
[Kenapa kau membawanya kemari?]
[Dia datang dan meminta bantuan padaku jadi mau bagaimana lagi kalau aku harus membantunya]
Melves mengedipkan satu matanya pada pria bertopeng, bahasa isyarat yang di berikan oleh Melves dapat di mengerti oleh pria bertopeng itu.
[Ah, kau memang seperti itu]
Mendekatkan wajahnya pada anak bangsawan itu dan bertanya padanya.
[Jadi apa yang kau butuhkan? Aku tidak yakin bisa membantu dengan baik] Tanya pria bertopeng sambil memegang dagunya.
[Aku ingin menjadi kuat!] Jawab laki-laki bangsawan itu.
[Hahahahaha. Kau datang ke tempat yang benar nak.] Jawab pria bertopeng
Sebuah lingkaran sihir muncul di atas telapak tangan pria bertopeng, setelah lingkaran sihirnya menghilang, sebuah pil muncul di tangan pria bertopeng dan memberikannya kepada laki-laki bangsawan.
[Apa ini?] Tanya laki-laki bangsawan dengan penasaran.
[Ini adalah pil kekuatan, jika kau menelannya kekuatan akan mengalir ke dalam tubuhmu.]
Setelah mendengar itu, senyum terlihat di wajah laki-laki bangsawan itu dan langsung menelan pil itu.
Dalam sekejap seluruh tubuh laki-laki bangsawan itu bermandikan cahaya hitam dan mana miliknya meningkat drastis.
[Bagaimana?] Tanya pria bertopeng.
[Keren! Aku merasa aku sangat kuat.]
[Hmm, begitu ya.] Melves diam dan menatap laki-laki bangsawan itu dengan takjub.
Tatapan matanya terasa seperti sebuah ide yang cemerlang muncul di kepala, pria bertopeng dan laki-laki bangsawan itu memiringkan kepalanya dengan tanda tanya di kepala mereka.
[Ada apa, tuan Melves?]
[Aku punya tugas untukmu.]
Melves mendekatkan bibirnya ke telinga laki-laki bangsawan itu dan membisikkan sesuatu. Kumis putih milik Melves menggelitik telinga laki-laki bangsawan itu namun ia bertahan dan terus mendengarkan Melves.
[Baiklah, itu mudah. Aku hanya perlu membunuhnya untuk menguji kekuatan baru ku ini.]
Melves hanya mengangguk dan tersenyum pada laki-laki bangsawan itu.
***
Jadi dia membunuh Kana dan yang lainnya hanya untuk menguji kekuatan barunya? Kurasa sekarang hidupmu sudah tidak lama lagi ya, bangsawan!
Melihat Zen yang tiba-tiba tersenyum seperti karakter jahat membuat semua yang ada di ruangan itu sedikit merinding.
Hawa membunuh begitu terasa saat Zen tersenyum, diantara semua orang yang ada hanya Brull yang berhasil mengambil ketenangan-nya.
"Zen ... S-Sepertinya kau menemukan sesuatu yang bagus, ya?"
"Ya, aku menemukan orang yang membunuh Kana dan orang-orang di guild."
""Apa?!"" Brull dan Lilith seketika terkejut, sementara Riska sangat terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Setelah melihat ingatan itu, Zen tidak bisa menahan senyumnya.
Namun dia akhirnya tersadar dan kembali ke wajah tanpa ekspresi.
"Baiklah, sekarang kita akan pergi ke kerajaan Zetes dan bertemu dengan sang pembunuh."
Setelah selesai bicara, wajah yang lain ikut serius dan mengangguk kepada Zen.
Dari sana, Zen dan yang lainnya segera berpisah dengan para elf dan segera berangkat ke kerajaan Zetes.
Terdapat cahaya yang bersinar terang di depan jalan yang membentang lurus. Setelah melewati cahaya itu mereka segera sampai di tujuan mereka.
Terdapat gerbang besar di sebuah tembok raksasa. Sangat jelas kalau tembok itu mengelilingi kota dan kerajaan.
Kota Kawa adalah kota yang berada di dekat ibukota Zetes, kota Rewa.
Zen dan yang lainnya berhenti jauh dari gerbang, turun dari mobil dan berjalan ke arah gerbang masuk.
Dengan aura yang mengintimidasi yang keluar dari mereka berdelapan. Mereka bisa saja masuk ke dalam gerbang dengan mobil mereka namun Zen menyuruh mereka untuk turun dan berjalan.
Alasannya adalah karena jika mereka masuk dengan mobil orang-orang akan mengira itu seekor monster dan menahan mereka, meskipun mereka memiliki medali kerajaan Agate tapi Rena, Rina dan Misaki tidak memiliki medali kerajaan Agate dan itu sangat bermasalah.
Jadi mereka menyimpan mobil di [Storage] milik Zen dan mereka berjalan mendekati gerbang dan ikut berbaris seperti yang lain.
"Hah... Aku sangat lelah!!!"
Mendengar Lilith mengeluh karena sangat lelah setelah berjalan, ia langsung memeluk Zen dari belakang dan menempelkan pipinya di punggung Zen.
"Aku lelah..."
"Berhentilah mengeluh. Kita hanya berjalan selama 2 menit dan kau sudah lelah? Berhenti membuat susah Zen." Jawab Brull.
Namun Lilith tidak mendengarkan Brull dan menghinanya.
"Itu benar, berhenti menyulitkan Zen. Kami juga lelah apalagi..."
Saat Laura menoleh ke arah Zen, yang lainnya pun mengikuti Laura melihat ke arah Zen.
Wajah yang sedang menahan ngantuk dan lelah, keringat membasahi dahinya.
Sudah sangat jelas kalau Zen ingin tidur dengan tenang.
Melihat Zen seperti itu membuat Brull harus bertindak.
"Zen. Apa kau lelah?"
"Tidak, tenang saja." Jawab Zen dengan lelahnya.
"Kalau kau lelah katakan saja."
"....."
Zen hanya diam dan terus mengantri namun karena antriannya masih panjang, Brull segera berdiri di depan Zen dan menggendong Zen di punggungnya.
"Maaf."
"Tenang saja."
__ADS_1
Misaki yang melihat itu merasa sedikit cemburu dan mengejek Zen.
"Dasar anak kecil."
Zen menghiraukan perkataan Misaki dan tertidur.
Meskipun Misaki mencibir dengan suara pelan namun itu tetap terdengar oleh yang lain.
"Fufu, sepertinya ada yang cemburu melihat keakraban mereka berdua?" Ucap Riska.
"A-Apa?! Siapa yang cemburu!" Teriak Misaki dengan panik dan wajah merah.
"Ara, apakah aku bilang orang itu kau, Misaki?"
Mendengar itu wajah Misaki semakin memerah seperti tomat. Yang lain hanya tertawa namun.
"Hei, bisakah kalian Bergerak lebih cepat?!" Teriak seorang pria.
Pria itu tidak terlihat cukup kuat namun suaranya agak berat.
"Baiklah, kami minta maaf." Ucap Laura sambil membungkukkan badannya.
"Apa ini? Aku tidak memintamu untuk membungkuk. Cium aku."
Semua yang ada di sana langsung memperhatikan mereka berdua yang sedang berdebat.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Ooh kau tidak mau ya?"
Dengan cepat pria itu mengambil pisau lalu segera mengarahkannya pada Laura.
Sedetik sebelum pisau itu sampai ke wajahnya, itu berhenti. Atau lebih tepatnya Laura membekukan tubuh pria itu dan hanya menyisakan tangan yang memegang pisau.
Semua yang melihat kejadian itu sangat terkejut hingga mereka tak bisa berkata-kata. Namun ksatria yang menjaga gerbang mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini?"
"Tidak ada. Hanya ada orang bodoh yang tiba-tiba ingin menyerangku."
"Maafkan kami, kalian harus ikut kami karena kalian telah membuat keributan."
Brull yang merasa aneh segera mendekati ksatria itu.
"Kenapa kami harus ikut denganmu?"
"Sudah kami katakan, kalau kalian mengganggu yang lain."
"Lalu apa alasanmu untuk membawa kami?"
"Kami hanya perlu membawa dua orang ,ini untuk ditanya."
"Tidak masuk akal. Sudah jelas temanku tidak bersalah."
Mendengar ucapan kedua ksatria itu membuat Brull kesal namun saat mereka sedang berdebat.
"Berlutut."
__ADS_1
Dalam sekejap kedua ksatria itu langsung terkapar di tanah dan tidak bisa melakukan apapun.
"Kalian berdua sangat berisik."