Pahlawan Hitam

Pahlawan Hitam
Putri kerajaan Agate


__ADS_3

Riska menatap Lilith yang sedang berlari dan berbicara padaku dengan suara kecil.


"Darling, sepertinya dia ingin ikut dengan kita."


"Ya, aku bisa melihatnya"


Brull mendengar pembicaraan kami dan ikut berbicara.


"Kenapa kita tidak membawanya juga?"


Aku tidak tahu alasan Brull mengatakan itu. Hanya saja, aku merasa harus membawa Lilith.


"Aku akan ikut dengan kalian, boleh?"


Lilith berbicara dengan semangat dan senyum manis.


Riska mendekat dengan tatapan tajam dan senyum yang tidak biasa, aku bisa merasakan aura hitam di belakang Riska.


"Kalau kau mau ikut, apa yang bisa kau lakukan. Kau tidak bisa menggunakan sihir ataupun pedang."


"Tidak sopan, aku bisa melihat sesuatu yang jauh dan aku bisa menggunakan sihir jika aku punya busur dan panah."


Lilith menjawab dengan kesal.


Sepertinya kemampuan Lilith cukup berguna. Mungkin aku bisa memanfaatkan kemampuannya.


"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi kau harus mendengarkan kata-kataku."


Riska menatapku dengan kesal dan Lilith sangat senang hingga melompat-lompat.


Riska mendekat dan berbisik padaku.


"Apa yang kau katakan? dia hanya akan menjadi masalah untuk kita."


"Kenapa kau kesal? kemampuannya lumayan berguna jadi kita bisa memanfaatkannya."


Amarah di wajahnya menghilang dan menghela nafas.


"Lalu tas itu untuk apa?"


Aku bertanya dan menunjuk ke tas ransel yang ada di punggungnya.


"Oh ini? barang-barangku."


Aku menghiraukannya dan berjalan ke luar gerbang. Brull dan Riska mengikutiku dari belakang.


Lilith yang melihat kami pergi, berlari ke arah kami dan berbalik sambil melambaikan tangan pada warga desa.


******


Kami sudah setengah perjalanan ke kota Valmas.


Sebuah dataran yang luas adalah jalan raya yang membentang luas. Meskipun disebut jalan raya, ini sebenarnya hanya tanah tanpa gulma karena telah menginjak berkali-kali, sehingga secara alami menjadi jalan.


Riska dan Lilith sedang bertengkar seperti kucing dan anjing di belakangku.


"Aku tahu kau pasti menyukai Zen-ku"


"Benar, apa ada masalah?"


"Percaya diri sekali kau berpikir bisa mendapatkan cintanya Zen."


Brull yang berjalan di sebelahku berbisik.


"Kau yakin tidak memisahkan mereka?"


"Biarkan saja, aku tidak bisa melawan Riska, jika ia marah aku akan mati."


Brull berdiri tegak dengan gemetaran di tubuhnya mendengar aku mengatakan itu.

__ADS_1


Ya, aku pikir kalau aku memisahkan mereka, Riska akan marah dan bisa-bisa nyawaku dalam bahaya.


"Kawan, lihat itu?"


Brull berhenti dan menunjuk ke depan kami.


Sebuah kereta kuda berhenti di depan kami. Keretanya setengah hancur dan ada 5 penjaga sedang bertarung melawan beberapa goblin.


Tiga diantaranya sedang melindungi kereta di belakang mereka dan dua diantaranya terluka dan tergeletak di tanah.


Aku dengan cepat mengeluarkan pedang dan memasang crystal biru. Dengan beberapa cambukan, para goblin itu menghilang seperti debu setelah terkena cambukan.


Riska dan Lilith yang bertengkar berhenti dan melihat suara yang dihasilkan dari cambuk.


"Kalian tidak apa-apa?"


Brull berlari ke arah mereka dan mengeluarkan beberapa botol kecil yang berisi cairan berwarna merah dan memberikan pada penjaga.


Brull menuangkan cairan merah itu ke dalam mulut penjaga yang terluka. Cahaya berwarna hijau menyelimuti tubuh penjaga itu dan luka di tubuh penjaga itu menghilang.


Aku pernah melihat cairan berwarna merah itu dalam game RPG, kalau tidak salah itu adalah healing potion.


"Brull, apa itu?"


Aku bertanya dengan penasaran apa yang ia pegang.


"Ini potion."


"Tolong... Sebas bertahanlah...."


Suara teriakan terdengar dari dalam kereta. Aku dengan cepat berlari ke arah suara itu.


Seorang gadis cantik dengan rambut biru panjang yang mencapai pinggang dan mata hijau, ia mengenakan gaun yang cantik dan disebelahnya ada seorang pria tua yang mengenakan seragam pelayan hitam sedang berbaring di bagian kursi.


"Kau baik-baik saja?"


Aku melihatnya, terdapat luka tusuk di bagian dadanya, ia masih bernafas dan keringat mulai bercucuran di kepalanya.


Ia masih hidup. Sepertinya ia masih bertahan.


Aku menggunakan skillku dan mengobati lukanya.


"[Ex Mega Heall]"


Cahaya hijau masuk ke dalam lukanya dan secara perlahan lukanya tertutup.


"Dia sudah baik-baik saja sekarang, kau tidak perlu khawatir."


Gadis itu langsung memelukku dan menangis sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.


"Terima kasih... terima kasih..."


Saat aku mau membalas pelukannya, aura jahat begitu terasa di belakang. Aku menoleh ke belakang secara perlahan, Riska dan Lilith memelototiku dengan tajam.


Aku berpikir sepertinya kali ini aku akan mati.


"...Ehm... tuan putri..."


Pria tua itu mulai membuka matanya perlahan dan menyebut tuan putri.


Gadis itu melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan pria tua itu.


"Sebas, kau tidak apa-apa?"


"...Ehm... tuan putri... syukurlah anda selamat."


Pria tua itu mulai mengusap kepala gadis itu.


Pria tua itu melihatku, mata kami bertemu dan ia mengungkapkan terima kasih.

__ADS_1


"Anak muda, terima kasih telah membantu kami."


"Tidak perlu berterima kasih."


"Kau sungguh anak yang baik."


Brull memanggil dari luar.


"Kawan, lihat ini."


Aku keluar dari kereta dan berjalan ke depan kereta, terdapat dua kuda yang terluka. Salah satu kuda, lututnya terluka mungkin ia tidak bisa berdiri.


"[Ex Mega Heall]"


Lukanya menghilang namun sepertinya masih kesakitan.


Kuda satunya lagi terdapat sebuah pisau yang masih tertancap di bagian perutnya.


Sepertinya ia masih hidup.


"Darling... ia ingin bicara."


Riska dan gadis itu datang namun aku menghiraukannya dan berpikir mencari cara menyelamatkan kuda ini.


"Nanti saja, aku sedang sibuk."


Mereka hanya terdiam, lalu Brull menyela.


"Kawan, kau tidak bisa langsung mencabut pisaunya secara langsung. Bagaimana kalau bakar saja pisaunya?"


"Tidak bisa, jika kita membakarnya maka kudanya juga akan ikut terbakar."


Gadis itu mencoba berbicara walaupun dengan nada yang gagap.


"...Itu... bagaimana kalau mencabutnya... dan menyembuhkannya... secara bersamaan."


Tanpa sepatah katapun aku melakukan apa yang dikatakannya.


Tangan kananku untuk menyembuhkan dan tangan kiri untuk mencabut pisaunya.


"[Ex Mega Heall]"


Setelah lukanya tertutup, kuda itu kembali bernafas dengan normal dan menutup matanya.


Aku berdiri dan menoleh ke belakang.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan."


Wajah gadis itu terlihat malu dan memerah, ia mencoba bicara walaupun masih agak tergagap.


"...Itu... aku..."


"........ ."


"Terima kasih... telah menyelamatkan kami... na... namaku Tatsumi... salam kenal!"


Ia akhirnya berhasil berbicara walaupun patah-patah.


"Aku Zen Ignatius, panggil saja Zen. Jadi apa yang terjadi pada kalian."


"Ka...kami sedang dalam perjalanan ke kota Valmas dan... kami diserang oleh goblin."


Aku mengerti jadi begitu, namun yang membuatku bingung adalah kenapa mereka tidak bisa mengalahkan goblin yang begitu lemah ini.


"Tuan, terima kasih sudah menyelamatkan kami."


Pria tua itu berjalan dengan dibantu Lilith. Lukanya sudah hilang namun noda darahnya masih menempel di pakaiannya.


"Namaku Sebas dan ia adalah tuan putri dari kerajaan Agate, Tatsumi Agate."

__ADS_1


__ADS_2