
Kedua ksatria penunggang kuda itu sangat kesal dengan sesuatu yang ada didepannya itu.
"Hei kau! Kenapa berhenti? Terus jalan!"
Seorang laki-laki memakai tuxedo yang duduk di kereta bersama putri berteriak. Dia adalah seorang anak bangsawan.
"Maaf tuan, tapi... ada kotak besi aneh yang menghalangi."
"Cepat singkirkan itu!"
"Baik." Ksatria itu menjawab sambil menahan emosi kesalnya.
Sesaat kemudian lingkaran sihir muncul di bawah mobil dan perlahan masuk ke bawah seperti tersedot.
Dihadapan sang raja, istri dan kedua anaknya serta bangsawan lainnya. Seorang laki-laki dengan rambut putih berdiri. Dia tersenyum padanya.
"Lama tak jumpa, Zen." Itu sapaan dari raja.
Istri dan kedua anaknya penasaran dengan laki-laki dihadapan mereka, sementara para bangsawan bingung dan sedikit kesal dengan anak laki-laki itu. Tidak hanya lancang memanggil sang raja dengan namanya tapi juga mengganggu acara spesial ini.
"Ya, lama tak jumpa. Yang lebih penting apa aku datang terlambat?"
Para ksatria berkuda serta putri dan tunangannya tiba. Suara menjadi meriah oleh suara tepuk tangan para warga.
"Zen, apa kau tahu kalau kau sedang mengacaukan acara putriku?"
Azura tetap tenang dan berbicara dengan Zen.
"Ya, tentu saja. Tapi apa kau tahu kenapa aku mengacaukannya?"
Zen tersenyum sambil menatap Azura. Para bangsawan tidak ada yang berkutik sedikit pun saat menatap mata Zen.
Kereta dan para ksatria tiba di belakang Zen. Sang pria dengan anggun membantu putri turun. Mereka bergandengan tangan dan berjalan ke hadapan raja namun saat berpapasan dengan Zen, ia terlihat kesal.
"Hei, siapa kalian? Jangan menghalangi."
Zen menghiraukannya dan para warga yang melihat berbisik-bisik namun suara itu menjadi riuh.
"Tolong tenang!"
Azura berteriak.
Semua menjadi tenang dan Azura menjadi pusat perhatian semua orang.
"Zen, aku senang kau datang namun bisakah kau tidak mengacaukan acara ini? Aku memohon dengan sangat."
Semua tercengang saat Azura membungkuk.
__ADS_1
"Tidak bisa. Padahal aku datang untuk menyelamatkanmu dan juga putri kalian tapi ini kah caramu berterima kasih?"
Azura dan semua orang yang ada bingung namun seseorang langsung menyela.
"Apa maksudmu menyelamatkan hah?! Ini adalah acara spesial. Aku tidak tahu siapa kau, tidak hanya mengacaukan acara spesial putraku tapi kau juga bersikap tidak sopan pada yang mulia. Kau harus dieksekusi!"
Dia adalah ayah si mempelai pria. Seorang Count.
Apakah aku harus memberinya pelajaran. Tapi sepertinya Azura tidak akan menyukainya.
"Ada beberapa hal yang ingin aku bahas denganmu juga, Azura."
"Hei, sudah kubilang bersikap sopan-"
Dalam sekejap Brull berada di hadapan count. Dengan pedang yang terbuat dari petir menyentuh lehernya dan bisa memotongnya kapanpun, tapi Brull menahannya.
"Selain Zen dan raja, tidak ada yang boleh berbicara. Kalau satu kata keluar dari mulutmu, maka kau akan kehilangan kepalamu."
Saat menatap mata Brull, count tidak bisa apa-apa dan menelan ludahnya.
"Baiklah, tujuanku adalah datang ke pesta dan membunuh seseorang."
"Apa maksudnya itu?"
Azura bingung dan terheran-heran dengan ucapanku.
"Apa maksudnya tentang hancurnya beberapa desa yang terjadi akhir-akhir ini?"
Jelas Azura mengerti, tentang serangan yang terjadi, meskipun aku yakin dia tahu siapa dan apa tujuan mereka.
"Ya."
"Baiklah, aku mendengarkan jelasnya nanti. Tapi apa hubungannya dengan mengganggu acara hari ini."
Aku menatap ke belakang tepat putri berada, atau lebih tepatnya aku menatap kalung yang dikenakannya. Itu adalah sebuah kristal berwarna hitam dan aura yang dipancarkan sangat mengerikan.
Namun, yang membuatku tertarik dengan itu karena ketiga kristal yang ada di saku celanaku merespon. Jadi aku yakin kalau yang dipakainya adalah kristal kegelapan. Bukan hanya itu, aku juga penasaran dengan putri yang tidak bicara dan selalu menatap kosong ke bawah.
Aku menunjuk ke pangeran yang duduk di dibelah putri.
"Apa kau tahu orang itu, beberapa hari yang lalu membunuh seluruh orang yang ada di guild kota Valmas."
Semua orang yang ada disana sangat terkejut saat aku mengatakan itu. Azura yang selalu memasang wajah datar pun sekarang tercengang. Tapi saat aku akan melanjutkan pangeran itu langsung berteriak.
"Jangan mengatakan hal konyol! Kenapa juga aku harus membunuh mereka?!"
Aku menyipitkan mataku dengan jawaban yang dia berikan.
__ADS_1
"Kau menuduhku tanpa bukti! Ayah, cepat eksekusi orang ini!"
Pangeran itu seolah dia tidak peduli dengan keadaan ayahnya yang sedang dalam bahaya. Ayahnya hanya bisa diam sambil menggertakan giginya.
"Beberapa hari yang lalu kau bertemu orang yang bermana Melves bukan?"
"...Hah?!" Dia ragu.
Sepertinya dia berpikir untuk menyembunyikan bukti kalau dia bertemu dengan Melves dan mendapatkan kekuatan darinya.
"J-Jangan bercanda! Aku tidak mengenal Melves yang kau sebutkan! Setelah menuduhku membunuh orang-orang guild dan menuduhku bertemu pemimpin kelompok jahat, kau juga mengacaukan acara milikku!"
Aku tidak pernah mengatakan Melves adalah pemimpin dari kelompok dark spirit, sekarang itu menjelaskan dari mana dia mendapatkan kristal hitam milikku.
"Dengarkan apa yang dikatakannya. Dia mengaku dengan sendirinya."
Azura menyipitkan matanya, dia tahu kalau aku tidak pernah mengatakan siapa itu Melves tapi si pangeran itu mengatakannya. Azura tahu maksud perkataanku.
Dia menghela nafasnya dan bertanya kepada sang pangeran.
"Baiklah, aku membatalkan pertunangan ini."
Saat Azura sedang mengumumkan, sang count dan pangeran berteriak keras.
"Apa maksudnya yang mulia? Anakku bilang dia tidak bersalah."
"Yang mulia, apa kau tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan?!"
Teriakan mereka membuat sifat asli mereka keluar, para tamu dan warga yang hadir saling berbisik satu sama lain.
"Aku mengenal Zen. Yang dia katakan adalah kebenaran, Zen memiliki mata sihir yang membuatnya tahu kau berbohong atau tidak. Dan juga Zen tidak pernah mengatakan Melves adalah pemimpin kelompok tapi kau mengatakannya, dengan ini semuanya jelas."
Mendengar pernyataan yang diucapkan Azura, sang count akhirnya menyadari kalau anaknya berbohong kepada semua orang termasuk dirinya tentang membunuh.
Tapi sebagai seorang ayah, dia tidak percaya bahwa anaknya membunuh dan tidak mempercayainya. Untuk memastikan kebenarannya dia bertanya.
"Kalau memang anakku membunuh teman temanmu, apa kau punya buktinya? Setiap kata yang kau ucapkan terasa aneh, bagaimana kalau kau berbohong?"
Brull ingin memotong kepala sang count namun aku menghentikan dia dengan menggelengkan kepalaku.
"Hah... Kalau kau ingin bukti maka aku akan menunjukkannya pada kalian semua."
Aku mengalirkan sihir ke langit untuk mengaktifkan skill yang baru saja aku buat.
"[Proyeksi Ingatan]"
Cahaya transparan keluar dari jari telunjukku dan sebuah layar muncul di langit. Bagaimanapun melihatnya, ini sama seperti proyektor.
__ADS_1