Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Vampir


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Tenanglah, oke?"


Riska menghela nafas untuk menenangkan diri, setelah ia mulai tenang. Leorg berbicara dengan nada rendah.


"Maafkan aku, aku salah."


Entah ada angin apa, Leorg tiba-tiba meminta maaf. Mungkin ia meminta maaf agar tidak dihukum oleh raja namun mau bagaimana lagi, aku tidak bisa melakukan apapun karena laki-laki itu harus memegang perkataan mereka.


"Untuk apa?"


"Untuk...."


Leorg langsung terdiam, aku menghiraukannya dan berjalan ke arah Brull dan Lilith.


"Kalian berdua, bangunlah. Kita harus pergi."


Brull dan Lilith merespon suaraku. Mata mereka mulai terbuka namun mereka masih setengah tidur, setelah kesadaran mereka kembali dengan cepat mereka berdiri.


"Maaf kawan, aku ketiduran."


"Zen, kau sudah kembali."


Mereka berbicara sambil menggosok mata mereka.


"Sudahlah, sekarang sudah mulai malam. Sebaiknya kita pergi."


Karena langit sudah mulai terlihat gelap kami bergegas untuk pergi. Aku tidak tahu berapa lama aku di dalam. Namun, aku bisa memastikan kalau waktu yang aku gunakan di dalam portal dan di luar berbeda.


Sesaat kami ingin pergi kami berhenti dan melihat ke arah Leorg yang sedang mematung.


"Hei, mau sampai kapan kau disitu. Kami akan kembali kau mau ikut atau tidak?"


Leorg tersadar dari lamunannya dan berlari ke arah kami. Tanpa kusadari portal aneh yang aku masuki menghilang. Aku terlalu fokus pada teman-temanku hingga tidak menyadari kalau portal sudah menghilang.


Setelah melihat itu, aku langsung mengambil kesimpulan bahwa portal aneh yang kecil tidak bisa dimasuki dan bisa di hancurkan dari luar dengan sihir dimensi sementara portal aneh yang agak besar bisa dimasuki oleh makhluk panggilan sepertiku dan menyelesaikan level untuk mendapatkan sebuah gulungan.


Dengan begitu portal yang agak besar akan hilang dengan sendirinya.


-Itu menurut pendapatku.


Aku belum bisa memastikannya. Namun untuk saat ini itu adalah alasan yang bisa digunakan.


Setelah tersadar dari lamunannya ia mengikuti kami dari belakang dan pergi menuju ke istana untuk memberikan laporan.


Setelah sampai di depan istana kami disambut oleh Altson, Adelino, Alisha, Tatsumi, Sebas dan beberapa ksatria.


"Kalian akhirnya kembali."


"Selamat datang kembali."


Adelino terlihat senang melihat kami datang. Dan Alisha menyambut kami dengan senyum lembut.


Karena ia seorang ratu, senyumnya terlihat indah dan menyejukkan.


"Hehe."


Aku menoleh ke arah suara tawa kecil. Brull sedang menatap Alisha dengan senyum mesum di wajahnya.


Melihat sikap Brull semua tersenyum kecut, karena agak malu melihat sikapnya aku menyikut perut Brull untuk mengembalikan sikapnya.


"Aduh!"


Setelah beberapa detik kemudian kami masuk dan duduk di ruang tamu. Diatas meja sudah ada beberapa cangkir teh dan kue.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana kau sudah menghancurkan portal itu?"


Tanpa banyak basa-basi Adelino langsung menanyakan portal itu dengan semangat.


Altson langsung berdehem dan membuat Adelino kembali ke tempat duduknya.


"Aku akan langsung menjelaskan apa yang ku tahu."


Aku menjelaskan tentang diriku yang merupakan manusia panggilan, lalu perbedaan portal aneh dan kejadian yang aku alami di dalam portal.


Setelah beberapa menit menjelaskan, Adelino yang penasaran mulai bertanya lagi.


"Apa itu manusia panggilan?"


Sebelum menjawab, Altson menjelaskannya dengan jawaban yang mudah.


"Itu adalah manusia yang datang dari dunia lain yang dipanggil ke dunia ini."


Melihat ekspresinya sepertinya ia sudah mengerti.


"Kau bilang, kau makhluk panggilan lalu kenapa kau bisa ada disini?"


Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan jadi aku menceritakan tentang yang terjadi padaku di kerajaan Fredrosse.


"Begitu ya. Tetapi aku masih tidak percaya kalau kerajaan Fredrosse akan melakukan itu."


"Apa mereka memang seperti itu?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak begitu mengenal kerajaan Fredrosse".


Setelah menjelaskan begitu lama tanpa ku sadari bahwa langit sudah malam.


"Oh iya, sepertinya ada yang harus dihukum."


Adelino dengan tatapan tajam menatap Leorg yang sedang berdiri di dekat pintu.


Saat Adelino berjalan menuju Leorg, Leorg menatap ke arah kami namun kami. Tatapan seolah-olah meminta bantuan pada kami namun kami membalasnya dengan memalingkan muka, berpura-pura tidak melihat.


Saat Adelino mencapai Leorg. Leorg diseret ke dalam oleh Adelino. Beberapa saat kemudian Adelino kembali seperti tidak terjadi apapun.


"Zen, sekarang bagaimana? kita akan mencari penginapan atau bagaimana?"


Riska mengeluh setelah percakapan kami selesai.


"Kau benar. Sebaiknya kita mencari penginapan didekat sini."


Mendengar pembicaraan kami, Altson langsung mengusulkan sesuatu.


"Bagaimana kalau kalian menginap saja. Disini ada dua kamar kosong kalau kalian mau?"


Riska dan Lilith langsung menatapku, tatapan mereka seakan mengatakan "Terima ya".


Aku menghela nafas panjang dalam hati dan menerima tawarannya.


"Baiklah terima kasih banyak."


"Tidak, tidak. Anggap saja sebagai rasa terima kasih kami karena telah menerima permintaan kami."


Aku hanya tersenyum, Altson langsung menyuruh Sebas mengantar kami ke kamar tamu yang sudah disiapkan.


"Kalau begitu, ikuti saya tuan Zen dan teman temannya."


Kami mengikuti Sebas dari belakang menuju ke kamar. Saat kami sampai, kamarnya terlihat sangat besar bahkan besarnya mungkin sama seperti ruang tamu, tidak. Mungkin lebih besar lagi.

__ADS_1


"Ini kamarnya."


Terdapat dua kasur besar yang ditutupi oleh seprai putih dengan corak bunga. Kamarnya terasa sejuk karena angin masuk kedalam lewat jendela dan ada beberapa furniture lainnya yang membuat kamarnya terasa lebih hidup, seperti sofa panjang dan meja lalu di bagian dinding dicat oranye dan langit-langitnya terdapat bintang yang terbuat dari plastik.


"Kalau ada apa-apa kalian bisa memanggilku."


"Baik, terima kasih banyak."


Setelah Sebas pergi kami masuk ke kamar dan duduk di sofa karena kelelahan.


"Ah ... sangat melelahkan!"


Brull mengeluh sambil berbaring di sofa panjang.


"Padahal kau tidak melakukan apapun tapi kau kelelahan, sungguh aneh." Sindir Lilith.


"......." *Meminum*


Riska hanya melirik mereka sambil meminum teh yang ada di atas meja.


"Apa kau bilang! Aku sudah menggunakan banyak mana untuk mengalahkan monster sementara kau? kau hanya diam dan hanya melihat kami saja."


"Tidak, tidak. Aku juga ikut bertarung dengan bantuan Riska."


Aku tidak tahu apa yang terjadi antara mereka berdua saat aku tidak ada. Yang pasti mereka pasti kesulitan untuk mengalahkan monster-monster itu. Entah kenapa melihat mereka bertengkar seperti melihat diriku dan Rina.


"Ada apa Zen? kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."


"Ah yah. Tidak ada, hanya melihat kalian bertengkar rasanya kalian sudah mulai akrab."


"Kawan, jangan menganggap bahwa kami ini akrab, aku tahu alasanmu membawanya bersama kita, tapi ... bukankah kau seharusnya memberikannya senjata agar ia sedikit lebih berguna."


"Apa katamu!? Aku? tidak berguna?"


Wajah Lilith terlihat kesal setelah dikatakan 'tidak berguna' oleh Brull. Tangannya sudah dikepal dan siap memukul Brull kapan saja, tapi sepertinya ia menahannya.


"Kau benar. Tapi membelikannya senjata hanya membuang uang saja."


"Ugh" Lilith terasa seperti ditusuk oleh pisau setelah aku mengatakan itu.


"Kenapa kau khawatir soal itu. Kita memiliki banyak uang kenapa kau tidak menggunakannya?"


Aku mengerti apa maksud Brull. Namun, aku tidak mempercayai toko senjata karena mereka hanya memiliki senjata kualitas yang rendah dan mungkin saja saat rusak nanti, aku harus membeli yang baru.


"Akan lebih baik kita gunakan dengan yang lain. Begini saja, dengan skillku aku akan meniru skill 'blacksmith' dan membuat senjata yang kuat untuk Lilith. Itu lebih baik daripada membeli, bukan?"


"Hmm. Kau benar, kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan jadi lebih baik kita menyimpannya terlebih dahulu."


"Hoam~ Darling, aku mengantuk."


Hmm. Apa yang terjadi pada Riska, wajahnya memucat. Oh benar, mungkin dia membutuhkan darah.


"Hei Riska, apa kau haus? kemarilah, aku akan memberikannya."


Brull dan Lilith melihat kami dengan kebingungan dan mungkin mereka berpikir "Apa yang akan mereka lakukan?". Ya aku mengerti alasan mereka bingung karena mereka masih belum mengetahui kalau Riska adalah seorang vampir.


Riska sudah terlihat mengantuk dan ia sudah setengah tidur, ia bergerak mendekatiku dan menggigit leherku.


"!?" Lilith dan Brull terkejut melihat Riska yang tiba-tiba menggigit leherku.


"Kalian berdua, kenapa dengan ekspresi kalian?"


"I-Itu kenapa ia menggigit lehermu?"

__ADS_1


"Kawan apa kau baik-baik saja?"


"Tenanglah kalian, Riska adalah vampir jadi ia membutuhkan darah. Aku baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan diriku."


__ADS_2