
"Apa kamu bilang? bisa diulangi."
Mungkin kata-kataku kurang terdengar olehnya jadi aku mengulangi kata-kataku.
"Aku ingin keluar dari sekolah dan menjadi petualang langsung."
Laura terdiam sebentar dan menarik nafasnya.
"Aku tidak bisa melakukan itu, memangnya kau mau kemana?"
"Aku akan berkeliling mencari orang."
"Baiklah, tapi untuk keluar dari sekolah ini kau harus mendapatkan surat kelulusan."
Aku tidak mau menunggu selama itu hanya untuk keluar dari sini. Laura melanjutkan perkataannya.
"Aku bisa memberikanmu surat kelulusan sekarang karena kemampuanmu dan teman-temanmu tidak normal tapi kau harus ikut serta dalam turnamen sihir antar sekolah."
Antar sekolah? Apakah itu seperti tawuran pelajar? Meskipun demikian apa hubungannya antara surat kelulusan dengan turnamen sihir.
Yah, daripada memikirkan itu lebih baik aku mengikuti turnamen sihir ini dengan begitu aku bisa mencari mantan teman Riska lalu membalas perbuatan kerajaan Fredrosse padaku.
"Seperti apa turnamen sihir itu."
Bu loli mendekat padaku dan mulai menjelaskan tentang turnamen sihir.
"Itu adalah pertarungan sihir, dimana setiap sekolah akan memilih empat murid sebagai perwakilan dan akan bertarung dengan perwakilan lain dan menjadi nomor satu, kau bisa menyebutnya battle royal."
Battle Royal, ya? Sepertinya ini tidak akan mudah. Tapi siapa yang peduli aku akan mendapatkan surat kelulusan ini.
"Baiklah, aku akan ikut serta."
"Eh, kau yakin?"
"Ya, lagipula aku tidak sendirian."
Aku sangat yakin bahwa aku bisa menang karena ada Riska, Brull dan Lilith. Meskipun kekuatanku besar bukan berarti aku yang terkuat.
"Yah, mau bagaimana lagi kalau Zen ikut, maka Brull si pria terkuat ini akan membantunya!"
"Aku selalu mengikuti keputusan Zen."
"Aku juga akan membantu."
Melihat mereka dengan senang hati membantuku membuat aku tidak bisa menahan senyumku, aku merasa beruntung memiliki teman seperti mereka.
"Wah, lihat, Zen tersenyum!"
"Sungguh senyum yang indah kawan."
"Itulah yang membuat Zen sangat menawan."
__ADS_1
Mendengar pujian dari mereka bertiga benar-benar membuatku tidak bisa berhenti tersenyum.
"Baiklah, aku akan mendaftarkan kalian, jadi mulai dari sekarang sebaiknya kalian melakukan latihan atau semacamnya. Pertandingan akan dimulai 2 Minggu lagi."
"Baiklah, boleh kami pergi. Kami bosan dengan pelajaran di kelas."
"Tentu, tapi ingat kau hanya boleh pergi di area sekolah saja."
Setelah mendengar penjelasan tentang pertandingan antar sekolah kami berencana pergi latihan, ini juga salah satu cara mengetahui tentang api putih ini.
Terakhir kali aku bisa gunakan api putih saat berada di dalam portal aneh, saat membakar labirin.
Kami pergi ke belakang sekolah dimana ada taman yang besar, disekeliling hanya ada bunga dan pohon.
"Wah, bunga yang sangat indah!"
"Ah, tidak kusangka ada tempat senyaman ini."
Aku memfokuskan mana pada tangan sambil memikirkan api putih namun tidak ada respon sama sekali, aku terus mencoba tapi tidak ada yang keluar sama sekali.
"Darling, apa yang kau lakukan?"
"Oh, Riska- maksudku, honey. Aku sedang mencoba mengeluarkan api putih tapi tidak respon sama sekali."
Melihat aku yang tengah berlatih Brull dan Lilith mendekat.
"Aku juga pengguna api tapi setahuku selama kau memiliki imajinasi yang kuat kau akan dengan mudah menciptakan api."
"Apa kau tahu sesuatu Brull."
"Aku pernah membaca buku lama, setahuku api putih adalah api milik raja iblis, api yang mampu membakar iblis, roh, dewa, naga, dan masih banyak lagi, api putih tidak panas tapi mampu membakar sesuatu dengan mudah dan api putih itu bukan api pada umumnya, itu adalah api yang melambangkan kehancuran."
Mendengar penjelasan itu sekarang aku mengerti kenapa putri Lisa dan raja Fredrose begitu terkejut mendengar itu. Jika menggabungkan cerita Brull dengan cerita Abbadon dan Lucifer, bisa dikatakan kalau aku adalah raja iblis. Namun yang saat ini belum ku mengerti adalah aku adalah makhluk panggilan jadi mustahil bagiku kalau aku adalah reinkarnasi dari raja iblis.
"Api putih milik raja iblis, berarti Zen adalah raja iblis?"
"Kalau itu benar juga aku tidak peduli karena Zen adalah satu-satunya temanku yang berharga."
"Zen adalah Zen dan itu tidak akan pernah berubah."
Aku terus mencoba membuat api putih tapi tetap gagal, sementara Riska dan Brull sedang latih tanding, meskipun aku tidak bisa melihat latihan mereka tapi aku bisa mendengar pertarungan mereka. Sementara Lilith hanya duduk sambil menatap bunga-bunga, itu yang dikatakan Azazel.
Ding-Dong-Dang-Do~ng(Suara bel)
Bel istirahat berbunyi yang menandakan jam makan siang, setelah berlatih cukup lama hingga lupa akan waktu.
Namun, sebelum pergi aku Mengeluarkan batu besar dari sihir ruang yang bernama 'Storage', itu adalah sihir ruang dimana kita bisa menyimpan apapun kedalaman.
Batu ini berwarna hitam pekat dan sangat keras, awalnya saat aku menemukan ini di dalam portal aku tertarik pada batu ini karena saat aku membakar labirin, batu ini tidak terbakar sama sekali.
"Kawan, apa itu."
__ADS_1
"Batu besar ini untuk apa?"
"Lilith kemarilah."
Aku menggunakan salah satu skill blacksmith yaitu [smelting] membuat batu hancur menjadi kecil, aku mengambil satu batu dan menggunakan skill [Creation] untuk mengubahnya menjadi busur lalu menggunakan skill alkemis yaitu [Enchant] dengan skill ini aku bisa menambahkan elemen pada busurnya dan aku menambahkan elemen angin.
"Ini untukmu."
"Apa? Busur ini untukku?"
"Ya, itu sudah tidak memerlukan panah karena kau hanya menarik talinya busur dan memasukkan mana kedalam busur kau bisa mengeluarkan panahnya."
"Wah! Terima kasih Zen, baik akan kucoba."
Lilith mulai menarik busurnya dan mengarahkan panah hitam yang diselimuti angin ke arah pohon, terdapat lingkaran sihir kecil muncul di mata Lilith saat ia menutup satu matanya.
Panahnya dilepaskan ke depan dan menumbangkan pohon yang ada di serangnya tapi panah itu masih meluncur ke depan dan ada seorang kakek tua yang berjalan, seperti ia tukang kebun.
Dengan refleks Brull membuat tembok tanah untuk menghalangi.
"Wahai tanah, lindungi kami dengan tanah [earth wall]"
Panah itu meledak saat mengenai tembok tanah milik Brull, ledakannya sangat besar hingga menghancurkan tembok itu, meskipun begitu tapi kakek itu baik-baik saja.
"Wah... Bagaimana ini!"
Lilith terlihat panik dengan panah yang di luncurkannya, meskipun begitu aku senang karena panah itu bekerja dengan baik.
"Hampir saja, untung saja tepat waktu."
"Kau tidak apa-apa pak?"
Riska mendekati kakek itu dan menanyakan kondisinya yang terlihat syok. Kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya dan melihat ke pohon besar yang tumbang.
"Apa yang kalian lakukan, ini adalah taman untuk istirahat bukan untuk berlatih, dasar anak-anak bodoh."
Aku mendekati pohon besar itu dan menggunakan sihir penyembuh, aku pernah melihat ini di komik, sihir penyembuh juga bisa digunakan pada tumbuhan karena sihir penyembuh hanya bisa digunakan kepada makhluk hidup jadi itu tidak masalah.
"[Ex Mega Heall]"
Cahaya hijau menyelimuti pohon dan pohonnya berdiri dengan sendirinya, saat cahaya mulai redup pohon itu sudah kembali normal.
"Lihat, itu baik-baik saja. Maafkan kami atas perilaku kami jadi kau bisa tenang sekarang."
"Kalian tidak boleh merusak tanaman disini, aku sudah merawat mereka dengan susah payah tapi kalian justru malah merusaknya."
"Aku sudah bilang maaf padamu, jadi kau bisa kembali bekerja."
"Awas saja kalian, aku akan melaporkan kalian pada kepala sekolah."
Kakek tua itu pergi dengan rasa kesal, aku bisa merasakan amarah darinya, tapi itu tidak sepenuhnya salah kami karena pohon itu sudah seharusnya di potong.
__ADS_1