Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Kontrak dengan dua iblis


__ADS_3

"Kau benar, masa depan bisa berubah tapi tolong berhati-hatilah. Kau sudah menyembuhkan mataku tidak hanya itu kau juga sudah menyelesaikan permintaan dari suamiku dengan mudah."


"Terima kasih banyak atas perhatian. Kami akan kembali ke kamar kami."


Setelah itu, aku dan Brull pergi ke kamar kami, dan tidur. Karena hanya dua kasur kami tidur di satu tempat tidur.


***


Tepat setelah aku menutup mataku, aku merasa berada di sebuah tempat yang gelap tak berujung.


Jangan bilang tempat ini... adalah...


"Akhirnya kau datang Zen."


Sudah kuduga ini di dalam tubuhku, tempat Azazel tinggal. Tapi kenapa dengannya ya? Dia terlihat sangat ketakutan.


"Ada apa denganmu? kenapa wajahmu terlihat buruk begitu."


"Itu... itu..."


Mengatakan dengan gagap, ia terus menunjuk ke belakang. Ada apa disana?


"Berhentilah bermain curang, dasar bodoh!"


"Fumu. Sayangnya aku tidak bermain curang, itu karena kau saja yang tidak bisa bermain."


"Apa kau bilang! aku? Tidak bisa bermain?"


Ada apa ini? aku mendengar suara lain di sana. Kenapa mereka bertengkar?


Karena penasaran dengan apa yang terjadi, aku berjalan menuju suara itu dan saat ku dekati, kalau kau bertanya padaku siapa mereka berdua, jawabannya aku juga tidak tahu.


"Oh, Zen. Lama tak jumpa, padahal tidak bertemu selama 1000 tahun tapi wajahmu tidak berubah sama sekali."


"Kau tidak boleh berbicara seperti itu, Lucifer."


"Kenapa? Dia, kau dan aku adalah saudara kenapa mengatakan seolah-olah kita harus bicara padanya dengan sopan. Hei jawab aku, Abbadon."


Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi melihat mereka bicara, aku mengerti kalau orang yang memiliki mata merah dan rambut hitam adalah Lucifer dan yang satunya yang memiliki mata biru terang dan rambut perak adalah Abbadon, atau lebih tepatnya kalau aku ibaratkan si api dan di air.




"Aku tidak tahu siapa kalian, tapi entah kenapa aku merasa kalau kalian bukan orang asing."


"Begitu, aku mengerti. Sepertinya saudara kita yang satu ini telah kehilangan ingatannya."


"Kau benar, Abbadon. Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan ingatannya, apa aku harus memukul kepalanya untuk membuatnya ingat kembali."


Cukup sampai disana, dasar orang gila! Kau mau membunuhku apa! Apa maksudnya? Aku tidak hilang ingatan.

__ADS_1


"Dasar bodoh. Meskipun dia hilang ingatan bukan hilang ingatan seperti itu, mungkin karena dia bereinkarnasi ke sini ingatannya menjadi buram. Satu-satunya cara untuk membuatnya ingat adalah menunggu."


Mereka berbicara sambil menjalankan bidak catur mereka yang ada di hadapan mereka.


Kali ini giliran Lucifer yang bermain. Ah! seharusnya kau melindungi raja.


"Baiklah, Zen. Aku akan memberitahumu semua yang kutahu tentang kita. Checkmate!"


"Ah! Lagi-lagi kau curang!"


"Dasar tidak tahu diri, jelas-jelas kau yang tidak bisa mengalahkanku."


Aku mengerti alasan mereka bertengkar tapi kesampingkan dulu itu, aku penasaran dengan apa yang terjadi padaku 1000 tahun yang lalu.


Abbadon dan Lucifer menata kembali bidak-bidak catur ke tempatnya dan aku mendengarkan Abbadon bercerita.


Menurut ceritanya, 1000 tahun yang lalu, aku adalah raja iblis dan tentunya aku adalah seorang manusia yang di dalam tubuhku ada Abbadon dan Lucifer. Dengan bantuan mereka aku menjadi raja iblis terkuat dalam sejarah. Kami membantai banyak manusia dan dari semua manusia yang ada yang berhasil bertahan dari seranganku hanyalah pahlawan Rena.


Yah, begitu saja yang di katakan oleh Abbadon lalu Lucifer menambahkan.


"Dan semua manusia itu di bantai oleh api putih yang dingin namun mematikan!"


Itulah yang diteriakkan oleh Lucifer sambil meninju ke atas. Dan juga bermainlah dengan benar Lucifer!


"Begitu, terima kasih banyak kalian berdua. Jadi Azazel, apa yang membuatmu ketakutan?"


Dengan menurunkan bahunya dan matanya yang melihat kanan kiri secara bergantian, ia menjawab dengan suara yang bergetar.


Ada apa denganmu? Dan juga kau tadi bilang melawan? Apa kau menyerang mereka. Tapi meski begitu kau harus tenang, oke? Kau mengatakan kalau aku tidak normal tapi itu juga berlaku untukmu.


"Azazel memangnya apa yang kau lakukan?"


"Yah, dia tadi menyerang kami namun tidak ada satu serangannya yang mengenai kami."


Jadi itu yang membuatmu ketakutan!? hah, kupikir apa ternyata hanya itu. Saat Lucifer menjawab dia terlihat begitu tenang, dilihat dari ekspresinya sepertinya ia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Jadi, apa yang harus kulakukan pada kalian berdua? Membuat kontrak?"


"Itu tidak perlu."


"Benar, Karena kita sudah membuat kontrak denganmu. Yang perlu kau lakukan adalah menerima kami kembali."


"Menerima? Bagaimana caranya?"


Abbadon menarik nafas, dan menjawab dengan ekspresi malas.


"Kau cukup percaya bahwa kami itu satu denganmu."


"Tanpa kalian katakan pun aku sudah percaya pada ucapan kalian."


"Kalau begitu baguslah, dan untukmu Azazel. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi kau sebaiknya jangan menganggap kami sebagai musuh tapi sebagai keluarga."

__ADS_1


Uh, apakah itu kata-kata yang bisa diucapkan oleh iblis sepertimu. Yah, aku tidak pernah berpikir kalau iblis tidak memiliki keluarga atau teman.


"Checkmate."


Ah, lagi-lagi Lucifer kalah. Karena sejak tadi aku sangat gregetan melihat mereka berdua bermain hingga aku sangat ingin bermain juga.


"Ada apa, Zen? Kau ingin bermain juga?"


"Apa boleh?"


"Tentu. Lucifer menyingkirlah, biarkan Zen bermain."


"Cih."


Dengan agak kesal, Lucifer berdiri dari tempat duduknya dan aku duduk di tempat duduknya. Kami menyusun bidak-bidak catur ke tempatnya. Aku mulai duluan sebagai bidak putih dan Abbadon bidak hitam.


Setelah 5 menit berlalu kami bermain, akhirnya sudah sampai dimana aku tinggal menjalankan satu bidak untuk menang. Aku memajukan benteng ke depan dan...


"Checkmate."


"Apa? Tidak mungkin!?"


"Ada apa, sejak tadi kau begitu sombong mengalahkan Lucifer sekarang kau kalah bagaimana perasaanmu?"


"Haha. Abbadon ternyata kau juga bodoh."


Sepertinya aku terlalu berlebihan, ekspresi Abbadon tidak seperti sebelumnya. Kali ini ia terlihat seperti siap membunuh, aku bisa merasakan aura membunuhnya keluar darinya.


"Sekali lagi."


Kami terus bermain dan kami sudah bermain sebanyak 5 pertandingan dan semuanya aku yang memenangkannya. Saat ini adalah permainan ke 6 kami dan giliran Abbadon bermain. Tatapan matanya yang terfokus pada papan catur benar-benar menakutkan.


*Tak*


"Sekarang giliranmu."


Aku memajukan kuda dan lagi-lagi raja milik Abbadon terpojok.


"Checkmate."


"Ah, sial!"


Sepertinya ia sangat kesal, tapi dengan cepat ia menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan dirinya.


"Baiklah. Sekali lagi!"


"Sudahlah, menyerah saja kau, Abbadon. Mau berapa kali pun kau bermain hasilnya akan sama saja, bukankah itu yang kau katakan padaku." Ejek Lucifer.


"Sudahlah, kita hentikan saja. Aku sudah lelah."


Abbadon hanya menarik nafas kecewa, ya, aku tahu rasanya kau pasti sangat kesal karena terus kalah tapi aku sudah menanggapimu sebanyak 6 pertandingan.

__ADS_1


__ADS_2