Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Pertemuan dengan teman lama


__ADS_3

Matanya bergetar dan tiba-tiba memelukku.


"Zen! Senang melihatmu kembali."


Dia sahabatku, kami selalu bersaing namun dia selalu mencoba membantuku saat Leon dan dua temannya mencoba menindas kami.


Para gadis dan Brull sangat terkejut tatapan para gadis Yugo menatapku dengan iri dan amarah.


Sepertinya itu juga berlaku pada Riska dan yang lainnya.


"Menjauhlah, Yugo sialan. Aku ini masih normal, aku hanya menyukai gadis."


Yugo menjauh sedikit dan mengusap air matanya yang keluar.


"Aku senang kau masih hidup. Kupikir aku tidak bisa melihatmu lagi."


"Kau pikir dengan siapa kau bicara. Aku tidak akan mati semudah itu."


"Haha. Aku tahu itu, seperti yang diharapkan dari sahabatku."


"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Kupikir kau bersama Leon dan yang lainnya."


"Kau bercanda. Untuk apa aku mengikuti mereka, saat kau di lempar ke jurang itu membuatku sangat kesal." Yugo mengepalkan tangannya dengan kesal. "Aku mendengar pembicaraan rahasia seseorang kalau kekuatanmu akan sangat berbahaya di masa depan jadi mereka memilih membunuhmu daripada mengasingkanmu."


Jadi begitu, informasi yang cukup menarik tapi yang mereka maksud itu api putihku bukan? Aku masih belum mengerti cara kerjanya api putih ini namun setidaknya aku tahu kalau api putih ini sangat mereka waspadai.


"Zen, boleh aku bertanya?"


"Apa itu?"


"Kenapa rambutmu putih dan matamu berbeda warna seperti itu?"


Yugo terlihat penasaran.


"Kalau aku bilang ini hasil kerja kerasku apa kau percaya."


"Kurasa tidak."


Apanya yang 'kurasa' kau tidak berubah ya.


"Zen." Riska menarik jubahku dan menatap ke pintu masuk.


"Banyak sekali gong-gongan anjing lemah di sini." Kata si wanita.


"Maria, jangan katakan itu dengan keras." Jawab laki-laki 1.


"Ya, kita terlambat." Jawab laki-laki 2.


Amarah mulai menguasai Riska, mata dan tubuhnya mulai mengeluarkan api. Matanya terus melototi mereka seakan-akan matanya mengatakan 'Mereka harus mati.'


"Tenanglah Riska, nanti kita ketahuan."


Riska menarik nafas panjang dan setelah tenang ia tersenyum padaku.


"Aku minta maaf, sekarang aku tidak apa-apa."


Seorang pria botak datang dan menyuruh kami berkumpul.


"Sampai ketemu nanti Yugo."

__ADS_1


"Ya, sampai ketemu nanti."


Kami meninggalkan Yugo dan berkumpul sesuai yang diinstruksikan pria botak.


"Karena semua kelompok sudah berkumpul, aku akan menjelaskan bagaimana kita mengurus quest ini."


Setelah penjelasan panjang dari pria botak, semua kelompok harus berpasangan dan masuk ke istana.


Pembagian pasangan dan pintu masuk yang akan di lalui sudah dibagi. Kebetulan kami berpasangan dengan kelompok Yugo dan kami mendapatkan pintu masuk bagian utara.


"Yo, Zen. Kita bertemu lagi."


Yugo melambaikan tangan pada kami setelah melihat kami datang.


"Aku heran, kenapa harus bersama manusia sialan ini."


Mata para gadis di belakang Yugo menatapku dengan tajam dan gadis twintail langsung berteriak setelah mengatakan sialan kepada Yugo.


"Siapa yang kau panggil sialan! Masterku tidak sepertimu."


Gadis yang berani, aku penasaran apakah dia akan tetap seperti itu setelah mengerjainya.


"Tenanglah Erika, Zen tidak bermaksud jahat. Dia memang seperti itu."


"Oi pendek! Harusnya kau sadar dengan posisimu kan?"


Aku menatap dan tersenyum dengan sombong layaknya raja iblis dan mengeluarkan aura lebih besar dari sebelumnya.


Yugo dan budaknya ketakutan dan tiba bisa berkata apa-apa. Aku masih belum selesai mengerjai mereka, namun dari belakang Brull memukulku.


"Aduh."


"Berhenti bermain-main Zen. Meskipun dia temanmu kau tidak boleh mengerjai mereka berlebihan seperti ini." Kata Brull dengan menatapku dengan tajam.


Budak Yugo hanya mengangguk dan tidak mencari masalah denganku.


"Baguslah kalau begitu dan Yugo, kau harusnya berterima kasih padaku karena sudah mendisiplinkan budak-budak mu itu."


"Sialan, sifat sombongmu itu masih ada walaupun penampilanmu berubah. Baiklah, Terima kasih. Kalian minta maaf pada Zen."


Setelah mendapatkan perintah itu dari Yugo, mereka membungkuk dan meminta maaf walaupun cara menatapku seperti memiliki dendam.


""Maafkan kami."" Jawab mereka secara bersamaan.


Yah, terserah mereka mau menatapku seperti apa tapi setidaknya sikap mereka lebih baik dari sebelumnya.


"Dari pada diam di sini terus, bukankah sebaiknya kita masuk ke dalam."


"Benar."


Kami masuk ke dalam istana, Aki dan Yugo memimpin jalan dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Karena sepanjang lorong ini tidak ada apapun Yugo mulai membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana hening ini.


"Hei Zen. aku bosan, ceritakan sesuatu yang menarik." Kata Yugo dengan ekspresi lemas.


Saat di sekolah, aku dan Yugo selalu ke perpustakaan bersama, disana kami selalu membaca buku novel namun saat Yugo bosan aku sering menceritakan sesuatu yang lucu.


"Kalau begitu, dengarkan baik-baik."


Aku tidak tahu apa yang akan ku ceritakan namun sebuah ide muncul di kepalaku dan aku menyeringai tanpa sadar.

__ADS_1


Rina dan Misaki terkejut melihatku menyeringai dan mereka tahu kalau aku merencanakan sesuatu sementara Yugo tidak mengetahui rencana dan dia justru sedang menunggu aku berbicara dengan mata berbinar-binar.


"Suatu hari yang cerah, di dalam hutan ada seorang kakak beradik. Sang kakak sangat menyayangi adiknya yang cantik, namun suatu pagi sang adik bangun dari tidurnya saat melihat sekeliling dia tidak menemukan sang kakak dimana pun, akhirnya sang adik mencari ke dalam hutan dan menemukan mayat kakaknya yang terbaring dengan penuh darah, tamat."


Ekspresi semua orang menjadi ketakutan dan air mata mulai mengalir dari mata mereka.


Mereka sepertinya sudah masuk jebakanku.


"Sialan! Jangan membuat cerita sedih seperti itu, huhu... kenapa kau membuat cerita mengerikan seperti itu." Teriak Yugo sambil menangis.


"Kenapa tidak? Sangat menyenangkan membuatmu sedih seperti itu." Jawabku.


Saat aku menoleh ke belakang mereka menangis tanpa henti.


Hanya cerita seperti itu, kau juga menangis Brull?


Hah?


Sebuah mana mengerikan mulai terasa dan sedang menuju kemari.


"Brull."


"Ya, mereka..."


Saat aku dan Brull waspada, Erika mengkritik.


"Heh, tidak ada apapun tapi bersiap seperti itu."


"Zen, ada apa?" Tanya Yugo.


"Berhati-hatilah, mereka datang. Datanglah pedang!"


Setelah pedang muncul aku bersiap untuk menerima serangan tiba-tiba.


Bayangan hitam mulai muncul dari depan dan Yugo dan yang lainnya juga mengeluarkan senjata mereka dan bersiaga.


Tiba-tiba bayangan hitam itu berlari dan itu adalah iblis.


Iblis itu mengarah pada Yugo, karena sangat cepat Yugo tidak bisa menghindarinya namun dengan cepat aku menebas kepala iblis itu.


"Hampir saja."


"A-apa itu."


Yugo sangat terkejut dan ketakutan melihat kepala iblis yang baru saja aku tebas.


"Ini adalah iblis, jadi waspadalah."


Setelah mendengar peringatanku para budak Yugo maju dan berdiri di depan Yugo untuk melindunginya.


"Apa yang kalian lakukan, mundur."


"Tidak bisa, master kami dalam bahaya jadi kami harus melindunginya."


Hah, mereka sangat peduli pada master menjijikan ini.


"Aku tahu kalian ingin melindungi Yugo, tapi mereka tidak selemah yang kalian pikirkan. Menyingkirlah, kalian menghalangi Lilith."


Mereka menatap ke Lilith yang siap melepaskan panahnya. Mereka mundur dan membuka jalan untuk Lilith.

__ADS_1


"Sekarang, Lilith."


Setelah lintasan panah terbuka, Lilith melepaskan panahnya dengan cepat panahnya melesat lurus dan membunuh Iblis yang berdatangan.


__ADS_2