Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Membebaskan budak (Bagian 1)


__ADS_3

Saat kami di berikan informasi oleh ketiga orang yang merupakan salah satu dari mereka.


Aku, Yugo dan keempat budaknya berada di depan sebuah bangunan, temboknya terbuat dari batu dan semen. Saat pertama melihatnya terlihat seperti gedung yang sudah tak terpakai.


Tanpa berbalik aku memberitahu Yugo.


"Sebelum kita masuk ke dalam ada yang ingin kukatakan."


Aku melihat Yugo dan budaknya lewat bahuku.


"Apapun yang kukatakan kuharap kalian menurutinya, meskipun master kalian adalah Yugo tapi dalam rencana ini aku adalah ketuanya. Terutama kau, Yugo. Kau itu hampir mirip denganku karena kita sama sama tidak suka diperintah."


"Tenang saja Zen. Tapi disini aku harus memberitahumu sesuatu." Yugo tersenyum seperti menantangku. "Aku percaya padamu dan aku tidak pernah meragukan kemampuanmu."


Mendengar itu, aku ikut tersenyum. Yugo yang dikenal sebagai pendiam di kelas. Dia yang selalu pergi ke perpustakaan saat jam istirahat dan hampir tidak pernah bicara dengan siapapun kecuali aku dan Rina.


Sebelum masuk ke dalam, aku disuruh memakai topeng. Yugo memberiku topeng sekura yang biasa digunakan untuk pesta.


Itu membuatku bingung dan bertanya pada Yugo.


"Kita akan masuk ke pelelangan budak jadi kita harus menyembunyikan identitas kita." Ucap Yugo.


Karena aku memiliki rencana jadi aku mau tidak mau memakainya. Setelah memakainya kami masuk kedalam.


...****************...


"Baiklah, ini dia. Budak nomor #73."


Di depan terdapat panggung dan banyak gadis yang seumuran dengan Chelsea berbaris dengan rapi dan satu rantai panjang mengikat leher mereka semua.


Selain para budak, ada pria gemuk memakai topeng dan suaranya terdengar seperti berbicara menggunakan microfon walaupun tidak ada microfon di depannya.


Zen dan yang lainnya datang dan melihat ke panggung. Dan melihat sekitar banyak orang yang duduk dengan memakai topeng. Melihat semua pakaian orang yang ada, Zen bisa mengetahui kalau mereka itu orang kaya.


Zen terus melihat sekeliling untuk memeriksa.


"Ada apa Zen, kau terlihat bingung."


"Ah... ya. Apakah mereka semua pembeli?"


"Ya, karena ini menggunakan sistem lelang jadi..."


Belum sempat selesai bicara, salah satu budak Yugo yang memakai kimono menepuk pundak Yugo lalu menunjuk ke arah panggung.


Kami langsung melihat arah yang ditunjuk dan melihat Chelsea berada didepan yang dirantai bersama yang lainnya.


Wajahnya terlihat ketakutan dan ia tidak memeluk boneka yang biasa ia peluk kemanapun.


{"Zen, si gendut itu adalah iblis."} (Lucifer)


Seketika aku terkejut mendengar yang dikatakan oleh Lucifer. Mengingat iblis seperti Abbadon, Lucifer dan Azazel atau iblis berlengan empat. Pria gemuk itu sama sekali tidak mirip dengan iblis tapi memang benar, aku bisa melihat mana yang mengerikan seperti milik iblis berlengan empat yang pernah aku lawan.

__ADS_1


"Tapi dia memiliki dua lengan dan masih memiliki kesadaran."


{"Aku juga bingung tapi itulah kenyataannya. Jadi cepat selesaikan ini."} (Abbadon)


Aku berjalan ke arah panggung dengan senyum yang mengerikan seperti karakter antagonis.


"Hei Zen, mau kemana kau?"


"Diam disana, aku akan segera kembali."


Keempat budaknya Yugo bingung dan mulai berbisik-bisik.


"Ada apa sih dengan sikapnya itu?" (Erika)


"Benar, dia terlihat sangat percaya diri dan sombong bahkan dia bisa memperlakukan master seperti serangga." (Aisha)


"Kalau bukan karena master yang terlalu baik, aku sudah membunuh orang itu." (Silvia)


"Kalian berhenti berbicara, orang yang kalian bicarakan itu sahabatnya master. Kalian harus menutup mulut kalian atau kalian akan seperti itu." (Riza)


...****************...


"Aku memberikan waktu 30 detik untuk melepaskan mereka semua."


Zen berjalan turun menuju ke arah panggung, dengan senyum yang mengerikan dan aura membunuh yang sangat kuat keluar darinya.


"S-Siapa kau? Kalau kau ingin mereka kau harus membelinya dengan mengajukan harga." Jawab pria gemuk itu.


"Benar, kau harus membelinya jika kau menginginkan mereka!"


"Benar!"


Sorakan mereka memenuhi ruangan, dengan sedikit kesal Zen mengepalkan tangannya dan menunjuk ke wajah pria gemuk.


"Tunduk."


Dalam satu kata, pria gemuk itu berlutut di depan kakinya Zen. Melihat itu membuat ruangan seketika menjadi hening.


Zen menoleh ke para pembeli yang sedang duduk di kursi mereka.


"Aku memberi kalian waktu 15 detik untuk meninggalkan tempat ini atau..."


Zen kembali ke pria gemuk itu dan dalam sekejap mata api putih membakar pria gemuk itu dan yang tersisa hanya tinggal tubuhnya yang menjadi kurus dan kering.


"Seperti ini."


Zen tersenyum ke arah para pembeli dan mereka semua langsung pergi dengan penuh ketakutan.


Yang tersisa hanya Zen, Yugo dan para budak.


Zen naik ke atas panggung dan mengeluarkan pedangnya lalu menebas.

__ADS_1


Ia memutuskan rantai panjang yang mengikat para budak.


"Kalian bebas sekarang."


Chelsea yang akhirnya bebas berlari ke arah Yugo, dengan mata yang penuh air mata, ia langsung memeluk Yugo.


Tubuhnya gemetaran dan Yugo hanya mengusap kepalanya untuk membuatnya tenang.


Para budak Yugo tersenyum pada Chelsea dan merasa lega.


Zen yang masih merasakan ada orang lain di dalam segera berjalan ke dalam.


"Hei, Zen! kau mau kemana?"


Tanpa berbalik dan terus berjalan Zen menanggapi Yugo.


"Ada yang mau kulakukan."


Yugo dan budaknya segera mengikuti Zen dari belakang.


Namun mereka berhenti setelah seseorang memanggil mereka.


"T-Tunggu!"


Zen segera menoleh, gadis itu merupakan seorang manusia kucing. Dengan telinga dan ekor, Zen langsung mengetahuinya.


"Bagaimana dengan kami?"


"Kalian sudah bebas, terserah kalian ingin pergi kemana." Jawab Zen dengan cuek.


Para budak itu saling menatap satu sama lain dan berbincang sedikit, akhirnya mereka semua menatap Zen dengan serius.


"Kalau begitu, biarkan kami ikut denganmu, tuan!" Jawab mereka dengan serentak.


Zen menatap mata mereka, tatapan mereka sangat serius dan berharap dengan mata yang berair.


Zen ingin meninggalkan mereka tapi mengingat anak kecil yang ia selamatkan. Para gadis akan memintanya untuk merawatnya dan begitu juga dengan para budak ini.


Zen menghela nafas panjang dan mengeluh.


"Kurasa tidak ada gunanya aku menolak mereka, pastinya para gadis hanya akan mengkeroyokku."


Setelah mengeluh dalam hatinya, ia terpaksa harus merawat mereka juga. membawanya berpergian bersamanya hanya akan menjadi masalah.


"Baiklah, aku akan membawa kalian, Tapi!"


Zen berhenti berbicara, dan wajah budak budak itu sangat tegang dan di penuhi keringat dingin.


"Kalian harus patuh padaku, dan untuk sekarang aku ingin kalian diam disini sampai aku kembali. Mengerti?"


Para budak tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Zen kembali berjalan dan masuk ke belakang panggung, dan Yugo bersama para budaknya mengikuti Zen dari belakang.


__ADS_2