
"Sekarang. Apa kau pikir bisa kabur?"
Zen mengancam dan dia mengeluarkan intimidasi yang membuat orang melihatnya bergidik ketakutan. Namun, mereka yang memiliki tekad yang kuat, aura intimidasi itu tidak terlalu berpengaruh besar.
"Jangan meremehkanku!! atau aku akan membunuhnya!"
"Coba saja kalau bisa."
Pangeran menebas leher putri namun pedangnya terhempas begitu saja saat menyentuh leher sang putri.
"Apa?!"
Yang lainnya terkejut kebingungan dengan yang baru saja terjadi.Ternyata terdapat penghalang kecil yang menyelimuti leher sang putri, Azura yang melihat itu tahu milik siapa penghalang sihir itu.
Ratu jatuh pingsan saat melihat pedangnya diayunkan. Bangsawan lain merasa lega setelah melihat sang putri baik-baik saja.
"Ada apa? Kau tidak membunuhnya?"
"Apa yang sudah kau lakukan?!"
"Tidak ada. Jadi matilah dengan baik orang bodoh."
Kedua mata Zen bersinar dan sesaat kemudian sang pangeran terbakar oleh api putih dan bersih menjadi abu. Terkejut akan kekuatan itu membuat yang lain merasa mereka baru saja melihat monster yang sebenarnya.
Count terjatuh dan pingsan melihat anaknya itu mati begitu saja. Dia tahu kalau anaknya itu melakukan kesalahan tapi apa yang dilakukan Zen adalah hal yang berlebihan.
Azura tidak bisa menyalakan Zen tapi apa yang dilakukannya itu tidak bisa dimaafkan. Menurutnya, Zen keterlaluan namun mengingat apa yang terjadi pada petualang yang merupakan keluarga Zen yang sudah dibunuh oleh pangeran itu juga bukan hal yang sepele.
Zen berjalan mendekati sang putri dan mengambil kalung miliknya. Ini adalah kristal hitam yang terbentuk dari kumpulan kejahatan dan kebencian. Namun, di bagian talinya terdapat energi yang membuat kekuatan kristal tersegel dan ada kekuatan lain yang menggantikannya yaitu pengambil pikiran.
Jadi, tidak heran bahwa putri diam saja dan tidak berbicara sedikitpun. Menarik kalung dari leher sang putri dan talinya yang terbuat dari logam perak hancur begitu saja sehingga kekuatan pengambil pikiran itu menghilang dan segelnya terlepas.
__ADS_1
Cahaya muncul dari mata sang putri dan yang pertama kali ia lihat adalah sosok laki-laki berambut putih dan memiliki mata heterockromia, sebelah kanannya berwarna merah sedangkan sebelah kiri berwarna biru serta tuxedonya membuanya terlihat lebih gagah.
Terlepas dari itu dia juga terlihat tampan, itu adalah hal pertama yang dipikirkan oleh putri.
Putri tetap diam dan wajahnya memerah, Zen menyentuh dahi putri untuk mengecek apakah dia baik-baik saja.
"Kurasa kau tidak panas, tapi wajahmu masih memerah."
Riska dan Rena yang mengetahui perasaan putri segera menarik Zen dan menjauhkannya. Putri kembali sadar dari lamunannya dan merasa kecewa.
"Tidak akan kubiarkan kau menyentuh Zen lebih dari ini."
Riska mengancamnya dan membuatnya terlihat ketakutan.
"Apa yang kalian lakukan sih? Lihat? Dia ketakutan karena ulah kalian."
Mereka berdua hanya menundukkan kepalanya dan tidak melihat mata Zen. Ratu yang akhirnya kembali sadar segera berlari dan memeluk putrinya itu.
"Syukurlah kau baik-baik. Ibu sangat khawatir padamu, maafkan ibu yang tidak bisa apa-apa."
"Tidak apa-apa bunda. Lihat? aku baik-baik saja sekarang."
Ratu memeluk putrinya lebih erat lagi. Azura mendekat dan seperti biasa wajahnya benar-benar datar. Setelah semua ini, apakah dia tidak merasa sedih atau apapun itu? Yah, lagipula siapa yang peduli dengan orang tua ini.
"Zen, aku ucapkan terima kasih telah menolong putriku. Bagaimana kalau kita berbicara di dalam saja."
Mereka dibawa masuk kedalam dan duduk di ruang tamu. Sofanya cukup empuk dan cukup nyaman.
"Baiklah, mari kita bicarakan hal penting."
Zen menyilangkan kaki dan bersandar. Di sebelah kiri ada Rena, Rina dan Misaki. Di sebelah kanan ada Riska, Lilith dan Laura. Sementara Brull berdiri di belakang Zen, dia lebih suka berdiri, itu ya diucapkannya jadi dia tidak mempermasalahkannya tentang itu.
__ADS_1
"Sebelum itu, apakah putrimu baik-baik saja?"
"Ya. Dia sedang beristirahat bersama dua Kakaknya."
Sang ratu hanya diam dan menikmati tehnya sambil mendengarkan pembicaraan kami. Aku rasa aku harus langsung mengatakannya.
"Baguslah, sekarang. Seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa ada organisasi yang mencoba mencari kekuatan. Hancurnya beberapa desa itu adalah salah satu rencana mereka."
"Kekuatan? Jangan bilang?!"
"Seperti dugaanmu. Mereka mencuri energi kehidupan para warga desa karena mereka tidak pandai bertarung juga tujuannya adalah membangkitkan dewa jahat."
Azura terdiam sejenak dan memegang pelipisnya, sang ratu yang sejak tadi diam saja akhirnya mengeluarkan suara.
"Dewa jahat? Jadi kau ingin bilang kejadian yang terjadi pada putriku adalah agar mereka bisa mengambil energi kehidupannya, begitu?"
"Tepat sekali. Bukan hanya itu, sang pangeran juga salah satu korbannya. mereka membuat sang pangeran bertindak jahat untuk bisa mengambil energi kehidupan putrimu dan sedikit demi sedikit juga mencuri energi kehidupan pangeran."
"Aku berterima kasih kepadamu karena menyelamatkan putriku tapi katakan kepadaku kenapa kau membakarnya?"
Zen punya alasan tersendiri seperti dia memiliki dendam dengannya tapi dia tidak mungkin mengatakannya tapi dia juga memiliki alasan lain yang lebih masuk akal mengapa dia harus membakarnya.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Pangeran juga salah korban namun berbeda dengan putrimu. Putrimu di cuci otak oleh kristal hitam milikku jadi aku masih bisa menyelamatkannya namun tidak dengan pangeran, seluruh tubuhnya sudah mulai hancur dan jika terus dibiarkan cepat atau lambat dia akan tetap mati jadi aku membakarnya untuk mengakhiri penderitaannya."
"Kurasa aku mengerti maksudmu. Meskipun dia pelaku yang membunuh teman-temanmu, kau tetap menolongnya."
Zen hanya diam lalu dia mulai menceritakan tentang kelompok berbahaya yang mungkin akan menjadi masalah kedepannya. Dia memberikan beberapa informasi dan cara bagaimana Azura dan kerajaannya bisa menghadapi masalah itu.
Zen memiliki tujuan utama, yaitu kembali pulang ke bumi dan caranya adalah dengan pergi ke kerajaan Fredrossee dimana tempat kami dipanggil namun Zen membutuhkan kekuatannya dia sudah mendapatkan 3 dari 5 kristal. Dia sudah mendapatkan kristal merah, biru dan hitam dan tersisa putih dan ungu.
Zen tidak punya banyak waktu jadi dia ingin Azura memberitahu semua yang diberitahukan Zen kepada kerajaan lain.
__ADS_1
Tujuan mereka selanjutnya adalah mencari dua kristal yang tersisa dan satu-satunya cara yaitu dengan mencari informasi terkait kristal. Jadi mereka memutuskan mencari informasi di kota Rewa dan mengumpulkan uang.