
"Pasti lo kemakan gosip! Tau dari siapa Di? "
"Tau dari dinding-dinding di kantor Je, hahaha...", tawa Diara langsung berderai, puas sekali menggoda sahabatnya.
"Itu cuma gosip murahan aja Di, aneh-aneh aja, cuma kejadian begitu saja dibesar-besarkan...", Jelita mencoba mengelak.
"Tapi fix, dia beneran jatuh cinta sama lo deh Je, kalau nggak ngapain dia getol belain lo sampai segitunya?", Diara kembali menggoda Jelita.
Tanpa sadar wajah Jelita memerah. Masa sih? Tanyanya dalam hati.
"Nggak lah Di, dia kan ganteng, supel lagi...pasti memang banyak cewek cantik yang dekat sama dia, sedangkan gue sebagai Mawar, cuma cewek kampung dengan tampang pas-pasan!", Jelita tak ingin terlalu cepat besar kepala.
"Justru karena itu Je, dia dekatin lo sebagai Mawar si OG kampungan bukan Jelita, CEO GAYA.Corp. Kalau cowok naksir cewek karena cantik itu biasa, kalau cowok ngincer cewek karena kaya, itu brengs*k kayak si Arya, sedangkan kalau cowok suka sama cewek apa adanya, itu tandanya dia benar-benar jatuh cinta Je!"
"Stop-stop! Kok jadi ngomongin Mas Farid terus sih? udah ah! Kembali ke pokok persoalan, kenapa lo nggak coba nerima aja perjodohan yang disodorin ortu lo? Kali aja jodoh, lagian lo juga jomblo kan?"
"Cie...cie...panggilnya aja udah mesra gitu, Mas Farid! Hahaha, kayaknya mendingan lo sama dia beneran deh Je, kayak cerita di FTV jadinya, nanti judulnya, kepentok cinta si OB ganteng! Hahaha" Diara terus saja menggoda Jelita.
"Diaraa!!!"
__ADS_1
Jelita yang kesal akhirnya berteriak sambil menggebrak meja. Seketika suasana mendadak hening dan beberapa pasang mata di sekitar tertuju pada mereka.
"Aduh Je, ngapain pake nggebrak meja segala sih! Tuh kan jadi diliatin orang-orang..."
"Udah deh Di, lo ngajakin keluar bukan buat ngeledek gua aja kan?"
"He, maaf deh Je, gue keasyikan..."
"Yaudah, sekarang giliran lo Di, ceritain apa yang mau lo ceritain, lo nggak mungkin mendam semuanya sendirian kan? jadi sampai kapan lo mau menghindari orang tua lo begini? Mereka cuma terlalu khawatir sama lo dan pengen lo bahagia..."
Jelita tahu, bagi Diara tidak ada teman dekat untuk bercerita selain dirinya, begitu juga sebaliknya.
"Gue...gue cuma belum siap buat nglupain Juna...", Jawab Diara dengan terbata.
Juna adalah kekasih Diara sejak SMU. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP, hingga tumbuhlah benih-benih cinta diantara mereka. Mereka sempat memungkiri perasaan karena tidak ingin persahabatan itu ternoda. Sampai kemudian mereka menyadari bahwa perasaan mereka lebih dari sekedar sahabat. Mereka akhirnya menjalin hubungan asmara. Menghabiskan banyak waktu berdua sebagai sepasang kekasih, melewati suka dan duka bersama, juga berbagi tangis dan tawa. Diara dan Juna bahkan merintis sebuah usaha bersama di bidang kuliner, yang tidak disangka bisa berkembang cukup pesat dengan hasil yang lumayan. Hari-hari mereka terasa indah bertabur bunga, hingga akhirnya sebuah peristiwa tragis merenggut semua kebahagian mereka dalam sekejap. Mobil yang mereka tumpangi terlibat sebuah kecelakaan maut. Juna tiba-tiba memeluk Diara dengan erat sebelum kecelakaan itu terjadi. Diara terkejut, tapi kemudian dia tahu kalau sang kekasih melakukan itu untuk melindunginya. Diara hanya menderita beberapa luka lecet ditubuhnya, tapi dia harus menyaksikan sang kekasih meregang nyawa dengan mengenaskan di depan matanya.
Sejak itu kehidupan Diara berubah suram. Diara memutuskan untuk menjual semua aset dan merk usahanya kepada pihak ketiga dan sebagian diserahkan pada keluarga Juna. Diara tidak kuat meneruskan usahanya, karena semua itu akan mengingatkannya pada sang kekasih yang telah tiada. Tidak lama kemudian Diara bertemu dengan Jelita dan memutuskan untuk mengabdi pada Jelita untuk mengembangkan usahanya. Sejak saat itu hari-hari Diara hanya disibukkan dengan kerja dan kerja. Diara tidak siap untuk menjalin hubungan dengan pria lain selepas kepergian Juna. Keluarganya mulai khawatir dengan keadaan Diara dan berusaha mengenalkan Diara pada beberapa pria, berharap dengan hal itu Diara bisa sedikit melupakan Juna yang memang telah tiada. Tapi Diara selalu menolaknya. Juna meninggal karena menyelamatkan dirinya. Lalu apakah pantaskah jika dengan mudahnya dia melupakan Juna dan menjalin hubungan dengan pria lain?
"Tapi mau sampai kapan Di? Ini sudah lebih dari enam tahun sejak kepergian Juna. Kalau Juna bisa bicara pasti dia juga nggak mau lihat lo jadi begini. Dia sudah bahagia di atas sana dan dia juga pasti mau lo disini bahagia. Atau lo mau gue temenin ke psikiater buat nyembuhin trauma lo?", tawar Jelita dengan tulus.
__ADS_1
"Nggak usah Je, makasih...gue cuma butuh waktu sedikit lagi...semoga...", ucap Diara sambil menguatkan hatinya.
"Its ok Di, gue selalu berdoa yang terbaik buat lo...cuma, jangan sampai terlambat dan lo menyesal seperti gue. Gimanapun juga lo masih punya keluarga yang sayang dan perhatian sama lo...jangan karena masalah ini lo jadi jauh sama mereka..."
Banyak yang Jelita sesali tentang keluarganya yang kini telah tiada. Jelita tidak ingin Diara juga menyesal seperti dirinya.
Jelita masih ingat benar bagaimana di masa kecilnya hidup keluarganya amatlah sederhana. Jelita bisa mendengar dengan jelas saat para tetangga menyebut mereka miskin dengan tatapan merendahkan. Saat mengadu pada Ibunya, sang Ibu selalu menghiburnya.
"Jangan dengarkan kata orang, hidup kita cukup, kita tidak punya hutang dan masih bisa makan. Keluarga kita yang utuh adalah harta yang tak ternilai harganya..."
Sekarang Jelita baru sadar, jika saat-saat itu adalah saat yang paling bahagia dalam hidupnya, dimana dia hidup dalam kehangatan keluarga dengan dilimpahi kasih sayang meski dalam keterbatasan materi.
Dulu, telinga Jelita selalu panas jika mendengar orang-orang memandang rendah pada dirinya juga keluarganya. Dalam hati Jelita bertekad untuk mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarganya hingga tak ada lagi orang-orang yang menyepelekan mereka. Jelita cukup pintar dan punya bakat di bidang design. Jelita belajar dengan tekun dan bekerja dengan gigih. Kegagalan demi kegagalan yang dialaminya tidak membuatnya menyerah, tapi justru membuatnya semakin gigih berjuang untuk menakhlukkan tantangan. Sampai akhirnya sedikit demi sedikit jalannya mulai terbuka.
Dulu nama asli Jelita adalah Mawar Kurniasih. Panggilannya adalah Mawar. Tapi seseorang menyarankan dirinya untuk mengubah namanya agar lebih modern dan bisa membawa keberuntungan. Namanya berubah menjadi Mawar Jelita Rosadi, biasa disingkat M.Jelita Rosadi, dan panggilannya adalah Jelita. Dan benar saja, sejak namanya berganti karir Jelita melesat tajam. Entah kebetulan atau bukan.
Tapi entah mengapa Ibunya bukannya senang, tapi malah mengkhawatirkannya.
"Nak, kalau hanya uang yang jadi tujuanmu, hanya lelah yang akan kamu dapatkan, sementara hatimu tak akan pernah puas. Belajarlah merasa cukup dan jangan lupakan hal-hal yang lebih penting dalam hidupmu..."
__ADS_1
Tapi saat itu, Jelita yang sedang berada diatas awan tak bisa mencerna nasehat itu. Jelita justru semakin bersemangat mengejar pencapaian demi pencapaian yang lebih tinggi untuk mendapatkan lebih banyak uang.