katakan. Kenapa kau menyerangku dan apa tujuanmu? bisa kau jawab?"
Ia hanya menggertakan giginya dan membuang muka. Brull yang melihat sikapnya merasa kesal dan menarik kerah bajunya.
__ADS_1
"Kawanku sedang bertanya padamu."
Brull menggoyangkannya untuk membuatnya berbicara namun ia tidak mengatakan apapun.
Karena guncangan itu, ia akhirnya mau membuka mulutnya.
"Aku di suruh untuk mengambil Crystal biru ini karena Crystal ini merespon padamu yang memiliki Crystal merah jadi aku membunuhmu untuk mendapatkankannya dengan begitu, dia akan memberiku uang yang banyak."
Mendengar Ceritanya masih ada beberapa hal yang membuatku kepikiran, pertama siapa 'dia' yang ia sebutkan dan kedua, apa alasannya menyumbat aliran sungai.
Sepertinya yang kedua adalah untuk mendapatkan Crystal biru.
"Siapa 'dia' yang kau sebutkan."
"Aku tidak tahu, dia tidak menyebutkan namanya dan juga dia selalu memakai jubah hitam jadi aku tidak bisa melihat wajahnya."
"Apa sudah semuanya?"
Brull mengangkatnya tinggi ke atas.
"Aku sudah mengatakannya, tolong lepaskan aku."
Aku melihat ke sekeliling dan tidak menemukan Crystal biru dimana pun.
"Satu pertanyaan lagi. Dimana crystal birunya?"
"Aku tidak tahu, mu...mungkin kembali ke asalnya."
Kembali ke asal? memangnya asalnya dari mana? melihat ekspresinya ia tidak berbohong sama sekali.
"Brull lepaskan dia."
Ia langsung berlari ke arah desa.
"Crystal biru menandakan air, artinya ia berada di bawah air terjun."
Mendengar Azazel yang tiba-tiba mengatakan itu, aku berjalan mendekati air terjun dan melihat ke air. Pahaku tiba-tiba terasa panas seperti terbakar, aku mengambil asal panas itu. Itu berasal dari crystal merah, crystalnya menyala berkedap-kedip seperti lampu.
"Crystalnya bersinar?"
Sepertinya crystal merah merespon crystal biru. Aku mendekatkan crystal merah ke air dan langsung menyelam ke dalam air.
Di dasar air sebuah cahaya berwarna biru bersinar sangat terang, aku berenang dengan cepat dan mendekati cahaya itu.
Cahaya itu berasal dari sebuah kerang yang di dalamnya terdapat crystal biru. Namun, saat aku mencoba mengambilnya sebuah tentakel besar memukulku hingga aku terpental jauh.
Apa itu tadi?
Seekor gurita besar sedang melindungi kerang itu, aku tidak bisa mendekatinya dan aku tidak bisa menggunakan sihir dan crystal merah di dalam air. Aku mencoba berenang ke atas namun gurita itu menarik kakiku.
Gurita itu mengikatku dengan tentakelnya membuatku tidak bisa bergerak dan aku hampir kehabisan nafas.
Cincin yang aku kenakan terlepas dan jatuh ke bawah. Gurita itu langsung melepas cengkramannya dan pergi begitu saja.
__ADS_1