Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Dia yang ditakuti


__ADS_3

Roy dan Kanna tidak boleh masuk jadi mereka menunggu dan kami masuk ke dalam ruangan sambil melihat orang yang sedang melakukan pengetesan.


Ketiga orang yang duduk itu bisa di bilang adalah juri. Mereka memanggil nama satu persatu.


Setelah beberapa lama, nama Riska dipanggil, ia maju ke depan dengan tenangnya walaupun banyak tatapan dingin sedang menatap Riska dan diriku.


Pertama ia ditanyakan dan disuruh menunjukkan keahliannya. Lalu setelah selesai ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di sebelah kanan kami.


Kemudian namaku lah yang dipanggil.


"Zen Ignatius!"


Aku maju ke depan dengan percaya diri dan menghiraukan pandangan dingin mereka.


"Perlihatkan aura sihirmu?"


Aura sihir? apa itu? aku tidak tahu cara melakukannya. Aku menutup mata dan ada beberapa tulisan, tulisan itu adalah sihir yang aku salin dari Zifrit. Disana ada yang membuatku menarik perhatian, itu tertulis 'Aura raja iblis'.


Sepertinya aku harus menggunakan sihir ini.


Cara menggunakannya tertulis disana. Aku hanya harus menyebarkan sihir ke seluruh tubuhku lalu melepaskannya.


"[Aura raja iblis.]"


Saat aku membuka mata semua orang yang ada di ruangan tiba-tiba terjatuh dan memegang leher mereka seperti ingin muntah.


"C-cu-cukup! k-k-kau l-lulus."


Salah satu juri mengatakan sesuatu sambil mencoba berdiri. Cara menghentikan sihir ini aku hanya harus menahan kembali sihir yang ada di tubuhku.


"Baik, terima kasih."


Semua tatapan dingin yang mengarah padaku berubah, seolah-olah mereka baru saja melihat sesuatu yang berbahaya dan menakutkan.


Aku berjalan ke arah pintu yang barusan di masuki oleh Riska.


Saat membuka pintu, ruangan terlihat hampir sama seperti ruangan sebelumnya, hanya saja di tengah ruangan ini terdapat benda besar berbentuk persegi panjang, itu terlihat seperti cermin besar.


Di depan benda itu ada banyak anak yang sedang berbaris ke belakang. Aku bisa melihat Riska berada di belakang barisan sedang melambaikan tangan kepadaku.


Aku berjalan mendekati Riska dan melihat anak yang paling depan sedang menyentuh cermin itu. Setelah disentuh sebuah angka bertuliskan 154 muncul.


Apa ini? aku bingung dengan apa yang terjadi, tapi anak terlihat senang dengan angka yang keluar dari benda itu.


Setelah beberapa menit kemudian seorang anak laki-laki berbadan besar menyentuh benda itu dan angka 788 muncul.


"Hahaha. lihat aku adalah yang terkuat."


Anak laki-laki berbadan besar itu terlihat sangat senang dan berteriak setelah melihat angka yang keluar.


Lalu tidak lama kemudian, bagian Riska yang menyentuh benda itu. Dari benda itu muncul Angka 800.


"Hei lihat anak kecil itu sungguh hebat"


"Kau benar."


Beberapa anak mulai membicarakan Riska. Tapi sungguh, apa itu? lalu aku mengingat apa yang dikatakan burung hantu yang berada di ruang tunggu, kalau tidak salah ini adalah tes mengukur sihir.


Lalu giliranku untuk mengukur sihirku, aku menyentuh benda itu dengan telapak tanganku angkanya tidak muncul.

__ADS_1


"Apa-apaan itu, angkanya tidak keluar. Hahaha."


Semua yang di ruangan itu menertawakan aku tapi tidak dengan Riska dan laki-laki yang berbadan besar tadi.


Justru laki-laki berbadan besar itu berteriak padaku.


"Hei nak, salurkan sihirnya pada tanganmu."


Sesuai perintahnya, aku menyalurkan sihir yang ada di tubuhku ke lengan kananku lalu sebuah angka muncul.


Semua terkejut begitu juga denganku karena angka yang muncul bukan angka ratusan seperti peserta sebelumnya. Angka yang muncul adalah 9999999.


Itu benar-benar aneh. Karena hanya aku yang berbeda, Riska dan anak yang berbadan besar itu hanya tersenyum sedangkan mereka yang menertawakanku mundur beberapa langkah kebelakang seperti mencoba menjauhiku.


Aku berjalan mendekati Riska.


"Zen!"


Riska menyebut namaku dengan nada marah aku bisa merasakan hawa membunuhnya darinya.


"I-itu Riska? apa ada salah?"


Riska menatapku dengan serius dan itu sungguh menakutkan.


"Katakan padaku, sebelumnya darimana kau?"


Dia marah karena itu ya? tapi kenapa dia marah, apa aku melakukan sesuatu yang salah? aku hanya bisa menjawab dengan jujur.


"Kau ingat orang yang bernama James? dia memanggil kakaknya dan mencari masalah tapi sekarang sudah tidak apa-apa?"


"Benarkah?"


"Benar, apa itu alasanmu marah?"


Riska menyilangkan lengannya dan membuang muka.


"Kupikir kau pergi meninggalkanku."


Jadi dia marah karena kutinggalkan, ya wajar saja karena dia di tinggalkan di hutan kematian oleh Maria Kyoko.


"Tidak mungkin aku meninggalkanmu, aku kan belum mengabulkan keinginanmu."


"Baiklah, aku memaafkanmu. Kalau kau meninggalkanku seperti tadi. Aku tidak akan memaafkanmu."


"Baik."


Riska langsung memelukku. Rasanya ia suka sekali memelukku.


"Hei, kalian berdua."


Laki-laki berbadan besar berjalan sambil memanggil kami.


"Oh, kau yang tadi itu terima kasih ya."


Aku membungkukkan badan dan berterima kasih padanya.


"Tidak perlu berterima kasih, sebutkan nama kalian."


"Riska Ignatius dan Zen Ignatius."

__ADS_1


Riska lagi-lagi menyebut namanya menggunakan nama belakangku.


"Begitu, kalian kakak-beradik ya. Namaku Bruce Will, kalian bisa memanggilku Brull."


Kalau tidak salah ia memiliki sihir yang besar juga dan berteriak "Akulah yang terkuat" begitu.


Dia tiba-tiba menanyakan nama kami, sepertinya ia merencanakan sesuatu.


"Apa kau ada urusan dengan kami?"


Bruce menatap kami sambil memegang dagunya.


"Kalian pasti... bukan anak kecil."


Eh? aku terkejut mendengarnya, apa ia mendengar apa yang aku bicarakan dengan Mia. Tapi itu tidak mungkin, dilihat dari wajahnya ia hanya menduga saja.


"Apa yang kau katakan?"


"Tidak perlu berbohong, tidak mungkin anak berumur 6 tahun bisa memiliki kapasitas sihir yang besar, bahkan untuk ukuran bangsawan pun itu adalah hal yang mustahil."


Sepertinya menipunya pun percuma saja, apa yang akan dia lakukan kalau kita bukan anak kecil, aku takut kalau Maria Kyoko tahu kalau Riska masih hidup.


"Brull, ikuti aku."


Aku dengan terpaksa harus membawanya ke tempat sepi agar Maria Kyoko tidak tahu.


"Hm? baiklah."


Di pojok ruangan itu ada sebuah tempat kosong, aku membawanya kesana untuk berbicara empat mata.


"Ada apa?"


"Dengar, aku akan memberitahukan sesuatu jadi kuharap kau mengerti."


Aku menceritakan tentang aku mencari Maria Kyoko dan juga Riska.


"Begitu, baiklah aku paham. Tapi ada satu syarat."


"Apa itu?"


Wajah brull terlihat sangat serius.


"Jadilah temanku."


Hah? baru kali ini aku mendengar orang yang aku anggap orang sombong ingin menjadi temanku. Tapi menjadi temannya bukan ide yang buruk.


Wajahnya terlihat seperti percaya kalau ia merasa paling hebat dan paling kuat, sifatnya yang terlihat sombong.


"Tentu, Brull."


Kami saling berjabat tangan. Setelah selesai berbicara kami kembali dan berjalan ke arah Riska.


"Riska, masalah selesai."


"Baiklah, ayo."


Kami berjalan ke ruangan selanjutnya untuk melakukan tes terakhir.


Setelah membuka pintu, ruangan sangat besar, sepertinya 2 kali lebih besar dari ruangan sebelumnya.

__ADS_1


Di depan ada satu orang sedang berdiri tegak, ia sepertinya juri di ruangan ini. Dia seorang wanita sekitar berumur 20 tahun-an, matanya hitam, rambutnya hitam panjang hingga bahu.


__ADS_2