Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 10


__ADS_3

Mawar menghabiskan sisa hari itu dengan damai. Tidak ada lagi suara Mona yang mengusiknya. Mungkin karena peringatan dari Farid atau karena hal lain. Entahlah. Tapi kenapa Mawar justru merasa hampa. Seperti ada sesuatu yang kurang dengan hidupnya. Bertengkar dengan Mona memang menyebalkan. Tapi entah mengapa Mawar merasa hidupnya kurang seru saat Mona tidak mengusiknya seperti sekarang.


Setelah bicara dengan Mona, ternyata Farid berbalik menemui Mawar.


"Gimana? Sudah baikan?"


"Sudah lumayan kok, kenapa Mas Farid malah kesini lagi?"


"Kamu dengar tadi aku ngobrol sama Mona?"


"Ya dengar Mas, tadi aku sempat ikut nonton sebentar, sama kayak yang lain..."


"Sekarang kamu nggak perlu takut lagi sama Mona!"


"Siapa bilang aku takut sama Mona Mas Farid? Sejauh ini aku merasa tidak masalah, itu hal biasa kalau anak baru disuruh-suruh. Aku mengerjakan tugasku karena memang itu tanggung jawabku, bukan karena disuruh-suruh Mbak Mona. Jadi seharusnya Mas Farid tidak perlu membelaku seperti tadi..."


"Tapi kamu sedang sakit dan menurutku tadi dia keterlaluan sama kamu..."


"Sekarang aku merasa sudah baikan Mas, terimakasih banyak obat dan makanannya. Kayaknya aku nggak perlu izin dan bisa lanjut kerja, Mas Farid juga sebaiknya lanjut kerja lagi. Nggak enak sama yang lain, pasti di belakang mereka pada ngomongin kita...."


"Maaf ya Mawar..."


"Maaf kenapa Mas?"


"Maaf karena aku sudah bikin keributan dan mungkin nanti kita bakal jadi bahan gunjingan..."


"Nggak papa Mas, kalau cuma dibully dan dighibahin aku udah biasa, yuk balik kerja lagi..."


Hari itu Mawar memilih fokus menjalankan tugasnya sebagai OG. Sebenarnya menjadi OG di GAYA.Corp tidak terlalu berat, karena perusahan punya cukup banyak OB dan OG juga pegawai bagian lain dengan pembagian tugas yang tidak terlalu banyak. Hanya di hari-hari tertentu saja, jika perusahaan ada event besar atau sedang banyak acara, pekerjaan mereka jadi membludak. Tapi Mawar sadar, sebagai pegawai baru dirinya terlalu santai dan kerap mengabaikan tugasnya, juga sudah beberapa kali izin dengan berbagai alasan. Jadi Mawar cukup maklum jika selama ini sebagai OG senior, Mona kerap merasa kesal dengannya. Sedangkan Bu Lastri selaku atasannya sendiri, sepertinya kurang terlalu memperhatikan masalah intern para bawahannya. Bagi Bu Lastri asal secara keseluruhan pekerjaan anak buahnya terselesaikan dengan baik, dia tidak terlalu ambil pusing. Ternyata dengan terjun langsung di bawah, sedikit banyak Mawar bisa melihat realita yang terjadi di kalangan pegawainya. Mungkin nanti bisa menjadi masukannya jika akan mengubah kebijakan perusahaan.


Hari itu pekerjaan Mawar cukup melelahkan karena kantornya sedang banyak rapat. Untunglah saat jam kerja berakhir dirinya bisa pulang tepat waktu. Rencananya Mawar ingin segera pulang ke apartemennya dan langsung merebahkan diri di kasur empuknya. Tapi harapan tinggalah harapan. Saat ke toilet dan mengganti kostumnya, Mawar memeriksa ponselnya dan ada sebuah pesan dari Diara.

__ADS_1


Je, gue nggak mau lembur ya hari ini! Btw, suntuk nih, gimana kalau kita hang out malam ini? Gue yang trakir deh, bosen deh hidup gue kerja-kerja melulu...


Mawar bimbang. Dirinya mana tega menolak permintaan sederhana sahabatnya yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan yang tidak lain adalah perusahaan miliknya.


Ok deh, yuk cuz keluar, gue tunggu di lobby ya? Gimana kalau kita dinner aja? pinggang gue encok nih seharian jadi OG...


Hahaha, its ok lah... dinner aja cukup kok, lima menit lagi gue sampai di lobby, Gue nebeng mobil lo ya..


Ok, gue tunggu, c u


Gagal sudah rencana Mawar a.k.a Jelita untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Tapi dinner bersama Diara, juga bukan pilihan yang buruk. Sebab sekarang bisa dibilang hanya Diara lah orang yang cukup dekat dan cukup penting dalam hidupnya.


Tidak lama berselang Diara datang menghampirinya, dan merekapun segera masuk ke mobil dimana Pak Bin sudah menunggu.


"Eh, neng Diara, lama nggak kelihatan, gimana kabarnya neng?", sapa Pak Bin saat melihat Diara ikut masuk bersama majikannya.


"Baik Pak Bin, biasa Pak Bin hidup saya cuma berkutat diruangan kantor, sampai tertimbun kertas-kertas dokumen, makannya jarang kelihatan, hehe", jawab Diara setengah bercanda.


"Ya sama neng, hidup saya juga juga cuma didalam mobil dan dijalanan begini, namanya juga cari nafkah untuk anak istri, untung non Jelita baik, jadi saya bisa enjoy kerjanya..."


"Mau pada kemana nih eneng-eneng cantik? Tumben sore-sore begini?"


"Anterin kita ke Java Resto ya Pak Bin...kita mau nge-date dulu berdua, maklum sesama jomblo..."


"Hahaha, siap Bos, kemana saja pasti saya antar..."


"Eh gila, kita cuma mau dinner bukan mau ngedate, kenapa musti ke restoran elite segala sih Je?", Tanya Diara terlihat panik.


Diara ingat kalau tadi dialah yang janji akan mentraktir Jelita. Dan Jelita pun bisa menangkap maksud di balik pertanyaan sahabatnya itu.


"Tenang aja, gue yang bayarin kok, anggap aja sebagai reward atas kerja keras lo selama ini..."

__ADS_1


"Oh, thanks God, mimpi apa gue diajak ke restoran fine dining, meski yang ngajak bukan pangeran berkuda hitam sih! Asal lo yang bayar, makan ke dubai juga gue jabanin yuk Je..."


"Hahaha, kapan-kapan ya kalau gue bulan madu ke Dubai lo gue ajak..."


Dan begitulah perjalanan mereka diisi dengan obrolan receh yang mengasyikkan, hingga jalanan yang macet pun tidak dihiraukan.


Tak terasa sampai juga mereka ditempat yang dituju, Jelita menawarkan Pak Bin untuk bergabung, tapi Pak Bin menolaknya dengan halus.


"Nggak usah Non, nanti saya nggak nyambung lagi sama obrolan kalian yang masih ABG..."


"Pak Bin bisa aja, kalau kita mah udah abg kadaluarsa jatuhnya Pak, tapi Pak Bin ikut masuk sebentar yuk, saya ada perlu sama Pak Bin..."


Pak Bin menurut mengikuti Jelita masuk. Pak Bin tahu maksud dibalik ajakan itu, meski merasa tak enak hati tapi Pak Bin juga tak pernah bisa menolak.


Jelita memesankan beberapa menu untuk dibungkus dan menyuruh Diara memesan menu yang diinginkannya. Setelah pesanan untuk Pak Bin selesai, Jelita lalu menyuruhnya pulang.


"Pak Bin pulang saja sekalian, nanti kita bisa pulang pakai taksi online..."


"Ya non, makasih banyak..."


Setelah Pak Bin pulang barulah Diara dan Jelita bisa benar-benar bicara 'dari hati ke hati' sebagai sahabat dekat.


"Jadi kali ini apalagi alasan lo ngajak gue kabur kesini?"


Jelita tahu benar pasti Diara punya alasan khusus kalau mengajaknya keluar, padahal pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya dan pastinya tubuh mereka juga lelah.


"Biasa, orang tua gue mulai resek main jodoh-jodohan, kayak zaman Siti Nurbaya aja..."


"Hahahaha, itu namanya ortu lo masih perhatian sama nasib lo, dari pada gue?"


Usia Diara hampir menginjak tiga puluh tahun, sedangkan Jelita sudah dua puluh sembilan tahun. Usia yang sensitif bagi wanita yang masih melajang, sebab orang-orang terdekat pasti sudah menunggu mereka untuk segera menikah.

__ADS_1


"Nggak usah sok lugu deh, lo pake pelet apa sampai OB ganteng itu beneran tergila-gila sama lo?"


Jelita terkejut, tapi kemudian mengulum senyum. Ternyata gosip receh itu sudah sampai ke telinga Diara.


__ADS_2