
Begitu jam kerja dimulai, Mawar langsung disibukkan dengan tugas-tugasnya sebagai OG sampai dirinya tidak sempat kabur ke ruang Diara seperti yang dijanjikan. Untunglah tadi pagi Farid memberinya biskuit yang bisa dimakannya di sela-sela bekerja sehingga Mawar tidak terlalu kelaparan.
Menjelang jam makan siang, barulah Mawar punya kesempatan untuk mencuri waktu dan bersembunyi di ruang Diara.
"Hey Je darimana? Gue tungguin dari tadi tahu! Tuh bekal lo udah dingin..."
Jelita langsung menyambar kotak bekal yang tergeletak di meja Diara, membuka dan menyantapnya dengan lahap.
"Makasih banyak Di, biarpun dingin masih enak kok..."
Jelita masih sibuk mengunyah hingga mulutnya penuh.
"Pelan-pelan Je, lo doyan apa kelaparan? Sibuk banget ya sampai nggak sempat kesini? Gue jadi kasian sama lo? Sampek kapan emangnya lo mau pura-pura jadi babu?"
"Haha, nggak segitunya juga kok Di, pekerjaan OG disini lumayan santai, cuma tetap aja kan gue nggak bisa sembarangan kabur selama masih ada orang di sekitar gue..."
"Yaudah, habisin dulu makanan lo...habis makan baru gue kasih tahu laporan penyelidikan tentang OB ganteng lo tercinta!"
Mendengar itu Jelita hampir saja tersedak. Jelita meneguk air mineralnya dan segera menyelesaikan makannya. Dia tidak ingin terlalu lama penasaran.
"Udah Di, sekarang gue udah siap dengerin..."
"Ok bos, gue akan langsung ke pokok persoalan, jadi sebaiknya lo siapin mental lo sekarang juga!"
"Apaan sih pakai siapin mental segala, udahlah buruan, sebelum gue hilang kesabaran..."
"Ok, nih silahkan lo baca sendiri.."
Diara melempar sebuah map ke meja di depan Jelita. Jelita langsung membukanya dengan tidak sabar dan membaca beberapa poin penting tentang identitas Farid. Ternyata Farid adalah mahasiswa tingkat akhir di sebuah kampus ternama. Keluarga Farid terlilit hutang hingga Farid harus bekerja untuk melunasinya. Farid dimasa kuliahnya adalah palyboy yang suka berganti-ganti pasangan tanpa status yang jelas. Tapi sejak keluarganya tertimpa musibah demi musibah, Farid sudah lama tidak menjalin hubungan dengan siapapun dan meninggalkan dunia lamanya. Sebagai OB, Farid cukup supel dan cerdas hingga banyak pegawai dan direksi yang sering memberi tips untuk tugas-tugas yang diberikannya pada Farid. Saat ini Farid berusia dua puluh enam tahun yang mana lebih muda dua tahun dari dirinya. Itu artinya selama ini Jelita jatuh cinta pada brondong. Itulah poin-poin penting yang dibaca Jelita tentang kehidupan Farid yang tidak dia tahu sebelumnya. Tentu Jelita terkejut, tapi disisi lain Jelita juga turut bersimpatik dengan masalah yang menimpa Farid. Sebagai seorang teman yang baik, tentu Jelita ingin membantu meringankan kesulitan Farid dan keluarganya. Tapi, bagaimana caranya? Jelita masih bingung dan belum terpikir rencana apapun.
__ADS_1
"Heh, kok malah bengong sih!", tegur Diara membuyarkan lamunan Jelita.
"Sory-sory, gue masih spechless nih..."
"Itu belum seberapa Je, masih ada yang bakal bikin lo terkejut..."
"Apaan Di?", tanya Jelita dengan penasaran.
Jelita melemparkan sebuah map lain di atas meja di depan Jelita. Map yang berisi fotocopy surat pengunduran diri Farid untuk perusahaan.
Jelita membukanya dan terkejut dengan isinya.
"Jadi beneran dia akan pergi secepat ini?", gumam Jelita bertanya pada dirinya sendiri.
"Lo udah tahu dia mau keluar dari kerjaan?"
"Dia pernah bilang ada rencana buat resign. Tapi gue nggak nyangka aja kalau ini serius dan bakal secepat ini. Dan gue juga nggak tahu apa alasannya...tapi sekarang gue udah tahu semuanya..."
"Gue belum tahu Di, gue bahkan masih nggak nyangka ternyata dibalik sikapnya yang gentle dan ceria dia menyimpan beban seberat ini..."
Diam-diam Jelita merasa bimbang, apa yang harus dia lakukan? Sementara dia adalah perempuan yang hanya bisa menunggu, tidak mungkin untuk menyatakan lebih dulu. Bagaimanakah nanti hubungannya dengan Farid, jika pria itu tak lagi bekerja di GAYA.Corp?
"Di, tolong suruh orang kita untuk nglunasin hutang keluarga dia dan tolong cari cara supaya perusahaan bisa nahan dia biar nggak keluar..."
Jelita benar-benar sudah habis akal. Hanya itu jalan pintas yang bisa diambilnya untuk menahan Farid agar tidak pergi. Semoga.
Sementara itu begitu keluar dari ruangan Diara, Jelita langsung disambut dengan tatapan aneh dan bisik-bisik rekan OG dan OB nya. Apakah dia tadi melakukan kesalahan?
"Ada apa? Kok pada ngelihatin saya seperti itu? Maaf tadi saya disuruh bantu-bantu Bu Diara di dalam ruangannya, jadi belum sempat mengerjakan tugas lain...", Jelas Mawar pada rekan-rekannya karena tak mau ada yang curiga.
__ADS_1
"Nggak papa Mawar santai aja, ada yang nungguin kamu di pantry...", Jawab Andi, salah satu OB yang lumayan dekat dengan Farid.
"Siapa?", tanya Mawar penasaran.
"Langsung aja kesana, nanti juga kamu tahu..."
Dengan perasaan was-was Mawar berjalan menuju pantry. Entah mengapa kali ini Mawar merasakan hawa ketegangan yang berbeda. Padahal selama ini pantry adalah tempat paling nyaman untuk Mawar beraktivitas sebagai OG.
Tidak seperi biasanya, kali ini pintu pantry tertutup. Mawar memberanikan diri untuk membuka pintu itu perlahan. Mawar bisa mengintip ada cukup banyak orang di dalam. Mawar tetap membukanya sampai pintu terbuka sepenuhnya. Dan pecahlah suara nyanyian yang cukup akrab di telinganya.
"Selamat ulang tahun....selamat ulang tahun....selamat ulang tahun Mawar, semoga panjang umur..."
Beberapa rekan kerja yang ada di dalam pantry menyanyikan lagu itu dengan cukup keras. Mereka berjalan mendekat ke arah Mawar. Sedangkan Farid berada paling depan dengan membawa kue bolu dan lilin yang menyala di atasnya.
"Ayo tiup lilinnya!", pinta Farid saat tiba tepat di depan Mawar.
Mawar meniup lilin dan setelah itu rekan-rekannya menghambur untuk memberikan selamat pada Mawar satu persatu.
Mawar merasa terharu dengan perhatian itu. Selama ini Mawar jarang berinteraksi secara intens dengan rekan-rekan OB dan OGnya. Tapi siapa sangka kalau mereka sangat perhatian sampai memberinya kejutan seperti ini, meski Mawar juga tahu siapakah otak sebenarnya dari acara kejutannya hari ini.
"Makasih banyak teman-teman...aku nggak nyangka ada yang tahu dan ingat hari ulang tahunku, padahal aku sendiri malah lupa.", ucap Mawar tanpa bisa menyembunyijan rasa harunya.
Sesuai instruksi Farid, Mawar lalu memotong dan membagikan kue bolu itu pada rekan-rekannya. Setelah selesai, Mawar ingin pergi dari sana karena tak nyaman menjadi pusat perhatian. Tapi saat sedang melangkah, seseorang menahan tangannya.
"Maaf ada yang mau omongin sama kamu..."
"Ada apa Mas Farid, ngomong aja..."
"Aku...aku suka kamu Mawar, kamu mau nggak jadi pacar aku?", Kata Farid dengan keras tapi terbata.
__ADS_1
Seketika tubuh Mawar membeku ditempat, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sementara orang disekeliling mereka langsung heboh.