
""Apa?!""
Yugo dan para budaknya sangat terkejut dan hanya diam melihat dengan mulut menganga.
"Kenapa kalian terkejut, padahal Lilith belum menggunakan kemampuannya." Kataku.
Di belakang Lilith menggeliat senang dan menggumamkan sesuatu.
"Tidak, tidak, mana mungkin aku tidak terkejut. Serangan sekuat itu pasti menggunakan banyak mana." Yugo sangat terkejut hingga dia berbicara dengan cepat.
"Tidak juga, karena busur buatan Zen ini aku bisa menggunakan serangan kuat dengan sedikit mana." Jawab Lilith dengan bangga sambil mengarahkan busurnya ke depan.
"Buatan? Hei Zen, memangnya apa kelasmu?"
Aku merogoh saku celana dan memberikan status plat pada Yugo.
"Yang benar saja?!"
Yugo sangat terkejut setelah melihat status plateku, para budaknya sangat penasaran dan ikut melihat bersama Yugo.
"Mustahil!?"
Para budak Yugo pun ikut terkejut melihat status plateku.
"Ada apa? Kenapa kalian sangat terkejut?" Tanyaku dengan pura-pura penasaran.
"Aku tidak percaya ini!? Meskipun levelmu 0 tapi skill yang kau miliki sangat tidak masuk akal." Jawab Yugo dan budak Yugo hanya mengangguk.
"Meskipun levelku lebih tinggi darimu tapi aku terlihat seperti orang lemah." Lanjut Yugo.
"Lupakan soal itu, sekarang kita harus terus maju. Kalau kau tidak ingin terlihat seperti orang lemah kenapa kau tidak mengalahkan iblis yang datang nanti, bagaimana?" Kataku sambil memasukkan kembali status plateku ke dalam saku.
"Baiklah, aku tidak akan kalah." Yugo maju dengan percaya diri.
Yugo berjalan lebih cepat melihat itu para budak pun ikut berlari dan mengejar Yugo yang semakin jauh.
" Apakah tidak apa-apa membiarkannya begitu." Tanya Brull dengan menatap kasihan Yugo.
"Tenang saja, dia memiliki kelas dominator jadi kurasa akan baik-baik saja." Jawabku.
"Bagaimana kau tahu kelasnya?" Tanya Laura.
"Aku tahu hanya sekali lihat, tapi sebaiknya kita kejar mereka."
Dengan cepat kami mempercepat langkah kami dari pada berlari, namun saat kami berhasil mengejar mereka, mereka sedang diam dan menatap sesuatu.
"Hei, kenapa kalian diam seperti patung?" Tanya Brull.
Riza menunjuk ke depan dan saat aku melihat ke arah yang ditunjukkan. Seorang pria besar dengan empat lengan sedang bertarung dengan kelompok yang menerima quest ini, aku juga melihat Maria dan dua temannya sedang bertarung melawan iblis berlengan empat itu.
"Anu... kenapa kalian meninggalkanku sendirian dan apa itu?!" Tony muncul dari belakang kami dengan nafas terengah-engah.
Sial, aku lupa dengan Tony!
__ADS_1
"Maaf Tony, aku meninggalkanmu tadi." Jawabku dengan membungkukkan badan.
"Ah, tidak apa. Yang lebih penting, apa yang di sana itu?" Jawab Tony
"Kalau aku bilang itu adalah iblis, apa kau percaya?"
"Apa?! Iblis?!"
Yah, wajar sih di kaget tapi kenapa kau tidak ketakutan setelah melihatnya? Yah, itu tidak penting. Yang lebih penting kenapa ada iblis di sini?
Kupikir mereka hanya akan muncul jika ada Melves tapi sepertinya aku salah. Namun, iblis berlengan empat ini tidak hanya kuat tapi juga memiliki pikiran.
Melihatnya cara bertarung itu, dia sepertinya tahu kalau serangan mereka tidak berpengaruh terhadapnya, yang bisa melukainya hanya dengan kekuatan iblis juga namun saat ini kalau aku bertarung sekarang pasti kena ceramah Brull dan yang lainnya.
Untuk sekarang lupakan saja dulu itu, nyawa Brull dan yang lainnya lebih penting. Aku menyuruh Brull dan yang lainnya berkumpul untuk berdiskusi.
"Apa kau punya rencana Zen?" (Yugo.)
"Ya, aku ingin kalian menyelamatkan mereka dulu, iblis berlengan empat itu hanya bisa dilukai oleh kekuatan iblisku."
"Aku sebenarnya tidak ingin membuatmu bertarung namun jika hanya itu caranya aku tidak punya pilihan lain tapi kau jangan memaksakan diri." (Brull)
"Tunggu, apa maksudnya oleh kekuatan iblismu?" (Erika)
"Zen membuat kontrak dengan tiga iblis kuno, dengan itu dia memiliki kekuatan iblis." (Riska)
"Aku ingin terkejut tapi setelah melihat itu aku jadi tidak bisa terkejut." (Yugo)
Setelah diskusi selesai kami mulai bergerak dan menyelamatkan mereka yang terpental karena serangan iblis itu. Yang masih bertahan saat ini Maria dan dua temannya.
Dengan cepat Maria membekukan kedua kaki iblis itu sehingga tidak bisa bergerak, tanpa menyia-nyiakan kesempatan pria 1 menerjang dan menebas kepala iblis itu namun Iblis itu tidak terluka dan pedang pria itu patah.
Sepertinya iblis ini memiliki kulit yang cukup keras.
Saat pria 1 hendak mundur dia berhasil di tangkap oleh iblis itu dan dilempar begitu saja.
"Nanami!" Teriak si pria 2.
"Menjauhlah Ryu, dia terlalu kuat." Perintah sang gadis dengan nafas yang terengah-engah.
Melihatnya sepertinya dia hampir kehabisan mana.
Es di lengan dan kakinya berhasil di hancurkan olehnya dan dengan memanfaatkan kesempatan itu, sebuah sinar hitam muncul dari kedua tangan iblis itu dan mengarahkannya pada Maria.
"Maria, Awas!" Teriak Ryuusuke.
Setelah kabut menghilang dari hadapanku aku bisa melihat ekspresi kesal si iblis, Maria terus diam menatapku. Aku menyeringai kepada si iblis yang dengan kesal melihatku.
"Yang tadi itu hampir saja ya."
Semua terkejut setelah melihatku yang sedang menggendong Maria ala tuan putri, sementara dari tempat Riska berdiri aku bisa merasakan hawa membunuh.
Gawat sepertinya Riska marah.
__ADS_1
"T-Terima kasih." Kata Maria dengan pipi merah.
"Jangan salah paham, aku menyelamatkanmu karena aku perlu membuat perhitungan denganmu."
Aku menurunkan Maria dan berjalan ke arah iblis.
"Datanglah, pedang."
Pedang muncul dari tanganku dan di saat bersamaan aku mengaktifkan mode iblis.
"Iblis mode: 10%"
Partikel hitam yang tak terhitung mulai menyelimuti tubuhku dan memunculkan sayap hitam, ekor dan taring.
Ekspresi iblis itu menjadi marah dan sebuah laser hitam muncul dari lengannya, dengan cepat aku menangkis serangan itu dengan pedangku.
Serangannya cukup kuat juga.
Setelah serangannya selesai, aku langsung melompat ke arahnya dan memotong keempat lengannya dengan cepat.
"Kau ... siapa?" Tanya iblis itu dengan terbata-bata.
Tanpa mempedulikannya dengan cepat aku menerjang dan berhasil memotong kedua kakinya.
Iblis itu jatuh dan terkapar di tanah, suara bisikan mulai terdengar ke telingaku.
"Siapa dia?"
"Dia juga iblis, haruskah kita membunuhnya?"
"Sangat cepat, aku tidak bisa melihat gerakannya sama sekali."
Aku menghiraukan omongan mereka dan berjalan mendekati iblis itu.
"Aku tahu kau bisa bicara, jadi jawab pertanyaanku."
Iblis itu hanya mengangguk.
"Apa kau dulunya manusia?"
Iblis itu mengangguk lagi.
"Kenapa kau bisa menjadi iblis?"
"Karena ... orang itu ..." Jawab si iblis dengan terbata-bata.
Orang itu? mungkin maksudnya Melves. Tapi kenapa ia bicara dengan putus-putus?
"Kenapa kau berada di sini?"
"... Bersembunyi."
"Pertanyaan terakhir, apa nama orang itu Melves?"
__ADS_1
Iblis itu menggelengkan kepalanya.