
Melihat banyak ras selain manusia, aku benar - benar begitu terkagum - kagum, aku merasa ini hanya mimpi, aku mencubit pipiku sendiri dan ini bukan mimpi melainkan kenyataan.
"Kami akan merapikan barang barang di penginapan, apa kalian mau ikut?" Tanya Leo
"Tidak, kami akan berkeliling lagi." Jawab Roy
Mila, Leo dan Kei pergi ke penginapan sedangkan Roy dan Haruna melanjutkan berjalan - jalan di kota bersama kami. Pertama kami pergi ke guild petualang untuk membuat identitas kami. Guild itu berada di tengah kota, bangunannya yang besar terlihat sangat mencolok dan mudah ditemukan.
"Hei lihat, Roy dan Haruna sudah memiliki dua anak sekaligus."
Teriak seorang pria kekar yang duduk di belakang sambil menunjuk ke arah kami, semua mata melihat ke arah kami dan banyak wanita yang seumuran dengan Haruna mendekat kami dan mencubit pipi kami bahkan resepsionis guild pun ikut mencubit pipi kami.
"Wah lucunya!"
"Hei siapa nama kalian?"
"Berapa umur kalian?"
"Apa kalian benar - benar anaknya Roy."
Pertanyaan datang satu persatu ke kami membuat aku merasa jengkel dengan mereka tapi aku merasa kasihan melihat Riska yang terlihat sangat tidak nyaman.
Orang yang berbadan kekar tadi menghampiri Roy dan bertanya pada Roy.
"Hei Roy, kalian menculik anak kecil dimana?"
Wajahnya terlihat agak mencurigakan bagiku seperti aku akan akan dijual atau semacamnya, kumisnya sangat tebal dan panjang dan ia membawa kapak besar di punggungnya.
"Aku tidak menculik mereka, aku bertemu dengan mereka didekat gunung dan ingin mencari seseorang."
"Oh, benarkah?"
"Kalau kau tidak percaya, kenapa tidak tanyakan pada mereka langsung? Gabriel?"
Orang berbadan kekar itu langsung jongkok dan menatapku dengan serius.
"Hei nak, siapa namamu?"
"Zen, Zen Ignatius."
Aku menjawab dengan cepat dan mencoba berperilaku seperti anak kecil umumnya karena ia menatapku seakan - akan ia tahu diriku yang sebenarnya.
"Apa kau terima jadi anak Roy ini."
"Sejujurnya tidak karena kami ingin masuk ke kota ini mau tidak mau aku harus menuruti mereka."
Ekspresi wajah Gabriel langsung berubah menjadi ceria, ia tersenyum sambil tertawa.
"Hahaha, aku suka sifatmu. Namaku Gabriel kalau kau butuh bantuan katakan saja padaku."
"Baiklah, terima kasih banyak." Kami saling berjabat tangan, lalu wanita wanita itu masih mengerumuni Riska.
"Jadi namamu Riska ya."
"Sihir apa yang gunakan?"
"Sihir api."
"Apa kau mau jadi petualang?"
Haruna langsung menjawab sebelum Riska berbicara.
__ADS_1
"Memangnya itu bisa?"
"Tentu saja tidak, hehe."
Mendengar pembicaraan mereka rasanya tidak ada maksud apapun, resepsionis itu melanjutkan pembicaraan itu.
"Tapi sekolah petualang kan ada."
"Oh iya."
"Kalau begitu, apa kalian mau pergi ke sekolah?"
"Bagaimana menurutmu Zen."
Riska bingung harus menjawab apa dan memberikan pertanyaannya padaku, tapi ekspresi Riska terlihat ingin masuk ke sekolah, aku dengan terpaksa harus mengikuti kemauannya karena sebelumnya ia telah menyelamatkanku jadi anggap saja sebagai balasannya.
"Kalau kau mau, aku tidak keberatan."
"Benarkah?"
Ia terlihat sangat senang, aku hanya mengangguk dan Riska langsung memelukku karena senang tapi aku kasihan pada Ignis yang terjepit diantara pelukan kami.
...**************...
Keesokan harinya.
Di depan mataku sebuah bangunan besar seperti sebuah kastil.
Sekolah yang sangat besar benar benar mirip seperti kastil atau lebih tepatnya itu memang kastil, pintu masuknya yang sangat lebar dan disana ada tempat seperti sebuah loket dan di banyak anak yang mengantri di loket tersebut.
Dan disekeliling saya banyak orang yang datang satu persatu.
Apakah orang orang ini juga ikut ujian masuk?
"Ah!"
Suara gadis terjatuh di belakang saat menoleh Riska terjatuh dan ada laki - laki di sebelah.
Dia memiliki kulit putih, memakai pakaian yang terlihat mewah, rambut pendek berwarna hitam dan tampak berusia 15 tahun.
Dia memiliki senyum yang hanya meneriakkan niat buruk.
"Aduh, maaf aku tidak melihatmu gadis kecil. harusnya kau tidak menghalangi jalanku gadis kecil."
Hmm. Siapa orang ini? sifatnya buruk sekali.
Aku membantu Riska berdiri dan Riska hanya tersenyum seperti tidak terjadi apa apa.
"Kau tidak apa - apa, Riska."
"Ya."
".......... ,Oi, benarkah itu?"
"Aah.... ini buruk ...... mereka mencari masalah dengan James. Aku ingin tahu apakah anak itu akan menjaga tubuhnya..........?"
Rupanya, orang ini terkenal.
Tapi lupakan itu, apakah antriannya sepanjang itu? Kurasa aku terlalu lama disini, mungkin kalau aku mengantri sekarang aku akan bisa masuk lebih cepat.
Aku menuju ke kanan sambil menggandeng tangan Riska untuk ikut antrian.
__ADS_1
"Kau......!! Oi, brengsek, brengsek !!"
Aku berbalik untuk melihat karena bising sekali di belakang.
"Hmph. Akhirnya kau berbalik, bukankah seharusnya kau minta maaf karena telah menabrakku."
Aku menghela nafas dalam hati melihat sikapnya yang sangat buruk.
Haruskah aku memberinya sedikit pelajaran?
"Maafkan kami, jadi apa sekarang kami boleh masuk."
"Apa maksudmu, kau sebaiknya pulang. Anak kecil sepertimu sebaiknya pulang saja, syuh."
Melihat sikapnya benar - benar membuatku kesal meskipun ia lebih tua dariku setidaknya ia memiliki sedikit sopan santun bukan?
"Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun padamu?"
"Aku adalah seorang bangsawan James Arthur dan kau berani menghina keluargaku?"
Seorang bangsawan? akhirnya aku mengerti darimana datangnya sifat sombong itu.
"Oi, cepat bersujud dan minta maaf."
Suara yang sangat dingin.
James mengarahkan tangannya dan membaca sebuah mantra.
"Wahai api bakar semua musuhmu jadi abu,[Fire ball!]"
"Fuu."
Sebuah bola api kecil datang ke arahku dan dengan mudah aku hanya meniup bola api dan bola api itu seketika menghilang sebelum mengenaiku.
"Apa.... itu .... tidak mungkin!! Apa yang kau lakukan!!"
Wajahnya terlihat panik dan berteriak padaku.
"Apa kau terkejut? sihir rendah seperti itu tidak mempan terhadapku."
"Apa kau bilang?!!"
Sebelumnya aku sudah meniru beberapa sihir milik Zifrit yaitu sihir kata - kata jadi aku ingin mencobanya, aku mengumpulkan mana di mulutku dan berbicara.
"Minta maaflah bodoh."
Seketika tubuhnya menegang dan bersujud sambil minta maaf.
"Maafkan aku... , aku salah... mohon maafkan aku."
Kami pun langsung berjalan ke antrian.
"Zen, apa yang kau lakukan padanya."
"Hanya memberinya sedikit pelajaran dengan sihir kata kata yang aku tiru dari Zifrit."
"Sejak kapan kau menirunya."
"Sudah lupakan saja, ayo!"
Kami berlari ke antrian meski antrian panjang dan kami juga menjadi pusat perhatian karena kami satu - satunya pendaftar yang berumur 6 tahun.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, akhirnya kami berada di loket. Kami memberikan sebuah pin yang sebelumnya di berikan oleh resepsionis.
Keringat orang yang berada di loket mulai bercucuran seperti disiram air dari atas dan memberikan kami sebuah kertas yang di atasnya ada sebuah nomor.