
Sebelum mereka berdua datang ke kelas, aku langsung kembali ke tempat dudukku. Setelah Bu Emilia dibawa ke ruang uks, entah kenapa aku merasa kalau ada sesuatu yang sangat berbahaya akan datang.
"Baik, aku adalah pelatih sihir disini. Namaku Elma, karena Bu Emilia sedang dalam kondisi yang kurang baik. Aku akan menggantikan posisinya untuk sementara waktu."
Ia dengan tegas memperkenalkan dirinya sambil melihat ke semua siswa. Aku hanya menutupi wajahku dengan tangan diatas meja dan berpura-pura tidur. Meskipun Brull beberapa kali mengatakan untuk bersikap biasa tapi itu sulit.
"Dan dia adalah kepala sekolah kita, Laura, dia disini untuk mengawasi kalian."
Semua langsung terkejut begitu melihat kepala sekolah yang hampir seumuran dengan mereka. Mungkin awalnya mereka berpikir ia adalah seorang siswa baru tapi mereka salah menebak.
"Aku disini-"
Elma tiba-tiba berhenti berbicara. Ada apa? Kenapa ia berhenti bicara? Aku tidak tahu apapun karena aku menutup wajahku ke meja jadi aku tidak melihat apapun. Suara bisikan tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Apa yang kau lakukan, saat aku berbicara."
Whoa!! Aku terkejut. Elma tiba-tiba ada di belakangku dengan wajah marah. Aku benar-benar terkejut, aku bahkan tidak merasakan hawa kehadirannya. Dia benar-benar hebat untuk menahan hawa kehadirannya.
"Kau maju ke depan."
Aku maju ke depan dan dari belakang Brull melambaikan tangannya sambil tersenyum. Dasar Brull sialan! Kau tidak memberitahuku saat ia mendekat. Aku akan membalasnya nanti.
"Sekarang sebutkan namamu!"
"Zen, Zen Ignatius."
"Zen....?"
Laura sedikit berpikir dan mendekatiku, aku agak terkejut karena ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telingaku. Setelah selesai melihat telingaku, ia langsung memelukku dengan erat.
Aku tidak mengerti kenapa ia melakukannya. Tapi aku bisa merasakan tatapan amarah dari tempat dudukku.
"Kenapa kau memelukku?"
".....Maaf, apa namamu benar-benar Zen?"
"Ya. Kenapa kau bertanya?"
Ia tidak menjawab dan hanya menatapku dengan air mata dan senyum. Kenapa tiba-tiba tersenyum? Wanita benar-benar sulit dimengerti.
"K-kepala sekolah? Kenapa kau memeluknya?"
"Dia adalah Zen. Tunanganku."
"Apaaaa!?" Semua orang terkejut mendengar itu, begitu juga denganku.
Meskipun aku terkejut dengan lelucon itu, tapi aku tidak melihat ada kebohongan di matanya. Aku bingung harus mempercayainya atau tidak.
__ADS_1
"Berhenti bercanda, aku tidak ingat pernah bertunangan denganmu apa lagi kita belum pernah bertemu sebelumnya."
"Itu sangat jahat.... Padahal saat kita masih bayi, kita sudah dijodohkan." Ia mengatakan sambil membuat lingkaran di dadaku.
"Kepala sekolah, tolong berhenti. Saat ini kita harus memeriksa sesuatu."
Elma menarik Laura dariku dan wajahnya terlihat sangat kesal, sepertinya kekesalannya sudah memuncak. Aku tidak tahu kenapa ia sangat kesal tapi ia masih berbicara padaku dengan nada yang tenang.
"Oh, kau benar."
Elma mendekati patung es yang berdiri di depan kelas, ia menyentuh dan melihatnya seperti sedang meneliti.
Setelah selesai melihatnya ia melihatku dan mengatakan.
"Apa es ini kau yang membuatnya?"
"Ya."
Setelah menjawabnya ia melihatku dengan sangat dekat sambil menyipitkan matanya. Setelah berpikir ia langsung melirik cincin yang ada di jariku.
"Lepaskan itu."
"Hah? Apa? Tidak, aku tidak tahu kau orang yang seperti itu?" ← Menirukan suara wanita.
Wajah Elma langsung merah padam setelah aku mengatakan itu.
"Oh... Ini, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal."
Semua orang dikelas tertawa melihat tingkah kami. Namun sepertinya Riska dan Lilith masih belum berhenti menatapku dengan tatapan seram mereka.
"Apa kau yakin? Kau menyuruhku melepaskan cincin ini?"
Yah, bukannya aku tidak mau melakukannya. Hanya saja, takutnya karena Abbadon dan Lucifer kembali kapasitas manaku meningkat menjadi lebih besar dan membuat orang lain takut.
"Ya, karena kau tidak boleh menggunakan aksesoris ke sekolah."
Eh ... Aku tidak tahu itu. Tapi mau bagaimana lagi, kalau aku tidak menurutinya pasti dia akan melepaskan cincinku secara paksa.
"Baiklah, tapi kalau sampai mengalami muntah, pingsan atau semacamnya. Aku tidak bertanggung jawab, karena kau yang menyuruhku."
"Ya, ya."
Aku melepaskan cincinnya, dan seketika aura di dalam kelas menjadi suram dan menakutkan. Para siswa pingsan setelah melihatku sementara Elma terus menatapku dengan ketakutan.
Sepertinya aku harus memakainya lagi, atau sesuatu yang gawat akan terjadi. Tepat sebelum aku memakaikan cincinku kembali, tanganku agak berat. Saat menoleh tanganku sudah ada Laura yang sedang memelukku dengan gemetaran.
Gawat, aku harus memakainya dengan cepat namun aku kesulitan menggerakkan tanganku karena Laura begitu erat memelukku. Tanganku yang satunya baik-baik saja. Namun, agak sulit memasukkan cincin pada jariku.
__ADS_1
Lalu cincinku menghilang. Tidak, atau lebih tepatnya Brull mengambilnya dan memakaikannya pada tangan jariku.
Suasana kelas kembali normal. Elma yang tadinya ketakutan sudah jatuh pingsan sementara Laura yang masih memelukku.
"Mau sampai kapan kau memeluk Zen?" Riska menarik Laura dari pelukanku dengan agak kasar, Laura yang ketakutan sudah kembali normal.
"Memangnya kenapa? Mau sampai kapan juga bukan urusanmu kan?"
"Apa kau bilang!?"
Hah, mereka bertengkar. Rasanya tidak dengan Laura atau Lilith, Riska pasti akan bertengkar dengan siapapun yang mendekatiku.
"Oh iya. Hampir saja lupa. [Ex Mega Heall]"
Aku tahu skill penyembuhku bukan skill yang hanya bisa menyembuhkan tapi juga membuat seseorang menjadi tenang. Aku mencoba pada Elma, sepertinya itu berhasil.
Elma kembali normal namun aku bingung bagaimana cara membangunkan mereka yang pingsan.
"{Gunakan sihir pembalik milikku saja untuk membangunkan mereka.}" (Abbadon)
"Sihir pembalik?"
"{Mata merah adalah sihir milik Lucifer sedangkan mata biru adalah sihirku, jadi kau cukup memberikan mana pada mata untuk mengaktifkannya.}" (Abbadon)
"Akan kucoba."
Aku menutup kedua mataku dan mengalirkan mana ke mataku lalu membuka mata kiri dengan cepat.
Sebuah tanda bintang di mataku bercahaya, membuat sihir menyebar ke seluruh kelas. Setelah cahaya di mataku mulai redup, mereka kembali sadar dan menurut Abbadon ingatan mereka tentang kejadian ini dihapus karena sihir pembalik.
"Eh? Apa yang terjadi?"
"Kenapa aku ada di lantai?"
"Aduh, kepalaku sakit."
Aku menonaktifkan mataku dengan menutup mataku. Namun, setelah itu membuat kepalaku pusing dan pingsan.
"Zen!"
"Kau kenapa?"
"Kawan, kau baik-baik saja?"
Kepalaku seketika sakit seperti di tusuk dan mataku terasa berat. Aku tidak bisa mengendalikan tubuh dan akhirnya jatuh ke lantai.
Setelah pingsan, sepertinya aku di bawa ke ruang kesehatan. Aku merasa tubuhku sudah membaik, dan mencoba membuka mataku.
__ADS_1
Secara perlahan aku membuka mataku, penglihatanku masih terlihat buram, sesaat kemudian aku bisa melihat secara jelas. Hal pertama yang kulihat adalah Laura, Elma dan seorang gadis yang terlihat berumur 10 tahun sedang melihatku yang sedang terbaring di kasur di ruang kesehatan.