Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Rencana


__ADS_3

"Apa yang terjadi?"


"Kenapa tubuhku sulit digerakkan."


"Aku juga tidak tahu."


Mereka mencoba bergerak namun sekuat apapun mereka mencoba hasilnya tetap sama. Meskipun Brull bingung, dia tahu kalau itu adalah sihirku dan tanpa menunggu lama ia berjalan dan mengambil busur Lilith, setelah diberikan kembali pada Lilith, dalam pikiran terlintas sesuatu.


"Menjauhlah."


Hanya dengan satu kata, mereka bertiga terpental jauh ke ujung lorong hingga menabrak tembok.


"Zen, apa yang kau lakukan?"


"Itu balasan untuk mereka, aku paling tidak suka orang yang menghina apalagi mereka baru saja mencuri barang milikku."


Setelah amarahku mereda kami melanjutkan berjalan ke kelas.


***


"Baik, untuk pelajaran hari ini cukup sampai di sini dulu, kalau begitu sekian terima kasih."


Setelah Elma selesai menerangkan, ia pergi ke luar kelas.


Sejak kembali ke kelas entah kenapa semua orang terasa seperti mencoba menjauhiku.


"Kenapa mereka malu-malu begitu padaku."


"Kawan, kurasa mereka bukan malu-malu tapi takut denganmu."


"Takut? Kenapa?"


"Yah, tentu saja karena kekuatanmu yang sangat besar."


"Begitu ya."


Jadi mereka takut denganku. Tapi aku tidak akan menggigit mereka, jadi untuk apa mereka takut. Yah, aku tidak peduli sih tapi berapa jam lagi sampai waktu pulang tiba? Aku merasakan kantuk yang luar biasa di mataku.


"Zen, apa kau lelah?"


"Ya, aku merasa sangat lelah."


Tanpa kusadari aku sudah mulai tertidur, aku merasakan sesuatu yang lembut di kepalaku dan itu membuatku merasa nyaman.


"Ah... curang! Seharusnya Zen tidur di pangkuanku bukan Riska."


"Zen adalah milikku jadi kau tak berhak."


Apa mereka mulai bertengkar lagi, jadi sesuatu yang lembut ini pahanya Riska ya. Tapi bisakah kalian berhenti bertengkar sebentar aku jadi sulit untuk tidur.


"Kalian berdua, berhenti bertengkar tentang hal sepele."


""Ini bukan hal sepele!""


Teriakan mereka berdua tidak membuat Brull takut dan dia mulai berbicara lagi.


"Tapi Zen jadi sulit tertidur."


Mereka berdua pun diam setelah di nasehati Brull, Nice Brull. Pintu kelas terbuka dan seseorang masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Dimana Zen?"


Suara yang begitu tidak asing, itu adalah suara Laura. Sepertinya ia datang untuk mengatakan sesuatu.


"Dia sedang tidur."


"Ok baiklah, aku hanya ingin memberitahu kalian kalau turnamennya di majukan menjadi lusa."


Mendengar itu membuatku terkejut hingga terbangun dari tidurku.


"Apa? Kenapa?"


"Oh, Zen."


"Apa? Turnamen?"


"Apakah mereka ingin mengikuti acara itu?"


"Sepertinya dia sudah tidak waras."


Suara bisikan mulai terdengar membuat kelas menjadi ramai dan kata-kata mereka seperti merendahkahkanku, itu membuat Brull marah, namun aku menahannya dengan menarik tangannya.


"Hentikan semuanya. Itu saja yang ingin kukatakan, sampai jumpa."


Laura pun meninggalkan kelas, suasana kelas kembali ramai, Brull yang sudah tidak tahan lagi dengan ejekan untukku.


Sungguh aku benar-benar beruntung memiliki teman seperti Brull, ia marah untukku tidak seperti teman-teman dari duniaku semuanya hanya seorang pengecut kecuali Rina, ia selalu ada dan menolongku setiap saat. Aku penasaran apa yang sedang dilakukannya sekarang.


Tidak lama setelah Laura meninggalkan kelas, bel berdering yang menandakan sudah waktunya untuk pulang. Kami dan Brull berpisah saat di luar gerbang sekolah.


Akhirnya kelas berakhir, entah kenapa aku merasa bosan dengan pelajaran padahal diriku saat masih di duniaku aku sangat menyukai belajar tapi sekarang aku merasa belajar itu membosankan dan melelahkan.


Kami bertiga kembali ke guild seperti biasa, saat mereka melihat mataku di perban mereka terkejut dan panik namun diantara mereka Roy dan Kana lah yang paling khawatir.


"Apakah kau disakiti oleh seseorang?"


"Kita harus membawanya ke dokter."


"Apakah yang harus kita lakukan?"


Mereka sangat panik bahkan saking paniknya temannya mencoba menenangkan mereka namun percuma saja.


"Tenanglah, aku baik-baik saja."


"Katakan apa yang terjadi?"


"Cincin yang diberikan oleh William sepertinya bukan untuk menahan namun untuk membatasi manaku jadi saat aku menggunakan sihir besar itu membuat mataku terluka."


"Apa?!"


Semua langsung menatap William, tatapan amarah mengarah padanya. Kupikir ia akan marah atau 'Itu bukan salahku' tapi ia dengan tenang diam tanpa respon.


".... Maaf, aku melakukannya untuk berjaga-jaga karena mananya sangat mengerikan."


"Aku tahu maksudmu melakukan itu tapi lihat dia jadi seperti ini karena kau."


"Aku minta maaf untuk itu."


Setelah mendapatkan permintaan maaf dari William, Roy dan Kana menghela nafas dan mengajak kami ke kamar kami, mereka mengatakan ada yang ingin mereka tanyakan.

__ADS_1


Aku,Riska, Lilith, Roy dan Kana berada di kamarku, meskipun sempit tapi ini cukup untuk empat orang duduk di lantai sementara aku duduk di kasur.


"Jadi apa yang ingin kalian tanyakan."


"Kalian ingat saat kalian masuk ke kota ini?"


"Ya."


"Kalian masuk ke sini dengan identitas sebagai anak kami jadi apapun yang terjadi pada kalian berdua, kamilah yang harus bertanggung jawab."


Jadi mereka sengaja menjadikan kami anak mereka bukan hanya untuk masuk ke dalam kota saja? Lalu apa maksudnya ini.


"Langsung ke intinya."


"Dengan kata lain, kami adalah orang tua angkat kalian. Kami dengar kalian ingin mengikuti turnamen sihir untuk mendapatkan surat kelulusan." Suara Kana penuh dengan penasaran.


"Kalian yakin akan mengikuti itu?"


"Ya, kami punya alasan untuk melakukan itu."


"Alasan? Bisa kalian beritahu kami."


Riska menarik nafas dan mengatakan alasannya.


"Menurutku, Maria masih hidup."


""Apa?!""


Keterkejutan mereka adalah hal yang wajar, kalau di ingat kembali tidak mungkin dia selemah itu. Bahkan aku tidak merasakan tanda kehidupan darinya kemungkinan besar itu hanya tiruannya yang dibuat Maria Kyoko.


"Jadi kami ingin keluar sekolah dan mencari Maria Kyoko dan yang lainnya lalu membunuhnya."


"Begitu. Kalau itu keputusan kalian kami tidak akan menahan kalian."


"Itu benar, kami akan mendukung kalian sepenuh hati."


Ternyata mereka berdua cukup baik sebagai orang tua meskipun mereka bukan orang tua kandung kami, sepertinya jika mereka punya anak asli, pasti dia memiliki hati yang baik.


"Terima kasih, sepertinya kau sangat mengantuk, Zen."


"Kalian istirahatlah, dan untuk gadis pirang juga kami mendukungmu."


Setelah mengatakan beberapa kata mereka pergi meninggalkan kamar kami.


"Ah ... melelahkan!"


Aku berbaring di kasur karena sangat lelah, tubuhku terasa seperti akan dihisap dan di bawa ke dunia mimpi.


Aku merasakan rasa lelahku mulai menghilang.


"Zen, apa kau sangat mengantuk?"


"Ya."


Tanpa sepengetahuanku Lilith dan Riska melepaskan pakaian mereka dan melompat ke kasur.


""Hei.""


Buah dada mereka menabrak wajahku saat mendarat di atasku, mereka sangat lembut bahkan aku bisa merasakannya dengan hidungku.

__ADS_1


"Kalian berdua, Menjauhlah sedikit aku tidak bisa bernafas."


Mereka menjauh sedikit, buah dada mereka tidak lagi di wajahku tapi aku bisa merasakan di perutku. Kedua lenganku dijadikan bantal oleh mereka, dan mereka pun sudah tertidur lelap, aku yang sudah tidak bisa menahan kantuk lebih lama lagi akhirnya pasrah dan tidur.


__ADS_2